Cerpen Koran Tempo – Di Ujung Belati

Cerpen M. Iksaka Banu | Koran Tempo, 8 Agustus 2010

AUCHMUTY. Samuel Auchmuty. Itu nama Skotlandia biasa. Aku pernah mendengar nama yang lebih aneh. Semula kubayangkan ia gemar berkebun atau menyimpan uang, seperti kebanyakan orang Skotlandia lainnya. Tetapi dalam rapat darurat perwira petang kemarin, Jenderal Jean-Marie Jumel terlihat sangat gelisah saat menceritakan sepak terjang pemilik nama itu kepada kami. Ya, Auchmuty yang ini seorang Mayor Jenderal. Pemimpin armada Inggris di India.

Segera setelah Prancis, yang kemudian dibantu Belanda, bersilang senjata dengan Inggris, nama Samuel Auchmuty melesat naik, meninggalkan jejak panjang mesiu dan darah di setiap tempat yang disinggahinya. Menggentarkan kawan dan lawan.

Celakanya, makhluk mengerikan inilah yang sebentar lagi akan datang menyerbu kami di Weltevreden. Lebih celaka lagi, ternyata dua hari yang lalu ia bersama Lord Minto, dan delapan ribu tentaranya berhasil mendarat di pantai Cilincing tanpa mendapat perlawanan. Memalukan! Belum pernah terjadi dalam sejarah militer manapun bahwa di pagi hari yang terang-benderang, delapan ribu pasukan musuh bisa menepi ke pantai dalam sekoci-sekoci kecil yang santai tanpa diganggu sebutir peluru pun. Bahkan pukul tiga sore, seluruh kekuatan kami di Batavia menyerah tanpa syarat. Aku yakin banyak serdadu kami yang terkencing di celana. Termasuk para perwira.

“Letnan Fabian Grijs, heer,” sebuah panggilan membuatku menengok ke kanan. Seorang pria kurus dalam seragam infanteri muncul dari ujung tangga menara, memberi hormat. Aku tahu, ia tidak serius dengan protokoler itu. Sebulan lalu ia masuk kompiku. Kami menjadi sangat akrab. Kebetulan saja pangkatku lebih tinggi sedikit.

“Manfaatkanlah jatah tidurmu, Sersan Sterk,” setiap menyebut namanya aku selalu geli, karena sangat berlawanan dengan keadaan tubuhnya.

“Sebentar lagi, Letnan. Hanya ingin tahu, mengapa kita dipindah ke atas menara? Siapa menjaga sayap kiri benteng?”

“Jangankan aku, Brigadir von Rantzau pun tak tahu alasannya,” kuedarkan pandangan ke seluruh dinding benteng. Bagian kanan terlindung oleh kanal lebar. Tapi sisi kiri memang tampak menganga. “Tanyakan pada Jenderal Jumel,” sambungku.

“Ah, Prancis pandir itu,” Sterk menekan tawanya sehingga terdengar seperti orang tercekik. “Tak mau belajar bahasa Belanda. Padahal jumlah tentara Belanda di sini jauh lebih banyak daripada Prancis.”

“Jangan mencibir. Baru tiba dari Eropa, ia langsung dijebloskan ke sini. Tentu agak gamang. Soal bahasa, jangan lupa, saat ini Belanda dan Prancis adalah satu negara. Semua bebas menggunakan kedua bahasa itu.”

“Ya, aku hanya ingin mengatakan, kita butuh pemimpin berwibawa. Kalau tidak, habislah kita kali ini. Gubernur Janssens pun tampaknya tak punya kharisma,” wajah Sterk berubah mendung. “Aku sudah menulis surat wasiat untuk istriku sore tadi.”

“Hati-hati. Aku bisa melaporkanmu untuk pernyataan-pernyataan yang sangat tidak patriotik tadi,” aku menggeleng. “Tapi, hei, istrimu pribumi?”

“Ya. Gadis Kemayoran. Manis,” Strek meringis, memamerkan sepasang gigi emasnya. “Tak pernah tahu nama aslinya.Yang jelas, Januari kemarin ia resmi menjadi Johanna Maria Krets setelah melahirkan anakku.”

“Krets? Ah ya, tentu saja. Pembalikan namamu, bukan?” Aku mengangguk. “Kau tergila-gila padanya?”

“Letnan, ia mahir bercinta, dan tidak rewel seperti para betina palsu dari Holland itu,” Sterk mendengus. “Gadis pemerah sapi, di sini jadi nyonya besar. Engkau tidak mengambil gundik, Letnan? Ada istri di Belanda?”

