Cerpen Suara Merdeka – Rumah yang Bertumbuh

Cerpen Geger Riyanto | Suara Merdeka, 1 Agustus 2010

ANEH. Aku merasa ada yang hilang pagi ini ketika lelapku terputus. Aku tak merasakan sebatang pegal yang biasa melintas di punggungku karena semalaman terimpit tubuh gemuk adikku. Kubuka mata dan kudapati adikku tak ada di sampingku, ibuku tak ada di samping adikku, dan adikku yang paling kecil tak ada di samping ibuku. Aneh. Biasanya aku yang bangun paling dini.

Selesai mandi dan memakai kemeja kerja, aku bergegas keluar. Jam di tubuhku mengatakan aku sudah terlambat berangkat kerja. Tetapi ketika aku membuka pintu keluar rumah, mengapa aku menjumpai kamar lagi? Kubuka lagi pintu kamar di hadapanku, dan aku menemui kamar selanjutnya. Sekarang, entah sudah berapa lama aku berlari melintasi kamar-kamar. Aku hanya waswas bahwa aku sekarang sedang menjadi pitam dalam kepala atasanku… setiap langkah lebih dari yang kubutuhkan untuk mencapai kantor adalah langkah menuju ubun-ubun untuk meledakkan kemarahannya. Kurang asem kamar yang tak habis-habis ini!

Sepertinya ini awal dari hari yang tidak biasa. Tetapi setelah berhasil keluar dari rumah, jalan Ibu Kota menyambutku dengan kemacetan. Kantor menyambutku dengan pesta kemarahan, disusul bertumpuk dokumen dari atasanku yang harus kuperiksa. Melimpahkan pekerjaan, cara konvensional menghukumku yang selalu kuanggap lucu. Pemain olahraga mana pun yang tak mampu mengikuti strategi pelatih akan ditarik dari lapangan, tetapi ini….

Ah, hari biasa yang tidak biasa. Demikian aku menyimpulkan sebelum mesti bungkam, memeriksa berbukit-bukit kertas dokumen di hadapanku.

***

MALAM, aku baru sadar rumah kami memang bertambah luas. Kusangka tadi pagi bagian dari diriku yang manja, tak ingin ke kantor, memerangkap diriku ke dalam lorong fatamorgana yang dibentangkan. Kukira diriku yang manja saat itu ingin bertutur, tidurlah, rumahmu yang laksana istana ini akan memayungi istirahatmu.

“Tadi pagi Kakak ngga bangun saat kami bangunin. Kami mengelilingi rumah ini ngga habis-habis. Mantep, ya?” ujar adikku yang kecil.

Kami sedang menikmati makan malam di ruang makan baru kami, ruangan putih, besar, melompong, yang tumbuh di depan kamar pertama kami. Adik-adikku tak henti-hentinya membicarakan petualangan mereka hari ini, hingga nasi menyembur dari mulut masing-masing seakan mereka sedang perang nasi. Adik-adikku memang tak pernah mengenal kamar. Sampai kemarin malam kami masih makan, mengerjakan PR, memasak, tidur dalam satu ruangan, dan mandi di bedeng belakang.

“Hush, makan dulu!” tegur Ibu.

“Lihat! lihat! Ada tahi lalat di hidung Kakak!” ujar adikku yang kecil menunjuk ke nasi yang menempel ke hidung adikku yang gemuk.

Mereka berdua tertawa keras. Tetapi sejenak kemudian, tawa mereka langsung surut. Mata mereka menggelinding ke sana-kemari.

“Apa itu? Suara tawa dari mana itu?”

Ya, mereka tak pernah mengenal gaung, sebagaimana mereka tak pernah menghuni kekosongan raksasa yang hanya didiami tikar, piring, nasi dan ikan. Kekosongan yang segera menyahutimu bila kau menyahutinya. Ah, mengapa sesuatu yang sudah kutimbun 70 kilo meter di bawah tanah ingatanku tergali kembali?

***

“KAKAK ingin tidur di mana?” begitu tanya si kecil sewaktu Ibu membereskan makan malam tadi.

Kalau aku mematuhi hari esok yang memanggilku ke kantor akan kujawab aku ingin tidur di kamar tepat sebelum pintu keluar rumah ini. Agar wajah-wajah di kantor tak menjadi lebih beringas esok. Aku harus mematuhi hari esok, tetapi hari kemarin terus memanggilku. Hari kemarin menyuruhku untuk tidur bersama adik-adikku. Tetapi mereka bilang, mereka ingin mencoba tidur sendiri untuk kali pertama. Kemudian adikku yang kecil mengambil kamar di lantai tiga, dan yang gendut di lantai dua. Ibu di lantai satu, tetap di rumah pertama kami. Setidaknya aku mesti tidur di depan kamar mereka, begitu kata masa laluku.

