Cerpen Suara Merdeka – Perempuan Hajar

Cerpen Suara Merdeka, 4 Juli 2010 | Abidah El Khalieqy

SEMINGGU belakangan, Putri Angin benar benar bingung. Mau merampungkan kuliah S3 atau balik cepat-cepat ke kampung halaman. Sisa uang tinggal cukup untuk hidup seminggu dan bayar tiket pulang. Tak ada pihak mana pun yang bakal menjamin keuangan dan nasib hidup selanjutnya. Tak ortu tak juga sebuah founding di mana pun. Ia benar-benar terdesak untuk segera memilih, jadi gelandangan di negeri orang atau pulang kampung dinikahkan dengan laki-laki bukan pilihan.

Hari gini menyerahkan masa depan dipelukan laki-laki asing yang tak dikenal? Bukan hanya menyebalkan, tapi mengerikan sekaligus menggelikan. Aku telah susah payah mendaki takdir indah setahap demi setahap. Telah kujejak ribu-ribu kerikil. Di bawah kakiku yang lembut dan kokoh, terus kunaiki Lembah Shafa, kudaki bukit Bukit Marwah. Aku Hajar yang berlarian menahan air mata. Sudah kucium aroma zamzam dari balik sabar dan tulusnya hati ini. Mengapa harus menyerah?

Tidak! Aku mesti kuat. Tinggal setapak lagi, Putri Angin!

“Yanti, aku butuh uang. Jika ada, please! Berapa pun!”

“Aduh, Put. Kebetulan sama-sama krisis nih. Beribu maaf.”

Sudah tujuh teman dikontak dan gagal. Apa mesti kujual laptop ini? Lalu dengan apa mengetik disertasi? Masa tiap hari pergi ke rental? Lagipula tak bisa fokus dan mesti gotong-gotong buku referensi yang berat dan bertumpuk. Sudah melamar jadi guru privat bahasa, jadi penjaga perpustakaan kampus (dengan harapan masih tetap bisa membaca sembari kerja), jadi penjaga toko buku di kopma (dengan harapan yang sama, tetap bisa membaca sembari kerja), bahkan juga melamar jadi presenter acara “budaya dan iptek” di sebuah stasiun televisi lokal (karena bakat orasiku lumayan kenes dibanding para ibu yang bergunjing di acara arisan bulanan di kampung).

Semua gagal. Ada saja alasan kurang mutu yang dikemukakan untukku. Agaknya nasib lagi tak berpihak padaku. Putri Angin membatin sendu. Lagipun sudah berdoa siang malam, ditambah puasa sunah Senin Kamis. Ingin juga rasanya menjalani puasa sunah Nabi Daud alaihissalam, yang dulu sering kulakukan, terutama saat deraan hidup tak tertahankan. Hingga kehidupan mencair dan cahaya langit turun meliputi hari-hari penuh kemudahan dan kesuksesan. Embun surga yang netes dan resap ke dasar jiwa, memberi keseimbangan pada hidup dan gejolaknya.

/Pulanglah, anakku. Kau ini perempuan. Sudah 28 tahun usiamu. Untuk apa pula sekolah terus tak rampung-rampung. Ilmumu sudah cukup untuk bekalmu dunia akhirat. Ayo pulanglah/

Ibunya di kampung sudah gelisah. Banyak pertanyaan dialamatkan untuk putri sulungnya. Putri Angin yang smart dan berwajah cantik pula. Dirindui kawan lama dan karib-karibnya di kampung, selalu ditanyakan para orangtua yang punya anak laki-laki dewasa. Sudah terlalu lama tak pulang karena tak ada dana. Namun Putri Angin kian keras niatnya untuk menyeleseikan S3. Meski tak ada satu pihak pun yang mendukung kecuali dirinya sendiri.

/Tinggal beberapa saat lagi, Bu. Kumohon doa ibu tak habis-habis untukku/

Sebenarnya ia ingin bilang, aku pada masa paling sulit dan butuh pertolongan. Namun semuanya tak terucapkan. Ia telan sendiri nasib pahit dan suntuk puasa dari kemilau dunia. Bahkan senja ini, azan magrib hampir kumandang, namun tak ada serupiah pun di tangan. Niatnya sudah bulat untuk menggadaikan handphone. Ia berjalan ke arah sebuah kedai yang biasa menerima ponsel gadaian di dekat pertigaan kota. Bibir keringnya basah asmaul husna.
Ya Razzaq ya Rahman ya Rahim. Ya Razzaq ya Rahman ya Rahim. Saking
suntuknya, Putri Angin tak sadar menabrak seseorang yang tengah membuka pintu mobil di parkiran pertokoan.

“O maaf maaf. Maafkan saya tak sengaja.”

“Lho!? Ini Putri Angin kan?”

Putri Angin terlongong mendelong ke arah laki-laki yang bernama Hasbi itu.

“Hasbi kan? Kau ada disini?”

“Hanya kebetulan. Lagi ada acara. Wah ternyata kita ketemu di sini setelah hampir berapa tahun ya, terpisah oleh waktu. Apa kabarmu, Put? Masih kuliah atau sudah….”

“Hampir lulus insya Allah! Tapi beratnya segunung, Has. Rasa-rasanya hampir terjungkal aku menang gungnya hehe. Dan kabarmu?”

“Anakku sudah dua, istri satu saja hehe. Oh ya Put, sebenarnya aku masih ingin cerita banyak denganmu tapi kebetulan lagi terburu nih. Boleh tahu nomor hapemu? Sekalian nomor rekeningmu ya.”

“Untuk apa?” Putri terlonjak.

“Sudahlah. Boleh tahu tak? Maaf lo aku terburu.”

