Cerpen Suara Merdeka – Pamungkas Asmara

Cerpen Suara Merdeka, 20 Juni 2010 | Sunlie Thomas Alexander

Nujum Iblis Buta

“AKU tak akan mati selama dosa dan kejahatan masih ada di dunia ini. Aku telah bersumpah demi arwah nenek moyangku, untuk membunuhmu lalu menghisap darahmu!” Begitulah nujummu jatuh atas diri sendiri, Iblis Buta! Lalu serupa manusia pertama dijadikan dari debu tanah, jasadmu yang telah mengabu pun perlahan bergerak menyatu kembali bersamaan dengan berembusnya angin kencang di dasar Lembah Jagat Pangeran. Udara begitu dingin menusuk pori-pori, serasa menanggalkan tulang-belulang. Ah, segalanya memang seperti berhasrat membeku pada malam yang jahanam itu.

Kau tahu, betapa menakjubkan sekaligus menakutkan —di bawah terang purnama yang mencemaskan— menyaksikan butir-butir debu itu memadat lagi jadi tetulang dan dagingmu yang fana. Lantas kau pun beranjak berdiri dari kematianmu yang kedua. Telanjang bulat seperti manusia pertama yang terpana melihat fajar perdana.

Tetapi malam susut kelabu, Iblis Buta. Meski bintang-bintang tak gentar berkerdip. Dengan angin yang membawakan aroma liang lahat. Busuk menyengat, bagai hendak membongkar seisi perut. Ah, seorang peladang malang yang sejak mula bersembunyi ketakutan di balik kerapatan pohon pisang, lari lintang-pukang ketika tiba-tiba kau meraung keras. Air kencingnya bercucuran membasahi celana!

Tentu, tentu ini bukanlah kejadian yang bisa dinalar. Bagaimana mungkin manusia yang telah mati, dengan tubuh tinggal abu bisa bangkit lagi? Nyali siapakah yang tak lumer melihat semua kegilaan ini dengan mata kepala sendiri?

Namun begitulah, Iblis Buta. Kepada iblis neraka yang telah memberimu keabadian, kau telah bersumpah hanya akan hidup dengan meminum darah. Berkarib dendam dan kebencian!

Bukankah telah lama bagimu nyawa manusia tak ada lagi harganya? Sejak bertahun-tahun lalu, ketika kedua orang tuamu membuangmu selayaknya seekor anjing kudisan karena tak sudi punya anak buta. Ketika semua orang meremehkan dan menghinamu, mengusir dan meludahimu. Dan tak seorang anak pun di kolong kampung yang sudi berada di dekatmu, apalagi berteman denganmu.

Karena itulah, riwayat mengerikan ini pun tergores di lembar-lembar cerita bergambar: ke mana pun tongkat dengan gantungan tengkorak itu menuntunmu, maka darah bisa dipastikan bakal tercecer dari setiap jejak langkahmu. Teror demi teror bagi setiap yang bernyawa. Dari kota-kota karesiden hingga kampung-kampung terpencil, demikianlah bertahun-tahun kau menjelajahi seantero rimba persilatan seraya menebar bencana. Ah, konon bayang-bayangmu lebih menakutkan dari wabah penyakit menular yang paling mematikan sekalipun. Kendati tak punya biji mata, siapa nyana mata tongkatmu lebih tajam dari mata sekalian setan. Mengincar setiap urat leher, yang lena maupun terjaga!

Ai, maut layaknya orang buta yang lewat sambil meraba-raba dengan tongkatnya.

Mencari Barda Mandrawata

“AKU tidak tahu kuasa apa yang telah membangkitkan engkau dari liang kubur. Tetapi yang pasti kuasa yang melawan kodrat Ilahi pasti akan hancur….” Begitulah tukas putra Paksi Sakti Indrawata, pemimpin perguruan Elang Putih itu dingin. Suaranya terdengar dalam, namun tenang.

Hari itu, lagi-lagi di dasar Lembah Jagat Pangeran, kalian kembali mesti berhadapan. Namun hingga matahari tergelincir ke barat, selain kesiur angin yang membuat daun-daun pepohonan bergemirisik riuh, belum juga ada di antara kalian yang bergerak. Tegak berptopang tongkat, terpisah dalam jarak dua tombak, kalian sepertinya saling mengukur kekuatan. Seratus dua puluh purnama berlalu, terang bukanlah waktu yang singkat. Tentu sudah banyak ilmu kesaktian bertambah. Jika saja masih punya mata, barangkali ia akan menatapmu lekat-lekat dengan pandangan menusuk. Dan bila punya biji mata, kau mungkin akan menantang kedua matanya dengan tatapan membesi. Tapi toh, kalian sama butanya.