Aku memangku kepalaku yang sekonyong-konyong berat karena teringat seseorang yang bernama Ayah, dia yang hingga detik ini masih menghuni hari kemarin, dia yang melarut dalam hari kemarin. Cerita ini terjadi sewaktu adik-adikku masih sebesar seekor kelinci. Dalam usia yang demikian dini mereka dipaksa mendengar tusuk-menusuk yang berlangsung di luar kamar kami, di ruang tamu.

Ayah menusuk Ibu. Terus, terus, terus menusuk. Akhirnya Ibu balas menusuk Ayah, seraya menusuk dirinya sendiri, “Kebodohanku, kalau saja aku tak memilihmu. Kalau saja aku memilihnya, sudah jaya hidupku!” Ibu membabi-buta menusuk semua. Menusuk aku yang bersembunyi, merintih di balik sebilah pintu kayu yang tak mampu menahan tusukannya. Betapa aku merasa keberadaanku tak punya alasan, dan juga keberadaan kalian, wahai dua wajah yang bergeming tenteram seperti malam. Keberadaan kita seperti tak pernah digurat oleh pena Tuhan. Aku ingin percaya bahwa kalian tak mendengar sebilah pun pisau yang keluar dari mulut Ibu yang surup.

Setelah itu, Ayah tidur di kamar yang lain dari kami. Ibu tidak bilang apa-apa, Ayah juga. Sejak itu, ketika mereka berpapasan wajah dan lidah mereka segera menjadi patung. Aku ingin seperti adik-adikku yang masih bening itu, tak mengerti arti keheningan mereka yang lebih menyayat daripada sebilah silet yang melintas di punggung. Aku hanya bisa berharap, di bawah atap yang sama dua hati akhirnya akan kembali berjumpa. Berharap, hati mereka belum ikut menjadi patung.

Suatu saat, hariku dibuka dengan kepala yang berat. Kepalaku sakit. Dari arah sinar matahari yang menyekaku, aku menyadari bahwa hari sudah siang. Firasatku langsung berbisik, sesuatu yang buruk. Kendati kamar kami telah terpisah, aku tetap dibangunkan dari setiap tidurku dengan impitan pelukan Ayah.

“Ayahmu ada di dalam kamarnya,” jawab Ibu yang melihatku tampak mencari-cari, padahal aku tak bertanya kepada Ibu, aku tak berniat. Aku tak berani. Maka aku berpura-pura tenang, tak mencari-cari lagi. Beberapa saat kemudian, tanpa melihat Ibu aku mengendap-endap ke kamar Ayah. Rasanya ini salah, mengapa hanya mencari Ayah seperti melakukan tindak kejahatan? Aku membuka pintu kamarnya yang tertutup, perlahan… tak kujumpai apa-apa. Tak kujumpai meja kerja, tak kujumpai tempat tidur, tak kujumpai Ayah.

“Sudah Ibu bilang, ayahmu ada di dalam kamarnya,” suara Ibu menyambar dari belakang.

“Hah? Maksud Ibu?”

“Ayahmu ada di dalam kamarnya. Dia larut di dalam kamarnya.”

Ibu lalu menutup pintu itu dengan amat perlahan, seakan-akan kamar itu terbuat dari pasir. Ibu pergi meninggalkanku begitu saja, seperti mempersilahkanku membuktikan kata-katanya. Aku kembali mengintip ke dalam kamar itu.

“Ayah! Ayah!”

Ada yang mengembalikan sahutanku dalam seperlima detik, “Ayah! Ayah!” tapi yang kutahu, dia yang menyahutiku adalah kekosongan. Yang kutahu, dia bukanlah Ayah. Dia tidak mungkin Ayah yang gemar membacakan cerita, yang menciumku ketika aku berpura-pura tertidur mendengarkan dongengannya. Apakah arti kata-kata Ibu, Ayah larut di dalam kamarnya?

Rumah yang pernah kami tinggali bersama Ayah akhirnya dijual. Ibu bilang dirinya butuh uang untuk memasukkanku ke bangku SMK. Tanpa Ayah, Ibu memanggul tanggung jawab besar untuk menghidupi kami semua. Ia mengelola rumah makan, tetapi tak cukup untuk membiayai pendidikan lanjutanku. Perasaanku tidak jelas, entah apakah senang karena akhirnya mengubur yang menyakitkan ataukah sedih karena meninggalkan yang membahagiakan. Aku memilih yang pertama, aku tak ingin menambah dosa karena tak mampu menghidupi diriku sendiri dengan menambah beban perasaan pedihku di pundak Ibu. Mungkin tumbuh dewasa berarti seseorang beranjak dari masa lalunya.

