Cerpen Suara Merdeka – Rumah Idaman

Cerpen Indrian Koto | Suara Merdeka, 5 September 2010

SEBELUM pulang, Ijui sudah memutuskan untuk tidak lagi meninggalkan kampung dan anak-anaknya. Delapan tahun, betapa waktu rasanya amat cepat untuk dihitung dari belakang. Ia ingat seluruh peristiwa yang menyeretnya pergi ke negeri orang.

Ia menolak ketika Suman, suaminya, berkeinginan menikah lagi. Pekerjaannya sebagai penjual ikan yang bolak-balik dari kampung ke ibu kota provinsi mengenalkannya pada seorang janda anak satu. Ijui memilih bercerai dan mengasuh ketiga anak-anak mereka yang masih bocah—saat itu—ketimbang harus dimadu.

Menjadi orang tua tunggal bagi tiga orang anak tidaklah gampang baginya. Di kampung, tak banyak pekerjaan untuk perempuan yang tak memiliki pengalaman semacam dirinya. Pada musim hujan dia akan menjadi buruh di sawah. Sesekali ke ladang. Lain waktu dia di muara, menjadi buruh, menjemur teri separuh hari. Tapi sebagian besar ikan sudah diteri di kapal. Ia dan sebagian perempuan lain kehilangan mata pencaharian.

Iyen, anaknya yang paling tua sudah kelas lima SD dan belum disunat. Ini tentu butuh biaya pula. Ilen, si upik satu-satunya, yang nomor dua, sudah kelas tiga pula. Sementara Andrit yang paling kecil masih berusia dua tahunan, tak banyak paham kesulitan ibunya.

Iyen sudah berkali-kali meminta untuk segera disunat. Ia begitu ingin mengadakan sedikit selamatan di rumah, mengundang tetangga banyak-sedikit dan seorang tukang kaba yang akan ikut berjaga sampai pagi. Keinginan itu kini mesti ia pertimbangkan ulang. “Liburan ini Eka akan disunat, awak menumpang sama dia saja,” pinta anak lelakinya itu.

Ijui tak bisa mengangguk, tak bisa pula menggeleng. Eka, anak Ica, adik perempuannya, sepantaran usianya dengan Iyen, liburan ini akan disunat.

Pada hari ketika seharusnya bocah kecil itu memakai pakaian marapulai dan didampingi seorang ayah, Ijui hanya bisa menangis. Kesedihan ini makin menjadi-jadi ketika ingat pernikahannya. Ia tak sempat memakai pakaian anak daro dulu. Keinginan itu ia harapkan akan dapat terwakili jika nanti Iyen disunat mereka bisa mengadakan pesta kecil-kecilan. Tapi Suman barangkali sudah lupa keinginan itu.

Cintanya pada Suman telah membuat mereka mengambil tindakan nekat, kawin lari. Usianya baru enam belas tahun waktu itu. Perawan kecil lulusan sekolah tingkat pertama. Suman masihlah seorang pemuda kampung yang luntang-lantang ketika itu. Anak muda kampung yang lebih banyak bergulat dengan kartu di lepau kopi. Pada lain waktu, di acara-acara kampung mereka terlibat perkelahian. Orang tua Ijui tidak merestui. Mereka ingin Suman memiliki pekerjaan sebelum meminang Ijui. Tapi darah muda mereka dan cinta yang menggebu memunculkan perasaan lain. Mereka mengira Amak Tatak, ibu Ijui sedang mengulur-ngulur waktu. Dugaan-dugaan muda mereka merumuskan bahwa Ijui akan dinikahkan dengan orang lain. Maka dengan keberanian yang konyol mereka melarikan diri ke Sungai Penuh, di Kerinci sana.

Dengan uang yang pas-pasan mereka menemukan penghulu yang mau dibayar murah dan menetap di sana beberapa waktu sampai surat yang Ijui kirim ke kampung diterima ibunya.

Mereka dijemput, kedua keluarga besar saling berunding. Disepakati pernikahan mereka harus diulang. Kehidupan berumah tangga pun dimulai. Sebagaimana adat yang berlaku, lelaki tinggal di rumah perempuan. Bertumpuk dengan saudara-saudara yang lain dalam satu rumah yang kecil dan sempit.

