Cerpen Suara Merdeka – Serikat Orang Tak Berjodoh

Cerpen Suara Merdeka, 13 Juni 2010 | S Jai

“CERITAKAN kepadaku tentang Jalan Tuhan itu, Pak Tua.“

“Sebelum bertemu di meja judi,” Pak Tua yang berbaik hati itu pun memulai kisah. “Perjumpaan Nyi Tanah, Man Sapar dan Abah Matkur bermula dari keinginan untuk menagih janji pada Tuhan. Awalnya, karena keduanya tahu jodoh itu di tangan Tuhan. Waktu umurnya nyaris tutup, sang jodoh tak kunjung datang, sebab itu dimulailah perburuan sampai di sini, sampai bertahun-tahun, sampai menyentuh batas harapan dan putus asa, senantiasa hidup sendiri tanpa suami atau istri. Padahal semuanya mereka punya, rumah, juga pekerjaan. Satu yang tidak ada: suami atau istri jodoh yang langgeng, hidup bersama seia-sekata. Meskipun bukan tak pernah mencoba, tetapi jodoh mereka belum pernah tiba sampai tua, sekalipun mereka percaya jodoh itu juga untuk kelak di penghidupan yang berikutnya. Kini, hari-hari bagi mereka adalah tapal ambang perburuan dan penantian. Suatu yang belum aku dan kamu mengerti, anak muda. Mungkin antara menjemukan dan menggairahkan, atau perpaduan keduanya.”

“Lalu mengapa orang-orang itu membunuh waktu di meja judi?”

“Itu tak kumengerti jawabnya. Sekadar reuni? Mengatur strategi? Semuanya bisa benar.”

“Reuni?”

“Ya, siapa tahu. Biar kembali lagi ingatan kemudaannya dengan menebar kisah lama yang ingin didengar di kalangan mereka sendiri. Sebab bila cerita mereka terdengar orang lain berubah kisah sedih, sentimentil atau bukan mustahil jadi lelucon. Barangkali hanya bagi kuping mereka sendiri cerita itu suatu kegairahan, penuh makna justru pada usia tua. Ya, siapa tahu. Karena mustahil kita mencari tahu pada orang tua yang tak memercayakan hidupnya pada kata-kata,” paparnya.

“Lantas?”

“Itulah misterinya keberadaan mereka.”

“Ayolah Pak Tua, ceritakanlah padaku apa yang engkau tahu tentang mereka.”

“Kenapa engkau jadi begitu percaya pada ceritaku? Padahal aku tak tahu isi kepala mereka. Kenapa kamu nggak menduga aku cuma mengarang cerita saja, anak muda?” tutur orang tua itu.

“Ayolah, Bapak banyak makan jalan. Jadi aku percaya.”

Saat terdesak, Pak Tua kembali bercerita. Jadilah kurang lebih seperti ini kisahnya:

Nyi Tanah, perempuan di meja domino itu pemilik rumah. Dulunya ia wanita terpandang, terkaya. Banyak mata berpandang jalang karena sisa kekayaannya masih tak terbilang. Sebagai pendatang di kampung ini, Nyi Tanah dikenal pekerja keras, banting tulang dan justru tak wajar buat perempuan kebanyakan. Kebiasaannya berkebaya, berganti daster dan penutup kepala—ciri wanita karier pada zamannya. Usaha dagangnya melesat maju, makin melambungkan namanya nyaris terbang. Usaha pupuk untuk petani kampung secepat memupuk ekonomi desa. Di luar kendali, Nyi Tanah tumbuh kukuh jadi juragan. Seorang pendatang, segera menanamkan kukunya. Bermula dari seorang pendatang, ia pun sanggup mendirikan tiga rumah dengan dibangun dari kayu termahal.

Satu lagi kecerewetannya. Kecerewetan itu malah mengukuhkan jati dirinya yang keras kemauan dan berwatak baja—seorang yang tidak gampang menaruh kepercayaan pada orang lain, apalagi sampai jatuh pada pelukan pria. Bagi lelaki tentu ini kengerian. Sekalipun suaminya sendiri, terbit rasanya jadi pelayan untuk juragannya. Nyi Tanah beberapa kali menikah, beberapa kali si suami pergi tak kembali. Ada kalanya terusir, sisanya atas permintaan sendiri tanpa disertai ungkapan duka, apalagi airmata Nyi Tanah. Selepas pria keempat atau kelima, Nyi Tanah tanpa basa-basi menyingsingkan lengan bertangan besi. Dia berdiri demi bertahan hidup menyendiri hingga menyongsong usia ke seratus tahun.

