Cerpen Suara Merdeka – Bola

Cerpen Putu Wijaya | Suara Merdeka, 25 Juli 2010

AKU merayakan kemenangan Spanyol dengan membeli sebuah bola. Dengan bangga kuserahkan bola itu kepada anak-anak yang suka main bola merecoki jalanan sambil berpesan:

“Dulu Argentina, Italia, dan sekarang Spanyol, sempat kalah dalam pertandingan mereka yang pertama di Piala Dunia, tapi berkat ketangguhan dan perjuangan habis-habisan sebagai sebuah tim, akhirnya mereka menjadi juara dunia. Hebat kan?! Nah, ternyata dengan menonton sepak bola, kita tidak hanya menghibur diri, tetapi belajar meneguhkan mental. Coba apalagi yang dapat kalian pelajari dari begadang sebulan penuh nonton piala dunia, sampai pilek-pilek begitu?!”

Anak-anak itu bersorak, lalu rebutan menjabat tanganku. Mereka mengacungkan jempol dan memuji-muji. Ada yang langsung mengangkatku sebagai pembina, lalu menuntut supaya aku membelikan mereka seragam, karena mereka akan bertanding.

“Bapak paling hebat, Bapak satu-satunya yang memihak anak-anak muda. Mereka yang lain cuma bisa maki-maki mengumpat kami bandit, karena kami main bola di jalanan. Padahal kami kan main di pinggir jalan, nggak ada yang main di tengah jalan. Ya kalau mau supaya kami main di lapangan, bikinkan lapangan dong!”

Aku kecewa. Bukan itu yang aku harapkan. Ternyata petuahku tidak terlalu diperhatikan. Anak-anak itu lebih suka hadiahnya.

Sampai di rumah aku sambat.

“Sebagus apa pun pelajarannya, tapi kalau yang menerima otaknya batu, tidak akan ada gunanya. Mubazir semua! Payah!”

Istriku heran.

“Maksudnya?”

“Ya begitulah mereka itu. Diajak rembugan, nggak ada yang ngarti! Bagaimana bisa hebat kalau tidak pakai otak? Main bola itu kan bukan sekadar menyepak bola, tapi pakai taktik, strategi, pakai perhitungan. Memerlukan kecerdasan! Nggak cuma kekuatan. Ngawur! Lihat Spanyol!”

“Siapa mereka?”

“Anak-anak kampung yang suka main bola di jalanan itu!”

Istriku terkejut.

“Lho, sejak kapan Bapak bergaul sama anak-anak itu? Bukannya Bapak yang dulu memelopori kompleks supaya ngusir mereka supaya jangan main bola di jalanan?”

“Memang. Main bola kok di jalanan itu gila. Membahayakan diri dan mengganggu lalu-lintas. Itu namanya asosial. Main bola di lapangan dong. Itu ada tanah kosong di belakang rumah Pak Haji, kalau dibersihkan kan bisa dijadikan lapangan. Pak Haji yang punya tanah juga sudah menawarkan sendiri. Dia seneng kok tanahnya dipakai sebelum dibangun . Daripada jadi semak belukar dan sarang ular seperti sekarang ini?!”

Istriku manggut-manggut.

“Lho kamu kok manggut-manggut?”

“Habis Bapak sudah ketularan perilakunya pemain politik. Dulu marah-marah sama mereka, sekarang malah bergaul. Aneh!”

“Mereka harus mengerti apa arti kemenangan Spanyol. Jangan hanya menangnya saja dilihat. Ngapain kita ikut seneng-seneng padahal orang lain yang menang. Ya, karena kita mendapat pelajaran! Spanyol itu menang, bukan karena yang paling keras menendang bola, tapi karena taktiknya pas. Jadi main bola itu tidak hanya pakai kaki!”

“Pakai apa?”

“Otak!”

Istriku ketawa cekakakan. Tapi lalu pergi. Padahal aku sedang kepingin menerangkan panjang lebar pelajaran apa saja yang bisa ditarik dari Piala Dunia. Rasanya tidak ada yang mengerti apa sebenarnya makna main bola. Mereka pikir otak ditaruh di rumah kalau sudah beraksi di lapangan hijau.

“Kenapa perempuan ditakdirkan tidak suka nonton bola, Ami?” kataku menyalurkan rasa dongkolnya kepada cucuku.

Ami yang sedang baca buku menoleh.

