Sajak-sajak Gunawan Tri Atmodjo

Suara Merdeka, 15 Agustus 2010

yang Enggan Terhapus

/1/

kita seperti selaksa lalat yang terjerat jejaring tak kasat mata

dan hanya mampu saling pandang lewat mata kata

aku di sini kalian di sana, tertalipati simpul maya

kita adalah malaikat pencatat sekaligus si sekarat yang berwasiat

sebelum jendela ajaib ini diciptakan

waktu adalah jeda tunggu yang membelenggu

dan hidup melulu ketidaktahuan yang diparak jarak

kini dapat kautuliskan padaku puisi-puisi yang indah

dan dapat segera kubalas dengan rapal sumpah serapah

atau kukirimkan padamu alegori-alegori hujan

dan kau menyukainya karena menganggapnya doa penuh berkah

antara mukjizat dan mudarat, semudah itulah pembenaran kita pilah

lantas di setiap beranda kita menjelma rahibb-rahib gaib

yang enggan raib sebelum membaca kabar nasib

kita tenggelam di kubangan khotbah dan sampah

kata-kata dimuntahkan, dipulung, didaurulang

menjadi status baru yang dianggap perlu diwartakan ke setiap orang

di dunia muka-muka ini akan selalu ada hantu-hantu yang setia

mendengar curahan perasaan dan membunuh sepi manusia

yang mungkin tak kita temukan di dunia nyata

raut-raut  kaku dengan kepedulian aneh melebihi kesabaran bunda

benar, tak ada yang lebih tabah

menampung gelisah dan keluh kesah kita

selain buku wajah

/2/

Dalam permainan menjadi Tuhan

tiba-tiba saya lupa: siapa yang menjadi manusia?

Bahkan hingga permainan usai,

saya masih juga gagal mengingatnya.

Siapakah, di antara kita, yang pernah berperan sebagai Tuhan?

/3/

Kutinggalkan doa tertulis di pesan masukmu

menandai sekian depa tahun tertempuh hidupmu

sekian jengkal tahun lagi kematianmu

sambil berseloroh, “Doa yang ditulis jarang dikabulkan

karena Tuhan malas membaca dan lebih gemar mendengarkan

maka orang-orang lebih senang berdoa secara lisan

meski kadang hanya lewat perasaan

daripada menggoreskannya dalam tulisan.”

Tapi kita sepenuhnya apaham, Tuhan  tidak demikian.

Dia adalah segala maha bagi yang fana dan baka.

Dia adalah maharaja setiap kata dan suara.

Seperti saat menggurat kambium di tubuh pepohonan

untuk menandai tahun.

Seperti saat menyemat sepasang telinga di kepala

yang tak seberapa berjarak dengan rongga dada

tapi tetap tak kuasa menyadap debar sendiri jantung kita.

Semua begitu agung dan rahasia, bukan?

/4/

hujan merintik perlahan-lahan

dalam naungannya, seseorang yang mengaku utusan Tuhan

mengendap-endap memangsa setiap firman yang berjatuhan

tanpa miris dan belas kasihan

tapi dari gelagat bayangannya

terbaca dukan dan leleh air mata

seperti gerak pesakitan yang pelan-pelan mengamputasi perasaan

seperti gestur penyair yang diam-diam memutilasi janin puisi

di rahim malam

/5/

Siapa menulis status di dindingku?

Ada wahyu layu bertinta ungu terserakk begitu saja

di penghujung subuh buta

mewartakan pertaruhan dan pertarungan semalam

antara setan jelita dan malaikat buruk rupa

yang tak diketahui siapa pemenangnya

Siapa menulis status di dindingku?

Kirimkan gambar wajahmu kepadaku

agar aku tak ragu-ragu

apakah harus menyanjung atau menghujatmu

dalam ziarah doa patah-patahku

/6/

Lagi-lagi kauganti nama dan foro profilmu tapi kenapa harus Langit

Biru dan gambar manusia wandu sedang cuaca begini gaduh, malam

penuh gendang teluh, dan suara angin seperti brubuh ditabuh?

Sebab dari tujuh kelir langit hanya pada biru seluruh manusia luruh,

segenap peri dan malaikat bersayap labirin bersimpuh. Percayalah,

langit biru adalah lanskap terbaik yang pernah diciptakan Tuhan

untukmu. Pandanglah aku lebih dalam, di antara pria dan wamita

parasku kandas berganti sembilu. Raut wajahku serupa rajah, serupa

temali mantra yang terkaligrafi. Tapi jangan pernah kau mengejanya

saat luka dan duka bersenyawa di rongga dada!

Ah, aku kadung membacanya. Kini kutukanmu telah melata di

tubuhku. Kurasakan ada yang merayap, berderap dalam senyap dari

ubun-ubun menuju ujung kakiku. Ada ricih yang sedih. Ada ombak

yang menggelegak. Lengkap sudah aku moksa menjadi Laut Biru,

menjadi cermin paling sempurna bagi misteri terperihmu.

Gunawan Tri Atmodjo, lahir di Solo pada 1 Mei 1982. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di Horison, Suara Merdeka, Solopos, Joglosemar, dan lain-lain. Memenangi beberapa kali lomba penulisan sastra di antaranya Cerpen Terbaik Majalah Horison Jakarta 2004, Pemenang II Lomba Tulis Puisi KSI Kabupaten Semarang 2008, Pemenang II Lomba Puisi SMS Maaf (Kendal, 2008), dan lain-lain. Karya-karyanya juga tergabung dalam sejumlah antologi sastra di antaranya Antologi Penyair Nusantara (2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s