“Besok kamu harus berangkat pagi, bukan? Tidurlah.”

Aku terkesiap dari lamunanku, Ibu memergokiku yang duduk termenung di depan kamar adikku. Aku melihatnya. Ibu… dia berkali-kali menatapku seperti itu. Ibu berkalikali memohon maaf bahwa sejak kecil aku telah dijadikan tumpuan dari sekujur beban keluarga. Dia bilang, dua pihak yang bertikai hanya akan memanggul beban kepedihannya masing-masing. Tetapi siapa yang dilahirkan dari hubungan kedua manusia tersebut akan menanggung beban kepedihan keduanya ketika mereka bertikai, ditambah beban kepedihan dari dirinya sendiri. Ibu berharap, andai aku lahir beberapa tahun kemudian, atau lahir berbarengan dengan adik-adikku. Andai aku belum memahami bahasa orang dewasa waktu itu.

“Bu… aku tahu ini sangat berlebihan. Tapi aku khawatir dengan adikku….”

Dan mengapa Ibu mempersilakan adik-adikku tidur di kamar yang terpisah? Bagaimana kalau mereka mengalami hal yang sama dengan Ayah? tanyaku dari dalam hati.

Ibu meraih tanganku, dan tangannya yang lembut mengajakku beranjak. “Kamu tak bisa memegangi mereka terus-terusan, suatu saat mereka pasti tumbuh dewasa,” kata-kata Ibu memasukiku seraya tangannya menuntunku untuk beristirahat. Ah, mungkin aku yang tidak bertumbuh dewasa. Mungkin waktuku telah berhenti di kamar yang melarutkan seseorang yang kupanggil Ayah.

Tangan Ibu terus memegangiku, hingga badanku terbenam di bawah selimut dan bola mataku terbenam di bawah kelopak. Tangannya yang lembut mengelus wajahku. Kedamaian sedang mengantarku ke tepi keterjagaanku. Dan saat kesadaranku sudah dijemput oleh tidur, aneh, sayup-sayup masih bisa kudengar.

“Maaf, selama ini Ibu menyusahkanmu. Tapi untuk sekali ini saja, berhentilah menjadi dewasa. Biar Ibu memegangimu….”

***

PAGI ini adalah pagi yang biasa, jalan raya yang meremasku seakan kertas, kursi dan meja kantor yang tak pernah berubah meski tanggung jawabku di sini semakin berat, bergedung dokumen yang menanti sentuhan tanganku yang sudah penat dengan semua ini. Magrib ini adalah magrib yang biasa, gema azan yang menari di antara dinding-dinding suara bising yang didirikan kendaraan bermotor. Aku melangkah turun dari motorku, seperti jeruk yang telah diperas. Aku melewati ruang-ruang kosong, seperti biasa. Aku menghadap ke Ibu yang terbaring di tempat tidurnya, seperti biasa.

Ibu tak bisa menegakkan kakinya lagi. Sudah lama aku ingin membawanya ke rumah sakit, tetapi ia selalu menolak.

“Ibu tidak sakit,” begitu ujarnya dengan suara yang seakan melintasi gergaji.

Aku mengingat Ibu sebagai wanita yang menggendongku. Hingga kini dia masih menggendongku agar aku tidak menggantung leherku dengan utang untuk menginapkannya di rumah yang sakit. Aku hanya bisa membelikannya obat-obatan terbaik, dan percaya pada apa yang dikatakannya bahwa dirinya tidak sakit. Aku… sungguh lemah.

Rumah kami terus bertumbuh, entah luasnya sudah berapa hektar dan berapa lantai. Aku tak tahu lagi adik-adikku tidur di mana, dan apakah setiap pagi mereka berangkat ke sekolah atau tidak. Seharusnya mereka sudah beranjak SMP. Aku ingin sekali menunggu mereka di depan pintu keluar rumah, tetapi ban berjalan kota yang terbuat dari kecamuk dan amarah ini tidak pernah menunggu. Ibu pernah sengaja telat pergi ke pasar untuk menunggu mereka, tetapi Ibu tak menjumpai mereka. Mereka masih ada di rumah ini, makan malam yang ditinggalkan Ibu di ruang makan selalu tinggal piring di pagi berikutnya. Uang jajan yang kutinggalkan untuk mereka pagi hari di depan rumah selalu sudah tak ada saat aku pulang.

