Cerpen Koran Tempo – Ikan yang Menyembul dari Mata

Cerpen Koran Tempo, 11 Juli 2010 | Mardi Luhung

I

AKU dilahirkan di bulan Maret. Sekian puluh tahun yang lalu. Tepat ketika negeriku mengalami hari-hari berdarah. Hari-hari di mana kawan dan lawan cuma saling tuding: “Ini kawan, itu lawan, dia aman, kau tidak!” Dan malamnya, yang dituding sebagai lawan pun dijemput ramai-ramai. Diciduk, istilah pastinya. Lalu paginya, di pantai akan berjajar sekian tubuh yang tanpa kepala. Sekian tubuh yang kata para penciduk: “Milik orang yang tak pernah berdoa. Dan layak dihabisin.”

Ah, apakah memang seberdarah itu? Aku tak tahu. Sebab waktu itu aku baru lahir. Lahir di bulan Maret. Bulan yang, jika dilihat dari horoskop dinaungi seekor ikan yang punya mata tajam. Ekor liat. Dan sirip lincah. Ikan (sayangnya tak ada yang tahu apakah itu ikan sungai atau ikan laut), yang terus bergerak. Berkelebat. Kadang menyelam. Kadang pula melompat di permukaan. Ikan yang pernah menjadi masalah dalam sebuah legenda. Sebab menelan cincin si pangeran. Padahal cincin itu sangat penting baginya untuk mengusir kejahatan yang sedang mengepung istananya.

Oh ya, biasanya bulan Maret yang dinaungi ikan itu juga dianggap sebagai bulan yang melahirkan para penyair. “Para penyair yang ahli merangkai kata-kata indah,” kata orang. Para penyair yang selalu merenung dan menerawang. Meski di hadapan mereka telah berdiri sekian meriam. Bahkan tak jarang, dengan masih merenung dan menerawang, para penyair itu malah membuka baju. Terus menghadang sekian meriam. Dan berkata: “Ayo, ayo kita teruskan kebinatangan ini. Siapa yang akan mundur dulu, Bung!” Ahai, sebuah adegan yang lucu tapi seram. Adegan yang kita tahu tentang siapa yang pasti akan menang. Adegan yang tak seimbang. Adegan yang telah diawetkan dalam pantun seperti ini:

Redup lubang rama-rama kali

Kali kurus jangan meminta goyang

Hidup memang cuma sekali

Jadi tak harus dengan kata doang!

Tapi tunggu, tunggu dulu! Di samping bulan Maret melahirkan para penyair, ternyata juga melahirkan pahlawan. Atau yang menganggap dirinya pahlawan. Untuk yang memang pahlawan, itu tak menjadi soal. Sebab emas tetaplah emas. Baja tetaplah baja. Apakah dipajang atau tidak. Dan biasanya, sebagai pahlawan dia tak pernah bersumbar. Seperti kura-kura yang malu, dia selalu menyembunyikan kepalanya di cangkang. Sebaliknya, bagi yang merasa dirinya sebagai pahlawan, inilah yang sering menjadi soal. Biasanya ia selalu ingin berada di depan. Memberi nasihat ini. Nasihat itu. Janji ini. Janji itu. Dan jika tidak diturut, maka malam itu juga bersiasat:

“Harus ada yang dibakar!”

“Apa yang dibakar?”

“Apa saja. Pokoknya dibakar!”

Dan memang di malam itu sebuah pasar dibakar. Apinya menjulang. Orang-orang ribut. Mobil pemadam berkelenengan. Tangis dan teriakan tumpang-tindih. Dan siangnya, dia yang merasa sebagai pahlawan itu pun berkata: “Awas, ada pengganggu yang berkeliaran. Dan kita mesti bahu-membahu menanggulanginya!” Dan sorenya, astaga, lewat secarik SK, telah didaftar sekian soal yang dianggap sebagai biang keladinya. Padahal, pembakaran itu adalah hasil siasatnya. Hasil siasatnya sendiri. Licik!