Benarlah, dengan menikah kadang seorang lelaki merasa punya tanggung jawab. Dan Suman mulai rajin ke melaut dan membagan. Hasil tabungan mereka dijadikan modal untuk membeli ikan di muara dan membawa ke kota provinsi. Mereka memutuskan untuk membikin rumah sendiri di tanah yang masih tersisa di samping rumah induk. Kecil saja, yang penting rumah sendiri. Bado dan Icah, adik Ijui sudah perawan pula, sebentar lagi tentu akan menikah. Kalau nanti waktu itu datang dan mereka masih bertumpuk di rumah induk, kedua adiknya—dan suami mereka—nanti akan tidur di mana?

Atas pertimbangan itulah akhirnya mereka sepakat membangun rumah. Sadar memiliki anak perempuan yang nanti akan diwarisi rumah dan tanah, mereka membikin pondasi yang rencananya nanti akan diangsur pembangunannya. Untuk sementara cukup berdinding papan dulu. Menjelang kelahiran Andrit, bungsu mereka, rumah itu sudah setengah sempurna. Sebagian dinding dan lantainya sudah disemen kasar, hanya dapurnya yang masih berlantai tanah dan berdinding papan. Rencananya nanti, pelan-pelan dinding dan lantainya akan dicor, lalu dapurnya akan digeser ke belakang, kalau bisa di sana dibikin satu bilik pula tempat dua anak lelakinya tidur menjelang dewasa.

Tetapi Suman memilih beristri lagi, mengubur keinginan meneruskan membangun rumah, menunggu anak gadisnya besar dan dipinang orang.

***

DELAPA N tahun di negeri seberang rasanya sudah cukup mewujudkan mimpi itu. Dari surat anak-anaknya yang datang nyaris setiap bulan, di antara permintaan pengiriman uang makan dan biaya sekolah, tersiar kabar yang lumayan menyenangkan hatinya.

“Rumah kita hampir jadi.”

Tetapi entah mengapa ia tak begitu yakin akan tulisan anaknya sendiri. Pada mereka yang baru datang ke Malaysia—saban hari selalu ada orang kampungnya yang datang dan pulang—ia mendapat kabar bahwa rumahnya tak kunjung selesai. Bahkan Tek Ja’uwan pernah menyindirnya suatu ketika ketika dia datang menjenguk dua orang anak perempuannya yang tinggal di sana.

“Rumahmu besar sih, besar. Tapi kalau rumah besar tak berpintu dan berjendela, bagaimana pula bisa ditempati. Bisa-bisa kau dan anak perempuanmu dicuri maling,” katanya.

“Susah memang membangun rumah. Ringgit itu duit panas. Cepat hangus,” sambung perempuan itu.

Dari laporan-laporan semacam itu Ijui mulai menduga-duga kebenaran cerita itu. Memang dari foto-foto yang dia lihat rumah itu belum selesai dibangun. Setahun terakhir ia rutin mengirim uang setiap dua bulan sekali. Untuk menyelesaikan pembangunan rumahnya. Rumah yang memiliki empat kamar tidur, memiliki dapur, sumur dan kamar mandi dalam. Rumah ini adalah pembayar hutang pada anak-anaknya yang tak terawat dengan baik. Ia juga ingin menunjukan pada Suman dan orang sekampung, bahwa Ijui, janda tiga anak itu bisa juga membikin rumah.

Ia selalu mengirimkan uang untuk anak-anaknya dengan menitipkannya pada Ica adik perempuannya yang masih tinggal di rumah induk. Rumah tua yang nyaris tak terawat, dulunya. Setiap kali mengirim uang Ijui sudah membagi-bagi jumlahnya untuk keperluan masing-masing.

Dan delapan tahun. Betapa ia merindukan rumah itu, kini.

Ia meminta pada Ica untuk mengirimkan foto rumahnya yang terakhir disertai dengan anak-anaknya. “Tunggulah sebentar,” begitu balas Ica dalam suratnya. “Beberapa bagian rumah sedang dicat. Seminggu dua minggu lagi akan selesai. Lagi pula, Iyen yang sekolah di kota jarang pulang ke rumah.”

Datang juga surat beserta foto yang ditunggunya. Ijui memandangnya lekat-lekat. Iyen tumbuh begitu tinggi, berkulit putih berkumis tipis. Ilen telah menjelma gadis remaja dan Andrit, aduh, betapa ia nyaris melupakan buah hatinya sendiri.

