Cerpen Suara Merdeka – Tiga Kata untuk Emilie Mielke Jr

Cerpen Suara Merdeka, 27 Juni 2010 | Norman Erikson Pasaribu

TIM medis memilih untuk mengatakan sebagai: “Ada gerimis di paru-paru ibumu.“ Tentu saja kemudian Emilie Mielke Jr, anak gadis sematawayangmu yang ber-IQ 200 itu, memilih tak percaya. Sebab untuk menciptakan gerimis, sudah seharusnya ada awan Kumulus, jelasnya kepada para perawat yang memberitahunya ketika mereka makan di kafetaria. Sementara segala yang disebut awan adalah air yang menguap lantaran panas matahari, katanya lagi. Dan di paru-parumu, dia yakin tidak ada matahari. Dia sungguh meyakini itu meski tak pernah mengubek-ubek dadamu—sedangkan dokter yang sudah melakukan itu, meragukannya. Namun, mengapa malam ini kau malah memilih mengatakan padanya bahwa ada badai di paru-parumu? (Gerimis saja dalam versinya adalah tidak mungkin, bagaimana bisa ada badai?)

“Ada badai di paru-paruku,” katamu pada anak gadismu.

Malam ini dia memakai baju merah dengan rok putih bunga-bunga. Begitu manis setiap kali dia bertemu kau, ibunya. Dia juga mengepang sendiri rambutnya menjadi ekor kuda—dia selalu mampu melakukan itu, mengherankan sekali. Sementara itu kau hanya memakai baju pasien putih kusam yang kian menjemukan.

“Tidak mungkin,” kata anak gadismu.

“Tapi memang sedang ada badai di paru-paruku.”

“Kau bohong. Tidak mungkin ada badai. Sebab tidak ada awan.”

“Kenapa kau begitu yakin?”

“Awan adalah air yang menguap, sedangkan tidak ada matahari di paru-parumu.”

“Ada matahari di paru-paruku.”

“Bohong. Suhu matahari 6000 derajat Celsius.”

Kau tersenyum dan membelai-belai rambut anak gadismu perlahan. Dia memang selalu paling pintar di golongan anak seumurannya. Pada umur dua tahun, dia bisa membaca. Seluruh tetangga kemudian tahu. Berita menyebar dan penguasa mendengar berita ini. Sejak umur tiga tahun anakmu kemudian diharuskan belajar di sekolah khusus anak jenius. Dia dipulangkan setiap hari Sabtu, lalu esoknya kembali dibawa pergi. Kau tidak melawan atau berdaya bertindak sesuatu.

“Tapi ada laut di paru-paruku,” katamu, mencoba cara lain untuk mengatakannya.

Anakmu memang senang diajak jalan-jalan ke tepi laut. Sementara kau lebih memilih tamasya ke gunung batu. Kau sering mengalah karena merasa sudah cukup beruntung bertemu anak gadismu. Kau kini merasa, mungkin dengan menyebutkan hal-hal yang disukainya, dia akan mengerti.

“Lalu?”

“Paru-paru manusia tidak semestinya memiliki lautan.”

“Tapi, apakah di paru-parumu ada ikan?”

Mata anak gadismu berbinar.

“Lautnya beracun. Semua ikannya mati,” kau menerangkan.

“Jadi hanya ada kerang?”

“Kenapa kerang?” kau bertanya heran.

“Kerang adalah hewan paling kebal racun di samudra raya. Begitu kata guruku.”

Kau tersenyum lagi. Anak gadismu kini merangkum dunia dalam kepalanya. Tahun depan dia akan mulai belajar tentang luar angkasa, ujarmu suatu kali kepada salah satu pensiunan tentara dekat kamar inapmu. Kau kemudian tertawa dan tampak begitu bahagia. Si pensiunan tentara menunggumu selesai tertawa. Lalu kata pensiunan tentara itu: suatu hari nanti anakmu akan belajar membuat senjata pembunuh manusia massal seperti gas beracun, bom atom, juga virus yang bisa membunuh satu desa dalam delapan menit, hanya dengan dosis sebutir pil — sambil menempelkan telunjuk dan ibu jarinya. Dan malamnya kau menangis sampai tertidur.

“Sebentar lagi aku akan pergi ke tempat yang jauh,” ujarmu perlahan.

“Ke mana?”

“Jauh.”

