Cerpen Koran Tempo – Wajah Terakhir

Cerpen Mona Sylviana | Koran Tempo, 15 Agustus 2010

MARIA mengambil sebatang. Meletakkan bungkus rokok di atas rok span abu-abu tua dari bahan wul tipis. Menyalakannya.

Trotoar yang berpayung langit sebening jendela rumah sakit itu ramai. Beberapa orang berdiri dekat tanaman pembatas. Sebagian lain duduk dekat lampu jalanan. Di tangan mereka batangan rokok juga menyala.

Seorang laki-laki berkulit sewarna batang pohon mendekat, “Have a lighter?”

“Ada.”

Maria menyerahkan pemantik yang diambilnya dari saku kemeja.

“Terima kasih. Ehm, kita tadi ketemu di ruangan dokter Foo kan?”

Maria mengangguk.

“Dari Indonesia? Maaf, saya susah bedain sama orang Filipin. Jakarta?”

Kepala Maria menggeleng. Terakhir kali, sebelas tahun lalu, kakinya memang hilir mudik di kota itu, tapi ia lahir dan besar di Singkawang. Jadi, Maria merasa tidak berbohong.

“Oh ya, saya dari Sunter. Jakarta.”

“Oh…,” Maria menarik ujung bibirnya. Sedikit mekar bagai ujung mahkota mawar.

“Papa saya masih kemo. Apa keburu ya kalau ke Lucky Plaza? Katanya dari sini tinggal naik bis. Enggak sampai lima menit.”

Maria mengangguk lagi.

“Oya, tadi saya ngobrol dengan… aduh saya lupa namanya.”

“Mei Lang?”

“Ya. Ya. Mei Lang. Saya enggak sangka dia dari Tebet. Mukanya… hmm. Singapur banget.”

“Cina?”

“Hmm, iya. Iya. Tadinya saya mau minta tolong dia jadi penerjemah papa.”

“Oh….”

“Papa enggak ngerti omongan dokter Foo, omongan susternya juga. Bahasa Inggris papa payah. Kalau ada yang nerjemahin kan nantinya papa bisa ke sini sendiri. Saya sih bukan enggak mau antar papa, tapi saya juga ada keluarga, takutnya nanti-nanti ada keperluan yang bentrok. Eh, taunya Mei udah ada banyak janji di Mount Elizabeth. Eh, bener kan Lucky Plaza enggak jauh?”

Maria mengangguk. Diambilnya botol air mineral. Tangan itu mengusap bintik-bintik embun di tubuh botol. Jemari lembab Maria membuka tutupnya. Mengisap sedotan pelan-pelan. Dan sepertinya laki-laki itu tahu kalau Maria tidak berniat menyambung pembicaraan. Dia menjauh. Berdiri dekat asbak sewarna rok span Maria, tidak jauh dari ujung jalan.

Maria tengadah.

Dahan trembesi berayun ringan. Matahari tidak seterik biasa. Dan dahi Maria melembab. Selembar daun jatuh ke pangkuan. Persis di atas bungkus rokok. Maria menjentikkan jari. Daun itu jatuh ke trotoar. Seorang perempuan berkaos singlet dengan tangan memegang rantai anjing berlari melintas. Mata Maria lekat. Pada perempuan itu hingga ia hilang di tikungan. Pada daun yang terseret sepatu ketsnya.

Daun robek itu menyentuh kaki laki-laki yang sedang menyalakan rokok kedua dengan sisa rokok pertamanya. Mungkin dia sungkan meminjam pemantik lagi.

Pasti. Tidak mungkin salah. Kulitnya sama persis. Hidungnya. Matanya. Sudah sebelas tahun. Rasanya baru kemarin.

Mata Maria memerih. Seperti ada ratusan semut hitam bersarang di situ. Migren mendadak menyambangi bagian belakang kepalanya. Peristiwa berlintasan. Maria menunduk. Memejamkan mata. Ia coba menghapus lintasan-lintasan peristiwa yang membayang di kelopak mata.Tapi masih juga ada.

Dahinya yang lembab semakin basah. Bibir Maria bergerak-gerak menyebut Bapa Kami. Keringat membesar. Setitik merambati hidung. Jatuh.

Maria celingukan. Dari balik dinding kaca toko dilihatnya langit menghitam ditutup asap. Percik api meletik dari kabel listrik.

“Ayo, Mar. Cepat! Lari.” Ratih menepuk pundak Maria. Ia tersentak.

Kaki Maria masih dipaku di lantai. Susah beranjak. Ratih cepat menyeret Maria. Tapi Maria menahan tarikan tangan Ratih, “Tas….”

“Gila. Tinggalin, Mar.”

“Tiket.”

“Mar! Kamu gila? Itu!”

Ratih membalik paksa tubuh Maria menghadap pintu depan. Pintu kaca depan hampir terbuka. Palang besi sedikit lagi jebol dari kaitan. Orang-orang mendorong. Berteriak. Mata Maria bersitatap dengan banyak mata di muka pintu. Mata-mata yang merah dan besar. Maria tidak penuh mendengar suara yang keluar dari mulut-mulut itu.

“Ayo!”

“A… apa?”

“Pake nanya! Enggak dengar?”

“Apa?”

“Gila ni anak! Lari, Maria. Lari.”

“Tapi….”

