Refleksi – Palestina, Kita, dan Rachel Corrie

Sabtu, 5 Juni 2010 | Esensi

Pernahkah Anda, sekali saja, memikirkan apabila kita terlahir sebagai orang lain, bukan sebagai saya, tetapi dia. Pernahkan Anda, sekali saja, berpikir dari sisi lain, dari sudut pandang orang lain, berpikir bagaimana, kenapa, dan apakah menurut orang lain, tetapi itu Anda.

Lalu pernahkan Anda, sekali saja, berpikir bagaimana seandainya terlahir sebagai warga Palestina?

Mungkin banyak yang bertanya, apalagi bila tidak mengenal jauh tentang mereka, kenapa mereka masih di sana, kenapa mereka masih melawan walau hanya bermodal nekat dan batu yang bisa dibilang kecil di hadapan musuhnya, apakah yang melatarbelakanginya, dan bagaimana mereka bisa menebalkan niat mereka untuk tetap bertahan, untuk tetap tinggal

Saya menyadarinya saat menonton Kick Andy kemarin (4 Juni 2010), di acara tersebut diundang ibu yang membesarkan sendiri anaknya yang jumlahnya puluhan, dan banyak dari mereka bisa sukses. Kurang lebih seperti ini percakapan salah satu ibu dengan Andy F Noya:

“Apa ibu pernah berpikir untuk menyerah (mengurusi puluhan anak tanpa seorang ayah)?” Tanya Andy

“Tidak”

“Kenapa?”

“Karena ada Tuhan”

Tepat, manusia bukanlah sekedar makhluk yang menciptakan, tetapi juga diciptakan. Alasan itulah yang menjadi dasar untuk tidak menyerah bagi ibu tersebut, dan bagi ratusan penduduk Palestina yang masih tetap tinggal di Gaza, padahal Israel dengan nekat juga menekan mereka

Sekarang mari kita berpikir seandainya kita salah satu dari warga Palestina

Saya pernah membaca buku kumpulan cerpen Merah di Jenin karya Asma Nadia, Pipiet Senja, Sakti Wobowo, Afifah Afra Amatullah, Vani Diana Puspasari, Yus R. ismail, Jazimah Al Muhyi, Halfino Berry, Habiburrahman El-Shirazy, Saiful Bahri, Hadi Soesanto, dan Bahtiar HS sewaktu masih kelas 4 SD, di buku tersebut diceritakan keadaan yang semoga saja tidak kita alami: bagaimana tembakan-tembakan menjadi musik wajib setiap hari, bagaimana sesuap nasi saja menjadi pengharapan dalam do’a mereka—di saat kita berdo’a agar baju, mobil, atau rumah menjadi keharusan bagi kehidupan kita. Dan bagaimana air comberan menjadi air minum mereka karena hanya itulah air yang bisa ditemukan!

Apa yang Anda lakukan jika menjadi mereka?

Entahlah, walau mungkin kita berniat akan berjuang bersama mereka, tapi saya tidak akan menjamin kita akan melakukan niat tadi bila kita benar-benar di sana. Karena disadari atau tidak, disetujui atau tidak, kita adalah orang manja

Lalu lihat diri kita

Kita orang yang mampu, tentu, terbukti Anda dapat mengakses internet. Benar-benar berbalik dengan warga Palestina, bukan? Ingat-ingat apa yang kita lakukan kemarin. Bangun tidur dan langsung marah-marah karena menjumpai pagi, dibangunkan saat masih pagi. Lalu makan dan marah lagi karena masakan yang tidak diharapkan, mandi sambil marah karena sabun habis, berangkat sekolah atau kerja dan mengomel di jalan karena kemacetan, di sekolah/kantor mengomentari gurunya/bosnya dan merasa lebih baik dari mereka, kemudian menggosipkan teman/rekan kerja, pulang dengan wajah cemberut karena masih banyak PR, dan sebagainya

Seakan menyesal menjadi dirinya

Sekarang bandingkan, apa nasib kita lebih baik dari warga Palestina? Ya, kita punya kehidupan mapan, kita punya tanah gemah ripah loh jinawi, tapi apa kita punya hati? Bila kita di bumi Palestina apa kita bisa bertahan? Mengutip pernyataan salah satu nominator Miss Indonesia tahun ini:

“Banyak orang yang berpikir bisa merubah dunia, tapi tak bisa merubah dirinya”

Renungkanlah, tentu Anda tahu setidak enaknya kehidupan Anda, lebih baik daripada hidup di Palestina, tapi kenapa kualitas hati kita jauh lebih buruk daripada warga di sana? Ada apa dengan kita? Betapa beruntungnya kita, tapi kita menyiakannya

Lihatlah warga Palestina, lalu lihat diri Anda. Bandingkan. Betapa kita masih sangat beruntung, betapa kita masih harus lebih banyak bersyukur.

