Cerpen Suara Merdeka – Halaman-halaman Pertama Buku Harian Dila

Cerpen Suara Merdeka, 12 Desember 2010 |Geger Riyanto

NAPAS yang memburu, tubuh kecil yang berguncang, pakaian melekat lengket di tubuhnya karena keringat. Beberapa menit, anak perempuan itu termenung di atas tempat tidur dengan biji mata yang seakan hendak menyeruak keluar dan jam beker yang berbunyi. Waktu menunjukkan pukul lima pagi, waktu bagi Dilla untuk mengangkat punggung dari kasur dan bersiap berangkat ke sekolah.

Sepuluh menit berlalu. Pintu kamar di ujung rumah itu masih tertutup rapat. Rumah itu masih sunyi, sebab si anaklah yang biasa memulai hari. Ibu bekerja jauh, terpisah lautan. Bapak tak akan bangun hingga wajahnya diseka matahari yang telah tinggi. Kepalanya akan pusing dan mulutnya akan mengeluarkan umpatan bila terbangun sebelum jam sepuluh.

Tanggung jawab akhirnya memaksa si anak keluar dari kepungan degup jantungnya sendiri, dari adegan mimpi mengerikan yang masih merundung. Dan kehidupan segera membuat seseorang melupakan mimpi—termasuk mimpi buruk.

Jam enam, seperti biasa, si anak mengambil bulpen dan kertas lalu menuliskan pesan di atasnya. Ia mengambil sendiri uang ongkos dari dompet bapaknya, dan meninggalkan kertas yang telah ditulisinya: “aku berangkat sekolah.” Telinganya masih mengingat saat-saat ia lupa menulis pesan, rasa sakit setelah tangan bapaknya yang besar menjewernya hingga daun itu rasanya mau berputar. Tetapi ia yakin, bapaknya tak bermaksud menyakitinya. Lelaki separuh baya itu hanya tak menyadari bahwa tenaga kecil yang dikeluarkannya tidaklah kecil bagi si anak dengan tubuhnya yang mungil.

Saat pukul sembilan tiba keinginannya hanyalah membuat dirinya tembus pandang. Jam pelajaran kedua pada hari Senin adalah mimpi buruk yang menjadi nyata. Dulu, kali pertama saat sang guru IPAmasuk ke kelas, ia memperkenalkan dirinya sebagai guru yang killer. Ia bilang ia akan menghukum anak lelaki yang berbuat kesalahan dalam pelajaran dengan push up, sementara yang wanita akan ia suruh lompat katak. Hari ini pun belum sepuluh menit sang guru menerangkan, ia telah memulai kuis lisan.

Nama Dilla adalah yang kali pertama keluar dari mulut sang guru. Saat mendengar namanya sendiri, Dilla merasa perutnya teraduk-aduk. Ia ingin muntah seandainya ia bisa. Selama ini ia berpikir, barangkali, hanya dirinya sendiri yang menyadari arti wajah sang guru yang memandang erat garis-garis tubuh para anak perempuan yang menari di bawah hukumannya. Dilla tak paham dengan antusiasme belajar anak-anak perempuan di kelasnya agar dapat menjawab pertanyaan kuis, sebab sang guru pasti akan meluncurkan pertanyaan yang tak bisa dijawab.

“Coba jawab pertanyaan ini, Dilla, siapa nama tokoh biologi yang pertama kali melakukan klasifikasi spesies?”

Suara halaman-halaman buku yang dibolak-balik mengisi kesunyian kelas. Murid-murid lain sibuk mencari-cari jawabannya, tetapi Dilla tahu sejak awal gurunya tak menghendaki sebuah jawaban.

Tiba-tiba saja terjadi. Gurunya itu tiba-tiba menari-nari sendiri sambil menjelek-jelekkan dirinya dengan ejekan-ejekan seronok. Kemudian ia menirukan gaya kereta api, berlari sambil mengumumkan “kereta jurusan anu, sebentar lagi sampai di stasiun itu”. Sang guru melompat ke atas mejanya dan menyanyikan lagu “Balonku”. Mata semua murid terbelalak, tetapi keheranan mereka tak bisa mengalahkan rasa geli yang meledak menyaksikan seorang guru killer berlaku sebodoh ini. Tawa mereka berakhir ketika tiba-tiba sang guru berlari keluar, melompati pagar pengaman di depan kelas yang berada di lantai tiga ini.

