Cerpen Koran Tempo – Andai-andai Kajut

Cerpen Koran Tempo, 6 Juni 2010 | Guntur Alam

KALAULAH Tuan berkesempatan atau Tuan tengah libur tapi tak punya rencana untuk menghabiskannya, bolehlah Tuan ikut bersamaku, berlibur ke kampung halamanku, dusun kecil yang terpencil di Kabupaten Muara Enim: Tanah Abang. Di sana, aku akan mengenalkan Tuan pada Kajut-ku, emak dari bapakku. Oo, aku yakin Tuan yang gemar membaca cerita akan bersuka cita mengenalnya. Ia wanita yang pandai ber-andai-andai, selalu saja ada kisah menarik yang ia uraikan.

Emakku pernah berujar, ketika aku menjatuhkan pilihan untuk jadi pengarang dan ceritaku mulai berseliweran di halaman media: Kau menuruni bakat Kajut-mu yang mahir berandai-andai. Ah, benarkah? Mungkin pulalah ucapan Emak memang halal adanya. Dapatlah kukenang, saban malam sebelum aku terpejam, ketika umurku masih hitungan jemari tangan, Kajut kerap ber-andai-andai.

Banyak kisahnya yang membuat kantukku menjadi hilang. Bakda cerita yang satu usai, aku selalu memintanya untuk menuturkan andai-andai yang lainnya. Kajut tak pernah menolak. Bila aku nak nambah kisah berikutnya, barulah ia menggeleng lamat, menarik sarungku sampai menutup dada, dan memaksaku untuk lekas membaca doa sebelum tidur. Bila demikian, aku merajuk tapi Kajut selalu menjanjikan akan menuturkan andai-andai yang lainnya esok malam.

Salah satu cerita yang paling membuatku terkenang tentu saja tentang Ayam Kumbang. Ayam Kumbang betina yang cerdik melawan musang. Ah, maukah Tuan mendengarnya? Tentulah kalau Tuan telah bersetatap dengan Kajutku, pintalah ia menuturkannya kembali, karena ia lebih piawai menceritakannya. Oo, janganlah lupa, Tuan, perhatikan mimik wajahnya saat memerankan musang, atau suara lirih Ayam Kumbang betina yang tengah mengatur siasat. Tuan pastilah bersetuju denganku, betapa Kajut memang mahir menguraikan andai-andai itu.

Beginilah kisah si Ayam Kumbang itu.

Pada senja yang temaram, Ayam Kumbang dan enam ekor anaknya terlambat pulang ke sarang. Rupanya, mentari petang itu lebih gegas dari biasanya atau memang ia yang kelupaan karena asyik mengais makan di muka tanah? (Tanya itu belumlah sempat aku lontarkan pada Kajut-ku si empu cerita ini). Ketika Ayam Kumbang terjaga, malam telah datang dan bulan sebelah telah muncul dengan wajah pucatnya. Berlari-larilah Ayam Kumbang dan anak-anaknya menuju sarang. Celakanya, karena jalan telah gelap, mereka tersesat di hutan. Magrib adalah waktu yang naas bagi ayam kata Kajut, lantaran mata mereka menjadi buta, sulit sekali membedakan mana jalan atau akar pohon yang melintang. Jatuh-bangunlah anak-beranak itu. Anak-anak ayam pun mulai merasa takut, lebih-lebih ketika suara penghuni rimba yang berperan dalam pekat mengambil alih kehidupan. Menciap-ciaplah mereka dalam cemas.

Oo, dapatlah Tuan terka, hatiku meriap-riap cemas ketika suara Kajut terdengar gemetar. Laksana anak ayam yang takut dalam gelap, berdegup-degup jantungku menunggu kisah lanjutan Kajut.

Di tengah jalan, pinggir Sungai Lematang yang mereka lewati, Ayam Kumbang menemukan gubuk temaram. Anak-anaknya merengek untuk numpang menginap. Si Ayam Kumbang tak punya pilihan, ia pun sejatinya cemas. Bukankah musang kerap berkeliaran saat malam tengah buta? Belum lagi ular yang mendesis-desis dalam keleman.