Ya, itulah pertemuan kalian yang kedua setelah ratusan purnama. Ah, betapa sudah begitu lamanya kau menantikan waktu ini tiba untuk menyelesaikan segala hutang nyawa. Kau tahu, sebagaimana telah kau nujumkan, pertarungan itu memang tak bakal terelakkan. Entahlah siapa duluan yang membuka jurus, tahu-tahu tubuh kalian telah menjelma kelebat bayang-bayang. Saling menggulung dan membelit, tongkat kalian begitu sebatnya menusuk dan menangkis dan menyabet.

Konon, hanya mata para pendekar kawakan nomor satulah yang mampu melihat jalannya pertarungan. Jurus berganti jurus, tak juga salah satu dari kalian tampak terdesak. Debu-debu dan bebatuan beterbangan, rumput-rumput tercerabut, daun-daun melayang berguguran, dan pohon-pohon besar kecil pun tumbang satu persatu. Ai, begitulah aku mengingat gambar-gambar itu dulu berkisah, Iblis Buta. Hingga memasuki jurus ke sekian ratus —tentu tak kuingat lagi pada halaman berapa— dalam satu kesempatan kau berhasil menyelinap ke belakang pendekar buta berpakaian kulit ular itu dan bersiap menghujamkan tongkatmu!

Tetapi, sebelum ajal berpantang mati, begitulah ujar-ujar yang lazim berlaku di rimba persilatan, Iblis Buta. Maka, sebagaimana dulu kau dibangkitkan oleh petir, demikianlah pula kematianmu yang kedua ini ditakdirkan. Lidah-lidah api mengerikan itu menyambar dan menghanguskan tubuhmu hingga luluh-lantak, sekaligus menyelamatkan nyawa si pendekar kelana.

Karenanya, pada kebangkitan kedua dari abu, tentu kini bakal kau cari lagi jejaknya untuk menuntaskan pertarungan yang tak usai. Sebab, bukankah hanya satu jawara buta yang boleh tegak di kolong jagat ini?

Malaikat Maut Tanpa Asal

YA, maut memang orang buta yang berjalan lewat dengan tongkatnya. Karena itu, tak seorang pun tahu dari mana asalmu, sebagaimana tak seorang pun yang bisa memberitahumu di mana beradanya Si Buta dari Goa Hantu.
Begitu saja kau muncul menggegerkan rimba persilatan, seolah-olah tanpa latar belakang.

Tentu saja masih kuingat bagaimana kau pertama kali hadir dan mengobrak-abrik desa tempat tinggal Barda Mandrawata yang tentram. Ratusan penduduk tak berdosa mesti merenggang nyawa di ujung tongkatmu yang (tak) bermata. Padahal tujuanmu hanyalah satu: Mencari dan menantang pemimpin Perguruan Silat Elang Putih, Paksi Sakti Indrawatara yang kesohor itu demi membuktikan siapa yang lebih digdaya.

Ah, seandai saja kau tahu, kalau hari itu—hari terbunuhnya Ki Paksi—sebuah babak baru sejarah pun dimulai: Ya, Iblis buta. Ya, kaulah pembawa kunci takdir bagi kehidupan Barda Mandrawata menjadi Si Buta dari Goa Hantu.

Pulang menemukan kedua orang tua, semua saudara dan seluruh murid perguruan tewas menggenaskan, hati siapa yang tak koyak, dendam siapa tak menetas? Namun, jika seluruh riwayat kebengisanmu berpangkal dan berujung pada kemarahan tak kunjung reda kepadaNya yang telah menakdirkanmu lahir tanpa biji mata—barangkali Bardalah satu-satunya orang di muka bumi ini yang memilih buta!

“Buta mungkin lebih baik, agar tak perlu lagi melihat segala kekejian di dunia,” begitulah ujarnya lirih usai menghujamkan kedua matanya pada paku yang tertancap di sebatang pohon. Tetapi kau paham, semua itu dilakukannya demi mempelajari ‘Ilmu Membedakan Gerak dan Suara’, lantaran hanya orang butalah yang sanggup mempelajari ilmu tak tertandingi yang kau kuasai itu.

Ah, kalian mungkin layaknya sekeping mata uang dengan dua sisi, Iblis Buta. Demikianlah takdir jatuhkan pilihan kepadamu dan kepadanya. Seperti dua kutub saling bertolak dalam kehidupan. Saling ada dan mengadakan. Tanpa dirimu dalam kehidupannya, kisah panjang ini memang tak bakal ada, Iblis Buta. Ya, seperti halnya lahir dan mati, sesungguhnya memang telah ditentukan bagi kalian menjadi dua musuh bebuyutan selamanya!

