Cerpen Koran Tempo – Hari Anya Jatuh Cinta

Cerpen Nukila Amal | Koran Tempo, 29 Agustus 2010

PAGI itu Anya tak menatap cermin. Dari kamarnya ia berlari menuju dunia luar, berkejaran dengan waktu. Pintu, tangga, ruang makan, dapur, pintu, garasi, dilewati tak sampai semenit. Blusnya salah dikancingkan, rambutnya tak tersisir, hak sepatu kirinya patah saat melintasi meja makan. Semua ini baru disadarinya kemudian. Anya duduk terhenyak di depan setir, merasakan lega yang luar biasa. Rasa menyenangkan itu dihayatinya sesaat saja, ia mesti buru-buru. Tangan dan kakinya bergerak nyaris otomatis ketika memundurkan mobil keluar garasi.

Di perempatan pertama ketika lampu menyala merah, ia bersandar. Dengan agak berhati-hati, Anya memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan, menggoyangkan kepala dengan senang; terasa begitu ringan, nyaris seperti ada yang tak beres di dalam sana.

Anya tertawa. Ia merasa dirinya bagai akan lepas. Seakan ada sepasang sayap ringan sedang mengembang, mungkin di punggungnya, mungkin di kaki, di tangan, atau di jari-jari. Di manapun berada, seakan sayap-sayap itu sedang berkibas-kibas, siap melesat terbang.

Anya bergidik girang. Rasanya seperti jatuh cinta.

KBY LAMA SENAYAN—TUHAN Bersamamu—TARIF LAMA— Boruku Naburju—DIKONTRAKAN—Available Now!!—MANTAP BENEERR—LAS KETOC MAGIC—KEBERSIHAN ADALAH TANGGUNG JAWAB KITA BERSAMA—obat perkasa—FRED CHIKEN—Jeep—LAJUR KIRI KHUSUS BUS—Abang jarang pulang—Win Bali Trip —PEJABAT DI NEGERIKU SUKA KORUPSI—JL. PIRUS—ZAKAT PEDULI UMAT—BaDuT SULAP—Pasrah tapi tak rela—JASA DOCUMENT—KLINIK BUKA 24 JAM—SOMEDAY LAUNDRY SERVICE—Buronan Mertua—GOOD BLESS YOU—Warung RELA NGETOP—CUCI SOFA— Join! You will meet strange people!—BUBUR KACANG IJO—CANOPI CAIN

Anya tertawa senang. Betapa pagi itu huruf-huruf menyergap mata menebar pesona.Anya menatap huruf-huruf yang muncul cemerlang dari penjuru-penjuru. Entah mengapa, pagi itu tulisan teramat menyita perhatiannya. Seakan punya kadar cekaman yang lebih daripada berbagai hal yang biasanya dan semestinya ia perhatikan. Kelap-kelip lampu mobil, penyeberang jalan, rel kereta api, manuver motor-motor, lubang menganga di jalan…. Tapi pagi itu matanya seakan hanya mendesakkan tatapan pada huruf-huruf.

Anya mengerjap-ngerjapkan mata. Ia bertekad mesti berkonsentrasi menatap lalu-lintas. Ia tak mau ditangkap polisi berkumis seram karena ceroboh melanggar aturan, atau mencederai orang tak bersalah, mobil, motor, pohon—semua yang berjiwa. Tapi matanya seakan menolak segala hukum dan tatakrama berkendaraan, terus saja jelalatan membaca ini-itu.

Begitu kewalahan Anya, hingga di suatu saat ia mesti menutup mata. Berharap ketika membuka mata, ia akan menatap jalanan dan yang penting-penting saja, tak lagi melesat-lesat ke sana-sini menuju segala yang berhuruf. Jarinya mencengkeram lingkar setir. Ada yang terasa genting…. Tiba-tiba ada suara klakson panjang, terdengar begitu dekat. Anya membuka mata, reflex menginjak pedal rem. Chevrolet. Hanya sedikit celah bersisa dengan pantat mobil yang ngerem mendadak di depannya. Jantung Anya berdebar-debar oleh kecelakaan yang tak jadi.

IA terlambat sejam lebih, hampir setengah sepuluh saat memasuki pelataran parkir. Pak Satpam datang menghampiri saat ia memarkir mobil. Anya menyambar tas, keluar dari mobil dengan agak terhuyung. Tatapannya berputar menatap pelataran parkir dengan bingung, lalu menatap Pak Satpam yang juga menatapnya dengan bingung, datang menghampiri sambil mendencing-dencingkan segepok kunci. Hasan.