Ayam Kumbang mengetuk daun pintu rumah, berharap sang empu sudi menampung ia dan anak-anaknya barang semalam. Selang semenit kemudian, pintu terkuak, menyembulah muka musang yang culas. Ai, meriap-riaplah tengkuk Ayam Kumbang anak-beranak, kalaulah sang Ayam Kumbang jantungan sudah tentu ia akan pingsan saking takutnya. Musang si empu rumah sumringah raya, tak tahulah mimpi apa ia tadi siang, makan malam datang dengan sendirinya.

“Mengapa Ayam Kumbang tak lari, Jut?”

“Karena begitu takutnya, kaki Ayam Kumbang anak-beranak membatu.”

Oo, barulah kutahu, Tuan, kalau seseorang mati ketakutan instingnya tak bisa bekerja sebagaimana mestinya. Pantaslah, Lemain, teman sebangku di SD terkencing-kencing di celana dan tak bisa berlari karena ketakutan bertemu Kuan, orang gila yang berkeliaran di dusunku.

Digiringlah Ayam Kumbang anak-beranak itu oleh musang ke dapur, lanjut Kajut. Ah, cemas makin bertambah-tambah dalam dada Ayam Kumbang dan anak-anaknya. Apalagi saat melewati ruang tengah sang musang, dua ekor anak musang menyeringai penuh hasrat, menetes-netes liur dari taring mereka.

“Tidurlah di dapur, kami tak punya kamar. Kalau kalian di ruang tengah bercampur dengan dua anakku yang baru bisa mencakar, aku khawatir anak-anakmu terluka,” ujar sang musang terdengar penuh muslihat. Ai, aku melihat wajah Kajut berubah menjadi muka musang yang licik, punya moncong, berbulu, gigi-gigi tajam dengan lidah yang menetes-neteskan liur. Ah, aku mengkeret di balik besan kotak-kotak yang membungkus tubuhku, Tuan.

Malam merangkak menuju purnanya, Ayam Kumbang anak-beranak meringkuk cemas di bawah lempedan, lewat lubang itulah mereka menatap gelisah purnama yang kian tinggi tergantung di dinding langit sana. Anak-anaknya merengek-rengek minta pulang, si Ayam Kumbang mengintip ke depan, musang anak-beranak meringkuk di depan pintu yang terkunci kuat.

“Mak, aku nak makan hati Ayam Kumbang,” desis Kajut menirukan suara anak musang. Ah, Tuan, Kajut pun bisa melukiskan gurat penuh rengekan muka anak musang yang lapar itu di wajahnya.

“Sabarlah, tunggu sekejap, kalau mereka telah pulas, kita sergap.”

Oo, Tuan, aku serasa seperti Ayam Kumbang yang ketar-ketir mendengar suara dan raut muka Kajut yang terlihat sangat seram.

Ayam Kumbang memutar otak, ia tak ingin mati malam ini bersama anak-anaknya. Matanya yang tak lagi buta bakda Magrib, membuatnya melihat jelas daun-daun nangka yang tumbuh menjulur ke arah lempe dan rumah musang. Aha, Kajut menjentikkan jemarinya. Ayam Kumbang dapat akal, diambilnya bangku yang ada di dapur musang, ia memanjat dan menyuruh anak-anaknya meloncat ke dahan nangka.

“Berpeganglah yang erat, jangan sampai jatuh ke Sungai Lematang,” pesan Kajut yang tengah menirukan Ayam Kumbang.

Setelah anak-anaknya aman di atas dahan nangka, Ayam Kumbang mengumpulkan batu-batu lumpang yang ada di bawah meja musang, menutupinya dengan perca hitam, lalu memanjat lekas-lekas ke lempedan, menyusul anak-anaknya yang menunggu cemas.

