Cerpen Kompas – Perjalanan

Cerpen Finsa E Saputra | Kompas, 1 Agustus 2010

1.

SELALU, kuingat tentang kisah picisan kita, Sonya. Setiap menelusur kota pada malam hari. Bahkan dari gigil udara malam, dendang solilokui tentangmu dapat memancing kehangatan.

Bila, kata orang sebijak-bijaknya, jodoh merupakan salah satu tulang rusuk yang tercerabut. Tidak bagiku. Kau adalah sebelah mataku. Yang kugunakan untuk mengenal dunia.

2.

Sepanjang malam, gelap menyadurkan melankolia. Jalanan kota hari ini sepi. Malam semakin larut. Bebunyian yang tersisa hanya deru kendaraan malam. Yang terlambat bangun. Yang melintasi malam bersama kerahasiaan tentang tujuan. Perjalananku sendiri lamat saja. Decit roda motor menggilas aspal terdengar jelas. Belum pernah kurasa kota menjadi amat sepi. Malam ini, kota seakan lelah. Dan jatuh terlelap.

Bagi seorang buta sebelah sepertiku, pelan adalah keselamatan. Menekuri ketelitian. Menghindari bakhil yang celaka. Hanya mata kiriku yang berfungsi. Tersisa dunia hanya bagi belahan pandang sebelah kiri. Semenjak beberapa tahun lampau. Ketika mata kananku kudonorkan. Lebih tepatnya, hadiah sebuah ulang tahun. Tak mengenal aku coklat, parfum mahal, pakaian, atau lingkar cincin di pergelangan jari manis—tak mampu pula isi dompetku menebus hal tersebut—sebagai hadiah. Maka kuberikan mataku sebelah kanan. Yang terjernih. Begitu membanggakan.

Bulan mendengkur. Aku mendengarnya. Aku selalu dapat mendengar dengkurnya yang keras menggaung di antara awan dan gedung tinggi. Bulan selalu tertidur selepas tengah malam. Bosan barangkali. Lelah juga mungkin. Tapi kau selalu mengatakan, “bulan bukan bosan. Ketika kota hening, ketenangan akan membiusnya.” Tak setuju benar aku perihal itu. Tapi memang keheningan selalu dapat membius. Keheningan adalah jenis racun dengan wujud yang lain.

“Kau ingin hadiah apa untuk ulang tahun?” tanyaku pada pertengahan bulan September. Tahun lalu. Ketika kemarau membakar kulit. Kau tampak asyik melumat sebongkah pecahan es batu dalam mulut. Mengusir gerah.

“Mobil!” Jawabmu sembari melempar senyum nakal. Kau selalu menggoda. Ah, alangkah hal ini membuat jantung berdegup. Dapat kuterjemahkan godaan tersebut dari matamu yang bulat, melirik dengan mengerdip.

“Ayolah, aku ingin memberimu sesuatu kali ini.”

Kau tertawa. Siang begitu jernih. Dapat kulihat bibirmu yang penuh bongkah es terbuka. Terkekeh. Kau tak percaya? Aku tersinggung.

“Tak percayakah kau? Baiklah, Sonya, aku hanya seorang penulis lepas. Pengangguran di mata orang normal seperti kau. Yang tak selalu memiliki peser-peser uang. Bahkan selama ini, selalu pundi-pundi dan kiriman orang tuamu yang selalu kau bagikan. Maka, atas segala jasamu izinkan aku membalasnya. Dengan materi.” Meledaklah rasa payahku.

“Oho, marah rupanya. Aku ikhlas melakukannya selama ini. Tak dapatkah kau mengartikan ketulusan, wahai penulis?” kembali kau terkekeh. Sebuah lesung pipit tersemat di hulu pipimu, kiri.

Aku terpengkur. Nanar kesabaranku. “Sonya, aku harus tahu apa yang sedang kau inginkan.”

“Simpan saja uangmu.”

“Mengertilah arti dari balas budi ini. Bukan hanya tentang berbagi. Harga diri. Aku ingin menggelontorkan materi untukmu.”

“Budi, mengertilah. Sudah banyak bantuanmu.”

“Tapi, bukan materi.”

Sebuah kereta melintas di sisi kiri jalan. Derap rodanya bagai guntur. Memecah hening. Kota sekejap terbangun. Terdengar kembali klakson dan teriak orang. Rupanya perjalanan membawaku pada sebuah pasar. Aku keterusan. Tujuanku terlewat. Segera kucari jalur untuk memutar arah.

3.

Bahkan bertahun-tahun diriku masih berkantung kempis. Tak dapat kuberikan hadiah pada tepat ulang tahunmu. Sebagai cendera mata dari kedalaman kesungguhan. Tetap saja aku tak ber-uang. Bahkan, ketika dulu kujanjikan banyak hal, tak ada satu pun berwujud nyata. Kecuali racun yang bernama ketenteraman. Kecuali juga, seorang bayi manis—yang kerap menangis malam hari mengganggu persanggamaan kita. Dan tentu kecuali, sebutir mata sebelah kanan.

