Jurnal – Bukankah Semua Sudah Berakhir?

Jum’at, 15 Oktober 2010

Bumi tak sepenuhnya bulat, seperti garis tak sepenuhnya lurus. Banyak hal yang kita harapkan dari kehidupan ini, banyak hal yang ingin kita jadikan kenyataan. Tapi hidup bukanlah sekedar bermimpi. Dan ketika kenyataan akhirnya bertentangan bertubrukan dengan harapan, semua seakan memudar kawan, kau pasti tahu yang kumaksudkan.

Semua sudah berakhir. Tamat.

Aku sudah menyerah. Mungkin kalau kau mengerti, kau akan menyemangatiku, memberikan kata-kata bijak, memberiku semangat. Tapi tidak kawan, bukankah semua sudah berakhir?

Waktu tidak bisa diputar ulang, semua juga tahu.

Gantungkan cita-citamu setinggi mungkin, agar kau susah meraihnya, agar kau merasa putus asa karenanya, agar kau binasa menangisinya. Aku serius kawan, ini bukan soal mimpi, ini soal kenyataan. Kenyataan yang tidak bisa kita kendalikan. Ada yang mengatur, tapi bukan kita.

Mungkin, kalau boleh memilih, aku ingin menjadi orang beruntung daripada orang pintar. Orang beruntung mendapat keberuntungannya, sedang orang pintar mendapat kata-kata bijaknya, “Terus berusaha, jangan menyerah”. Omong kosong!

Aku punya rencana, rapi sekali kelihatannya, sungguh berwarna, kelihatan sempurna. Malaikat akan tersenyum ketika memeriksanya, anak baik, katanya. Tapi masa depan terhalang rencana Tuhan. Hahaha, lalu rencanaku berserakan begitu saja….

Aku tak tahu rencana Tuhan, aku tak tahu apa yang Tuhan pikirkan, aku hanya meminta sedikit pada-Nya, Tuhan mendengar, Tuhan tersenyum. Lalu hasil baik datang. Alhamdulillah, aku bersyukur, sampai sekarang pun si kelinci di foto profil itu tak sanggup menggapai bintang. Sungguh, aku tak ingin menjadi seperti kelinci itu. Aku ingin aku bisa meraihnya. Aku ingin semua sesuai bayanganku yang sekarang menjadi bayang-bayang memudar. Hilang.

Mungkin ketika kau membaca ini, kawan, kau akan bilang “Masih ada besok, berusahalah lagi”. Ya, jalan masih panjang, berkelak-kelok. Ada kalanya kita merasa senang. Ada kalanya kita harus bersyukur ulang. Hidup adalah lawan kata monoton. Tapi saat ini sudah bukan masaku. Habis terang kembalilah gelap. Habis siang kembalilah malam. Menyakitkan….

Aku sungguh benci kata ‘pernah’, tapi ternyata lebih baik dari ‘tidak pernah’. Jangan anggap aku pesimistis. Tidak. Aku orang yang memandang dari sudut optimis. Kalau pun kau menganggapku pesimis, jangan pernah tiru aku. Raih cita-cita kita yang tinggi itu, agar kita mengerti kegagalan dan keberhasilan. Aku harus belajar lebih banyak dari kehidupan.

One thought on “Jurnal – Bukankah Semua Sudah Berakhir?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s