Rachel Corrie,

Adalah satu di antara milyaran orang yang entah kapan akan mempunyai hati. Mungkin pertanyaan berikut akan mengundang perdebatan. Apa dia akan masuk surga?

Saya tentu tidak tahu, yang saya tahu bila saya mengatakan yang saya yakini, akan ada yang mendebatnya

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (Q.S. At-Taubah: 113)

Baca juga: http://bit.ly/masuksurga

Mungkin kedengaran ekstrim, tapi begitulah adanya. Walaupun dia mempunyai kebaikan hati selangit, walaupun dia telah mengorbankan segala yang ia miliki, walau semua orang mengakuinya sebagai orang paling baik. Mungkin ia hanya akan harum di dunia

Apa Anda pernah membaca cerpen Robohnya Surau Kami dari AA Navis?

Baca di http://bit.ly/robohnyasuraukami. Di cerpen tersebut dikisahkan orang yang berbalik dengan orang baik non-muslim di atas. Dia sangat taat beribadah, sayang tak ’berusaha’, lalu bagaimanakah kelak di akhirnya? Silakan dibaca

Tapi jangan anggap ini tak adil. Salah bila ada yang beranggapan tak adil. Apa menurutnya hukum yang diciptakan Tuhan adalah tidak adil? Kalau ia anggap  keputusan Tuhan tak adil secara tak langsung ia menganggap dirinya lebih pintar dari Tuhan. Naudzubillah. Betapa tidak tahunya kita bahwa Tuhan lebih tahu daripada kita.

Keseimbangan sangatlah diperlukan,

Banyak orang yang nyatanya baik tapi tak menerima kebenaran, banyak orang yang menerima kebenaran tapi hanya berpikir kepentingan saya, bukan kita. Karena itulah di saat apapun, kita harus punya yang dinamakan keseimbangan

Mana yang lebih penting, kecerdasan pikiran atau kecerdasan perasaan?

Keduanya punya peran masing-masing, dan tak bisa dibandingkan, setidaknya itu menurut saya, kecerdasan pikiran memungkinkan adanya peradaban, dan kecerdasan perasaan memungkinkan apa yang disebut kedamaian

Antara ibadah dan peradaban. Pasti banyak yang mementingkan salah satu, tapi tentu tak sedikit yang berhasil menyeimbangkannya, apa itu Anda? Jika Anda berpikir itu Anda, tolong jawab: ibadah apa yang Anda lakukan hari ini selain salat? Anda sudah mengaji hari ini? Anda sudah salat sunnah hari ini? Anda sudah sedekah hari ini? Kalau sudah apa ibrah yang Anda dapatkan hari ini?

Tujuan saya menulis ini bukan agar Anda membandingkan diri Anda, lalu bertindak irasional menuju Gaza untuk merasakan penjara Israel. Saya tidak melarangnya, tapi saya percaya Anda bisa bertindak lebih baik dan lebih cerdas

Bagaimana caranya?

Dimulai dari setiap kita. Jangan berpikir bisa merubah dunia kalau merubah diri sendiri saja tidak mampu. Beri keseimbangan pada setiap langkah kita. Beri syukur pada setiap hasil dan beri kata ‘mungkin’ pada setiap kemungkinan, karena orang yang berhasil adalah orang yang terakhir yakin dirinya bisa berhasil. Saling mengingatkan, menerima, dan mendekati Tuhan, mempersiapkan senjata paling ditakuti musuh kita: persatuan dan persaudaraan. Sehingga bila saatnya berhadapan, saya yakin kita akan menang, karena kita punya Tuhan.

Salam

-dari orang yang punya banyak salah-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s