Cerpen Koran Tempo – Sepatu Bot

Cerpen Emile Zola | Koran Tempo, 1 Agustus 2010

PEREMPUAN itu masih terbaring di tempat tidur, setengah telanjang. Seulas senyum tersungging di bibirnya, kepalanya terbenam ke bantal dan matanya masih tampak terpejam. Sebelah lengannya tersembunyi di balik rambutnya, yang sebelah lagi terjulur di ujung ranjang. Sang bangsawan, dalam baju tidurnya, berdiri di depan sebuah jendela dan menyibak tirai hingga terbuka lebar. Ia mengisap sebatang cerutu dan tampak terserap ke dalam arus pikirannya sendiri.

Perempuan itu baru genap dua puluh tahun kemarin, tapi tampak seperti seorang gadis remaja berusia enam belas. Rambutnya bagaikan mahkota terindah dari surga para bidadari, sebuah mahkota cokelat keemasan, lembut dan kuat seperti surai kuda, tapi berkilau-kilau laksana sutra. Rambut itu bergulung di sekitar lehernya. Di bawah rambut ikal itu tersembul kulit leher yang lembut dan putih, bahu pualam, dan sepasang payudara yang padat. Lehernya yang jenjang begitu menggoda, mengintip malu-malu dari balik helai-helai rambutnya yang kemerahan. Gairah terbangkit apabila mata memandang leher yang berkilau lembut itu. Keliaran dan kekanak-kanakan, serta keberanian dan kepolosan berbaur. Menggoda hasrat untuk mengecup.

Cantikkah dia? Sulit diungkapkan. Wajahnya tersembunyi oleh rambut yang lebat. Perempuan itu memiliki wajah datar, sepasang mata kelabu yang agak sipit, hidung mancung, dan mulut lebar dengan bibir kemerahan.

Bagaimana yang lainnya? Kita tak bisa membahas lekuk-liku tubuhnya. Ia meracuni kita pada pandangan pertama, seperti segelas anggur yang memabukkan. Yang bisa kita lihat hanyalah bayangan serba putih di tengah nyala api kemerahan, serta seulas senyum yang membakar gairah. Sepasang matanya bagaikan kilatan perak cahaya mentari. Ia membuatmu berpaling dan tahu-tahu kau telah terperangkap memandangi seluruh kesempurnaannya satu demi satu. Tinggi badannya sedang-sedang saja. Ia bergerak perlahan-lahan saat berjalan. Kaki dan lengannya seperti milik seorang gadis kecil. Seluruh tubuhnya mencerminkan gairah yang menyala-nyala. Sebelah lengannya yang telanjang, berkilat menggetarkan perasaan. Ia bagaikan seorang ratu malam, ratu cinta yang berakhir dalam sehari.

Perempuan itu bertumpu pada lengan kirinya yang tersandar. Ia hendak bangkit. Sejenak ia membuka kelopak matanya untuk membiasakan diri pada silau cahaya siang hari dan menatap kelambu biru pucat.

Dia telentang menindih bantal. Tubuhnya menggeliat, putih dan diam. Daging kemerahan tersembul di sana-sini saat gaun tidurnya tersingkap. Tak ada yang lebih indah daripada ranjang ini dengan perempuan itu terbaring di atasnya.

Kamar itu bercat biru lembut. Warna dan aromanya menyegarkan. Udara begitu dingin. Tirai bergantung pada kisi-kisi yang diam. Karpet terbentang di atas lantai, bisu dan tuli. Kesunyian ini, kelembutan cahaya ini, kemisteriusan bayangan, kemurnian perabotan ini, semua mengingatkan kita pada sesosok dewi yang menyatu dengan segala bakat dan keanggunan seorang seniman dan putri bangsawan. Pastilah perempuan itu terkadang berendam dalam air susu. Kulitnya yang lembut menandakan kenyamanan hidup. Amat menyenangkan apabila jiwanya juga semurni tubuhnya.

Sang bangsawan telah selesai mengisap cerutu. Ia kini tertarik perhatiannya pada seekor kuda yang terjatuh di kejauhan. Mereka mencoba membuat kuda itu tegak kembali di atas kaki-kakinya. Binatang malang itu terpeleset dan tulang rusuknya mungkin ada yang patah.

Di belakangnya, di atas ranjang yang wangi, makhluk yang indah itu sedang bangun dari tidurnya dengan perlahan-lahan. Kini perempuan itu membuka matanya lebar-lebar, tapi masih tak bergerak. Ingatannya telah sadar, tapi tubuhnya masih tertidur. Ia sedang melamun. Sepasang matanya yang terpentang lebar terpaku pada tirai. Terserap dalam lamunannya. Ia teringat akan sesuatu.

Mendadak ia melompat ke atas karpet. Ia menyibakkan rambutnya yang bergelombang bagai lidah api di atas bahunya yang seputih salju. Ia mengenakan baju tidur yang terbuat dari beludru biru. Disilangkannya lengannya di atas dada dengan gaya yang anggun dan tanpa suara ia menghilang di balik pintu.

Sang bangsawan melemparkan cerutunya dengan helaan nafas penuh kepuasan. Kuda itu telah bangkit berdiri. Deraan cambuk memaksa binatang malang itu tegak. Ia memalingkan wajah dan menatap ranjang yang kosong. Ia memandangnya sejenak lalu kembali bermalas-malasan, duduk merenungi tirai berwarna biru pucat.