“Belum memikirkan istri,” kuhela napas panjang. “Soal gundik, terus terang aku termasuk pihak yang kurang setuju.”

“Ooh,” Sterk manggut-manggut. “Tentunya kau juga tak suka ini?” Sterk mengeluarkan kantong kecil, lalu dengan cekatan menata daun sirih, pinang, kapur, dan tembakau, sebelum mendorongnya ke dalam mulut. Tak lama kemudian, mulutnya tampak berlumur cairan merah. Aku memalingkan muka. Sterk terbahak.

“Bagaimana kauisi hidupmu, Letnan? Semua kauanggap buruk,” sambung Sterk.

“Sersan, orang Inggris memang congkak, tetapi kurasa mereka benar. Dengan menjaga kemurnian tradisi Barat yang tinggi, penduduk asli akan hormat pada kita. Lihat pasukan Inggris. Berapa banyak prajurit Eropa di sana? Hanya sepertiga. Sisanya adalah laskar Bengal dan Madras dari India, yang setia kepada Raja Inggris,” kataku. “Jadi, bukan kita yang turun, merekalah yang perlahan kita naikkan derajatnya menjadi bangsa beradab.”

“Semoga kau tidak sedang mencoba mengatakan bahwa aku sudah turun derajat lantaran hidup bersama perempuan biadab,” dagu Sterk mengeras.

“Jangan potong kalimatku, bisa salah tangkap walau gagasannya memang ada di situ. Maksudku, lihat laskar Jayengsekar di sana. Aku yakin mereka akan kabur pada kesempatan pertama. Tak ada kesetiaan dan terima kasih. Mengapa? Karena mereka melihat, tuan-tuan mereka bukan orang terhormat yang bisa menjadi teladan. Tuan-tuan mereka memelihara gundik, melakukan kawin campur, serta segala bentuk kebejatan lain.”

Sterk ingin mengatakan sesuatu, namun aku terus bicara: “Hal lain, coba katakan, di mana keagungan sebuah pesta dansa, pertunjukan opera, atau ibadat gereja bila wanitamu datang dengan sarung sebagai pengganti petticoat, sementara dari mulut mereka mengalir cairan merah seperti ini?” kusenggol bibir Sterk dengan telunjuk kanan. Pria itu menepis tanganku.

“Tak ada yang berani menyentuh mulutku, Letnan. Kau harus mati untuk itu. Sungguh!” Sterk mencabut belati dari pinggangnya. “Ini Batavia. Negeri yang panasnya bisa mematangkan telur. Kau ingin memakai pakaian pesta seperti di Versailles atas nama peradaban? Pergilah ke neraka bersama para borjuis itu!” teriaknya. “Bukan soal siapa yang turun atau naik. Mereka tidak setia, karena kita perlakukan mereka seperti hewan. Itu saja!”

Cepat kuhunus belatiku. Menara tempat kami berdiri ini sepi, terpisah agak jauh dari tenda peleton. Walau demikian, bentakan Sterk membuat beberapa serdadu lari memanjat tangga, namun segera berhenti melihat isyarat dariku.

Kembali kuarahkan mata kepada Sterk. Kami berputar-putar cukup lama, mencari peluang untuk menusuk atau menebas, sampai akhirnya bahu kami mulai bergerak naik-turun. Mula-mula pelan, kemudian berubah menjadi guncangan keras mengiringi tawa lebar kami.

“Setan!” makiku sambil masih tergelak. “Besok perang besar, kita ribut soal perempuan dan sirih.”

“Besok kiamat. Sebaiknya cari perempuan malam ini, Letnan,” diiringi tawa panjang Sterk menjauh, bergabung dengan prajurit-prajurit lain yang sejak tadi bertepuk tangan untuk kami. “Tapi aku serius soal kesetiaan pribumi tadi!” teriaknya.

“Pergi!” Aku mengibaskan tangan, kemudian menyusul turun dari menara. Enam serdadu bersenjata menunggu sampai kakiku menginjak anak tangga terakhir, memberi hormat, kemudian naik ke atas benteng. Mereka akan berjaga sampai pagi di sana.

Di dalam tenda, mataku tak kunjung terpicing. Ada laporan bahwa jembatan Ancol yang kami hancurkan telah dibangun kembali, dan pasukan Inggris sedang menuju ke sini dalam jumlah besar. Mampukah menahan mereka? Sterk benar, kami butuh pemimpin macam Napoleon atau Auchmuty untuk mengatur gerombolan kacau yang menamakan diri pasukan Hindia Belanda ini.