“Kakek masih kesel ya, Argentina dan….”

“O tidak. Kakek sudah seneng, Spanyol menang. Mereka juga mempraktikkan sepak bola indah. Sepak bola itu seni, Ami. Banyak yang bisa kita pelajari dari sepak bola.”

“Misalnya?”

“Disiplin, bekerja sebagai sebuah tim, menahan emosi, mengatur strategi.”

“Dan main di jalanan, mengganggu lalulintas!”

“Nah itu dia! Itu sepakbola yang tidak pakai otak. Mereka hanya pakai kaki. Main bola hanya untuk kesenangan tok. Itu sepak bola hiburan. Sepak bola yang sebenarnya itu serius. Sepak bola itu adalah ilmu!”

“Ilmu menendang bola ngenain kepala, supaya Ami jatuh lagi dari motor?! Udah ah! Ami mau baca. Cukup satu orang saja yang gila bola dalam rumah. Satu bulan Ami susah tidur karena Kakek teriak-teriak di depan televisi seperti orang kesurupan!”

Aku tidak mau berantem dengan cucu. Lalu duduk menyepi di teras.

Waktu itu, tetangga lewat. Darahku berdesir, karena tetangga itu membawa sebuah bola. Entah kenapa ia yakin sekali, itu adalah bola yang sore tadi aku hadiahkan kepada anak-anak jalanan itu.

Aku pura-pura menyapa.

“Dari mana Pak, malam-malam?”

Tetangga menoleh dan tersenyum.

“Baru pulang kerja Pak. Tadi ribut dengan anak-anak itu.”

“Ada apa?”

“Mereka main bola lagi di jalanan. Padahal sudah beberapa kali bolanya ngenain kepala orang naik motor, sampai pengendaranya jatuh babak-belur. Putri Bapak juga pernah kena batunya kan?”

Aku mengangguk lemah.

“Betul!”

“Akhirnya bolanya saya rampas!”

“O ya? Kenapa?”

“Habis tadi giliran kepala saya jadi sasaran tadi! Motor saya masuk selokan, jadi terpaksa dibawa ke bengkel. Untung saya tidak apa-apa!” Aku tak berani lagi bertanya.

“Saya dengar dari mereka bolanya dari Bapak. Betul?”

Aku tak bisa mengelak.

“Ya, ya, saya kasih mereka bola, supaya mau bikin lapangan di tanah kosong itu dan berhenti mengganggu lalu-lintas di jalanan.”

Tetangga itu lalu menghampiri sambil mengulurkan bola.

“Hadiah Bapak tidak salah. Bapak pasti tidak berniat yang bukan-bukan dengan hadiah ini. Memang betul, masih lebih baik mereka main bola daripada kecanduan narkoba. Yang salah adalah kita yang tidak pernah menyediakan tempat bermain buat anak-anak itu, sehingga mereka main di jalanan. Tetapi masalahnya, main bola bukan lagi mengajarkan mereka menjunjung kejujuran, tapi suka akting meniru-niru pemain-pemian bola itu yang pinter memancing supaya dapat free-kick atau penalti. Masak terang-terangan, mereka tendang ke kepala saya, tapi mereka sumpah-sumpah bilang motor saya yang salah jalan. Ya saya memang melawan arus, sebab saya mau pulang, rumah saya kan memang di sini, mereka tahu itu. Lha mereka itu bilang saya ganggu mereka. Padahal mereka yang selama ini sudah ganggu kita. Jalan kan untuk motor, bukan buat main bola!”

Aku terpaksa manggut-manggut.

“Ini bolanya Pak, kalau mereka datang, pasti mereka akan datang, jangan katakan saya sudah kembalikan bolanya ke Bapak. Biar mereka bicara sama saya. Kalau mereka minta maaf dan menyadari kesalahannya, silakan bolanya kalau mau dikembalikan! Supaya jadi pelajaran!”

Dengan perasaan tak enak, aku terpaksa menerima bola itu. Dan betul saja, seperti yang diperkirakan tetangga, tengah malam, anak-anak itu muncul. Mukanya sedih.

“Pak, mohon maaf malam-malam mengganggu.”

“Ada apa?”

“Bola yang Bapak berikan pada kami itu, Pak!”

“Kenapa?”

“Pecah digilas stoom, Pak.”