Nyi Tanah betah sonder direcoki upaya percobaan bunuh diri. Meski bukan tak lepas dari pasang surut. Nyi Tanah pernah mengubah diri serendah-rendah umat. Melucuti semua baju lembar demi lembar dari yang membungkus kulitnya, kekayaannya, menjatuhkan, meluruhkan kekerasan hatinya, keangkuhannya, pasrah diri demi mendapat lelaki yang ia harapkan menjadi jodoh hidupnya. Segala upaya tak ada guna.

Lelaki itu Man Sapar, pejantan yang mendapati dirinya, kehebatannya, arti hidupnya, jiwanya, kebebasannya, semangatnya, hiburannya, nafsu serta leluconnya saban kali terdampar di ladang yang bernama tempat pelacuran. Meski justru Man Sapar dikenal orang lain di kampungnya, tubuhnya yang kecil, pelamun, air muka merah tegang tak ketinggalan, jauh dari kesan berwatak sosial seperti yang dia obral sendiri.

“Ayolah, Man Sapar, kau tak perlu lagi keluar banyak duit untuk pergi ke sana. Bila kamu mau tinggal di sini,” Nyi Tanah mendesah, sanggup merajuk seperti bocah mengantuk meminta Man Sapar menjadi suaminya.

“Kalau Nyi Tanah maksudkan aku jadi suami, maaf aku tidak bisa,” Man Sapar tegas tanpa perlu meresapi alasannya yang keluar juga. “Kalau mau jujur, Nyi Tanah sebenarnya menyinggung perasaanku. Itu sama artinya dengan keinginan Nyi Tanah untuk membunuhku. Tapi kalau keinginan Nyi Tanah di luar itu aku masih mempertimbangkan jawabannya.”

“Maksud Man Sapar kumpul kebo?“

Tak terungkap benar kesungguhan kata Man Sapar. Juga kesahihan kumpul kebonya Nyi Tanah. Man Sapar justru buka mata pasang telinga mengumbar kata perihal keburukan paras dan kebawelan janda kaya itu dasar segala penolak daya. Bahkan tanpa kepergok yang empunya cerita hingga bertahun lamanya sampai umurnya hampir seratus tahun.

Perempuan itu memendam kebohongan Man Sapar tanpa sepengetahuan yang bersangkutan—pelacuran adalah tembok tebal bagi Man Sapar untuk menutupi segala aib seolah seluruh pelacur di kompleks itu membutuhkan kejantanannya. Saat seperti itu sering terbayang di benak Nyi Tanah tubuh mungil Man Sapar tenggelam di balik paha perempuan jalang berlemak, gempal, lebih murah dibanding harga sekilo daging kambing congek. Ini semua cuma bayang-bayang dan omong kosong. Kenyataannya, tak ada jodoh yang awet di tempat tidur dan di segala zaman, di saat dibutuhkan maupun tak lagi diperlukan—semisal ketika sepasang kakek-nenek telah sama-sama mengidap amnesia.

Man Sapar pun menyudahi kebiasaannya keluar masuk pelacuran. Ia berhenti karena malu. Merasa diri hidup tak berguna dan keliru menabung perbuatan baik: membayar pelacur demi menyambung hidup anak-anaknya. Dia rasa pula justru membantai hasratnya untuk berjodoh, menggauli istri yang kelak melahirkan anak lewat rahimnya. Jalan sudah kebablasan ditempuh, kadang berjumpa satu-satunya kehebatannya, keahliannya itu. Maka pilihan pun dijatuhkan. Suatu ketika Man Sapar memutar otak. Didorong oleh malu dan kemaluannya, ia terinspirasi alih profesi sebagai pembor, tukang bor pembuat sumur tanah.

Berkat berpikir keras, hasilnya pun berubah gemilang. Sebuah perhitungan yang matang. Ia berpikir tiap orang butuh air bersih saban hari. Rumah, sawah, tegal dan ladang juga minta air untuk mengairi tanaman. Terlebih bila musim kemarau terulur panjang.

Beberapa pipa, sejumlah mata bor didesain khusus. Lalu mesin disel untuk mendorong air menyemburkan tenaga pada pipa-pipa itu agar mata bor gampang menusuk bumi dengan kenikmatan luar biasa. Maka jayalah usahanya. Man Sapar punya dua-tiga anak buah yang lincah.