“Ayam Kumbang, lah tidur belum?” tanya musang, suara Kajut terdengar berubah. Tak ada jawaban. Berbinar-binarlah mata musang dan anak-anaknya, liur mereka kian menetes-netes. Kajut mengangkat kedua tangannya, mengendap-endap ke arahku macam musang. Aku meringkuk cemas. Saat musang anak-beranak melongokkan wajah ke dapur, hati mereka merekah-rekah, mekar penuh luapan. Ayam Kumbang terlihat meringkuk di bawah lempedan, mendekap anak-anaknya dalam pulas.

“Kruukupp!” tiba-tiba Kajut menjatuhkan kedua tangannya di dadaku. Oo, Tuan, aku terlonjak pias. Jantungku langsung berdag-dig-dug cemas, bertalu-talu dengan begitu cepat. Malam itu wajahku lebih benyai daripada bulan yang pucat menahan kantuknya.

“Gigi musang anak-beranak patah karena menggigit batu-batu lumpang yang dibalut perca hitam.” Kata-kata Kajut itu membuatku menghela napas lega. “Sementara itu, Ayam Kumbang dan anak-anaknya telah turun dari pohon nangka dan berlari pulang di bawah sinar bulan.”

Begitulah kisah si Ayam Kumbang, Tuan. Apakah menurut Tuan aku bagus menuturkannya? Ah, kalaulah tidak janganlah kecewa, nanti kalau Tuan sudah bertemu Kajut-ku, pintalah ia menuturkannya kembali, ia lebih mahir memainkan karakter Ayam Kumbang dan musang itu.

BANYAK andai-andai binatang yang Kajut tuturkan, semua terdengar sangat bagus ketika beliau menceritakannya. Selain Ayam Kumbang, Tuan, ada kisah lain yang menarik bagiku karena terdengar lucu saat Kajut mengurainya. Aku tahu sekarang, mengapa cerita itu membuatku tertawa, karena Kajut menuturkannya dengan irama. Ah, aku teringat, Tuan, aku kerap terkekeh-kekeh saat kisah itu ia uraikan. Andai-andai itu berjudul Beruk Sebal. Nah, aku ceritakan bagian yang membuatku terpingkal-pingkal.

Hu le lehu, perahu pelupak jantung, penganyoh sembilu betung, cek cek gum, gong-gong-gong. Bee, kebelaga urang perahu itu, Pialeng Pikat kemudi, Beruk Sebal tengah-tengah, Beruge Pikat meluan. Ai, ngale aku ke agoan, ji Beruk Sebal. (Perahu jalan lagi.)

Hu le lehu, perahu pelupak jantung, penganyoh sembilu betung, cek cek gum, gong-gong-gong. Bee, kebelaga urang perahu itu, Pialeng Pikat kemudi, Beruge Pikat tengah-tengah, Beruk Sebal meluan. Ai, ngale aku ke buri, ji Beruk Sebal. (Perahu jalan lagi.)

Hu le lehu, perahu pelupak jantung, penganyoh sembilu betung, cek cek gum, gong-gong-gong. Bee, kebelaga urang perahu itu, Pialeng Pikat meluan, Beruge Pikat tengah-tengah Beruk Sebal kemudi. Ai, ngale lagi aku….

“Luuuppp…. perahu karam karena Beruk pindah-pindah terus tempat duduk,” ending Kajut pada andai-andainya.

Dulu, aku tak bisa menarik pesan yang Kajut selipkan dalam andai-andainya. Ah, Tuan pastilah bersepakat denganku: Anak kecil tahu apa tentang pesan moral yang ada dalam cerita? Barulah sekarang, ketika aku telah memutuskan jadi pengarang, aku paham makna yang Kajut sembunyikan dalam kisah-kisahnya. Si Ayam Kumbang, selalu punya harapan untuk dapat keluar dari lubang jarum sekali pun. Dan Beruk Sebal tidak mau puas dengan apa yang ia punya.

Aku pun baru paham sekarang, Tuan, mengapa Kajut juga kerap ber-andai-andai hantu kepadaku. Ah, aku menjadi malu mengingatnya. Anak-anak di dusunku sering kali masih bermain saat magrib telah datang, begitu juga aku. Padahal Kajut orang yang tak suka melihat anak-cucunya berada di luar rumah saat magrib datang. “Memalukan,” katanya, “Magrib itu waktu shalat dan berkumpul dengan keluarga. Binatang saja pulang ke kandang.”