“Lu Cina tau.” Lidah Ratih berat berteriak di telinga Maria. Padangan mereka beradu. Mungkin karena air mata mengaburkan pandangannya, Ratih melihat mata Maria berkabut.

“Ayo….”

Tangan Ratih yang dibasahi keringat membetot pergelangan Maria. Ratih mengarahkan kaki ke tangga darurat. Mereka terus menerobos kerumunan teman-teman mereka yang juga berlari saling bersilangan. Beberapa kali mereka jatuh. Kepala Maria serasa meledak. Jeritan dan teriakan saling menabrak. Saling timpa.

“Sebentar, Tih. Paspor….”

Begitu saja Maria teringat buku kecil hijau itu.

Enggak mungkin ditinggal. Minggu depan aku ke Singapur. Hanya dua minggu. Hanya jaga toko. Tapi di Orchard Road. Ke luar negeri enggak pakai uang. Dapet bonus dua kali gaji. Enggak mungkin ninggalin tas di loker. Ada paspor. Tiket. Uang yang belum dikirim ke papa. Kunci kamar. Foto mama di depan kuil Surga Neraka….

“Mar!”

“Tapi….”

“Liat!”

Maria menoleh.

Batu dan kayu di tangan orang-orang menghantam pintu depan. Kaca etalase sebelah kanan retak. Sebatang besi menghantam. Pyar. Pecahan kaca menghambur memenuhi lantai. Sebongkah batu menerjang manekuin. Roboh. Menimpa rak kemeja dan kaos.

Pintu terbuka. Orang-orang merangsek masuk.

“Bakar!”

Orang-orang dari luar dan di dalam toko itu bercampur. Seperti tawon yang sarangnya terbakar, saling adu tak terkendali.

Tangan Ratih terlepas dari pergelangan Maria.

Maria mengusap dahi yang sudah dibanjiri keringat. Jemarinya bergetar. Rokok jatuh. Maria menjejakkan hak sepatu di atas bara. Menekan. Kuat-kuat.

Maria berlari menuruni tangga darurat.

Berulang Maria hampir terjatuh. Hak sepatunya nyangkut di palang besi tangga darurat. Telapak tangannya tersayat pinggiran tangga. Maria terus turun. Terengah. Ikat rambutnya lepas. Rambut itu terburai. Sepatunya lepas.

Mereka makin dekat.

Maria hampir di undakan terakhir. Tiga lagi. Ia melompat. Kelingking kaki kiri terselip di retakan semen. Nafas Maria berkejaran dengan langkahnya yang pincang.

“Itu….”

“Allahu Akbar….”

“Bakar!”

Maria tidak sempat menoleh. Teriakan itu tidak datang dari orang-orang yang mengejarnya. Suara itu dari ujung gang. Terasa persis di liang telinganya.

“Hoi. Itu satu lagi.”

“Kalem. Bentar lagi juga dapet.”

“Giliran gua kan? Mulus….”

Maria berbalik arah. Lagi berlari. Di ujung gang, tembok menghadang. Maria naik. Kakinya terasa digayuti bola besi. Tak beranjak.

Maria jatuh.

Delapan laki-laki mengepung. Merangsek. Merapat. Tubuh mereka berbau jelaga. Tangan itu memegang pecahan botol. Mencengkeram linggis. Menggenggam batu. Tangan yang lain tidak membawa apa-apa. Tangan yang lain itu menarik kakinya. Maria terjengkang. Kepalanya membentur tembok. Membentur pinggiran tempat sampah.

Laki-laki itu.

Apa mungkin Maria melupakan wajah yang terakhir dilihatnya?

Keringat ngucur dari dahi. Mata Maria semakin perih.

Mata Maria memicing, tidak bisa terbuka penuh. Langit seperti puing kayu terbakar. Retak-retak. Kelam. Tampak celana panjang seragamnya koyak. Tergeletak. Tampak tali beha putus. Kancing kemeja menempel di pundaknya. Seperti ada ribuan paku berkarat menusuk selangkangan. Mata Maria kembali segelap malam.

Maria menarik nafas. Sudut matanya melihat pada laki-laki itu. Laki-laki beraut serupa wajah terakhir yang tak mungkin dilupanya itu masih di situ. Maria menghembuskan nafas. Panjang. Hingga tak ada lagi udara bersisa di dadanya. Sesak.

Apa aku bisa memberi pipi kiri setelah pipi kanan ditampar?

Maria lagi mengambil sebatang rokok. Meletakkan lagi bungkus rokok di atas rok span abu-abu tua. Menyalakannya. Tangan kanan menekan angka-angka di telepon mobil.

“Mei Lang, are you still in Dr. Foo’s room…. Ya, this is Maria…. Let me be an interpreter for the patient from Jakarta…. Alamak…. It’s OK…. Really, I’m OK…. Hmm, solid…. OK…. Thanks a lot….”

Maria mengambil botol air mineral. Bintik-bintik embun mencair. Tangan itu mengusap lingkaran bundar bekas pantat botol dekatnya duduk. Jemari lembab Maria membuka tutup botol. Mengisap sedotan pelan-pelan. Kanker stadium empat tidak akan lama. Apa salah kalau aku membantu, mempercepat?

Mona Sylviana lahir 16 Mei 1972. Giat di Institut Nalar, sebuah lembaga yang mengupayakan tumbuhnya masyarakat multikultural, di Jatinangor, Sumedang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s