Pukul sebelas, Dilla tiba di rumah diantar teman-teman perempuannya. Seluruh kegiatan sekolah dihentikan. Semua teman-temannya tadi membicarakan peristiwa itu di jalan. Sang guru kesurupan, demikian anak-anak perempuan itu menyimpulkan dengan nada yang menggigil. Namun Dilla sendiri hanya tak bergeming di sepanjang jalan. Teman-teman yang menyadari kondisi Dilla sadar bahwa si anak perempuan pasti menggigil hebat di balik tubuhnya yang kecil. Ia adalah orang terakhir yang dipandang sang guru sebelum ia tiba-tiba menghampiri kematian dengan cara yang sangat mungkin “menular”.

“Sudah Dil, banyak berdoa. Aku yakin tak akan terjadi apa-apa dengan dirimu,” hibur seorang teman.

“Oh, aku tak apa kok. Maaf membuat khawatir kalian,” balas Dilla dengan nada yang tak biasa.

Teman-temannya ingin menemani Dilla lebih lama di rumahnya, tetapi ia menolaknya dengan halus. Mereka pulang dengan membawa kekhawatiran, melihat wajah Dilla yang hingga pintu gerbang ditutup masih menyembunyikan kegamangan. Dilla masuk ke rumahnya dan segera mendapati Bapak yang sedang membaringkan punggungnya di sofa. Ia meletakkan matanya ke bapaknya yang menonton televisi.

“Pak…,” ujar Dilla.

“Ada apa?” Bapak membalas tanpa melepaskan mata dari tabung elektronik di hadapannya.

“Ngga, ngga ada apa-apa.”

***

DI hadapan mata Dilla terbentang kasur yang sudah lama tak dibereskan. Mungkin terakhir kali dirapikan seminggu yang lalu. Tanpa pikir panjang, ia menceburkan tubuh ke atas lekuk-lekuk kain tersebut dan segera membungkus kepalanya dengan bantal. Dahulu, pagi dibuka dengan Ibu menyapu kasur, melipat selimut, dan merapikan bantal. Tetapi kasur yang rapi menjadi kenangan buruk setelah suatu hari Dilla menemukan secarik pesan di atas kasur yang telah dirapikan, pesan untuk menjaga diri karena Ibu akan pergi untuk beberapa lama.

Di bawah bantal, terdapat guntingan-guntingan foto para aktor ganteng, lalu foto kepala sekolah dan Bapak yang dicoret-coretnya dengan kumis dan jenggot, bantal mainannya sewaktu bayi, dan buku hariannya. Semua rahasianya terdapat di bawah bantal itu. Di kamarnya tak ada laci atau lemari untuk menyimpan barang-barang rahasianya itu. Anak perempuan itu sendiri tak tahu sejak kapan ia membutuhkan tempat untuk menyimpan rahasia, bahkan ia tak tahu sejak kapan ia membutuhkan rahasia. Untuk apa rahasia? Ia tahu, bapaknya tak akan pernah masuk ke kamarnya atau menggubris, tetapi, terbersit, barangkali saja, barangkali…. Ibu sewaktu-waktu pulang.

Dilla mendapati matanya telah basah. Batinnya memanggil-manggil dia yang dirindukan. Ia ingin dipeluk. Ia gamang, menggigil hebat, udara dingin bergulung-gulung. Seingatnya, kemarin malam ia hanya menulis kekesalannya terhadap guru IPAkelasnya itu di buku harian. Jarinya membuka buku harian. Halaman-halaman tipis buku itu terasa berat di atas jarinya. Dilla nyaris kehilangan kesadarannya ketika di halaman ke-12 ia membaca tulisan tentang kematian gurunya, dengan cara yang sama persis konyolnya. Tulisan ini adalah tulisannya, ia harus menelan fakta pahit ini. Tenggorokannya seperti menenggak batu keras. Mata perempuan kecil itu terlihat kering dan hampa. Di dalam diri ia mengulang-ulang, bukankah dunia di atas kertas seharusnya hanya menjadi tempat pelampiasan, bukan kenyataan?

