Cerpen Koran Tempo – Gantungan Baju Buya

Cerpen Koran Tempo, 4 Juli 2010 | Zelfeni Wimra

KAMI sering saling tercengang melihat Buya Mukaram berlalu mengayuh sepeda di tengah pagi buta. Sungguh, kami tak sampai hati melihat gigil yang seakan menjalar dari tulang punggung hingga lututnya. Tapi, bagaimana lagi, Buya selalu menolak jika ditawari bermalam di rumah salah satu kami.

Penolakan itu sudah untuk yang kesekian kali.

“Kalau saya bermalam di sini, di mana pula saya akan menggantungkan baju,” ucap Buya sebelum pulang. Kami terdiam. Tidak langsung mengerti maksudnya. Kalau tempat tidur dan selimut yang hangat, kami bisa menyediakan. Tempat menggantung baju juga ada. Tapi, tekanan suara Buya ketika mengucapkan gantungan baju terdengar berat. Seperti ada maksud lain yang ingin Buya katakan. Dan ini membuat kami berpikir.

Setelah punggung Buya menghilang di ujung jalan berkerikil itu, barulah kami sadar, kalau kami melepas Buya ke halaman surau tanpa memakai alas kaki. Batu-batu dingin menggigit telapak kaki. Buru-buru kami kembali masuk ke dalam surau.

Sudah jam dua pagi, waktu itu. Embun jantan sudah turun. Daun-daun pisang tampak terkulai menahan impitannya. Cahaya petromaks yang membias ke liang-liang dinding surau membentuk silangan siluet, menembak kegelapan. Meskipun angin tidak berembus, tapi dingin terasa menembus tulang.

Barangkali, sebelum bumi dilipat, kampung kami ini akan tetap kekal menjadi kampung yang dingin. Entah kalau gunung Marapi dan Singgalang meletus dan rata dengan tanah. Entah kalau pohon-pohon yang terus ditebangi sudah punah.

Kami memilih tinggal sejenak di surau berdinding anyaman bambu itu. Kami akan berbincang sebentar. Ingin tahu lebih jauh, mengapa Buya selalu menolak diajak bermalam di salah satu rumah penduduk? Padahal pengajian sering berlangsung sampai larut, hingga sekitar jam dua pagi.

Kami coba memberi pengertian pada Buya. Kalau ia tetap pulang, berarti Buya akan sampai di rumahnya sekitar jam empat. Sebab, kami tahu, Buya hanya memenuhi panggilan ceramah ke kampung-kampung yang bisa ditempuh paling lama dua jam perjalanan dengan sepeda. Kalau lewat dari itu, Buya tidak berkenan.

Buya pernah menjelaskan pada kami, kalau dirinya punya jadwal ceramah setiap hari di tempat yang berjarak tempuh rata-rata dua jam dengan sepeda. Kalau jarak tempuhnya lebih dari dua jam, ia enggan menerima tawaran mengisi pengajian. Sebab, ia selalu berangkat dari rumahnya setelah asar, sekitar jam empat sore. Kalau jarak tempuh dengan sepeda adalah dua jam, berarti Buya akan sampai di tempat ceramah sekitar jam enam. Jadi, tidak terlalu buru-buru. Buya bisa melakukan salat sunat dulu sebelum magrib datang.

Hati kami rusuh, membayangkan Buya mengayuh sepeda di dini hari selama kurang lebih dua jam. Sesampainya di rumah, tidak mungkin pula Buya langsung istirahat. Istirahatnya paling setelah salat subuh. Di usia yang sudah melewati enam puluh tahun, kami khawatir, kekurangan istirahat akan mengganggu kesehatan Buya.

Satu hal lagi, yang sulit kami cerna dengan cepat adalah alasan Buya ketika menolak diajak bermalam selalu sama. Soal tempat tidur dan makan-minum, sebetulnya tidak bermasalah bagi kami. Rata-rata, kami penduduk di sini, adalah petani padi dan banyak pula yang punya tambak ikan. Intinya, tidak perlulah Buya khawatir soal makan-minum.

Kami paham dan bersedia menyediakan semua itu untuk Buya. Hal yang kurang bisa kami pahami, alasan buya yang selalu sama: kalau dirinya bermalam di kampung kami, di mana pula ia akan menggantungkan baju?

Safar, salah seorang di antara kami para jamaah, pernah meyakinkan Buya, soal gantungan baju itu.

“Buya tidak usah khawatir dengan tempat menggantungkan baju. Di rumah kemenakan saya, banyak gantungan baju. Dia punya toko pakaian di Pekan Selasa….”

Menanggapi penjelasan Safar, waktu itu, Buya hanya menggeleng disertai segaris senyum yang datar. Seakan mempertegas kalau penjelasan Safar tidak sesuai dengan yang dia maksud.

“Tidak apa-apa. Saya juga penerima upah seperti kalian. Pergi sore, pulangnya pagi, sudah biasa buat saya. Tak usah merusuhkan hal itu. Sudah, ya. Saya pulang dulu.” Lalu buya akan mengayuh sepedanya menyusuri jalan berbatu meninggalkan surau. Meninggalkan kami yang sering bingung memahami maksud Buya.

Pagi makin dingin. Surau seakan dibungkus embun. Saya, Da Safar, Mak Kawi, dan Uncu Rustam masih saja saling tatap.

“Saya menduga Buya hanya tidak ingin merepotkan kita?” Uncu Rustam memulai pembicaraan.

“Kita juga harus berpikir sebaliknya. Jangan-jangan justru kita yang merepotkan Buya. Mana ada orang yang setulus dia menemui kita setiap minggu untuk memberi makanan pada rohani kita?” Mak Kawi menanggapi.