Bangsawan itu masih merenungi tirai. Ia menghitung uang yang telah dikeluarkannya untuk memperindah kamar ini. Kini tangannya terjulur ke atas tempat tidur. Terasa hangat. Dilihatnya sehelai rambut keemasan yang berkilau di atas permukaan bantal yang putih. Ia berpikir tentang perempuan itu. Lalu dua hal muncul serentak dalam benaknya: perempuan itu dan kamarnya. Ia menyandingkan keindahan perempuan itu dan kecantikan perabotan di kamar ini. Semuanya terasa selaras.

Tiba-tiba saja bangsawan itu teringat pada sepatu botnya. Ingatan tentang sepatu bot itu menyerap seluruh perhatiannya. Ia teringat bahwa selama tiga bulan belakangan ini setiap pagi saat ia keluar dari kamar sepatu bot itu selalu telah dibersihkan dan disemir hingga berkilat.

Kamar ini memang luar biasa. Dan perempuan itu begitu sederhana. Bangsawan itu kembali menatap tirai berwarna biru pucat, lalu melirik sehelai rambut keemasan di atas seprai. Ia memuji-muji dirinya sendiri yang telah menghabiskan enam ratus ribu franc untuk menghiasi kamar ini. Ia bangkit. Kini ia sendirian. Ia teringat bahwa dirinya selalu ditinggalkan sendirian setiap pagi sekitar seperempat jam. Lalu, tanpa didorong oleh rasa ingin tahu, hanya sekadar iseng saja, ia membuka pintu dan keluar dari kamar itu.

Bangsawan itu melintasi sebuah ruangan yang panjang tanpa berpapasan dengan seorang pun. Tapi saat hendak kembali ke kamar, ia mendengar suara di kamar mandi. Mengira bahwa itu adalah pembantunya, ia berharap dapat bertanya tentang keberadaan kekasih gelapnya. Ia membuka pintu dan melongokkan kepala.

Kamar mandi itu sempit dan bercat kuning. Di sebuah sudut tersimpan sapu dan sikat. Udara begitu lembab dan dingin.

Di tengahnya, tampak seorang perempuan cantik berambut keemasan berjongkok membelakangi pintu. Di sebelah kanannya tergeletak kotak semir dan sikat sepatu yang kelihatannya baru dipakai, bulu-bulunya kaku dan lembab. Di sebelah kirinya adalah sebuah sepatu bot, berkilat seperti cermin, sebuah karya indah dalam bidang seni semir-menyemir. Di sekitar perempuan itu terserak kotoran dan debu dari sepatu. Juga terdapat sebilah pisau yang digunakan untuk mencungkil lumpur kering dari lekukan sol sepatu. Perempuan itu memegang sebuah sepatu. Sebelah tangannya yang lain masuk ke dalam lubang sepatu. Jari-jemarinya yang mungil memegang sikat dengan bulu-bulu yang panjang dan kaku. Ia sedang menggosok sepatu itu.

Tetes keringat berjatuhan di atas pipi dan bahu perempuan itu. Sesekali ia mengibaskan luruhan rambut yang jatuh menutupi matanya. Dada dan lengannya ternodai bintik-bintik kehitaman, seperti bintang kelam yang menyebar di atas kulit yang putih mulus. Ia menggigit bibir, matanya basah, dan kemudian ia tersenyum. Ia menggosok sepatu bot itu dengan penuh sukacita, lebih tampak seperti mengelus-elusnya. Ia terserap dalam pekerjaannya dan larut dalam kesenangan tanpa batas, tubuhnya bergoyang-goyang oleh gerakan cepat berirama. Melalui celah jendela secercah cahaya lembut menyinarinya, mengilaukan rambutnya dan membuat kulitnya yang putih kemerah-merahan bersinar-sinar.

Ia tampak bahagia. Ia adalah anak perempuan ayahnya, anak sejati ibunya. Setiap pagi saat bangun tidur ia sering melamunkan masa kanak-kanaknya yang dihabiskan di sebuah loteng kumuh, di antara sepatu-sepatu tua. Ia memimpikan semua itu dan sebuah gairah yang liar membuatnya ingin melakukan sesuatu yang berkaitan dengan masa itu, bahkan biarpun itu hanyalah membersihkan sepasang sepatu bot. Ia memiliki semacam rasa senang saat menyemir sepatu, seperti halnya perempuan-perempuan lain memiliki kegairahan terhadap bunga-bunga. Inilah rahasianya, sesuatu yang sebenarnya membuatnya merasa malu, sekaligus merasakan kesenangan yang aneh. Dan begitulah, setiap pagi ia meyelinap dari kamarnya yang mewah untuk mencungkili sol sepatu dengan ujung jemarinya yang putih lentik dan menyerahkan kelembutan seorang perempuan dalam pekerjaan kotor menyemir sepatu bot.

Sang bangsawan menyentuh bahu perempuan itu sekilas: sang gadis mengangkat wajahnya dengan terkejut saat si lelaki merebut sepatu bot di tangannya dan menaruhnya di atas lantai dengan kasar. Lelaki itu lalu menamparnya dan pergi tanpa sepatah kata pun.

Siang harinya perempuan itu menulis surat untuk kekasih gelapnya. Ia menuntut uang sebesar seratus ribu franc. Sang bangsawan menjawab bahwa ia tidak merasa berutang sebesar itu kepadanya. Menyemir sepatu hanya memakan biaya dua puluh lima sen sehari atau dua puluh tiga franc selama tiga bulan. Siang itu juga dia mengirimkan kepada mantan kekasihnya uang sebesar dua puluh tiga franc melalui seorang jongos.

Emile Zola (1840-1902) adalah pengarang Prancis. Novelnya yang terkenal, antara lain, Germinal. Cerita pendek di atas dialihbahasakan oleh Anton Kurnia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s