Jurnal – Matahari yang Sederhana

Ketika sudah besar, aku ingin menjadi orang besar!

Roda-roda terus berputar

Tanda masih ada hidup

Karna dunia belum henti

Berputar melingkar searah*

Masa-masa yang sulit, kehidupan yang beragam. Tengok jendelamu sebentar kawan, lihat orang-orang di luar dan kau akan menemukan gelembung-gelembung surga yang terus membesar di atas mereka. Seragam dan terlihat seperti saat kau bercermin, persis seperti kau. Ah, ternyata kau juga menemukan gelembung seperti itu ada pada atas tubuhmu.

Namanya harapan.

Terik embun sejuta sentuhan

Pahit mengajuk pelengkap

Seribu satu perasaan

Bergabung setangkup senada*

Setiap orang ingin memberikan kebanggaan. Eksistensi diri. Pencapaian yang berhasil, sering dianggap sebagai hasil akhir yang harus dicapai. Sedang harapan, kadang kala malas berjabat tangan dengan kenyataan. Pergilah ke anak tangga ke-100, kau akan menjumpai atap yang luas, tengok ke bawah dan kau akan mendapati orang-orang di bawah tampak seragam, orang-orang itu punya gelembung yang semakin penuh dan membesar hingga akhirnya terbang jauh meninggalkan rambut putih tuannya.

Aku tak mempermasalahkan kau puas atas hasil itu atau tidak, itu urusanmu. Dan kalau kau mau tahu urusanku kawan, tinggalkan prinsipmu, buang jauh apa yang kau yakini itu. Kau akan kuberitahu urusanku, bergabunglah denganku, peluk erat kelingkingku.

Kami akan memberontak! Kami akan menjadi matahari!

Siapa aku? itu tak penting. Kita adalah sama seragam. Kita memang seonggok daging bernyawa yang hanya bisa berbicara. Maka bicaralah, maka lakukanlah! Kita punya mimpi-mimpi yang siap diluncurkan. Maka luncurkan! Jangan pedulikan hasil, karena itu bukan urusan kita. Beri perhatian lebih pada usaha agar kita bisa berbuat lebih pada hasilnya.

Percayalah, karena kita adalah matahari, walau sederhana, walau kelihatan tak elok, walau dekil tak sempurna. Tapi apa kau tahu? kita berbeda.

Sudah lahir sudah terlanjur

Mengapa harus menyesal

Hadapi dunia berani*

Bukalah dadamu

Tantanglah dunia

Tanyakan salahmu wibawa*

Kita memang bukan siapa, dan kita memang tidak pantas bertanya kenapa. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana, bagaimana menjadi seorang matahari yang bersinar, menjadi pemenang!

Setiap manusia dilahirkan untuk menjadi pemenang (Bong Chandra, motivator)

Sekarang gerakkan tanganmu, lakukan sesuatu. Manfaatkan apa yang kita punya, termasuk waktu. Lupakan malasmu, hilangkan dalam recycle bin, dan hapus! Kita tak punya banyak waktu. Syukuri hidup dengan belajar padanya. Tanyakan apa yang tidak kau ketahui. Ceritakan kisahmu, hingga kau sadar. Kau tersenyum saat itu, kau menjadi matahari, walau sederhana, walau kelihatan tak elok, walau dekil tak sempurna. Tapi kau bersinar! Mari bersinar dan rencanakan dalam mimpimu, ketika sudah besar, jadilah orang besar, dan ketika itu, jangan lupakan orang yang membesarkanmu.

Waktu ternyata begitu cepat walau berujung walau entah kapan (Potongan Cerpen “Subuh yang Bermetamorfosis”)

Aku akan menceritakan kisah matahari pada nenek, matahari yang terbit dan tenggelam, yang bersinar dan meredup, yang datang dan hilang. Ternyata aku sudah terlalu terbiasa melihatnya, hingga aku tak pernah sadar bahwa sekali saja aku kehilangan dia, aku hanya akan menjadi debu (Potongan Cerpen “Subuh yang Bermetamorfosis”)

Tapi kawan, jangan terlalu optimis….

*) lirik lagu Apatis (Ipang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s