“Hasan. Bapak. Kenapa begini kosong, Pak? Ke mana orang-orang, mobil-mobil, motor-motor, helm-helm?”

“Nggak ada orang hari ini. Ibu mau lembur?”

“Lembur? Ini hari apa?”

“Hari Sabtu.”

“Ooo? Terus ngapain saya buru-buru lari-lari sampai hak sepatu patah sebelah? Ini, lihat, Pak.” Anya mengangkat kaki kirinya, sejenak menyilangkan kaki di lututnya untuk menunjukkan bukti sol sepatu. “Khilaf rupanya. Kalau begitu saya bisa lembur menulis. Saya semalam berniat melanjutkan dua prospektus, tenggatnya seminggu lagi.”

“Silakan, Bu.” Jawab Pak Satpam, tersenyum agak canggung menatap patahan hak sepatu pantofel yang bergelantungan kritis di udara. Sesaat lamanya Anya berada dalam posisi ala bangau seperti itu.

“Menulis yang bukan prospektus….” Anya tersenyum senang, membayangkan prospek hari yang membentang di hadapan. Prospek jok kursi mobil untuk bersandar. Kertas-kertas…. Huruf-huruf….

Anya ingat untuk menurunkan kakinya sambil berkata cepat. “Tapi, bapak diam-diam menyadari bukan, kalau saja para staf yang datang lembur di hari Minggu—sengaja atau tidak—niscaya perusahaan kita kian berjaya, berdenyut-denyut dengan revitalisasi bisnis. Ekonomi, mikro dan makro. Para staf perusahaan sekuritas ini, seperti Bapak ini, akan senang dalam security. Lembur Hari Minggu, tak ada kerumunan staf, distraksi, kontradiksi, presentasi, cuma AC sepoi-sepoi…. Beberapa yang juga patut dipuji adalah yang pulang jam dua malam, atau yang bawa pulang berkas ke rumah karena kalau pulang malam dia takut kena marah istri atau mertua—tadi saya bilang apa? O ya, saya mau lembur nulis yang bukan prospektus. Tapi kupikir-pikir, mirip prospektus juga, soalnya seperti berada di ambang sebuah prospek… sesuatu, begitulah. Saya mau ke mobil. Nah, selamat menjaga pertahanan dan keamanan perusahaan, Bapak! Terima kasih dan permisi.”

Mengapa pagi ini ia begitu cerewet, apakah Pak Satpam mengerti rentetan perkataannya, Anya tak peduli. Ia lega bisa leluasa menulis lagi. Anya berbalik, sudah tiba waktunya melepas keluar para penghuni benak. Beratus-ratus kata sedang berjejalan di kepalanya, saling sikut saling dorong untuk keluar main.

Kepalanya terasa begitu penuh, sedang tubuhnya terasa ringan seperti kapas. Seakan hanya berat isi kepalanya yang masih kuasa menahan dirinya di atas tanah. Rasa ringan yang nyaris tak tertahankan itu membuatnya tiba-tiba dilanda khawatir ia bisa-bisa diterbangkan angin, tangannya meraih kaca spion dan berpegang erat-erat di sana. Pak Satpam menatap Anya yang limbung, bertanya ibu kenapa, tapi Anya hanya melambaikan tangan, lambaian selamat jalan sekaligus usiran halus.

ANYA masuk ke dalam mobil, hampir menerjang oleh rasa akan terbang. Serta rasa genting itu. Semacam genting entah apa yang telah sedari tadi dirasanya. Ia duduk tegak, tangannya cekatan menurunkan kaca hingga tinggal sepertiga. Sambil merasakan girang bergidik-gidik yang tak sabaran itu, ia membongkari isi tas di kursi samping, mencari bolpen dan berkas. NOTA—Cadbury—Parker—BAB VIII. KEGIATAN DAN PROSPEK USAHA PERSEROAN—Kenko.

Anya menarik keluar bolpen biru dan berkas fotokopian. Masih ada empat halaman belakang yang putih belum terisi, sisa surat dari subuh hari. Anya memundurkan kursi, melepas sepatu dan meluruskan kaki. Tangannya mulai bergerak-gerak cepat di atas kertas.