Sudah luluh benar rasanya kejantananku. Kodrat sebagai seorang lelaki. Simbol kesuksesan. Ketika dulu aku melamarmu, kukatakan impian yang dapat membius wanita mana pun. Dan mimpi itu kini lapuk dimakan rayap. Waktu. Dan bumi yang berputar menyelipkan kusam. Seperti sesusun batu di balkon rumah susun kita—kita sebut sebagai tugu. Tugu yang kini tua dimakan cuaca. Renta melahapnya. Walau banyak tersemat nostalgia.

“Maaf, Sonya, nasib baik enggan menghampiriku,” kataku ketika melahap makan malam. Perayaan dua tahun pernikahan; kau menggodaku pada sebuah jamuan; makanan lezat restoran mahal.

“Apalah nasib baik itu, Budi? Perjalanan kitalah yang satu-satunya kunikmati.” Kau melumat sepotong daging dan lumatan halus kentang. Sambil menatapku dalam. Tak kau rasa ketika setitik saus hinggap di ujung bibir. Dengan kepala ibu jari kuusap. Kau tersenyum.

“Tak dapat kuberikan hal menyenangkan. Tak dapat kuberikan sebuah mobil seperti impian kita sebelum menikah. Tak dapat.”

Kau melintangkan telunjuk kurusmu di depan bibirku.

Dan memang sepertinya hidupku harus berjauhan dengan materi. Seperti sebuah musuh. Sebuah pembantaian akan harapan. Gestapo kehidupanku, barangkali.

Ketika ibu meninggal. Kuingat. Kau pun merelakan separuh gajimu untuk pembiayaan ibu. Uang yang kau cari setiap gelap dengan menjadi seorang pelayan klub malam.

“Akan kuganti uang ini,” ujarku ketika dalam perjalanan pulang selepas menjemputmu. Malam telah pudar. Fajar menguncup di balik mega-mega.

“Sudahlah,” tercium bau alkohol menyelinap keluar dari dalam mulutmu.

Dan hingga kini tak dapat kuganti uang tersebut. Bahkan untuk kepul harum di atas meja makan, harus kurela menjadi seorang pengecat rumah serabutan. Ketika cerita-cerita picisanku hanya menjadi penghuni laci meja tulis.

4.

Malam semakin dingin. Waktu semakin bergeser. Dan pagi menunggu di ujung jalan. Terdengar kicau beberapa burung yang terjaga. Cukup untuk memberi kabar bahwa sudah waktunya kau pulang. Kutambah kecepatan. Bersalipan dengan waktu. Meskipun aku harus waspada juga. Aku hanya punya mata sebelah kiri, dan tak ingin tergelincir karenanya. Cukup sekali kusaksikan sebuah kecelakaan. Musibah. Sebuah peristiwa yang memerihkan.

Musibah tersebut menghilangkan pandanganmu. Yang membutakanmu. Merenggut segala parawarna yang diciptakan untuk dikagumi. Menghancurkan asa.

Kuingat, Sonya, hari naas tersebut. Sebagai lara yang tak tersembuhkan. Yang kelak kutahu bahwa hal tersebut sebagai penyiksa. Seperti kuingat tetumpuk batu yang kita bangun—kita sebut tugu. Di balkon tempat kita menghitungi lampu kota pada malam, tugu tersebut selalu mengingatkan pada masa-masa penuh kelaparan.

“Aku lapar,” katamu. Kontan berhenti jari-jariku yang sedari pagi menari di atas tuts komputer. Mendadak diriku melemah. Serasa ada denyut nadi terpotong. Seminggu penuh, hanya dedaunan yang disebut kangkung—kukira lambung kita turut merayakan kemiskinan—yang dapat dikunyah. Kala itu, bulan sedang menutup umurnya. Tanggal tua.

“Sedang nasi hanya tinggal satu gelas.”

“Lapar.”

Pekerjaan menulis memang sedang tak banyak. Sedangkan, upah mengecat belum juga dibayar. Ingin kupotong saja kemaluanku. Oh, kaum pria. Kaum pekerja.

“Ayo duduk di balkon, mungkin ada yang dapat mengalihkan pikiran,” ajakku.

Siang itu tak terlalu terik. Agaknya gerumbul awan berdesakan di cakrawalalah musababnya. Di dinding balkon, terpajanglah dengan cantik beberapa kaktus. Buah tangan ibu. Hadiah pernikahan kami. Pada dasar pot kaktus tersebut bertimbunlah bebatuan aneka warna.

“Kaktus—tanaman tahan susah. Ibu seperti hendak menyindir,” kataku sembari memunguti beberapa batu dari kaki-kaki kaktus.

“Hush.”

Kutata bebatuan tersebut di lantai balkon. Membentuk sebuah limas. Kau tersenyum, bagimu menggelikan memang terus-menerus mendirikan bebatuan yang bandel. Bebatuan tak kenal disiplin. Permukaan batu yang berpori kecil membuat licin. Absurd.