Kuterka, untuk membuatku jera bermain saat magrib, Kajut menuturkan andai-andai Hantu Seriman. Konon, kata Kajut, hantu ini dinamakan Hantu Seriman karena ia berkeliaran saat petang berubah gelap. Ia menculik anak-anak yang masih bermain di pekarangan ketika muadzin menggemakan adzan dari langgar, lalu menyembunyikan anak-anak itu di bawah ketiaknya yang asam dan lebar. Setelah sang anak pingsan karena kebauan, Hantu Seriman akan menempatkannya ke tempat-tempat yang di luar akal, misalnya di atas pohon tinggi besar yang tak mungkin bisa dipanjat sang anak, di bawah salangan puntung Limas, di makam keramat pekuburan umum yang angker di selatan dusun, bahkan di dalam berunang. Walau pun aku belum pernah bertemu Hantu Seriman tapi aku percaya dengan kisah Kajut-ku, Tuan. Terlebih saat aku masih bocah itu, ada kawan sebayaku yang hilang di petang temaram. Orang sedusun ribut mencarinya sembari memukul bunyi-bunyian mengintari kampung. Dan, kata berita yang beredar, kawan sebayaku itu ditemukan bawah salangan puntung emaknya. Berjam-jam lelaki dewasa membongkar tumpukan kayu itu untuk mengeluarkannya. Ah, Tuan pasti tertawa mengetahui aku percaya takhayul ini.

Tapi, sungguh, aku sangat mempercayainya. Itulah mengapa aku tak pernah berkeliaran saat magrib datang. Selain menculik anak-anak yang masih bermain saat magrib, Hantu Seriman juga menculik anak-anak yang suka merajuk, kata Kajut-ku. Kalau dimarahi ngambek atau tak dibelikan permen meringkuk di bawah besan. Sejak itu aku tak pernah merajuk lagi saat Kajut tak mau menambah andai-andainya.

Nah, apakah Tuan berminat ikut denganku? Berlibur ke kampung halamanku, di dusun kecil yang terpencil: Tanah Abang. Di sana, aku akan mengenalkan Tuan pada Kajut-ku yang pandai ber-andai-andai. Oo, kalau Tuan hendak jadi pengarang, mungkin bisa berguru kepadanya. Sebab, Kajut-ku seorang yang buta huruf tapi mahir membuat cerita. Mungkinkah ia punya rahasia dalam andai-andainya? Kita tanyakan pula itu kalau nanti kita bersua dengannya. (*)

C59, April-Mei 2010

Guntur Alam lahir di Tanah Abang, Muara Enim, Sumatera Selatan, 20 November 1986. Kini tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Catatan:

Beruk Sebal, beruk berumur tua dengan wajah yang telah keriput. Cerita ini dengan versi dan judul yang berbeda-beda (karena ada puluhan dialek dan bahasa di Kabupaten Muara Enim) ditulis (kembali) oleh Mukti Tamiri dengan judul “Sang Beruk dan Perahu Lepang”, dan terhimpun dalam buku Cerita Rakyat Kabupaten Muara Enim (Penerbit Pustaka Enim, 2004).

Salangan puntung. Di daerah Kecamatan Tanah Abang, Muara Enim, kaum perempuan biasanya mengumpulkan kayu bakar dalam jumlah banyak di bawah rumah Limas. Kayu bakar itu disusun di antara dua tiang Limas yang berjarak 2 meter, tumpukannya sampai tiga perempat tiang. Alas tumpukan adalah kayu-kayu melintang, yang tingginya 20 cm dari muka tanah. Menurut cerita orang tua, Hantu Seriman kerap memasukkan anak-anak yang diculiknya di ruang antara tanah dan tumpukan kayu itu.

Berunang, keranjang dari bambu yang digunakan untuk memetik padi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s