II

INILAH kata sebuah kabar. Konon di bulan Maret, sekitar tanggal-tanggal tua, pintu langit sering terbuka. Banyak nyawa yang keluar. Melayang-layang di antara yang hidup dan yang setengah hidup. Bahkan tak jarang, nyawa-nyawa itu menampakkan wujudnya. Wujud selang-seling antara yang angker dan ganjil. Wujud yang sesekali akan memasuki pikiran yang sedang kosong. Pikiran yang selalu terbayang pada teras hotel yang telah dibom. Teras hotel yang jika boleh ngomong, akan ngomong seperti ini: “Kenapa aku yang jadi sasaran bom itu? Kenapa?”

Ah, jika begini, aku jadi percaya pada temanku. Temanku yang selalu bercerita tentang dewa yang dikutuk. Dikutuk untuk terus-terusan mendorong batu ke atas gunung. Dan jika telah sampai di puncak, batu pun digelundungkan ke bawah lagi. Dan dewa itu mesti mendorong dari bawah lagi. Begitu seterusnya. Sampai dewa itu kesel. Tapi, apa benar dewa itu bisa kesel? Entahlah! Cuma temanku (karena telah belajar dari kutukan itu) pun berkata: “Terus terang, aku tak akan mau ngebom, jika di tempat yang aku bom itu ada orang-orang yang aku sayangi. Sebab jika itu sampai terjadi, maka aku harus mendorong batu dari bawah lagi. Dan itu artinya, aku mesti mencari terus orang-orang baru yang mesti aku sayangi!”

“Dan ssstttt, sebagai rahasia dariku,” sambung temanku lagi, “orang yang biasanya suka ngebom adalah orang yang sakit.” Sakit? Ya, sakit! Dan sakitnya adalah sakit hasrat yang tidak bernalar. Hasrat ganjil yang begitu percaya bahwa hidup ini serba mendadak. Tak ada yang mengatur. Tak ada rencana. Atau peristiwa sebab-akibat. Padahal dunia tidak seperti itu, bukan? Dan meski dunia bundar seperti kelereng, tetapi tak bisa seenaknya untuk digulirkan. Selalu dan selalu ada kaidahnya. Sebab ada yang berposisi di atas. Dan ada yang di bawah. Ada yang di samping. Ada pula yang miring. Miring seperti orang sinting.

Hehehe, miring? Orang sinting? Ya ya ya, di bulan Maret, bulan yang aku dilahirkan dan yang dinaungi ikan itu pun melahirkan orang sinting. Tetapi orang sinting di sini bukan sembarang sinting. Melainkan, sinting dengan tanda petik. Sinting yang tidak licik. Apalagi sampai seenaknya menuding mana kawan mana lawan. Tapi sinting karena berperilaku beda dengan yang ada di sekitarnya. Sampai-sampai yang sempat melihatnya pun geleng-geleng kepala. Tak percaya. Lalu mendesis: “Ini orang kok bisa begini? Tak masuk akal?”

Tapi, orang sinting yang sintingnya dengan tanda petik itu cuma cuek. Dan dengan cuek pula, dia tetap berenangan di sungai dengan buaya. Buaya besar. Buaya yang menggiriskan. Tapi di mata orang sinting itu, buaya tersebut tak ubahnya seperti lumba-lumba yang lucu. Lumba-lumba yang bisa dicium. Dipeluk. Digelut dan ditarik ekornya. Terus diajak berseluncur: “Ayo, ayo, kejar aku!” begitu teriaknya. Seperti teriakan dalam sebuah pekan olah raga. Pekan olah raga yang belakangan terus digalakkan di negeriku. Terus dihidupkan dengan meriah. Meski, pada cabang-cabang tertentu, seringkali tawuran antar penonton dan pemain terjadi. Atau malah, jika wasit dianggap tak becus, pun ia dikeroyok ramai-ramai.

Hehehe, seperti adegan dalam film kungfu, ya? Adegan yang penuh gebag-gebug. Dengan sosok tokoh yang selalu menang. Tak terkalahkan. Sebab mempunyai sebilah pedang sakti. Atau jurus tendangan bayangan yang tak pernah dapat ditangkis. Tendangan bayangan yang pernah dipelajarinya lewat sebuah kitab. Kitab yang dibelinya dari seorang gelandangan yang waktu itu diburu-buru petugas kota. Dan menurutku (mungkin bisa salah) sosok tokoh yang selalu menang itu, juga sepertinya dilahirkan di bulat Maret. Bulan yang dinaungi ikan. Ikan yang terus bergerak dan berkelebat. Ikan yang punya ekor liat. Dan sirip lincah.

