Cerpen Suara Merdeka – Bukan Sekadar Air Mata

Cerpen Indra Tranggono | Suara Merdeka, 2 Januari 2011

RIBUAN kilometer waktu telah ditempuh Rosoh memasuki kota demi kota. Belasan sepatu telah ia pakai: satu jebol diganti sepatu lain. Puluhan galon keringat tubuhnya telah membasah dan menguap. Satu tujuan Rosoh: ibukota negara Krusantarel. Tepatnya, Istana Presiden Klobodan.

Laki-laki asal desa kecil Tembiz itu bisa saja menumpang bus, truk, atau kereta api. Namun, ia telah bersumpah untuk menemui Presiden Klobodan dengan berjalan kaki, sepanjang hampir 1.500 kilometer. Sumpah itu diucapkan, setelah Tatum—anak bungsunya—meninggal akibat serangan demam berdarah. Tatum menyusul empat kakaknya—Darel, Morgi, Burka, dan Arka—yang juga meninggal karena demam berdarah.

Krani—istri Rosoh—keberatan dengan tindakan suaminya itu. Apalagi, Rosoh pergi dengan membawa lima tengkorak yang digali dari kubur anak-anaknya. Krani tidak tega menyebut suaminya gila, namun ia juga kesulitan menemukan kata lain.

“Aku menggali kubur anak-anakku sendiri. Aku memeluk tengkorak mereka karena aku sangat menyayangi. Apakah aku salah?” ujar Rosoh dengan tatapan pasti.

“Ini bukan soal salah dan benar. Kamu memang punya hak. Tapi, tindakanmu tidak wajar, sayangku….”

“Lima anak kita mati karena rumah sakit menolak mereka. Apakah itu wajar? Rumah sakit selalu curiga kepada orang miskin macam kita, Krani. Dan, semua hanya diam. Aku merasa negara telah tiada. Apa ini juga wajar?”

Krani terdiam. Kalimat suaminya terasa menikam. Dadanya terasa dipenuhi tumpukan sekam. Mata Krani basah, bukan karena sekadar air mata. Krani memeluk suaminya. Ia merasakan tubuh itu sangat dingin.

“Usiamu hampir tujuh puluh tahun, Sayangku. Apakah kamu kuat? Ingat, perjalanan itu sangat berat.”

“Krani. Aku ini lahir untuk jadi petani, makhluk paling kuat di planet bumi ini.” Rosoh tersenyum. Ia membalas pelukan istrinya.

“Pergilah, Sayangku. Pergilah….” Krani memperkuat pelukannya.

Matanya basah, tapi bukan sekadar karena air mata.

***

LIMA tengkorak yang diuntai dengan rantai besi itu menggantung di leher Rosoh. Tengkorak-tengkorak itu sering saling beradu ketika Rosoh berjalan; menimbulkan suara kemlothak. Rosoh tersenyum. Ia merasa mendengar suara anak-anaknya yang saling bercanda. Ya, mereka sangat bahagia, melebihi menikmati pesta atau piknik keluarga, pikir Rosoh. Pesta? Piknik? Ah, tidak juga, ujar Rosoh dalam hati, membantah pikiran sendiri. Bukankah aku belum pernah mengajak mereka pesta atau piknik? Bagaimana mungkin petani sayur miskin macam aku bisa membuang uang sebanyak itu? Jika aku tidak miskin, pasti anak-anakku tidak mati secepat itu. Maut, ternyata bisa juga memandang kelas. Rosoh tersenyum. Ia merasakan mendapatkan tambahan tenaga dalam perjalanan yang bahagia.

Kota demi kota telah dimasuki. Tempat demi tempat telah disinggahi untuk sekadar istirahat atau tidur. Warung demi warung telah dimasuki. Rosoh pantang meminta atau mengemis. Ia membeli makanan dan minuman yang dibutuhkan.