Tapi apa yang sebetulnya kau cari, Iblis Buta? Apa yang kau inginkan dari dunia yang keparat ini? Kekuasaan? Raja diraja rimba persilatan? Atau hanya sekadar rasa takut dari makhluk-makhluk malang?

Sampai kapan kau hendak membalaskan dendam kesumatmu pada hidup yang tak ramah? Sampai kapan pula kau hendak menggugat-Nya? Hingga lonceng pengadilan terakhir berdentang?

Bersama angin buruk yang menyelinap masuk ke setiap rumah yang lena merapatkan pintu dan jendela, kau pun kembali menggembara sembari mencabut setiap nyawa. Ya, sebagaimana bertahun-tahun silam, kau kembali berjalan dari kutuk ke kutuk, dari kebencian ke kebencian. Tapi ke mana gerangan kau harus mencari pendekar buta yang malang-melintang mengikuti hembusan angin itu, Iblis?

Ingatan pada dua kematian, membuat dadamu kian membara oleh dendam. Terang masih lekat, bagaimana kepalamu terpenggal oleh sabetan tongkatnya dalam pertarungan kalian yang pertama. Bagaimana pula manusia sial Si Maung Lugai membawa lari kepalamu untuk memenuhi persyaratan cinta Marni Dewiyanti. Sehingga, setelah dibangkitkan oleh petir yang menyambar makammu, kau pun menghantui rimba persilatan tanpa kepala!

Interlude: Dua Kisah Kepala

OH, syahdan kepalamu itu memiliki kisahnya sendiri, Iblis Buta. Entahlah. Barangkali memang begitu istimewanya, sehingga ia mesti mengalami dua versi penceritaan yang berbeda dalam rentang waktu sepuluh tahun lamanya.

Baiklah, ini cuma sekadar mengingatkan pahitnya kekalahanmu saja!

Dalam kisah pertama, tatkala kau terbunuh dalam petarungan dengan Si Buta dari Goa Hantu, sabetan tongkatnya yang membentuk tanda tambah, telah membelah tubuhmu dari atas ke bawah lalu memutuskan pinggangmu. Sesungguhnya tidaklah pernah dikisahkan bahwa ia telah memenggal kepalamu, Iblis Buta. Hal ini pun diperkuat Marni yang mengaku bahwa saat Si Maung Lugai membawakan kutungan kepalamu kepadanya, ia masihlah melihat kepalamu itu dalam kondisi terbelah dua. Ah, adakah Si Maung Lugai keparatlah yang telah memenggal kepalamu tatkala ia menemukan mayatmu? Bukankah ia sempat bertarung dengan Barda sebelum pendekar itu meninggalkan Lembah Jagat Pangeran?

Tetapi dalam episode keenam belas “Bangkitnya Si Mata Malaikat” yang terbit sepuluh tahun kemudian, nyatanya terpenggalnya kepalamu telah menyimpang dari jalan kisah yang lama, Iblis Buta. Pada episode ini diceritakan bahwasannya sabetan tongkat Bardalah yang telah pisahkan kepalamu dari badan dalam pertarungan dashyat di Lembah Jagat Pangeran itu. Dan kemunculan Si Maung Lugai Penyapu Jagat dalam cerita ini pun tatkala Barda sudah tak ada, sehingga dengan demikian tak ada pertarungan di antara mereka. Begitulah!

Dua Perempuan Penyejuk Hati

AH, maut adalah orang buta yang menuding dengan tongkatnya.

Namun toh, hidup nyatanya tak melulu kebencian, Iblis Buta! Dalam pengembaraan panjang mencari Barda, kau tahu, cinta sesekali masih berkenan menyapa hatimu yang telah mengeras oleh lapisan dendam dan kebencian itu. Bukankah terkadang kau masih terkenang pada suara lembut Mandrawati? Ai, harum rambutnya yang beraroma melati! Hmm, perempuan… adakah sedikit saja kau pahami kelembutannya yang mampu meredam panasnya bara dendam di dadamu, Iblis? Seperti setetes demi setetes air yang membuat lubang di atas kerasnya batu goa. Entahlah.

Tapi di desa Cibarusa, tempat langkahmu terhenti sejenak untuk mengumbar bencana kepada para penduduk yang tak berdosa, Iblis Buta, sekali lagi kau mesti kembali menemui sentuhan lembut itu di hatimu yang gersang berdebu.