III

LAIN itu, ada yang lupa, yang perlu aku tambahkan. Bahwa di bulan Maret, bulan ketika aku dilahirkan dan yang dinaungi ikan itu, juga lahir wanita-wanita cantik dan seksi. Dan seperti kualitas nasib masing-masing orang, maka kualitas nasib wanita-wanita yang dilahirkan di bulan Maret itu juga begitu. Ada yang berhasil menjadi ahli gizi, ada yang juru dakwah, menteri atau kepala bagian. Dan ada yang malah sebaliknya. Hidupnya seperti dalam sinetron yang penuh air mata. Kawin dengan saudagar yang cukup kaya. Dipuja-puja. Tapi di tengah jalan ia malah lari dari suaminya. Kabarnya: “Wanita itu tak tahan dengan perilaku suaminya.” Perilaku yang selalu memberinya obat bius sebelum bercinta. Dan saat bercinta, suaminya pun selalu membayangkan bercinta dengan seorang putri dari panggung ketoprak.

Putri yang berkebaya, berjarit dan bersanggul besar. Sanggul yang diselipi kembang melati. Atau jika ia kurang puas, malah kembang matahari yang sebesar piring. Kembang matahari yang kuning. Yang bila bergoyang tampak seperti bandul tua yang ingin copot. Lalu iringannya? Tentu saja bukan lagu-lagu keroncong. Tapi lagu-lagu yang keras menghentak. Yang penuh teriakan. Lagu-lagu yang hanya pantas dinyanyikan oleh penyanyi yang kesurupan. Yang ketika sampai di puncak surupnya, pun menabrak-nabrakkan tubuhnya. Ke dinding. Ke pohon. Ke tiang listrik. Ke mobil. Bahkan jika perlu, pun akan naik ke bangunan tingkat tinggi. Lalu, hup! Terjun ke bawah. Seperti Superman yang lagi belajar terbang. Superman yang bukan dari planet Krypton. Yang takut pada batu hijau. Tapi Superman yang jika pagi sarapan nasi bungkus. Dan jika sore, menghitung recehan untung-rugi di pojok toko kelontongnya. Gawat!

Ya ya, aku memang dilahirkan di bulan Maret. Bulan yang dinaungi ikan. Sekian puluh tahun yang lalu. Ketika negeriku mengalami hari-hari berdarah. Hari-hari di mana kawan dan lawan cuma saling tuding. Lalu kini, ya kini, di hadapanku telah duduk seorang tua. Orang tua yang cemas. Yang dengan kecemasannya itu bercerita bahwa dirinya dulu adalah salah satu penciduk bagi yang dituding sebagai lawan itu. Lawan yang dianggap tak pernah berdoa. Dan layak dihabisin. Dan dia menyambung: ketika dia dan rombongan penciduk telah sampai di pantai (dan para yang dituding pun telah telentang), entah mengapa dari mata salah satu yang dituding tak pernah berdoa itu menyembul ikan.

Ikan yang tidak saja seekor. Tapi malah berekor-ekor. Atau mungkin beribu-ribu ekor. Terus melompat ke laut. Seperti koloni yang ingin memasuki dunia lain. Dunia yang menggetarkan. “Ada apa ini? Ada apa ini? Adakah yang salah?” Ah, begitu teriakan yang ada. Sampai pagi harinya, dari tubuh yang dituding, yang telah tak berkepala itu, terlihat segores darah yang melingkar. Melingkar seperti sebuah pesan. Yang jika dibaca: “Mengapa kalian jadi seperti ini? Sudah tak bisa menghidupkan, malah mematikan dengan bengis?” Ya, ya, pesan dari mana? Dari siapa? Tak berjawab. Dan bagi orang tua itu, yang ternyata juga dilahirkan di bulan Maret itu, ketakberjawaban itu seperti kecemasan yang tiada berujung. Kecemasan yang jika boleh meminta, akan meminta agar dirinya dilahirkan di bulan dan abad yang lain saja.

Mardi Luhung tinggal di Gresik, Jawa Timur. Buku puisinya, Ciuman Bibirku yang Kelabu (Akar Indonesia, 2007). Mendirikan dan mengelola komunitas De Nagari, yang membuat dokumentasi tentang artefak budaya Gresik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s