Beribu kali sudah aku memanggil adik-adikku, tetapi suaraku entah tiba di mana. Malam ini mereka harus datang. Aku akan memanggil mereka dengan meniadakan makan malam. Dan, ya, malam ini aku berjumpa kembali dengan mereka, dengan wajah mereka yang berkantung di bawah mata, dengan rambut mereka yang gondrong. Satu tak lagi gemuk, dan satu tak lagi kecil… aku tak bisa lagi mengenali mereka dengan panggilan yang membuat kami dulu menjadi akrab. Aku menunduk di samping ibuku yang tertidur, mereka gelisah seakan sekujur udara di dalam kamar ini adalah jarum. Salah satu dari mereka ingin mencoba melangkah keluar dari keadaan ini.

“Hei! Tetap di sini!” tegurku.

Dengan wajah yang ditekuk dia kembali duduk di sampingku. Tapi dia ada benarnya, sebab kami bertiga seperti nisan. Selamanya pun kami berdampingan kami tak akan pernah berbicara. Aku hanya bisa berharap Ibu segera bangun, memecah pemakaman yang tumbuh di antara kami. Hari menepi, mereka berdua sudah meninggalkan kamar ini. Aku tak sanggup lagi mencegah mereka. Tinggal aku, nisan yang berdiri sendiri dan ibuku yang masih terbentang seperti makam. Astaga, makam… mengapa aku bisa berpikir tentang Ibu seperti itu?

Aku merindukan pegal yang merayap di punggungku, sebagaimana aku merindukan tubuhku terlipat-lipat, terlindung dalam rahim rumah kami. Yang kuinjak ini bukan rumah kami! Rumah kami tidak bertumbuh…. Bohong! Yang bertumbuh ini adalah kekosongan!

***

KUAMBIL sebatang rokok yang telah kusiapkan. Kupandangi sejenak… kuselipkan pada mulutku dan kunyalakan. Argh! Uhuk… uhuk… batang tenggorokanku seperti nyaris kumuntahkan ketika segulung asap itu masuk. Aku tak pernah mengisap rokok sebelumnya. Aku iri kepada mereka yang telah terbiasa mengisap batang kehidupan ini. Masalah yang menghuni dada mereka hilang bersama asap yang mereka embuskan dari mulut mereka yang hitam. Tetapi aku tak bisa seperti mereka, asap ini justru membuat dadaku kian berat.

Pandanganku mengabur, semua yang memenuhi pengelihatanku seperti akan terbelah dua atau tiga. Semua yang ada di hadapan mataku seperti diselubungi asap, dan asap itu kian tebal seiring berlalunya detik dan detik. Kepalaku perlahan kehilangan beratnya. Tubuhku pun, tak lama, ikut terangkat dari tanah. Ringan. Tidak, aku terbang. Aku asap. Langit menggantung tubuhku, udara membungkus keseluruhanku dengan lembut.

Kulihat ke bawah, Ibu memeluk sesosok tubuh yang tergeletak di lantai, tak jauh dari aku. Aku merasa mengenal tubuh itu. Aku merasa pernah mengisi jari-jari yang telah terbujur kaku itu. Tubuh Ibu yang ringkih itu berguncang hebat, seperti akan merontokkan serabut urat yang membalut badannya. Dari atas sini aku tak bisa melihat wajahnya, tetapi air matanya sudah membungkus tubuh hampa yang ia rengkuh sekuat tenaga. Aku ingin merasakan getir, tetapi tak bisa. Hampa. Hanya hampa.

Lama setelah itu, kulihat Ibu mengambil rokok dari mulut membiru tubuh yang hampa itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa… ia menaruh batang itu ke mulutnya sendiri. Aku ingin berteriak, tapi aku tak bisa merasakan segumpal suara yang biasa tersimpan di dadaku. Aku ingin menutup mataku dari adegan ini, tak bisa, aku bahkan tak bisa merasakan tanganku sendiri. Kulempar pandangan ke perut, tangan, dan kakiku, tetapi bagian bawahku itu telah digantikan oleh udara kosong. Pandanganku pun mulai mengabur. Ah, ah… ini—inikah rasanya asap yang sedang melarut menjadi kehampaan?

Aku bahkan tak bisa menggerakkan leherku, mungkin aku sudah tak memilikinya. Tapi, entah apa ini namanya, keberuntungan, takdir… ada yang meniup keberadaanku yang sudah tak sanggup melakukan apa-apa ini ke bawah. Pengelihatanku yang sudah berbayang kembali dapat melihatnya. Ibu… ia memeluk tubuh yang terkapar di lantai sebelum dirinya. Ibu membatu dalam posisi itu. Hanya tepi wajahnya yang terlihat, tepi dari mulutnya yang membiru itu tersimpul ke atas… tersenyumkah Ibu?

……………….

………..

……

….

Aku ingin melarut sekarang. Selagi perasaanku begitu damai, selagi aku berpikir bahwa Ibu tersenyum. Selagi… dunia berhenti di bawah pelukannya.

Depok, April-Juni 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s