Setelah bergelut dengan ketekunan sekian lama, sempurnalah! ”Akan kuruntuhkan ketika kelaparan adalah makhluk asing bagi kita.”

“Runtuhkan saja ketika kita punya mobil.”

“Terserahlah.”

Dan kemiskinan kian mesra. Berbulan kemudian kulihat tubuhmu tambah ceking. Bahkan setahun kemudian, ketika kau melahirkan Kaktus—anak kita. Kau tampak kekurangan gizi. Celakalah bagiku. Tak dapat merawat istri.

“Pakai kata Kaktus untuk nama depannya. Agar tahan susah,” katamu di meja persalinan. Dan seperti kau duga, memang hidup bersama seorang anak tak menambah rezeki kita. Bahkan, dengan kepala tertunduk, aku (dan kau, Sonya) harus menitipkan Kaktus ke rumah ibumu. Dan kau meminta izin kepadaku untuk bekerja pada malam hari. Untuk pertama kali aku sesenggukan. Dan untuk kedua kalinya, aku merasa lemah. Hanya pikiran yang kupunya, dan perut buncit. Dan kemaluan—yang sangat ingin kutanggalkan.

Dan untuk yang kedua kali sesenggukanku menjadi raungan, ketika pada sebuah pagi, klub malam tempatmu bekerja diserang gerombol pria bersurban dan berjubah putih. Mereka membakar tempat kau mengais nafkah. Meneriakkan nama Tuhan. Dan membabi buta. Menghancurkan apa saja. Memukuli siapa saja. Termasuk membawamu dalam lubang hitam bernama koma.

5.

Segala usaha pekerjaan kulakukan. Hingga sales kosmetik yang akrab dengan cibiran. Kesialan menguntitku. Bahkan aku selalu merasa ketika tertidur, kesialan memerkosaku. Aku seorang sarjana. Sarjana kebudayaan. Namun, dunia semakin praktis. Kebudayaan bukanlah barang sekali kedip, tak praktis, cenderung rumit, harganya tak lebih penting ketimbang sebungkus mi instan. Seribu lima ratus.

Suatu waktu temanku yang bekerja pada sebuah koran menghubungi. Jawatannya membutuhkan seorang penulis. Bidang kebudayaan. Sebuah kolom. Di antara berita tentang mayat dan pelecehan manusia. Aku menerima dengan perasaan yang berbunga. Kelebatan pikiran yang muncul pertama adalah bayanganmu, Sonya—dan Kaktus, tanggung jawab kita. Sebuah ledakan meledak di dada. Seperti kembang api berharga jutaan. Dengan kaya warnanya mendebarkan getar semangatku. Sonya, akan kukabarkan hal baik ini padamu, segera. Bahkan aku ingin mendahului waktu. Sebuah pekerjaan tetap dan hadiah akan bertumpuk terbayang kemudian. Kita rayakan apa pun; ulang tahunmu, ulang tahun Kaktus, ulang tahun perkawinan, bahkan bila perlu kematian ibu—mengingat jasa beliau.

Maka, kupacu sepeda motor menembus padat kota malam hari. Tak sabar rasanya mengabarkan sukacita. Harapan. Namun malam itu, tak dapat kutemui dirimu. Hanya gedung dan gerombol riuh manusia yang kutemui..

Kuingat, dua hari kemudian dokter menunjukkan hasil pemeriksaan. Visum menunjukkan kepalamu terantuk benda keras puluhan kali. Gegar otak. Bahkan bibit amnesia merupakan risikonya. Kaktus menangis semalaman. Ibumu juga. Dan aku meraung. Ketika dokter berkabar bahwa kau menjadi buta, aku kalap. Hampir kujotos dokter. Bila ia tak mengatakan, ”Mata kanannya masih punya harapan. Sedangkan mata kirinya rusak berat akibat hantaman. Kiranya mata kanan itu dapat sembuh apabila ada pendonor mata.”

Dua hari kemudian kubagikan mataku. Dokter mengundangku ke ruang inapmu. Kulihat kau masih terpejam. Malam itu kau begitu cantik. Kulitmu begitu bersinar. Amat putih. Dan bibirmu yang menjadi biru, menyisir darahku dengan kekaguman. Sonya. Sayangku.

6.

Inilah tikungan terakhir, Sonya. Mari kita pulang. Esok kita jemput Kaktus dari rumah ibumu. Dan untuk menyambut pagi kita habiskan waktu dengan bercinta. Sonya, esok hari ulang tahunmu.

Mintalah apa pun.

Bahkan, bulan yang mendengkur sekali pun.

Setelah sebuah tikungan ke arah kiri, terbayanglah senyummu. Kuhentikan sepeda motor di depan bangunan dengan tanaman rambat yang merimbun dan gosong yang kelam.

Kutatap bangunan tersebut seperti menatap bulan yang jatuh ke atas ubun-ubunku, Sonya.

Surabaya, 11 April 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s