Kampung itu tidak kesulitan air. Justru Man Sapar yang susah mengatur jatah waktu menyusul membludaknya tawaran ngebor hingga kampung sekitar. Terlebih ketika arus listrik gampang didapat, dan mesin pompa air tinggal ambil di toko-toko.

Di luar dugaan, berkat itu mengantar Man Sapar cepat berumah, menyenangkan anak buah dan terpenting bermanfaat bagi orang banyak, memajukan warga kampung setelah berjalan bertahun-tahun.

Kesibukan kerja yang luar biasa, kian mematikan hasratnya terhadap perempuan. Sampai ke titik nadir tak terpikir. Melintas batas pun tidak. Betapa dahsyat, kerja bagi hidup Man Sapar menebas kepentingan sendiri, lalu mengambil jalan pintas melayani orang banyak. “Uang bukanlah segalanya,” ungkapnya suatu ketika. “Apalagi demi memuaskan diri pribadi, maaf itu jauh dari pikiranku, dan kehidupanku yang sekarang. Saya sendiri tidak tahu, barangkali inilah reinkarnasi dalam diriku. Sebab itu bagiku, kepuasan diriku adalah pada saat bisa melayani kebahagiaan orang lain, orang banyak,” cetus Man Sapar.

Sampai suatu saat ia teruji. Begitu diusik perihal nikah, Man Sapar mendadak jengah. Dia bingung dan tersinggung. Geram dan susah payah meramban jawaban. Walhasil justru Man Sapar balik merangkai kata tanya tak terduga. “Lho, mengapa tak engkau perhatikan sungguh benda ini?” pinta Man Sapar sembari melempari sejumlah buah matabor yang tampangnya sengaja dibuat persis kelamin pria pejantan. “Kau tahu kenapa mata bor ini kubuat seperti ini?”

Yang bertanya menggeleng.

“Karena ini adalah kenikmatanku sendiri. Gairah cintaku yang mengaliri darahku, mengejangkan seluruh ototku, melayangkan segala imajiku, terbang meliuk menukik melampaui awan lembab. Bumi hanyalah perumpamaan daging-daging segar. Aku berbahagia menikahinya, karena kuasa menyetubuhinya,” tukas Man Sapar.

“Dasar wong edan!” gerutu si penanya berakhir sumpah serapah tak karuan disertai ancaman, “Tuhan belum mengujinya dengan seonggok waktu bernama kesunyian.”

Sialnya, Tuan serbatahu, sang pencerita itu telanjur menembakkan ancaman yang diam-diam terbukti pada Man Sapar. Ketika ia bicara babakan waktu, umurlah yang menggerogoti tubuh Man Sapar. Otot-ototnya melumpur, kulitnya berpetak umpet. Nyatalah waktu pula yang menghabisi nyalinya, kemampuannya menyetubuhi bumi. Tibalah saat ia merasa dihampiri perasaan asing, zombie berwujud kesunyian. Ia mulai petualangan barunya melawan dirinya sendiri, menaklukkan waktu dan menundukkan rasa jemu penantiannya. Dan yang pasti mengerahkan sisa kekuatannya untuk menghalau makhluk langka lainnya yang mewabah—keputusasannya. Sebab itulah pilihan dijatuhkan sebagai tujuan, yakni meja domino. Di sana tersisa satu-satunya yang masih bisa dikendarai di jalan hidupnya: Menagih janji Tuhan akan jodohnya. Ya, untuk itu dia perlu sesekali merayu atau mengajaknya canda tawa….

“Halo anak muda, apakah masih percaya seluruh ceritaku?” Pak Tua itu asyik mengusik.

“Kenapa tidak? Pak Tua belum cerita soal Abah Matkur. Kenapa juga nyanggrok di Jalan Tuhaní dan meja bertotol macan?“

“Ada apa kamu ini? Mengapa kau tak berhenti memaksaku mengisahkan mereka,” keluh Pak Tua, “Baiklah. Memang musti kukatakan yang kutahu, kisah-kisah mereka. Sebelum kau berontak tak lagi percaya. Lalu mencapku tukang omong kosong.”

“Jangan berbasa-basi. Cepat teruskan!” Nada anak muda itu mulai memaksa.

“Begini,” Pak Tua itu kembali bertutur. Ada getar rasa kini dibawah tekanan. “Abah Matkur itu orang biasa. Penampilan biasa, rumah biasa dan gaya hidup yang serba biasa. Ya, jadi tak ada hal istimewa yang mengiringnya kemari, untuk diceritakan.”