Senja hari ini tampak lebih merah dari biasanya. Setelah beberapa jam tubuh kecil itu tergeletak seperti tak memiliki tulang, Dilla akhirnya beranjak ke halaman rumahnya yang sempit. Di sana, ia menggali lubang. Dia letakkan buku harian di lubang, dan dikubur lembaran-lembaran darah dalam hidup itu dengan tanah, untuk selamanya—perempuan kecil itu meneguhkan diri.

***

SEANDAINYA ia bisa mencopot telinganya dan matanya untuk disimpan di rumah, ia akan melakukannya. Dilla tak ingin berangkat ke sekolah, karena ia akan mendengar pembicaraan mengenai peristiwa yang dituliskan tempo hari. Ia akan kembali dan kembali diingatkan dengan tangan tipisnya yang berlumur kematian. Ia akan dicekik oleh bau amis yang mengalir dari pori-pori tiga bilah jari kecilnya yang dua hari lalu menggoreskan sebuah cerita kematian. Tetapi akhirnya kakinya tetap melangkah ke sekolah. Dilla tak tahu apa yang membuatnya melakukannya.

Ia ingat, setahun yang lalu, sewaktu duduk di Kelas III, wali kelasnya tiba-tiba meninggal karena penyakit jantung. Air matanya mengucur, tak habis dalam seminggu. Tetapi Dilla kini sangat heran karena pada jam pelajaran kelima hari ini, IPA, sang guru telah diganti, begitu saja. Kegiatan di kelas berjalan seperti biasa, aneh. Awalnya, anak perempuan itu berpikir ia harus menanggung isak menyobek telinga dari mereka yang menyayangi sang guru. Tetapi tidak ada yang merasa kehilangan, kelas ini hanya kehilangan ritual lompat katak yang menyiksa sekaligus memalukan. Sejak pagi tadi ia menginjakkan kaki di sekolah, ia tak melihat karangan bunga ataupun bendera kuning.

“Dilla, kamu ngga apa-apa?” begitu bunyi pesan dari secarik kertas yang dioper oleh seorang teman perempuan di meja depan.

Dilla pun mulai menulis balasan….

“Aku ngga apa-apa. Tapi menurut kamu kenapa teman-teman ngga sedih ya tentang kematian guru kita kemarin….”

Pena Dilla yang sedang mengguratkan pesan tiba-tiba berhenti. Anak perempuan itu termenung. Beberapa waktu kemudian, sekonyong-konyong ia meremas kertas di tangan dan mengganti dengan kertas baru.

“Aku ngga apa-apa,” pesan Dilla kepada temannya di depan. Sang teman menoleh ke belakang, mencoba melihat keadaan Dilla, dan menemukan selingkar wajah yang tersenyum. Hanya tersenyum. Di mata sang teman, kali ini tak ada yang disimpan Dilla di balik wajahnya. Mulut Dilla hanya memaparkan kelegaan, tidak ada yang lain.

Pulang, Dilla menjumpai rumah yang kosong melompong. Televisi menyala dengan volume yang besar. Bapak tidak ada, sepertinya keluar rumah, seperti yang dilakukan di setiap sore dan ia baru akan pulang setelah jarum pendek jam bundar di ruang tamu melewati angka 12. Saat Dilla hendak mematikan televisi, pembawa acara di televisi memberitahukan setelah pesan-pesan berikut mereka akan menyiarkan berita tertangkapnya seorang ayah yang tega memperkosa anak tirinya. Beberapa menit kemudian, Dilla duduk manis menonton berita tersebut. Di atas tangannya terbaring buku yang masih berlumur tanah, dan pena Dilla bergerak menorehkan nama lelaki bejat yang menyayat perasaannya itu di atas buku tersebut.

Sesuatu tercetus di dalam kepala anak perempuan itu, selamanya ternyata hanya sebentar—di dunia yang cemar ini.

