Cerpen Suara Merdeka – Tentang Sebatang Jambu yang Tumbuh di Perut Suami Saya

Cerpen Romi Zarman | Suara Merdeka, 15 Agustus 2010

UNTUK kali ketiga, anak saya kembali menangis. Saya sudah membujuknya. Tapi ia tetap tak mau. Ia minta dicarikan jambu. Bukan jambu yang ada di pasar, tapi jambu yang langsung dari batang. Seperti yang pernah dibawakan ayahnya, tiga hari yang lalu. Saya sudah berusaha mencarinya, ke sekeliling rumah. Tapi tetap tak ada batang jambu. Semua ini gara-gara dinihari itu. Waktu itu suami saya pulang, membawa jambu biji di tangan. Katanya, ia mendapatkan langsung dari batang. Anak saya langsung memakan. Enak sekali, katanya. Saya pun ikut menikmati, bersama suami.

Besoknya, suami saya terbaring, tak berdaya menggerakan badan. Katanya, “Perut saya terasa sakit.”

“Apakah karena jambu semalam?”

“Entahlah,” katanya.

Saya berikan obat. Saya suruh istirahat. Tapi tak mujarab. Sakitnya tak mau pergi. Dengan apakah saya harus mengusirnya? Ke Puskesmas, kata tetangga. Saya jalankan itu usulan. Akan tetapi, di luar dugaan, Puskesmas juga tak bisa membantu. Katanya, “Suami Ibu tak apa-apa. Hanya sakit perut biasa.”

Sakit perut biasa? Saya tak percaya. Walau katanya hanya sakit perut biasa, toh rasa sakit itu sampai sekarang tak kunjung sembuh. Lihatlah ke dalam kamar sana, suami saya terbaring lemah di sebuah dipan tua. Hanya kaki dan tangan yang bisa ia gerakan. Selebihnya, hanya sia-sia. Rasa sakit itu, katanya, terasa melilit dan membuat ia tak kuasa. “Adakah obatnya?”

“Ada,” kata saya, “Hanya belum kita temukan saja.”

“Sampai kapan?” Saya tak berani menjawab.

“Pasti ada obatnya,” kata suami saya.

***

YA, pasti ada obatnya. Tapi sekarang anak saya menangis merengek-rengek minta jambu yang langsung dari batang. Kemana harus saya carikan? Di sekeliling rumah tak ada. Tak satu pun jambu tumbuh di halaman atau pekarangan tetangga. Haruskah saya mencarinya ke kampung sebelah? Tidak. Saya tak ingin meninggalkan suami saya sendirian, kecuali untuk membeli obat atau belanja ke warung tetangga. Saya harus menyiapkan semuanya. Mencuci pakaian, memasak makanan, menjerangkan air di tungku….

Dan semua itu, aah, saya merasa ternganggu dengan tangis anak saya. Ada-ada saja ulahnya, meminta jambu yang tak ada. Saya katakan kepadanya, “Kemana Ibu harus mencarinya?”

“Yang penting ada!”

Ia tak mau tahu. Yang penting ada jambu, katanya. Tak saya hiraukan. Bagi saya, ulahnya itu mungkin hanya sementara. Sampai ia bosan, sampai ia tak tahan merengek-rengek minta dicarikan. Dan bila ia tetap merengek-rengek minta jambu, maka saat itulah saya mulai tak memperdulikan. Tak saya acuhkan. Sehari, dua-hari… ia mulai terbiasa. Tangisnya reda. Tak lagi merengek-rengek di hadapan saya. Akan tetapi, belum sempat rasa tenang itu menghampiri saya, tiba-tiba saja ia kembali berulah. Dengan entengnya ia berkata, “Ibu… Ibu, lihat!” katanya, “Sebatang jambu tumbuh di perut Ayah.”

Saya terpana mendengarnya. Saya hampiri ia.

“Lihat!” katanya, “Sebatang jambu!”

Jarinya menunjuk ke arah perut suami saya. Saya perhatikan wajahnya. Begitu lugu, cahaya kanak-kanak terpancar dari sana.

“Ah, ada-ada saja,” kata saya.

Anak saya pasti bercanda. Anak saya pasti tak serius dengan perkataannya. Mana mungkin sebatang jambu tumbuh di perut suami saya? Mungkin karena ia begitu menginginkan jambu, kata suami saya.

“Ya, ya,” kata saya, “Mungkin saja.”

Tapi besoknya, tanpa pernah saya sangka, ia kembali berulah. “Jambu itu,” katanya, “lihat, tumbuh menjulang bagai hendak menembus atap.”