Tanpa pikir panjang karena memang tak ada kesempatan untuk berpikir, Putri menyebutkan nomor handphone yang bakal masuk ruangan gadai dan nomor rekeningnya. Hasbi mengetik segera di ponselnya dan berlalu.

Putri Angin terlongong. Azan magrib berkumandang dari segenap penjuru menara masjid. Aku mesti bersegera ke kedai untuk menggadaikan ponsel sengsara ini dan membeli minuman untuk berbuka. Eh ternyata kedai itu tutup. Lampu di depannya saja padam. Putri Angin demam.

Ia mencoba bertahan dan balik lagi dengan limbung ke arah masjid. Namun masjid terlalu jauh rasanya. Badannya mulai gemetaran, namun ia coba terus menguatkan diri untuk tetap tegak. Ia coba bersandar di pagar sebuah kantor bank untuk meraih energi langit sejenak. Lalu bibirnya yang kian kering, basah kembali dengan asmaul husna. Ya Razzaq ya Rahman ya Rahim. Air mata netes entah tak sengaja. Lalu lalang kendaraan di jalan raya kian memadat. Tak ada satu pihak pun peduli pada orang lain. Ia tengadah langit. Tinggal sisa-sisa warna jingga.

Ia tengok dompetnya dan membukanya. Tak ada serupiah pun. Hanya ada KTP dan Kartu ATM yang diselipkan di ruas-ruas dalamnya. Lalu ponselnya mendering. Sebuah pesan masuk.

/Put, aku dah sukses transfer sejumlah rupiah untukmu. Coba dicek ya. Hasbi/

Putri Angin mendelik tak percaya. Ia baca ulang dan berulang kali, pesan dari kawan lama bernama Hasbi. Masih tak percaya. Jantungnya mendegup kaget dan bahagia. Atau entah. Ia kembali tengadah langit. Rabbi la tadzarni fardan. Allah! Jangan biarkanku sendiri. Lalu ia masuk ke pojok halaman bank di belakangnya, di sana berjajar ATM box menunggu para nasabah memasukkan kartu-kartunya. Ia tekan nomor dan membuka saldo akhir. Sepuluh juta!

Ditundanya rasa gemetar oleh bahagia, karena menyadari banyak pihak di belakang punggungnya tengah mengantri. Namun hatinya terus bersujud syukur dan air mata itu tak lagi bisa dibendung arusnya. Ia ambil sejumlah lembaran warna biru dan pergi ke warung makan untuk segera buka puasa. Sepanjang perjalanan pulang dari warung sampai rumah kost, ia nengok arah dtadi Hasbi tertabrak langkah kakinya yang kurang hati-hati karena suntuk berzikir. Benarkah dia Hasbi?

Kalau benar, untuk apa pula mentransfer uang sejumlah itu untukku yang hanya kawan lama, tak pernah ada kontak silaturahim, tak ada hubungan khusus yang terjalin, bahkan tak ada kenangan istimewa saat dulu samasama di bangku SMU. Bahkan pula, tadi aku hampir lupa kalau namanya Hasbi. Namun entah, seakan ada suara membisik di kupingku kalau nama laki-laki itu Hasbi. Putri Angin terus mengingati peristiwa aneh yang barusan dialaminya, sampai lupa belum kasih respons apa pun pada Hasbi.

/Eh Has, aku sudah cek hadiahmu yang tak diduga. Entah dengan apa bisa kuucapkan rasa terima kasih ini. Aku menabrakmu dan kau malah kasih hadiah tak terkira. Jazakallah bi alf jaza. Tengkyu/

/Aku yang harus terima kasih atas tabrakanmu yang indah itu he he. Sebab tanpa itu, aku tak tahu mesti gimana mencarimu di bumi Tuhan yang luas ini/

/Lho, memangnya kau sedang mencariku tadi?/

/Tepatnya, aku tengah mencari orang dalam mimpiku semalam, mimpi aneh yang membuatku sulit tidur sebelum menemukanmu. Eh kau tabrak aku! Thank‘s berat deh!/

Putri Angin kian digelayuti tanya. Ingin bertanya pada Hasbi, isi dari mimpi yang membuatnya sulit tidur. Mungkin sebaiknya telepon saja. Tapi ponsel sudah nyaris habis pulsanya. Perlu isi ulang yang agak tinggi nominalnya.

“Has. Maaf lagi sibuk ya. Aku masih penasaran dengan isi mimpimu. Seperti apa sih kalau boleh tahu?”

“Jangankan dikau, Put. Aku yang mimpi aja juga penasaran, kenapa mimpiku seperti itu.”

“Jadi seperti apa mimpinya?”

“Entahlah, Put. Tiba tiba si Jubah Putih itu datang ke restoranku dan bilang ‘Nak, sudah tiga kali kau naik haji, jadi untuk apa lagi? Kalau mau ke Baitullah, carilah gadis itu (si Jubah Putih menunjuk sosokmu seperti dalam film hidup) dan transfer sejumlah uang untuknya. Insya Allah pahalamu lebih dari naik haji ke-empatmu’. Aku ingin tanya, di mana gadis itu? Eh keburu dia lenyap. Untungnya aku masih ingat wajah yang ditunjuk itu. Wajahmu. Sepertinya tempat kita tabrakan tadi, itu juga tempatmu dalam mimpiku. Entahlah. Tapi apa pun, kuharap hadiah itu menjadi berkah untuk kita. Aku ikhlas lillahi ta’ala.”

Putri Angin sujud syukur di atas sajadah merahnya. Jadi benar itu uang hadiah? Tuhan telah mengirim sejumlah yang dibutuhkan untuk merampungkan disertasinya. Jika dikalkulasi, itulah jumlah paling standar untuknya.

Untuk perempuan Hajar berangkat kembali mendaki Bukit Marwah.

Yogyakarta, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s