Banyak orang menaruh iba padanya, dengan memberi uang, namun dengan rasa hormat dia tolak. Rosoh merasa tindakan yang dilakukan menjadi tanggung jawab pribadi. Ia tidak ingin merepotkan siapa pun.

Setiap orang yang berpapasan dengan dirinya selalu berhenti dan mengamati seluruh tubuh Rosoh, tapi ia tidak hirau. Ada puluhan wartawan yang mencegat dan ingin mewawancarai Rosoh, tapi niat itu ditolak dengan halus. Alasannya, Rosoh tidak sedang mencari sensasi. Ia justru berharap semua orang menganggap tindakannya sebagai peristiwa biasa dan wajar. Semua orang yang bernasib sama dengan dirinya, bisa melakukan jika mau, ucap Rosoh dalam hati.

Tanpa seizin Rosoh, ternyata koran, majalah dan televisi telah memberitakan peristiwa aneh ini dengan gegap-gempita. Apalagi, tindakan itu dikaitkan dengan keinginan Rosoh untuk menemui Pesiden Klobodan. Rosoh benar-benar marah. Ia ingin protes, tapi tak tahu caranya. Maka, ia memilih membiarkan semua kabar itu berlalu. Namun, tidak bagi Pasukan Ketertiban Kota.

Dengan empat anjing pelacak, Pasukan Ketertiban Kota memburu Rosoh. Mereka menemukan Rosoh di ujung kota, di sebuah tempat ibadah yang sunyi. Empat anjing itu menggonggong sangat keras, membuka paksa mata Rosoh yang terpejam, berdoa. Rosoh bangkit dan langsung menyelamatkan lima tengkorak anaknya.

Anjing-anjing itu menyerbu tubuh Rosoh. Mereka berusaha menggigit, namun Rosoh melawan. Ia mengayun-ayunkan tongkat. Anjing-anjing itu terpukul dan terkapar. Bukannya lari, anjing-anjing itu malah kembali menyerang Rosoh. Rosoh kewalahan. Ia berlari. Namun, Pasukan Ketertiban Kota mengadang.

“Bapak kami tangkap!”

“Alasannya?”

“Melanggar ketertiban!”

“Saya tidak membuat kacau. Saya selalu tertib di jalan.”

“Bapak membawa benda yang tidak wajar di tempat umum!”

“Tidak wajar? Ini tengkorak anak-anakku sendiri.”

“Itu tidak penting! Pokoknya benda ini kami sita! Silakan jika Bapak akan meneruskan perjalanan!”

Petugas itu merampas lima tengkorak.

“Saya tidak mungkin pergi ke Ibu Kota tanpa tengkorak anak-anak saya!” Rosoh merebut lima tengkorak.

Terjadi pergulatan. Rosoh berhasil mempertahankan tengkorak anak-anaknya.

“Bapak telah melawan petugas, berarti melawan hukum!”

“Hukum siapa?”

“Hukum negara!”

“Negara yang mana? Negara siapa?”

“Ya, negara kita!”

“Kita siapa? Jangan seenaknya mengucapkan kata kita!”

“Bapak kami tangkap!”

“Kalian tidak punya hak. Tidak ada undang-undang dan hukum yang melarang siapa pun membawa tengkorak anaknya.”

Pasukan Ketertiban Keamanan itu berusaha menggelandang Rosoh. Tapi Rosoh meronta dan melawan. Rosoh berhasil lolos dari kepungan para petugas. Ia berlari. Terus berlari. Anjing-anjing bergegas mengejar. Rosoh melompat ke truk yang sedang melintas.

***

ROSOH tersenyum, ia sudah sampai di Ibu Kota. Ia mempercepat langkah menuju Istana Negara. Di depan Istana Negara, pasukan keamanan berjaga-jaga, lengkap dengan pagar kawan berduri, panser, dan mobil penyemprot air. Rosoh gemetar. Ia pun mulai menimbang-nimbang: meneruskan langkah ke tujuan atau memilih pulang. Ia memandangi lima tengkorak anaknya. Mereka seperti tersenyum kepadanya. Keberanian Rosoh pun terpompa. Ia pun melangkah dengan gagah.