“Benar juga. Tim sukses para calon gubernur itu datang menemui kita hanya pada musim pemilihan kepala daerah saja. Dengan wajah yang diramah-ramahkan, mereka juga menyuruh kita berkumpul di surau dan kita akan dilambungkan dengan janji akan memasukkan listrik ke rumah-rumah dan juga ke surau kita ini. Kalau Buya? Sejak saya masih belum sunat, beliau juga sudah menjadi guru kita di sini.” Da Safar seperti tak tahan ingin mengeluhkan perasaannya.

“Itulah masalahnya, Buya sejak dulu sudah sangat berjasa pada kita. Balasan dari kita apa? Sekalipun setiap selesai ceramah kita memberinya amplop berisi lima puluh ribu rupiah, sampai di mana guna uang sebanyak itu sekarang?” Uncu Rustam menimpali.

“Kita kan sudah tahu, yang dicemaskan Buya cuma tempat menggantung baju. Apa susahnya bagi kita mencarikan tempat menggantungkan baju buat Buya?” Saya coba mengarahkan pembicaraan ke soal tempat gantungan baju untuk Buya.

“Kamu jangan tersinggung, Salman,” balas Da Safar sambil menyentuh lutut saya. “Kamu termuda di sini. Di antara kita, yang sekolah sampai tamat SMA, juga cuma kamu. Satu lagi, yang pandai dan sering tulis-baca juga kamu. Yang dekat dengan calon-calon gubernur itu juga kamu. Apalagi tahun depan kamu rencananya akan kuliah ke kota provinsi. Tapi, sama saja dengan nol. Kamu juga tidak bisa menjelaskan pada kami apa maksud gantungan baju yang disampaikan Buya itu.”

“Menurut saya, barangkali Buya ingin punya rumah di kampung kita ini,” ucap saya setelah agak lama terdiam.

“Punya rumah? Buya ingin dibuatkan rumah?” potong Kawi

“Bukan dibuatkan rumah. Buya ingin punya orang rumah di sini.”

“Punya istri maksudmu, Sal?”

“Kalau kamu benar, Sal, siapa kira-kira yang bisa jadi istri Buya di kampung kita ini, ya? Buya mau gadis atau janda, ya?” Da Rustam bertanya-tanya.

PERTANYAAN Da Rustam itu hingga kini belum terjawab. Sudah sepuluh tahun pula berlalu. Sudah tujuh tahun Buya Mukaram berpulang ke haribaan Tuhan. Sudah tiga tahun pula saya tidak pulang ke kampung dingin itu. Sejak calon gubernur yang saya bantu mencari suara dinyatakan menang, saya dihadiahi beasiswa untuk kuliah. Tamat kuliah, saya dilatih pula menjadi staf ahlinya. Setelah itu, sebelum saya melanjutkan kuliah lagi, gubernur saya dipilih jadi menteri (maaf, saya segan mengatakan kementeriannya). Inilah sebab mengapa saya tidak bisa pulang selama kurang lebih tiga tahun belakangan.

Kemarin siang, saya diajak Pak Menteri berkunjung ke salah satu provinsi paling jauh dari ibu kota negeri ini (maaf, saya juga segan menyebut nama provinsi itu). Katanya, beliau diundang memberi sambutan sekaligus meresmikan sebuah universitas. Setelah acara selesai, saya ikut rombongan Pak Menteri beramah-tamah dengan penduduk hingga sore menjelang.

Sebelum hari benar-benar gelap, salah seorang staf protokoler memanggil saya. Ia menerangkan perihal Pak Menteri yang akan menginap di kota itu dan atasannya menyuruh dia menemui saya. Setengah berbisik ia mendekatkan kepalanya ke kepala saya:

“Demi kelancaran malam nanti, atasan saya meminta Bapak menghubungi saya di nomor ini,” ia serahkan kartu namanya.

“Kelancaran? Maksud, Saudara?”

“Kami punya hadiah untuk Bapak. Hubungi saja saya nanti. Saya senang bila nanti saya bisa membantu Bapak menyangkutkan baju….”

Saya tak sempat menanggapinya sebelum ia kemudian berlalu dan hilang di sela orang yang lalu lalang di lobi hotel tempat saya akan menginap. Ingatan saya tiba-tiba memajang wajah letih almarhum Buya Mukaram. Terbayang gigil yang menjalar dari tulang punggung hingga lututnya ketika mengayuh sepeda di pagi buta. Adakah gerangan hubungan gantungan baju Buya dengan hadiah yang dimaksud staf itu tadi? Dada saya berdebar-debar. Bahkan setelah mandi dan makan malam, saya masih dikuasai debar tak menentu.

Saya tersentak oleh nada dering SMS masuk. Sebuah pesan dari staf protokoler tadi sore, mendoakan saya agar bisa menikmati istirahat. Hadiah dari atasannya akan segera sampai.

Sudah lewat jam sepuluh malam. Sudah lama rupanya saya termangu sendiri dalam kamar hotel. Beberapa menit berikutnya terdengar ketukan pintu. Dada saya semakin berdebar-debar.

Padang, 2010

Zelfeni Wimra lahir di Sungainaniang, Luak Limopuluah Koto, Minangkabau, 26 Oktober 1979. Bermukim di Padang. Sutradara Teater Cabang Padang dan giat di Magistra Indonesia. Kumpulan cerita pendeknya, Pengantin Subuh (Lingkarpena, 2009).

One thought on “Cerpen Koran Tempo – Gantungan Baju Buya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s