#1, 1

Baru kuperhatikan, hari ini banyak sekali huruf-huruf di Jakarta. Bertampang terang, siaga dan awet muda. Ada di segala permukaan sampai ke celah dan ceruk terdalam, bersitahan di bawah tatapan manusia. Patuh dan tak lelah, seperti sekompi prajurit. Apa sudah dari dulu mereka begitu? Bikin orang tak memperhatikan lalu-lintas. Di sana huruf di sini huruf. Aku curiga banyak dari mereka adalah huruf2 pendatang atau pelancong. Tapi aku khawatir huruf2 pelancong itu akan tinggal di kota ini selamanya, jadi penghuni ilegal. Begini, aku senang tapi masalahnya aku senang tapi sebal, kenapa kota ini khususnya suka huruf2 besar. (Apa karena ini ibukota? Kapital? Maka suka huruf-huruf kapital. Sebab seperti aku, ini kota kapitalis, makanya gemar berdagang.)

Ajaib: huruf2 di luar sana dan di dalam sini. Tadi pagi aku tulis surat untuk papa. Sebenarnya masih bisa lebih panjang. Dalam tulisan cukup indah, tanpa bahasa sms, bertata bahasa rapi seperti papa. Mengingat pelajaran abjad papa. Menulis dan membaca.

abcdefghijklmnopqrstuvwxyz

Kupukupuku.

(Aku punya rahasia: aku begitu gesit pagi ini, rasanya seperti kupu-kupu. Seperti ada sayap tumbuh sepasang. Tadi—kalau tidak pegangan—aku hampir bisa tahu apa rasanya jadi kupu-kupu, sayap mengibas2—seperti menguji kepekatan udara dan gaya tarik bumi. Ini pasti dapat dengar dari Animal Palnet. Planet. Mungkin sepasang sayap baruku tumbuh di jari2. Ya, rasanya begitu. Kupu-kupu badai berpusing, tercipta dari ketiadaan, milikku seorang. Kupu-kupuku memberkahi setiap kata, setiap ruang putih di antara. Aku seperti percaya kupu-kupu dan huruf-huruf akan membawaku terbang jauh memasuki segala benak.)

Saatnya keluar main, wahai huruf-huruf! Huruf-hurufku berlesatan keluar di ujung bolpen, seregu, serombongan, oh berbondong-bondongan. (Berbondongan?) Mendarat gembira pakai parasut tinta biru, sana-sini jebrat-jebret jadi sederet. Hari ini cerah, silakan bawa kursi malas, pakai kacamata hitam penangkal silau. Atau topi tikar lebar, pemetik teh tahu, apatunamanya, caping. Main lompat kodok, lompat tali, petak umpet. Harap tertib, jangan dorong2an sikut2an senggol2an seperti tadi. Aku senang dengan gerak tanganku: dari kiri geser ke kanan, turun, kiri ke kanan, di atas permukaan elicin kertas. Seperti menggelincir di perosotan, main ayunan. Banyak maaf aku mesti agak mengecilkan ukuran kalian, soalnya kertasku sisa dua setengah, padahal teman-temanmu masih banyak. Para penenun kenangan, peramal pengetahuan, perangkai bayangan. (Ini dari saluran apa? Lupa.)

Untuk semua huruf kecil di dunia: terhitung mulai hari ini, aku dengan resmi mengadopsi anak-anak huruf yang yatim-piatu. Akan kupikirkan harkat dan martabat kalian semua. Ini perlu kukatakan supaya kalian tahu.

huruf-huruf kecil

bisa ditemui di taman bermain, komidi putar, dan hampir seluruh isi buku2. di dunia huruf, anak-anak ini adalah sebagian besar populasi. kecil-kecil, tak banyak mengambil tempat, berbaris menempati setengah ruang, cuma sepinggang. seperti tak penting tapi kalianlah pembentuk hampir seluruh isi buku. kubayangkan kalian sebagai ular-ularan panjang anak-anak di belakang peniup suling hamelin, menandak dan menari dalam barisan. main bergerombol, asyik sendiri, cemerlang, bergerak, selalu bergerak. selincah lesat kadal, selamban penyu atau semurung burung yang sedang kembung.