***

DILLA terbangun. Jarum pendek menunjuk ke angka tiga. Udara dingin dini hari langsung membelit Dilla. Perempuan kecil itu menggigil, tetapi bukan karena kedinginan. Tubuhnya berguncang hebat, air mata mengalir, seperti gunung es kecil yang lumer. Ia melihat Ibu dalam mimpinya barusan, menyapanya, menyentuhnya dengan tangannya yang lembut, seakan-akan nyata. Seandainya buku harian itu belum menjadi bagian dalam kehidupannya, Dilla akan bergembira berjumpa dengan ibunya walau hanya dalam mimpi.

Tetapi, sejak buku itu masuk ke dalam hidupnya, setiap mimpi adalah mimpi buruk. Di malam dan dini hari setelah ia menulis buku hariannya, Dilla berjumpa dengan orang yang telah ia tuliskan babak terakhir kehidupannya. Mereka tak tahu mengapa mereka berjumpa dengan Dilla, mereka bahkan tak mengenalnya, tetapi Dilla tahu nama mereka dan perbuatan mereka yang amoral. Di ruang mimpi yang hampa, Dilla dan sang oknum biasanya hanya saling memandang dari kejauhan. Dilla menjaga jarak, ia trauma dengan mimpi pertama dari rangkaian mimpi buruknya. Di mimpi pertamanya, anak perempuan itu dikejar oleh sang guru IPA. Ia meraih-raih pakaian Dilla seperti ingin menyobeknya, lalu melahap anak perempuan itu.

Mengapa Ibu mesti muncul di mimpiku? batin Dilla mengulang-ulang seraya menggigil. Dilla mencoba menarik air matanya dan menenangkan diri. Ia mulai ingat kembali, beberapa waktu belakangan ini ia mulai berhenti menulis untuk menghentikan mimpi buruk. Belakangan ia memang masih menjumpai wajah-wajah bingung di dalam mimpi, tetapi ia tak mengenalnya—lalu bagaimana ia bisa menuliskan nama mereka di atas buku? Barangkali mimpinya telah menjadi mimpi seorang anak biasa. Barangkali ia memimpikan Ibu karena merindukan pelukannya, dan barangkali jauh di sana Ibu juga begitu. Ia mengangkat bantalnya untuk memeriksa buku hariannya, dan tak ada nama ibunya. Kedua tangannya dikepalnya erat-erat seperti menggenggam perasaan lega yang tak mau dilepaskannya.

Tetapi Dilla tak pernah meninggalkan perasaan gundahnya, hingga dua hari kemudian. Kabar pahit datang di siang hari, menyobek-nyobek hati anak perempuan itu seperti dua tangan menyobek-nyobek daun kering. Ibu wali kelasnya mendatanginya di jam istirahat. Dengan hati-hati seperti membuka pintu rumah yang nyaris runtuh, sang guru memberitahukan Dilla dengan kabar kepergian ibunya dua hari yang lalu, yang baru sampai ke sekolahnya hari ini.

Dilla pulang lebih cepat hari ini. Langkah-langkahnya yang goyah dijaga oleh teman-temannya agar tubuh kecil itu tak roboh dan menyatu dengan aspal. Biji matanya masih hampa ketika teman-temannya meninggalkannya karena dipaksa Dilla pergi. Pipinya belum dialiri air mata. Dengan wajah yang membatu, Dilla membuka buku hariannya yang disimpannya di balik bantal. Ia terus membolak-balik, hingga halaman-halamannya seakan dapat robek oleh jari Dilla, tetapi tak kunjung menemukan nama Ibu. Lalu mengapa ia melihat wajah ibu di mimpinya?

Belati mulai menyakiti tenggorokannya. Isak mulai terdengar dari lubang hidung Dilla. Ketidaktahuan membuat kematian Ibu mengerikan ketimbang memilukan. Benaknya dipenuhi dengan mimpi buruk bahwa tangannya tanpa sadar telah membunuh sosok yang disayangi itu. Tetapi jarinya yang telah ratusan kali membolak-balik halaman-halaman bukunya tiba-tiba berhenti. Matanya menjumpai adanya halaman yang sobek di buku hariannya.