“‘Jauh’ bukan kata benda untuk mengutarakan tempat. Guruku sudah mengajariku gramatika kata. Mengaku saja, kemana kau akan pergi?”

Kau tersenyum lalu menengadah melihat lampu neon di langit-langit. Di tempat mana pun di dunia ini, setiap lampu yang mencoba menerangi dunia pasti meredup dan akhirnya padam suatu saat nanti. Berbeda dari kegelapan malam yang setiap hari lahir kembali, seolah abadi, pikirmu dalam hati. Ini adalah minggu tak terhitungmu di rumah sakit. Sudah tidak ada harapan, begitu kata dokter sementara kau diam tak ingin bicara. Kalau ada hal-hal yang kaubutuhkan biarkan aku tahu, ujar dokter, menutup pembicaraan. Kau hanya berujar pendek, maukah kau menjaga anak gadisku?

“Kau masih ingat ayahmu?” katamu tiba-tiba sambil meraih tangan anak gadismu. Dia mengenal ayahnya melalui foto-foto dan kenangan-kenangan dalam ceritamu.

“Lelaki itu?”

“Lelaki itu.”

“Memang kenapa dia? Kau merindukannya?”

Kau terdiam menatapnya dengan cara yang biasa kaupamerkan ketika senja tiba. Ke sanalah arah suamimu, ayahnya, pergi. Ke barat. “Aku akan mencari ayahmu,” kau mengucapkan dengan lemah.

“Ke barat? Memang bisa?”

“Bisa,” rintihmu pelan.

“Bukankah itu dilarang pemerintah?”

“Bisa,” katamu, kali ini tidak merintih, melainkan menegaskan.

Namun kini kau pun tak kuasa menahan air matamu menitik.

“Kenapa kau menangis? Orang dewasa tidak menangis,” katanya.

“Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa orang dewasa tidak boleh menangis?” ujarmu setengah heran kepadanya.

“Aku mengatakan orang dewasa ‘tidak menangis’ bukan ‘tidak boleh menangis’.”

“Oh…,” desismu pelan. “Aku tidak menangis kok, aku sedang mengeluarkan air mata untuk membersihkan pupil mataku.”

“Begitu?”

“Begitu.”

“Tetapi, kenapa sih kau masih mau mencari lelaki itu?” tanyanya dengan dahi berkerut keheranan.

Kau diam tak mampu menjawab pertanyaannya. Dulu ketika dia begitu kecil, kau memilih berbohong dan mengatakan kepadanya bahwa ayahnya adalah lelaki tak bertanggung jawab yang telah meninggalkanmu ketika mengandungnya. Ayahmu tak siap menjadi ayah dan kabur meninggalkan kita, begitu kau berbohong kepadanya.

“Tapi, aku boleh ikut kan?” tanya anak gadismu tiba-tiba, begitu polos.

Matanya seolah bercahaya. Pasti hanya pantulan lampu, pikirmu, lupa kepada pertanyaan anakmu.

“Tapi, aku boleh ikut kan?” dia mengulangi.

Kau bergeming. Enggan menjawab. Anak gadismu sungguh pintar, namun tidak mampu memahami kau akan pergi meninggalkannya selama-lamanya. (Orang memang mengatakan kejeniusan dan keidiotan hanya dibatasi selembar tisu. Tapi apakah sebegini tipis bedanya? Yah, hanyalah Tuhan yang tahu.) Kau tidak ingin memilih mengatakannya sebagai: “Ibu akan mati.” Meski memang kau hanya perlu mengatakan tiga kata itu saja. Tiga. Persis ‘aku mencintai kamu’. Tetapi kau tak juga mampu mengutarakannya. Sementara, tak akan ada penundaan, kematian bukanlah jadwal keberangkatan pesawat terbang. Kau tetap diharuskan pergi. Seperti ayahnya yang pergi ke Ibu Kota, mencoba melawan penguasa lalim dan tak pernah kembali.

Tiba-tiba kau memucat. Kau mengatakan bahwa kau merasa mual dan ingin muntah. Kau menyuruhnya memanggil perawat. Setelah dia keluar, dari mulutmu kau keluarkan banjir hasil hujan badai sepanjang sore di paru-parumu. Hujan merah. Dan mengalirlah kali merah di pakaianmu, baju pasien putih kusam yang kian menjemukan itu.

Rawalumbu, 6 Mei 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s