Di seberang Istana Negara ternyata telah berkumpul massa. Rosoh kaget, ternyata mereka pun membawa tengkorak manusia. Tengkorak-tengkorak itu mereka acung-acungkan, sambil berteri ak-teriak menyebut nama Presiden Klobodan.

Rosoh memutuskan bergabung dengan mereka. Ia mendekati gerombolan orang yang juga berkalung tengkorak.

“Ini tengkorak siapa?” ujar Rosoh kepada seorang laki-laki.

“Yang ini, istri saya. Yang ini dan ini, anak-anak saya.”

“Kenapa mereka mati?”

“Isteri saya mati karena diare. Dua anak saya mati karena demam berdarah. Jika rumah sakit tidak menolak, pasti mereka bisa tertolong dan tidak mati secepat ini. Bapak sendiri membawa tengkorak siapa?”

“Lima anak saya….”

Mereka saling memandang.

Mendadak muncul seorang lelaki muda. Dengan wajah terbakar, ia memanjat tembok sebuah bangunan di seberang istana.

“Saudara-saudara, karena Yang Mulia Bapak Presiden Klobodan tidak bersedia menerima kita, maka marilah kita kumpulkan tengkorak-tengkorak yang kita bawa. Di sini, kita akan menyusun tengkorak-tengkorak itu menjadi candi, demi menambah keindahan kompleks Istana Negara ini. Kita berharap, setiap Presiden Klobodan lewat, akan melihatnya dan menikmati pemandangan yang indah ini. Setuju?”

Orang-orang menjawab, “Setuju!”

Orang-orang pun menaruh tengkorak di pinggir jalan. Tumpukan tengkorak itu terus bertambah, meninggi dan terus meninggi hingga puluhan meter.

“Marilah, kita mengheningkan cipta dan berdoa untuk seluruh keluarga kita yang telah meninggal….”

Doa menggeremang. Lagu “Gugur Tengkorak” mengalun panjang.

Suasana khidmat itu berantakan, ketika terdengar letusan senapan dan derap sepatu lars, diikuti gemuruh mesin panser. Ratusan petugas merangsek ke kerumunan orang. Mereka menghalau dan membubarkan kerumunan pengunjuk rasa itu. Orang-orang pun berlari lintang-pukang menghindari pentungan atau desing peluru.

Hanya Rosoh yang tetap bertahan di sana. Seluruh tubuhnya telah kenyang pukulan dan hantaman. Ia pun mandi darah. Tapi ia tak surut langkah. Ia tetap bertahan. Ia tetap berdiri menjaga lima tengkorak anaknya dari amukan petugas.

Panser-panser pun bergerak cepat. Terdengar suara gemuruh reruntuhan candi tengkorak. Butiran-butiran tengkorak itu menggelinding, melesat, saling tumpang tindih dan bercecaran tak karuan ketika panser itu menabrak candi tengkorak. Rosoh melesat, mencoba mencari dan menyelamatkan tengkorak anak-anaknya. Ia tenggelam di lautan tengkorak yang berserakan.

Lima tengkorak anaknya itu berada hanya beberapa centi dari tangannya. Namun, sebelum tangannya meraih, panser itu mendadak melindas tengkorak-tengkorak itu. Rosoh menjerit menyebut nama anak-anaknya. Rosoh terkapar. Sebutir peluru bersarang di dadanya.

Rosoh menangis, tapi yang keluar bukan sekadar air mata. Ia pun merasakan dadanya basah. Ia mencium bau anyir darah. Mendadak pandangannya gelap, namun dalam beberapa saat berubah terang, sangat terang, seterang siang. Ia melihat lima anaknya tersenyum dan memeluknya. Mereka membawa Rosoh terbang melesat ke langit, menembus gumpalan awan putih. Inilah piknik keluarga yang membahagiakan itu, pikir Rosoh.

Ndalem Tirtonirmolo, Yogyakarta, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s