Sebenarnya kami pernah punya orang seperti itu. Sayang, baru saja ia pulang ke Belanda. Kutarik lagi belati tadi dari sarungnya. Bukan sembarang belati. Hadiah dari orang itu. Lelaki yang sungguh ingin kuteladani dalam hal disiplin dan strategi. Terutama di saat genting seperti ini.

TIGA tahun lalu, tak lama setelah menjadi Letnan, aku menemani Majoor van Ijzerhard mengawasi pembangunan ruas jalan pos dari Meester Cornelis sampai Kwitang.

Siang itu, para mandor bekerja setengah hati. Ratusan kuli terbawa menjadi tidak disiplin. Bentakan dan makian tak membawa hasil. Padahal kami sudah jauh di belakang jadwal dibandingkan peleton lain yang bekerja di ruas jalan berikutnya.

Maka lepas tengah hari, atas perintah Majoor Ijzerhard, para serdadu diturunkan. Cambuk bermata sembilu segera berputar-putar mencari korban. Dalam tempo singkat satu kilometer jalan rampung dipadatkan. Sayangnya tak berlangsung lama.

Di dekat Paseban, seorang kuli menarik cambuk yang dilecutkan ke atas tubuhnya, membuat si pemilik cambuk terlempar dari punggung kuda, disambut tinju dan tendangan oleh kuli-kuli lainnya. Rekan-rekan serdadu malang itu datang, mengayunkan popor senapan membabi-buta. Seorang kuli retak kepalanya. Keadaan semakin rusuh. Senapan mulai menyalak di sana-sini. Tubuh-tubuh kuli bergelimpangan. Tetapi segera terlihat bahwa kami kalah jumlah. Beberapa kuli berhasil menguasai senapan, lantas membalas tembakan, membuat para serdadu yang jumlahnya hanya satu peleton mundur.

Aku terkepung di antara puluhan kuli. Kudaku entah ke mana. Wajahku kuyup oleh darah akibat lemparan batu. Dan mereka terus melempar, membuatku perlahan-lahan rubuh, nyaris kehilangan kesadaran.

Mendadak kerumunan itu cerai-berai. Ada bias ketakutan di wajah mereka, menemani sepenggal kalimat yang diserukan berulangkali: “Tuan Besar Guntur!”

Aku mendengar banyak letusan senapan, serta teriakan dalam bahasa Belanda. Setelah itu, suasana kembali tenang. Apakah kuli-kuli berhasil dijinakkan? Ingin sekali tahu apa yang terjadi, tapi pandanganku telanjur gelap.

Aku terlonjak bangun setelah merasakan semburan dingin di wajah. Seseorang melemparkan kantung air, dan membiarkan aku meneguk rakus sisa isinya. Ketika aku mendongak, tampaklah orang dahsyat ini di atas kuda putihnya. Ia mengenakan seragam marsekal warna biru laut, dengan epolet keemasan di kedua bahunya. Kerah bajunya penuh bordir sampai batas perut. Di dada kirinya, lencana perak berbentuk bintang besar. Ia melepas topi dan rambut palsunya, sehingga cambang yang hitam melengkung terukir jelas di kedua pipinya, sangat berlawanan dengan rambut depannya yang dipotong lurus di atas dahi. Ini bukan perjumpaan pertama kami. Jadi aku tahu, siapa dia.

“Marsekal Daendels,” sekuat tenaga aku berdiri. “Selamat siang, heer!”

“Catatan karirmu bagus. Tapi tak sepadan dengan kerjamu hari ini, Letnan. Kau kelihatan seperti baru kembali dari neraka,” marsekal menunjuk dahiku. Rupanya seseorang telah berbaik hati membalut lukaku dengan kain selagi aku pingsan tadi.

“Enam serdadu, dan Majoor Ijzerhard luka parah. Tapi hukum harus tetap ditegakkan. Semua, termasuk engkau, harus masuk bui. Belajar mengendalikan massa,” sambung marsekal.

“Siap!” jawabku, sambil berpikir, akan bermuara di mana percakapan ini.

“Lihat,” marsekal menoleh. Kuikuti arah dagunya. Di depan barisan kuli dan serdadu berdiri Sabeni, kepala mandor, dengan tangan terikat ke belakang. Wajahnya lebam. Di ujung kakinya, terbaring sekitar dua puluh mayat kuli.