semua kalian telah terlatih menerjemahkan nada suling, sapuan gelap pada terang. kalian pastilah bersepatu adidas, dan kalau diminta dengan manis, akan fasih menderetkan puisi dan nama e.e. cummings. belum kenal dosa huruf besar, tapi diharuskan beriang-riang dalam permainan ciptaan mereka. sebagian besar bentukmu bundar dan gendut-gendut, kalaupun berujung tajam-tajam tapi ramah-tamah, tidak berbahaya. ada yang berbentuk sangat mirip ibunya, kloning sempurna. ada pula yang tak kepingin mirip wujud besarnya, dengan keras kepala mendirikan identitas yang berbeda sama sekali. bisa dibilang anak-anak ini punya pendirian. yang agak mengkhawatirkan adalah regu yang menempel dengan huruf besar di awal kalimat, kalian kukhawatirkan sangat terpengaruh si huruf besar. pesanku: jangan terkecoh!

HURUF-HURUF BESAR

BISA DITEMUI PADA KEBANYAKAN PAPAN IKLAN, GARDA DEPAN, NAMA-NAMA PENTING. MEREKALAH PARA PENGENDALI, PARA PENGAWAL DI BERANDA, PEMBERI PERINTAH DI BALIK MEJA MARMER, PEMBERI MODAL, PENYERU PERANG ATAU PENCETUS DAMAI, PENCIPTA DAN PEMENCET TOMBOL PELURU KENDALI POLITIKUS TAKTIKUS KHAOTIKUS. MEREKA PARA PAHLAWAN GAGAH BERANI DI GARIS DEPAN YANG TAK MATI-MATI, PULANG MEMAMERKAN BANYAK MEDALI DAN EMBLEM WARNA-WARNI.

SETIAP MEREKA TERLAHIR DENGAN RASA PENTING DALAM WUJUDNYA. TAKDIR MEREKA NISCAYA BERURUSAN DENGAN YANG AWAL, YANG AGUNG, YANG AKBAR, YANG MEGAH. MEREKA ADALAH PARA PENDAHULU, HAMPIR SELALU MENGAMBIL TEMPAT DI AWAL KALIMAT2, JUDUL2 BUKU, MAKALAH SEMINAR, DISERTASI, GELAR DOKTOR.

SETIAP MEREKA BERKELAMIN GANDA ANDROGINI. HURUFRODIT. BUBUK SARI YANG MEM/DI/PERANAKKAN DIRI SENDIRI TANPA BANTUAN ANGIN. SANG PENIUP SULING HAMELIN YANG ULUNG MENGGIRING YANG KECIL-KECIL DALAM PERMAINAN BESAR, MENGEKOR PANJANG. SUKA BERSEKUTU DENGAN SESAMA YANG BESAR: UNTUK MENEKANKAN, MEMENTINGKAN, MENGGENTINGKAN, MENYERUKAN DENGAN GEMA NYARING KE PENJURU2. HEGEMONIK DEMONIK. MEREKA PEJABAT TERAS BERJAS BERAMBUT LICIN, MENEBAR NYALANG AURA SUPERIORITAS KE SEKITAR. MANSET MEREKA SENJATA RAHASIA BERBAHAYA ALA NINJA, BERDAYA SABET KE MANA-MANA. ASAL TAHU SAJA, AKU TAK SUKA HURUF BESAR.

ANYA asyik menulis, terus menulis, entah telah berapa lama. Hanya ada ia; satu benak, lima jari, dua puluh tujuh huruf abjad anak-beranak. Hingga suatu saat fotokopian satu bab di tangannya kehabisan kertas kosong. Ia membolak-balik berkas, menatap cetakan rapi huruf-huruf komputer sambil bergumam menyumpahi mereka, lalu mulai menulis dalam gerak melingkar searah jarum jam, memenuhi ruang kosong marjin kertas. Ia merasa terganggu dengan logo perusahaan yang selalu tertera di tiap halaman, sangat mengusik simetri huruf-hurufnya.

Anya asyik menulis, terus menulis, hingga suatu saat benar-benar kehabisan kertas. Segenap ruang putih kosong pada berkas telah penuh terisi. Ia mengobrak-abrik tas, mencari kertas atau apapun permukaan kosong yang bisa ditulisi. Ia menemukan sejumlah bon belanjaan, struk ATM, dan beberapa benda lain yang bukan kertas tapi bisa mengertas.