Subuh, sepasang mata yang hampa itu masih terbuka lebar, menanti kedatangan seseorang. Pintu perlahan dibuka, seseorang yang ditunggu datang.

“Bapak baru pulang?”

“Kamu kok belum tidur?”

“Bapak sudah tahu tentang Ibu?”

“Sudah, sudah… Bapak sudah mendengarnya.“

“Lalu mengapa Bapak tetap pulang selarut ini?” Wajah lelaki itu mulai memperlihatkan perasaan yang terusik.

“Kamu jangan tanya-tanya lagi, Bapak kan harus menyediakan nasi di atas piring kamu.”

“Bapak menyediakan atau menghabiskan? Gaji Ibu yang lumayan seharusnya lebih dari cukup untuk menghidupi kita, Pak.”

“Cukup!”

Lelaki itu mengangkat tangannya tinggi, mengancam akan menampar anaknya bila tak menghentikan kekurangajarannya. Dalam hatinya yang bergolak emosi, ia bertanya-tanya, mengapa anak ini seberani ini?

“Aku menemukan ini di kamar Bapak.”

Ia menunjukkan secarik kertas dengan beberapa nama tertulis di atasnya, salah satunya nama Ibu. Lelaki itu tiba-tiba berusaha meraih Dilla. Si anak perempuan yang dari awal sudah menjaga jarak dengan mudah menghindarinya. Anak perempuan itu mundur hingga masuk ke kamarnya. Vas bunga melayang dan pecah, menghantam pintu kamar Dilla yang baru ditutup sedetik lalu.

“Dilla! Dilla!!! Buka pintunya!!!” Tubuh lelaki yang besar itu menghantam pintu berpuluh kali.

Suara tinju dan tendangan yang mendarat membunuh kesunyian hari yang masih subuh. Beberapa patah kata yang basah dengan isak dari dalam kamar Dilla akhirnya membelah semua kegaduhan itu.

“Mintalah maaf kepada Ibu, Pak!”

Kaki lelaki itu tiba-tiba kehilangan kekuatan. Tubuhnya tersungkur ke lantai dan tak sejengkal jari pun bisa digerakkan. Matanya, yang terakhir masih bisa digerakkan, semakin pedas, semakin berat. Langit-langit rumah yang dilihat semakin kabur seperti ditutupi asap, dan, akhirnya, gelap. Beberapa saat, lelaki itu dapat membuka matanya kembali dan menegakkan tubuhnya. Di atas kakinya yang sudah kembali tegak, lelaki itu melempar pandangannya ke sana-kemari dengan mata terbelalak yang seperti hendak melompat keluar kelopaknya. Matanya baru berhenti ketika ia menemukan Dilla, jauh di depan.

“Hei! Di mana ini?!”

“Pukul lima tepat, pukul biasa aku memulai hari. Pukul biasa Bapak mulai tidur, untuk kembali bangun di tengah hari. Tetapi, kali ini tak usah berlelah-lelah lagi bangun, Pak. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”

Seperti menangkap maksud Dilla, lelaki itu langsung mengejar anak perempuan itu seraya meraung-raung, mencabik-cabik seluruh isi tenggorokannya untuk meneriakkan, robek kertasnya, hapus nama Bapak, hapus namaku, atau kau ku…. Tetapi teriakan mendarat jauh dari kaki Dilla. Anak perempuan itu berdiri terlalu jauh dari genggaman si Bapak. Robeeek, pekik lelaki itu dengan wajah yang mulai membendung air mata. Langkah-langkahnya mulai pasrah, tubuhnya yang tampak letih dapat tersungkur sewaktu-waktu. Perasaan yang aneh bergulung-gulung dalam diri Dilla. Kasihan. Jijik. Lirih. Amuk.

Tetapi, semua telah dituliskan. Dan Dilla telah memutuskan, satu mimpi buruk setiap malam, agar tak ada lagi yang perlu meratap seperti dirinya.

Depok, Agustus 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s