“Si penghasut,” kata marsekal sambil melemparkan sebilah belati kepadaku. “Buatlah pelajaran yang sulit dilupakan semua yang ada di sini, agar mereka menghormati orang yang sudah memberi mereka hidup.”

Kuamati belati itu. Palangnya dari kuningan. Pegangannya berlapis keramik. Bukan jenis yang biasa dipakai prajurit sebagai sangkur.

“Segera temui atasanmu,” marsekal memutar kuda, lantas menghilang bersama rombongannya di balik pekatnya debu.

Kudekati Sabeni yang dijaga oleh dua serdadu.

“Sabeni,” desisku dalam bahasa Melayu. “Kuangkat kau dari tumpukan sampah, kusantuni keluargamu, kuperbolehkan kau menarik upeti. Inikah ucapan terima kasihmu? Begitu sulitkah untuk setia? Sadarkah kau, hidupmu ada di tanganku? Di ujung belati ini?”

Hening. Seluruh mata tertuju pada belati di tanganku, yang siap terayun. Sabeni tidak berkedip. Matanya mengunci mataku. Anjing! Seharusnya kubongkar ususnya, tapi ternyata belati itu justru menyilang ke atas, menyobek pipi Sabeni, membongkar mata kanannya. Masih terngiang teriakan Sabeni mengiringi darah yang tumpah dari luka itu. Dan kini, teriakan jugalah yang membuat aku tergeragap bangun.

“INGLITIR! INGLITIR!”

Itu teriakan anggota laskar Jayengsekar.

Aku berlari menuju posku di atas benteng. Kuraih teropong. Belum tampak apapun sejauh mata memandang.

“Berapa lama?” kutengok Sterk yang berdiri di belakangku.

“Sudah sampai Molenvliet,” jawabnya. “Baru saja masuk kabar dari mata-mata.”

“Jangan takut. Tandai hari ini dalam hidupmu. Hari ini, 10 Agustus 1811, kita berperang untuk Tuhan, dan harga diri kita!” kutarik pedangku, sambil mencari posisi terbaik agar suaraku terdengar jelas.

Anggota peletonku lima puluh orang. Bersama dua peleton lain, kami menjaga dinding sepanjang seratus meter yang menghadap ke jalan raya. Empat puluh orang akan menembak dan mengisi mesiu bergantian. Sepuluh orang sisanya berdiri paling belakang, siap mengganti yang gugur. Pada latihan terakhir bulan lalu, kecepatan tembak kami boleh dibanggakan.

Di luar itu, secara umum pertahanan kami cukup kuat. Mereka harus berjuang keras bila ingin menyentuh benteng. Jembatan tarik sudah kami hancurkan. Di belakang kanal, ada kubangan lumpur, ditambah empat lapis barikade abatis dari batang jati besar, dan tiga ratus meriam yang berfungsi baik.

Sepanjang siang, tak terjadi apa-apa. Sekitar jam enam petang, kembali hadir teriakan mencekam: “Inglitir! Inglitir!”

Kini bisa kulihat barisan merah di batas cakrawala, bergerak ke arah kami disertai suara genderang. Jantungku berdegup kencang. Jemariku yang basah dan gemetar berusaha mempertahankan genggaman pada hulu pedang. Tidak. Jangan sekarang. Mereka belum masuk jangkauan. Sebentar lagi.

Tiba-tiba terdengar dua ledakan. Lalu sekali lagi. Dinding sebelah kiri tampak menyala. Inggris keparat! Mereka tahu kelemahan kami, dan langsung menggempur titik itu dengan meriam. Syukurlah, sebentar kemudian, artileri kami membalas bertubi-tubi. Kami melihat lumpur dan air di bawah sana bergantian terdorong ke atas, diikuti jerit kematian.

Mana Auchmuty? Mana meriam mereka? Tak ada lagi letusannya. Kupasang teropong. Ternyata masih utuh. Hanya dua? Aku yakin sedikitnya mereka membawa lima meriam jarak jauh. Jelaslah, ini baru pasukan pelopor.

Di garis depan, laskar sepoy India terus maju menerobos barikade dan lumpur. Dua orang berhasil merusak barikade dengan dinamit. Sisanya membuat formasi pendobrak gerbang, tepat di batas jarak tembak kami. Inilah saat yang kunanti.

“Siap!” Aku memberi aba-aba. Demikian juga empat Letnan lain sepanjang sisi atas benteng.

“Bidik!” kuangkat pedangku rata dengan dagu, lalu kuayun ke bawah sambil berseru: “Tembak!”