Ia harus segera pulang. Rasanya tak ada yang lebih melegakan dari ini semua. Ia ingin menikmati tidur di rumah yang dibangun dari keringat sendiri. Ia ingin membuka daun pintu lebar-lebar dan duduk di halaman tanpa takut akan ada polis yang akan menanyai dokumen. Ia berharap peristiwa delapan tahun yang alpa bisa ditebusnya, segera; berziarah ke makam ibunya yang ketika meninggal pun ia tak sempat pulang ke rumah; membelikan anak-anak dan keponakan hadiah; membelikan oleh-oleh untuk mamak dan tetangga dekat. Dan yang terpenting, kampung akan dibuat bangun semalam suntuk, akan dia undang tukang rebab terbaik, karena Andrit akan disunat. Sunat yang terlambat sebenarnya. Tapi tak apa, cukup terbayar nantinya dengan pakaian marapulai bagi anaknya.

***

IJUI mesti mempertimbangkan lagi keinginanya untuk berada di kampung. Ia merasa delapan tahunnya sungguh sia-sia. Rumah baru yang ingin ia tunjukan pada Suman, rumah yang dia harapkan sebagai tempat istirahat di hari tua, rumah yang dia harapkan untuk menampung laki-laki lain sebagai bakal suami anaknya, rumah yang telah bertahun-tahun ia bangun dengan air mata dan keringat, ternyata belumlah sungguh-sungguh selesai pembangunannya.

Ijui merasa ditipu. Foto-foto yang dikirimkan tak lebih semacam hiburan belaka. Memang, dari depan rumahnya terlihat megah dan selesai, meski belum ada pintu dan jendela. Tetapi di bagian dalam, uang yang dikirimkan untuk membeli keramik, tak pernah terpasang. Kamar mandi, sumur dan dapur masih saja terbengkalai. Sementara Ica, adiknya yang dulu tinggal di rumah tua orang tua mereka sudah pula memperbaiki rumahnya. Ia tahu, bagi suami Ica yang hanya seorang tukang pukat, penarik jaring di bibir laut, mustahil untuk membikin rumah bagus secepat itu.

Di kampung ini, peristiwa kecil akan menjadi besar lewat mulut ke mulut. Dan Ijui merasa tidak kuat menerima hasutan dan omongan tetangga tentang uang kiriman Ijui yang tak sempat menjadi rumah. Bahwa, menurut bisik-bisik mereka, Ica telah menggunakan uang Ijui untuk membagun tumahnya sendiri. Berkali-kali pula Ica mengatakan bahwa harga barang begitu tinggi. Di kecamatan ini tak banyak yang menjual barang bangunan, dan mereka mematoknya dengan harga tinggi.

Berkali-kali Ijui percaya, berkali-kali pula omongan buruk dan mencelakai itu mengusiknya. “Aah, ndak ada itu uang dari mana pula untuk membangun rumah sebagus itu kalau bukan dari kirimanmu yang dipatah? Omong cirit beruk saja itu kalau dibilang itu hasil keringat suaminya. Berkeringat darah dia di pantai, tak akan bisa mengumpulkan duit sebanyak itu.”

Demikian sebagian gumaman yang sampai ke telinganya.

Gumaman penuh hasutan yang berbalut simpatik. Bagaimana mungkin ia mencurigai dan membenci adik kandungnya sendiri? Bagaimana mungkin seorang adik tega mengkhianati kakaknya?

Ijui mencoba berprasangka baik, bahwa memang rumahnya belum selesai karena uang yang dikirimkan dari Malaysia memang belum mencukupi. Membeli perlengkapan bangunan mahal, sementara kirimannya harus dibagi dengan biaya hidup tiga anaknya. Dan rumah Ica yang mentereng tak ada sangkut pautnya dengan uang yang dikirim dari Malaysia. Semakin ia berprasangka baik, hasutan itu semakin kencang mengusiknya.

Malam itu ia menatap Andrit yang tertidur di kasur usang ruang tengah rumah. Si Upik sudah dari tadi terlelap di kamarnya. Sisa-sisa perhelatan masih bertumpuk di dalam rumah. Tempat tidur Andrit masih digantungi kain karena bocah itu belum bisa pakai celana. Jahitan sunatannya masih belum kering benar.

Ia memang telah mewujudkan keinginannya untuk melihat anaknya menjadi marapulai dan membuat seisi kampung tak bisa tidur. Bukan tukang rebab, tapi organ tunggal yang telah menggoyang panggung di depan rumahnya.

Malam itu, seperti delapan tahun lalu. Ia menatap anak-anaknya dengan kesedihan yang tak bisa dirahasiakan. Dari jendela yang tak berpintu ia melihat bulan penuh di langit yang tenang….

Seperti dulu, tubuhnya mulai berkeringat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s