Aku menghelas napas. Benar kata tetangga itu. Yang dipelajari anak-anak itu dari main bola adalah aktingnya. Sialan.

Setelah pikiranku tenang, aku terpaksa ikut berakting.

“Kalian semua tahu, apa sebabnya stoom yang mestinya hanya ngurus jalan-jalan rusak yang harus diaspal itu, kok ujug-ujug melindas bola baru kalian itu sampai pecah?”

Anak-anak itu heran. Mereka pandang-pandangan satu sama lain. Tak menyangka dapat pertanyaan seaneh itu.

“Tidak tahu kan?”

Anak-anak itu tersenyum.

“Tidak.”

“Nah! Bola kalian digilas sampai pecah, supaya kalian datang ke rumahku mengadu seperti sekarang ini, bukan hanya sekadar laporan bola baru yang aku hadiahkan kepada kalian itu sudah hancur. Tapi karena aku memang belum mendengar apa jawaban kalian, kenapa Spanyol menjadi juara dunia?
Semuanya nonton kan?”

“Nonton Pak.”

“Kalau begitu kalian pasti tahu bahwa Spanyol menang bukan karena dia yang paling pinter main bola. Siapa yang bisa meragukan kepintaran pemain-pemain Brasil dan Argentina? Kaki mereka sudah seperti tangan saja. Tapi main bola tidak hanya menendang bola. Main bola juga memerlukan jiwa seorang pemain bola yang bener. Tahu kalian, apa sebenarnya jiwa pemain bola yang sejati?”

“Memanfaatkan serangan balik, Pak!”

“Salah!”

“Kekompakkan, Pak!”

“Tidak cukup!”

“Mempergunakan kelengahan lawan!”

“Tidak hanya itu!”

“Kepercayaan diri, Pak!”

“Boleh tapi belum sempurna!”

“Kematangan juara, Pak!”

“Semua itu benar tapi bukan intinya! Intinya adalah inti dari apa yang dimaksudkan sebagai sport, sejak olahraga itu itu disebut sport. Intinya adalah sportivitas. Kejujuran! Spanyol menjadi juara karena dia yang paling tangguh di dalam membela kejujuran. Sepak bola adalah pendidikan untuk menjadikan manusia jujur. Mengerti?”

Anak-anak itu tertawa. Itulah yang aku tunggu-tunggu. Bagaikan Arjuna ketika membunuh Niwatakawaca, aku langsung membetot.

“Kalian boleh ketawa! Itu menunjukkan bahwa kalian lebih tidak tahu lagi apa sebenarnya sepak bola itu! Percuma main bola kalau tidak tahu apa sejatinya arti main bola. Lebih baik pulang sekarang, renungkan apa yang sudah aku katakan tadi. Nanti kalau sudah mengerti apa maknanya, boleh datang ke mari lagi, pintu rumahku selalu terbuka.”

Anak-anak itu terpesona.

“Maksud, Bapak?”

“Ya itu tadi. Cari inti apa yang aku katakan tadi. Main bola itu bukan hanya menendang bola, tapi mengasah pikiran dan juga perasaan. Tanpa itu, Spanyol tidak akan pernah jadi juara. Hanya mencoba memanfaatkan kelemahan dan kelemahan lawan, itu bukan sport, itu namanya judi. Untung-untungan. Main bola seperti itu, tidak ada gunanya untuk pembentukan karakter bangsa. Negara membiayai olahraga main bola dengan menyisihkan miliaran belanja negara yang berasal dari cucur-keringat rakyat, untuk apa, kalau bukan untuk membina negara dari dalam rohani rakyatnya. Pembangunan fisik saja akan membuat bangsa ini timpang, para pajabat korup dan hukum tidak bergigi!”

Tiba-tiba istriku keluar.

Aku menyangka dia muncul untuk menghidangkan minuman. Ternyata perempuan yang sudah 40 tahun menemaniku tidur setiap malam itu, keluar sambil membawa bola anak-anak muda yang dirampas tetangga itu.

Tanpa berkata sepatah pun, dia meletakkan bola itu di meja, kemudian pergi. Aku kontan mati langkah. Seluruh kecapku berantakan. Anak-anak itu bersorak. Mereka mengambil bola itu, lalu lari keluar tanpa bilang apa-apa lagi. Aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi.