Ia terdengar kebingungan mengarang cerita. Kalimatnya tak berbaris rapi. Suaranya bergoyang. “Tapi tak disangka serba biasa itu jadi penyebab dia perjaka seumur-umur—pilihan hidup yang sanggup ditempuh sedikit orang. Yang banyak tersedia, orang merekayasa diri agar tak disebut lelaki biasa soal penghasilan, pekerjaannya supaya bisa memperistri wanita malang pilihannya. Abah Matkur tak sudi menipu diri. Ia jujur mengakui dihidupi seekor sapi. Bukan berarti perlu izin sapinya bila ingin memelihara seorang lagi menjadi istrinya? Itu mustahil dilakukan. Itu yang membuatnya tak punya nyali menjebol tembok aturan ‘ambillah perempuan-perempuan untuk menjadi istri bagimu yang telah mampu.’ Ya, dia dihidupi sapi jantan Brahma dengan menjual kejantanannya paling tidak dua tiga kali sehari, agar induk sapi-sapi betina beranak pinak. Hasilnya bisa menopang hidup setelah dipotong jatah rumput gajah, dan jamu kuat untuk sapi. Jadi bila Abah Matkur ditanya siapa paling berarti bagi kehidupannya, di dunia ini sudah pasti jawabnya: seekor sapi. Begitulah telah berlalu bertahun lamanya dengan sapi-sapi paling tokcer. Sampai-sampai buntutnya, wanita-wanita yang menaruh hati padanya harus puas mengurung niatnya. Yang tertinggal cuma ketakutannya bakal diserahkan kehormatannya pada kejantanan seekor sapi. Lalu perempuan-perempuan itu hanyut di laut kengeriannya sendiri mengandung bayi-bayi yang kelak lahir berbadan manusia dengan berkepala sapi. Suatu yang sebelumnya tak terbayang di benak lelaki serba biasa, Abah Matkur,” katanya.

“Jadi dia tetap membujang sampai sekarang, Pak Tua?”

“Ya iyalah. Masa ya iya dong!”

“Lalu, untuk apa dia di sana? Apa yang dia tagih kepada Tuhannya?”

“Itu yang sedang kupikirkan sekarang. Ia menagih seekor sapi betina ataukah seorang perempuan jodohnya.”

“Lho, kok bisa?”

“Itu yang tidak aku tahu.”

“Bagaimana sih?”

“Aku betul-betul tidak tahu dan mustahil aku menceritakan padamu apakah Abah Matkur seorang yang impoten ataukah seorang yang sebenarnya jatuh cinta pada sapi betina, apalagi sapi jantan.”

“Terus?”

“Jadi jangan lagi desak aku mengisahkan yang tak kutahu. Karena aku sekarang sedang memikirkan diriku sendiri.”

“Okelah, tapi sebentar pertanyaanku belum kelar. Pak Tua serba mengaku tahu, dan mengudar kisah sepanjang waktu. Tapi Pak Tua belum jelaskan padaku bagaimana kisahnya bisa seperti itu,” selidik anak muda itu.

Pak Tua itu mulai benar-benar sibuk dengan dirinya sendiri. Ia tampak kesulitan menjawab pertanyaan yang memang tak cukup mudah untuk dimengerti.

“Katamu karena aku lebih tua darimu. Karena aku setua mereka jadi aku tahu perjalanan yang mendera hidup mereka.”

“Tapi bukankah Pak Tua tak pernah bersinggungan dengan mereka.
Bagaimana bisa anda kisahkan sedetail itu, bahkan lebih detail dari hidup mereka yang sederhana. Kenapa itu?” desaknya.

“Oh, begitu…,” Pak Tua itu kini betul-betul terpojok, satu lagi puluru tajam bakal merobohkannya.

“Ya, siapa anda sebenarnya yang begitu leluasa memata-matai keseharian mereka di meja domino itu, bahkan sampai merasuki ke dalam ruh hidup dan jiwa mereka. Siapa?“

“Jangan menuduhku segegabah itu anak muda,” Pak Tua itu pun mulai mengeluarkan senjata penangkisnya.

“Habis, sepertinya Pak Tua amat berkepentingan dengan mereka.”