Saya tak tahan. Tak mungkin anak saya berucap demikian hanya karena menginginkan jambu. Ada apakah sebenarnya? Carikanlah jambu, kata suami saya. Hendak saya turuti rasanya. Akan tetapi, belum sempat niat itu saya wujudkan, ia kembali berulah. Tak tanggung-tanggung, ia ucapkan, “Lihat, itu burung!”

Jarinya menunjuk ke dinding kamar. Apakah di sana ia imajinasikan ranting batang jambu itu?

“Ya,” katanya, “Burung itu bertengger di atasnya.” Saya tak percaya. “Lihat,” katanya, “matanya buta.”

Matanya buta? Saya tak percaya. Bagaimana mungkin mata seekor burung yang begitu mungil bisa ia lihat dengan pastinya? Ah, ada-ada saja. Pasti anak saya hanya berimajinasi saja. Sungguh hebat, seekor burung ia imajinasikan bertengger di atas sebatang jambu yang tumbuh di perut ayahnya. Alangkah hebat.

“Lihat!” katanya.

“Ah, sudah, sudah,” kata saya.

***

“TIDAKKAH ia hanya mengimajinasikannya saja?”

“Ya, ya,” kata saya kepada suami, “Akan tetapi, dari manakah imajinasi itu ia dapatkan?”

“Mungkin dari jambu yang tak kunjung diberikan.”

Maka, saya sudah memikir ulang. Mungkin benar kata suami saya. Saya putuskan mencari jambu. Walau tak ada di sekeliling rumah saya, saya harus mendapatkannya. Agar anak saya tak lagi berulah, agar ketenangan segera hadir di rumah, saya carikan jambu. Saya tanyakan ke warga. Di kampung sebelah, ternyata ada. Saya tuju ke sana. Saya berikan ke anak saya setibanya di rumah. Saya lega. Anak saya tak akan berulah lagi setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Akan tetapi, tanpa pernah saya bayangkan sebelumnya, anak saya masih tetap berulah. Walau sudah saya carikan jambu, anak saya masih tetap berkata seperti itu.

“Lihat…,” katanya.

Ah, saya menyerah. Tak ada jalan keluar. Anak saya masih tetap berimajinasi seperti itu, mengganggu ketenangan ayahnya.

“Ya, ya,” kata suami saya.

Apa? Mengganggu ketenangan ayahnya? Tidakkah ia hanya berimajinasi saja? Dan jika memang demikian adanya, dari manakah imajinasi itu ia dapatkan? Benarkah awalnya hanya karena apa yang belum ia dapatkan? Dan jika apa yang ia inginkan itu sudah ia dapatkan, mengapakah ia masih berulah seperti saat sekarang?

Saya tak menyangka. Anak saya masih saja meneruskan imajinasinya. Saya harus mencari penyebabnya. Tak mungkin hanya gara-gara jambu pada awalnya. Pasti ada alasan lain. Maka, saya mulai mencari dalam pikiran. Saya ingat-ingat. Adakah sebuah kesalahan telah saya lakukan? Atau, adakah sebuah ucapan yang membuatnya jadi demikian?

Saya ingat-ingat.

Ada. Tiba-tiba saya temukan. Bukankah waktu itu saya pernah mengatakan bahwa tak baik memakan jambu curian?

“Kenapa?” kata anak saya waktu itu.

“Karena bijinya bisa tumbuh di dalam perut.”

Ya, ya. Saya ingat. Waktu itu, memang itu yang saya ucapkan. Saya melarang anak saya memakan jambu curian. Sungguh, tak ada niat untuk membodoh-bodohi anak saya. Saya hanya ingin mengingatkannya, bahwa tak baik memakan hasil curian. Akan tetapi, kenapakah ucapan itu yang ia imajinasikan, ia sebut berulang-ulang?

Ah, sayalah yang bersalah. Ia termakan ucapan saya. Ia terlalu mempercayainya. Saya kasihan padanya. Bukankah ia baru berusia empat tahun? Dan bukankah tak seharusnya saya berkata tentang cerita yang bukanbukan? Ya, ya, saya merasa bersalah. Pinggul saya terhenyak di kursi. Saya edarkan pandang ke seisi rumah. Astaga… tiba-tiba saya disadarkan oleh sesuatu. Dari manakah suami saya membawa itu jambu, yang diberikannya pada anak saya waktu itu? Tidakkah belakangan setelah di PHK ia sering pergi di waktu sore hari dan baru kembali di kala dinihari?

Ya, ya. Saya perhatikan lagi sekeliling saya. Perabotan itu: meja, kursi, lemari, mobil-mobilan, asbak yang terbuat dari logam, sandal, sepatu hitam…. uang sewa rumah bulanan, dari manakah semuanya didapatkan?

Ah, saya bagai tak percaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s