“Habis, aku bosan dengar Bapak ngasih kuliah sama anak-anak itu!” kata istriku kemudian di tempat tidur. “Kok bicara tentang kejujuran, kejujuran, kejujuran, padahal sendirinya tidak jujur! Sudah jelas anak-anak itu bohong, bagaimana mungkin bola dilindas stoom. Semua juga tahu, bola itu dirampas tetangga kita, karena menghantam kepalanya sampai dia jatuh dari motor, karena anak-anak itu main bola di jalanan. Kenapa tidak bilang terus-terang saja apa adanya. Jangan main bola di jalanan? Apa kebohongan mesti dilawan dengan kebohongan?!!”

Aku sebenarnya malas menjawab. Tapi mulutku bicara.

“Aku kan hanya mau mengajarkan agar anak-anak itu jangan berbohong!”

“Dengan berbohong?”

“Berbohong demi kebaikan itu perlu!”

“Bohong tetap saja bohong! Bohong itu tidak bisa dihubungkan dengan kebaikan.”

“Tapi itu kata-kata orang besar!”

“Betul! Tapi kalau yang mengatakannya orang besar, tidak apa, sah! Apa Bapak sudah merasa diri orang besar sehingga bohong itu jadi betul?!”

Mulutku tidak mau menjawab lagi. Istriku nampak sedang dalam keadaan yang tidak ingin dibantah.

“Ingat! Bapak bicara sama anak-anak jalanan. Kalau mau melarang mereka, pakai bohong-bohongan, mereka lebih pinter lagi. Betul tetangga kita itu! Kalau mau melarang main bola di jalanan, pakai tindakan tegas, ambil saja bolanya. Jangan pakai berunding ke sana-ke mari, anak-anak jalanan itu bukan tempat perundingan. Salah urus itu namanya!”

Aku memekakkan telingaku. Lalu duduk di teras rumah menyepi.

Pagi-pagi tetangga menghampiri.

“Pak, semalam anak-anak itu datang dan minta maaf. Silakan Bapak kalau mau memberikan bola itu lagi kepada mereka. Saya sudah merasa puas mereka sudah belajar mengakui kesalahannya. Namanya juga anak-anak muda. Kalau tidak nakal sedikit, bukan anak muda.“

Aku hanya menjawab dengan senyum. Dua atau tiga hari lagi, kepala tetangga itu akan kena bola lagi, yang sengaja ditendang oleh anak-anak itu. Kalau dia jatuh lagi dari motornya, bukan hanya bola itu yang direbutnya, anak-anak itu pasti akan dihajarnya.

Aku benar-benar kecewa.

“Tak ada yang benar-benar nonton bola piala dunia dan mengerti mengapa Spanyol menang,” kataku pada Ami. “Semua orang menganggap kemenangan adalah tanda kejagoan. Hanya aku yang tetap melihat olahraga bukan pertandingan kehebatan, tetapi arena pemeliharaan kejujuran yang sudah semakin punah di dunia ini karena digoreng politik dan dagang.”

Seperti biasa, Ami juga tidak peduli.

Untuk menjaga agar pikirannya tidak rusak, aku membuang jauh-jauh masalah bola. Aku tidak peduli lagi apakah anak-anak itu akan terus mengacau main bola di tengah jalan. Biarin saja berapa banyak lagi pengendara motor yang akan jatuh disodok bola. Peduli amat ada anak nanti yang mati ditabrak truk karena ngejar bola.

Tapi aneh, sore itu jalanan yang biasa ribut oleh pekik anak-anak setan itu jadi sunyi-senyap. Hanya suara motor satu dua. Tapi makin sore, suara kendaraan mulai ramai. Dan pada pukul 18.00 jalanan jadi riuh-rendah. Erangan mesin, knalpot dan pekik klakson riuh-rendah.

Rupanya melihat tidak ada lagi anak-anak main di jalanan, arus lalu-lintas yang selalu padat mulai mengambil jalan pintas, mengalir ke jalan depan rumahku. Udara pun kontan bau dan kotor. Kebisingan itu terus berkelanjutan makin marah sampai larut malam.

“Ya Tuhan, kalau begini, kita panggil anak-anak itu lagi, jangan main di tanah kosong milik Pak Haji, main di jalan raya saja!” kataku menghasut tetangga, “Mereka lebih paham dari kita, kenapa Spanyol menang!”

Jakarta, 14 Juli 2010

One thought on “Cerpen Suara Merdeka – Bola

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s