Anya kembali asyik menulis, terus menulis, hingga ada suatu bunyi-bunyian mampir di telinganya. Anya menghentikan gerakan bolpen pada bon panjang swalayan, mengangkat muka menatap dunia. Anya memiringkan kepala, sesaat menerka itu bunyi apa. Dengan jitu ia menebak asal bunyi dan meraih tas yang terkuak di jok samping. Ia membongkari tas di pangkuannya, mencari telepon-jarang-genggam yang rupanya semalam lupa dimatikan. Matanya menyapukan tatap sekilas pada huruf-huruf di dalam semesta tas. Cadbury—Lip Butter White Chocolate—NOKIA—calling—Ale….

Begitu ceroboh dan terburu Anya memencet tombol, hingga ponsel jatuh di dekat pijakan rem. Ia menyurukkan kepala ke bawah setir, sepanjang percakapan berada dalam posisi seperti itu. Bicara sekenanya saja, sebab tiba-tiba ada yang menyita perhatiannya. Dan dengan tak sopan ia mematikan telepon sebelum kakaknya selesai bicara.

Anya merundukkan kepala lebih ke bawah. Ponsel terlepas dari tangannya, terlupa. Dalam posisi terlipat aneh itu, ia menatap inisial huruf B merek sepatunya dengan terpana. Dengan dagu di atas lutut, tergesa ia menulis pada bon panjang.

B itu dua biji D. Jika anak B, yaitu b kecil, bercermin, niscaya akan jadi d, anak D. Jika anak-anak ini iseng berdiri terbalik dengan kaki di atas kepala di bawah, akan jadi p, yang jika bercermin akan jadi q. p & q = b & d terbalik. Huruf2 kembar.

SEPERTI Ale dan Anya. Kedua huruf menari-nari jumpalitan dalam benaknya saat ia menyeruak naik dari balik setir. Telapak tangannya terasa agak nyeri, ia telah terlalu bersemangat mencengkeram bolpen hingga kuku-kukunya seperti menjelma belati menikam telapak. Sensasi agak nyeri itu bertambah dengan pegal. Anya melemaskan jari-jari, mengangkat muka menatap dunia di luar bentangan kaca depan mobil.

Di seberang jalan tampak sehelai spanduk. Mungkin berisi sebuah ajakan untuk menyukseskan, memberantas atau mengentaskan sesuatu. Anya tak membaca isinya, tetapi hanya melihat bentuk-bentuk huruf hitam pada kain kuning.

Begitu banyak huruf bertebaran di sana. Ia menatap huruf yang banyak itu. Betapa sangat ajaib bentuk mereka, satu-persatu…. Anya tersengat semacam kesangattakjuban yang membuatnya merasa tak sopan terhadap huruf-huruf itu jika ia tak menatap sambil mengheningkan cipta atas jasa-jasa mereka. Maka ditatapnya tebaran huruf pada spanduk secara takjub dan takzim. Sesaat lamanya.

Anya selesai dan bersandar sambil menutup mata. Ia merasa ada yang tak beres dengan kepalanya, matanya, dirinya. Tetapi kelebatan pikiran ini langsung terkibas kepak sayap kupu-kupu yang berbahagia. Bahagia yang sudah teramat lama tak dirasainya, daya gelegaknya begitu melanda-landa, hingga kecurigaan yang bukan-bukan hanya akan mengusik tatanan rapi kebahagiaan itu. Bahkan rasa pegal dan nyeri sudah kabur pergi. Ia tersenyum lebar, dadanya terasa begitu lapang, jari-jarinya ringan.

Ia merasakan kelopak matanya membuka di luar kehendak. Mata yang mengerling ke arah pergelangan tangan kirinya. Matanya berbinar-binar, merasakan kembali desir aneh itu saat menatap tangan kirinya. Sebuah permukaan kosong. Seperti minta diisi. Tepatnya, berlutut memohon-mohon ditulisi. Ia melepas arloji, menegakkan punggung, sesaat menatap bolpen yang terhunus jari.

Anya tak kuasa, dan tak tega, menahan bolpen biru yang sedang bergerak menuju pergelangan tangan kirinya.

Nukila Amal lahir di Ternate, Maluku Utara, kini bermukim di Jakarta. Novelnya adalah Cala Ibi (Pena Klasik, 2003) dan kumpulan cerita pendeknya Laluba (Alvabet, 2005).

2 thoughts on “Cerpen Koran Tempo – Hari Anya Jatuh Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s