Letusan senapan yang nyaris serempak membuat sekitar seratus prajurit baju merah di bawah sana berjatuhan seperti kartu domino.

“Isi!” keduapuluh prajuritku mundur selangkah, berlutut mengisi senapan dengan bubuk mesiu, sementara teman mereka di baris ke dua ganti maju.

“Bidik! Tembak! Isi!” Entah sudah berapa puluh kali kuserukan kalimat itu sewaktu datang sebuah goncangan besar yang membuatku terlempar.

Saat siuman, yang pertama kulihat adalah wajah Sterk. Matanya melotot. Cairan merah di mulutnya. Kali ini tentu bukan karena sirih. Di sekelilingku, puluhan serdadu Belanda dan Prancis bergeletakan. Banyak yang tak berlengan atau berkaki. Suara erangan minta tolong menyiksa telinga.

Kucoba bangkit, tapi kedua kakiku sulit menapak. Nyeri luar biasa. Kurasa tulang kakiku patah di banyak tempat. Kuamati sekeliling. Di bawah selimut malam, Benteng Weltevreden terang oleh kobaran api. Mijn God! Mereka berhasil membongkar sisi kiri benteng. Agaknya, untuk melindungi regu penyerang itulah mereka menghujani bagian tengah benteng, tempatku bertugas tadi, dengan peluru meriam.

Kutarik tubuhku ke sebuah istal kosong yang selamat dari amuk api. Dari balik tumpukan jerami, kulihat pasukan dragoners Inggris menyerbu masuk, memburu sisa pasukan kami yang tunggang-langgang. Pedang mereka menyambar-nyambar. Bukan hanya prajurit, perwira menengah pun menjadi korban. Benarlah yang kudengar, tentara Inggris jarang menawan musuh.

Seorang dragoner tiba-tiba membelokkan kudanya ke arahku. Mustahil ia melihatku, jerami ini cukup tinggi.Tak urung hatiku kecut. Beringsut aku masuk lebih ke dalam.

Mendadak seseorang menekuk leherku dari belakang, lalu menyeretku ke ruang penyimpanan dedak yang miskin cahaya. Aku berontak. Sayang tak ada tenaga. Orang itu membanting tubuhku ke sudut ruang, kemudian bergegas keluar. Tak sempat kulihat wajahnya. Tapi seragamnya menjelaskan bahwa ia seorang sepoy, atau sejenis itu. Samar-samar kudengar ia bicara dengan seseorang, disusul langkah kuda menjauh. Dragoner tadikah lawan bicaranya?

Tak lama ia masuk lagi menghampiriku. Dengan lutut kanan ditekannya dadaku, sementara tangan kiri mencengkeram kedua pipi, nyaris membuatku muntah. Aku mendengar suara gesekan, setelah itu kurasakan logam dingin menempel di daguku. Belati!

Sekarang barulah tampak bahwa ia memakai penutup mata kanan. Wajahnya tidak mirip orang India. Hawa mulutnya asam, seperti aroma yang biasa menyapa hidung setiap membuka pintu jamban.

“Tuan, sadarkah kau bahwa hidupmu ada di tanganku? Di ujung belati ini?” terdengar suaranya. Berat dan datar. Suara yang pernah akrab di telingaku.

“Sabeni?”

Ia membisu. Belatinya diputar ke atas. Kemudian lewat sebuah sentakan, benda itu dibawa meluncur turun. Kupejamkan mata. Terdengar bunyi melesak dan getaran di leher. Aku menunggu, syaraf mana yang sebentar lagi mengirim rasa sakit ke otak. Ternyata tak ada. Kubuka mata. Belati itu menancap di kerah jaketku. Sejengkal dari leher.

Sabeni mengendurkan tekanan lututnya lalu menampar wajahku satu kali sebelum beranjak pergi. Di ambang pintu ia membalikkan badan. Dalam gelap, terasa olehku bahwa matanya yang tinggal satu menatap lurus kepadaku, mengiringi suaranya yang berat dan datar: “Terima kasih. Kau telah mengangkatku dari sampah.”

Jakarta, 18 Juli 2010

Catatan:

(1) Sterk, kekar. (2) Inglitir, Inggris, dari Ingliterra (Portugis). (3) Sepoy, unit militer Inggris, anggotanya penduduk asli, kebanyakan dari India. (4) Dragoners, pasukan pemusnah.

M. Iksaka Banu bekerja di bidang desain grafis dan periklanan. Lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Bermukim di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s