“Soal itu, kuakui memang iya. Karena aku seorang dalang wayang kulit yang sulit mendapatkan lagi tawaran main, jadinya aku banting setir jadi pengarang cerita yang syukurlah cukup memukau anak muda seperti Anda. Berikutnya, aku tinggal menyusunnya ke dalam kata-kata yang aku yakin makin membuatmu terpesona dan tak habis pikir takjub begitu tahu bagian akhir cerita,” entah ini jurus andalan ataukah langkah paling buncit.

“Apa itu?”

“Jadi apa perlu aku buka kartu sekarang?”

“Ya, sebagai jaminan agar jantungku tak berhenti berdetak karena kaget yang luar biasa.”

“Sabar dulu, jangan terburu nafsu,” pinta Pak Tua itu bermaksud meledek. “Em… tapi baiklah. Jangan dikira aku tak bersinggungan dengan kakek-nenek di meja domino itu. Biarpun aku tak pernah ke sana karena tak bisa bermain domino atau karena tak terangkum dalam serikat orang tak berjodoh. Sesekali kupikir perlu kesana untuk menitip tanya pada Tuhan. Tapi ini bukan tagihanku. Apakah laki-laki seperti aku yang beristri sebelas orang wanita bisa mendapat kepastian siapa di antara mereka atau siapa sebenarnya yang menjadi jodohku. Ya, seperti halnya mereka, di usia tuaku seperti ini, aku sangat memerlukan kepastian jawaban atas pertanyaanku itu. Apalagi dari sembilan istriku itu semuanya muda-muda dan luar biasa cantiknya. Justru karena itu sebagai seorang seniman yang tahu dunia dalam, aku tak ingin jatuh dalam dunia yang penuh dengan tipuan ini. Sebab itulah, sudah kupikirkan sejak mula, aku akan mengajakmu pergi ke meja domino itu untuk mengajukan pertanyaan penting. Barangkali di antara mereka lebih dulu bertemu dan menghadap Tuhannya. Kau kubawa serta sebagai saksi bahwa kelak kamu juga akan setua mereka, segelisah mereka, sesabar mereka atau bahkan lebih bodoh dari mereka,“ ungkap Pak Tua itu terus menyibukkan diri dalam dunianya, alam pikirannya, perasaannya juga batinnya, harapannya, ketakutannya. Segalanya beraduk dalam satu belanga sebelum menjelma menjadi kata.

Jelas ini suatu siksaan hebat karena Pak Tua itu tak lagi berkuasa atas tangannya untuk memainkan wayang seperti biasa….

Malam ini udara gerah. Kemarau hampir pergi ditandai awan tebal yang sering memayungi angkasa. Panas bumi tak leluasa lepas dan murung di atap-atap rumah penduduk sesekali lepas lantas terpantul lagi ujung payung angkasa. Di sana pula rumah kayu Nyi Tanah tersekap. Beruntung keluasannya luar biasa dengan atap genteng menjulang seolah hendak terbang.

Pak Tua tak ingkar janji. Dia ajak serta anak muda hadir di perjamuan domino kakek-nenek tak berjodoh itu. Selaku saksi, anak muda itu tak berkata-kata. Tapi ia musti khidmat menjalani suatu upacara yang tak dimengerti.

Usai upacara basa-basi, sesepuhsesepuh terlihat bicara singkat dan tentu saja padat. Tanpa makna yang tertangkap anak muda malang itu.

Lantas, Mereka tertawa lepas. Gelak tawa sekuat tenaga, sampai lupa diri abai dan menyingkirkan segala nama, bahkan hidupnya.

Ya, mereka memang terlampau banyak mengendapkan misteri. Juga ketika tiba-tiba langkah kartu mereka bertiga sama-sama mati. Mungkin ada yang khilaf. Barangkali ada yang curang. Atau bisa jadi ini semua telah menjadi kehendak sang dalang agar kehadirannya segera dimengerti oleh serikat kakek-nenek tak berjodoh itu. Sebaliknya bukan mustahil kematian langkah adalah suatu hal yang biasa dan itu tak berarti apa-apa.

Kisah ini pun tak lebih kepercayaan anak muda itu pada sosok dalang. Sosok dalam suluk yang menyingkapkan diri simbol ketuhanan dan kuasa menghidupkan wajah-wajah wayang ke dalam ruh jiwa manusia. Sayang, kini rasa itu tengah menuju kerapuhannya.

“Ya, dalang sekarang ini sebagaimana tukang cerita, sulit dipercaya,” pikir anak muda itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s