Rosiana, Rosiana! Kecantikan seperti apa yang kau miliki hingga mampu menghentikan keganasan seorang pendekar buta yang paling durjana? Adakah kau benar-benar jatuh hati pada pembunuh biadab itu, atau semata-mata hanya niat tulus untuk menyelamatkan kedua orang tuamu dan warga desa dari pembantaian kejinya? Ataukah berkat petunjuk sesederhana kata-kata halus Uwak Kiwul-lah, kau nekat mengorbankan diri?

Barangkali dalam kisah ini, takdir memang terlalu berkuasa dan lancang bicara. Ia mempermainkan setiap tokoh seperti wayang di tangan seorang ki dalang yang dingin namun fasih membawakan kisah sedih memukau. Bahkan kerapkali begitu licinnya ia mengelakkan nujummu, Iblis Buta.

Tentu awalnya kau tak menduga, bila pada akhirnya kau bertekuk lutut juga di hadapan anak gadis juragan Kowara yang cantik jelita itu. Gadis yang sudah berpenampilan kelondo-londoan lantaran terlalu lama tinggal di Batavia. Tapi begitulah kau rasakan getar itu sesayup sampai, serupa getar yang dulu dikirimkan Mandrawati ke mata hatimu. Getar yang melumpuhkan, pun setiapkali kau mendesiskan namanya, mengingat suara dan aroma melati di rambutnya.

Ya, mungkin ini memang takdir bagi si jelita, yang begitu dicintai oleh para pemuda di desanya, namun toh memilih menjadi bagian dari riwayat hidupmu yang durjana.

Sejak itu, kau mulai berubah, Iblis Buta! Perlahan, selapis demi selapis karatan kebencian dan dendam di hatimu pun mulai menggelupas. Perlahan, kau mulai menurut pada Rosiana. Kau tak lagi membunuh, tak lagi menghisap darah para korbanmu. Selama beberapa waktu, kau hanya menggantungkan hidup dari tetes demi tetes darah yang dikucurkannya dengan rela untukmu dari goresan tipis di pergelangan tangannya. Bahkan bukan cuma darah, tapi juga tubuh dan jiwanya ia korbankan agar kau tak lagi menebar malapetaka. Hingga akhirnya benihmu pun tumbuh subur di rahimnya. Ah, toh kau tak juga berhenti membandingkannya dengan si manis Mandrawati. Belum juga berhenti dari menyebut-nyebut nama gadis kecil itu dan mengenang masa-masa kalian bersua.

Oh, Mata Malaikat, iblis buta tanpa nama tanpa asal! Oh, hati membutakan diri dari kasih, kini mampuslah kau dikoyak moyak cinta! *

Karena itu, hanya satu ilmu kesaktian di bawah kolong langit ini yang bisa melenyapkanmu, Iblis Buta. Ilmu itu, kau tahu, bernama Pamungkas Asmara. Pukulan api cinta! Kobaran api yang meletup dashyat dari hati sepasang insan yang dimabuk asmara.

***

AI, tentu aku tak berhasrat menjadi juru cerita baru bagi kisah jahanammu, Iblis Buta!

Kulihat Uwak Kiwul berdiri termenung. Wajahnya tampak keruh meski jari-jari tangannya yang kurus tak henti-hentinya menghitung butir-butir tasbih melafadzkan kebesaran nama-Nya. Jurus silat Karno dan Surti memang kian teruji, tenaga dalam kedua muridnya itu pun meningkat dengan tajam. Tetapi Pamungkas Asmara, ia tahu, ilmu aneh bin langka itu hanyalah dapat dikuasai oleh sepasang insan yang tulus saling mencinta!

Ah, inilah perkara peliknya. Siapa nyana hati Karno, pemuda tampan itu telah terpikat demikian dalam pada Rosiana, putri majikannya, teman semasa kanak-kanaknya. Dan Surti, perawan ranum dengan mata sebening embun di atas daun talas itu hanyalah bertepuk sebelah.

Kulihat sepasang mata Uwak Kiwul memandang jauh ke kerimbunan bukit di utara desa, di mana Rosiana dilarikan olehmu. Kedua mata itu tampak begitu lelah, wajahnya terlihat dua kali lipat lebih tua.

Gaten, Yogyakarta, 2007-2010

Cerita ini merupakan interpretasi ulang atas cergam serial Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes Th, episode “Bangkitnya Si Mata Malaikat” dan “Pamungkas Asmara” berdasarkan ingatan dan sejumlah catatan Damuh Bening.

* Terilhami sepenggal sajak Chairil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s