Cerpen Suara Merdeka – Keris Kiai Setan Kober

Cerpen Suara Merdeka, 30 Mei 2010 | Yudhi Herwibowo

Dan siapa yang akan berani mengganggu lakuku?

Bahkan jin-jin itu pun kuharap akan jera!

— Empu Bayu Aji, masa Pajajaran 1150 M

AKU adalah gelora amarah!

Dengan bara bagai percahan matahari dan tempa bagai hujanan batu, aku mulai mengambil wujud. Laku dan mantra kemudian mengisi napasku satu demi satu. Masih kuingat jelas, walau telah ratusan tahun lewat, empu paling termasyur kala itu, menguntai bait-bait mantra dengan ambisi yang memuncak dalam relung hati. Keringatnya yang terus menetes, dan langsung pula menguap, bagai jawaban dari gejolak hati yang membuncah.

Waktuku tak lagi banyak, kematian telah begitu dekat, dan aku harus berbuat yang terbaik untuk terakhir kalinya!

Kala itu bagai seonggok orok yang beranjak tumbuh, aku terus mendengar desah batinnya. Walau halus dan tak terdengar oleh para abdi, namun sungguh, aku dapat mendengar dengan sangat nyata. Bahkan tak hanya suara itu, aku juga dapat mendengar suara-suara lainnya yang ada di sekeliling sang empu. Suara-suara tak jelas, seperti bisikan-bisikan berulang. Kadang tinggi, kadang sangat rendah, diiringi sesekali dengan suara cekikikan yang melengking, mendirikan bulu roma.

Aku tak tahu dari mana asal suara itu. Mereka seperti begitu dekat dengan sang empu, namun sang empu sama sekali tak nampak mendengarnya. Ia tetap taat dalam laku-nya. Mulutnya terus berkomat-kamit melantunkan untai mantra tanpa henti. Ia seperti membentengi dirinya dari hal-hal di luar laku-nya.

Tapi suara-suara tak jelas itu semakin terlacak olehku. Seiring wujudku yang semakin jelas dan berisi, aku mulai dapat melihat semakin jauh. Awalnya tentu saja aku hanya dapat melihat sesuatu yang kabur, sangat tak jelas. Tapi lama-kelamaan, aku mulai bisa melihat bayang-bayang tak jelas di sekitar sang empu. Begitu dekat, hingga membuatnya bagai tabir. Jumlahnya pun begitu banyak, sama sekali tak bisa kuhitung. Mereka bergerak tanpa henti, melaju cepat bagai kilatan cahaya yang terus mengelilingi tubuh sang empu.

Tapi sang empu bagai tak terganggu. Ia terus pada laku-nya, mencelupkan tubuhku dalam bara paling membara, dan menempaku dengan tenaga tua yang terkuat. Menimbulkan bunyi yang terus bergema seiring semakin cepat gerakan bibirnya berkomat-kamit. Ini membuat bayang-bayang tak jelas itu bertambah berani. Membuat sang empu pada akhirnya menjalangkan matanya menatap mereka. Saat itulah aku tahu, bila selama ini ia sebenarnya dapat melihat bayang-bayang di sekitar tubuhnya.

Dengan kemarahannya yang telah sampai di puncak, ia seakan menantang bayang-bayang tak jelas di sekitar tubuhnya. Matanya begitu berapi. Sungguh, saat itu aku seperti bisa merasakan bila ia ingin sekali menangkap bayang-bayang itu satu per satu, dan melumat mereka semua!

Dan bayang-bayang tak jelas itu seakan tahu. Mereka segera melayang menjauh, hilang dalam kegelapan bumbungan. Tapi hanya sesaat saja, begitu sang empu kembali bekerja, mereka mulai berdatangan kembali mengganggu.

Lalu siapa yang dapat bertahan dalam kondisi seperti itu? Kelelahan yang memuncak, tenaga tua yang tersisa, dan bau kematian di ubun-ubun, apa dapat menahannya? Maka pada akhirnya, sang empu pun terduduk, menyerah.

Bayang-bayang tak jelas pun menyambutnya dengan gempita. Aku mulai dapat melihat mereka lebih jelas. Suara cekikikannya kini terdengar bagai tawa panjang yang mengerikan.

Walau aku kini telah terbentuk sempurna dengan wilah 13 lekukan, dan sedikit ukir yang bernada gelora, namun aku merasa semuanya belumlah tuntas. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa lagi. Bayang-bayang tak jelas itu tiba-tiba telah datang padaku, melingkupiku. Dan aku hanya bisa merasakan hawa dingin merayap di setiap celah tubuhku.

Aku merasa gagal. Dan sang empu hanya bisa menatap tubuhku dengan mata yang nanar. Aku tak lagi melihat geloranya seperti dulu. Kini sebuah luka jelas terlihat di matanya yang sayu.

Ia kemudian hanya membiarkan baying-bayang tak jelas itu terus bergerak, berputar-putar di seluruh tubuhku. Tanpa lagi daya, tanpa lagi upaya. Mulutnya bahkan telah terkatup erat, tak lagi bergerak.

***

DAN aku bagai terlupa.

Setelah mendekam di sudut gudang bersama senjata lainnya, aku seperti melupakan waktu. Aku merasa tak berguna. Sebuah ciptaan yang gagal sebelum jadi. Namun bayang-bayang tak jelas itu tetap saja tak henti memutari tubuhku. Sesekali mereka menyentuhku, dengan cekikikan suaranya yang berkepanjangan. Aku hanya bisa diam dan membiarkan semuanya.

Seorang prajurit yang bertugas di baris depan, kemudian memilikiku. Aku tak tahu siapa dia, dan sama sekali tak mencoba ingin tahu siapa dirinya. Hanya dengan mencium mulutnya yang selalu berbau tuak murahan, sudah membuatku begitu muak pada kroco ini.

Bayang-bayang tak jelas itu tentu saja menertawakan kebencianku ini, mereka nampak senang dengan luapan kemarahanku. Terlebih saat tiba-tiba muncul keinginanku untuk menusuk jantung si kroco saat ia teler di rumah bordil itu. Bayang-bayang tak jelas itu kurasakan semakin tertawa. Sepertinya ini adalah tawa terkeras mereka, sama seperti saat mereka mengalahkan sang empu dulu. Maka aku pun memilih urung memunculkan lagi niat seperti itu.

Tapi untunglah keberuntungan masih bersamaku. Aku tak lama bersama si kroco. Dalam peperangan pertamanya, sebilah tombak berhasil menembus kerongkongannya dan menewaskan dirinya seketika. Aku terpelanting jauh, berbarengan dengan jatuhnya tubuh si kroco!

Aku merasa menjadi keris yang tak berarti. Belum ada setetes darah pun yang kurasa, aku telah terpuruk tak berdaya. Hanya bisa menyaksikan senjata-senjata lain beradu di depanku, bagai pengecut yang bersembunyi dari kematian.

Di tengah keadaan seperti itulah, tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan meraihku dan mengangkat tubuhku. Aku terpekik pendek. Kusaksikan seorang lelaki dengan bahu penuh darah, telah menggenggamku begitu erat. Dan sebelum sempat aku berpikir lebih jauh, sudah kurasakan tubuhku terayun deras dari tangannya.

Dengan gagah berani, lelaki itu mengayunkanku kesana-kemari, membunuhi satu persatu musuh-musuh di depannya, yang entah siapa bagiku. Ia menciptakan genangan-genangan darah baru di sana-sini, juga menumpuk mayat-mayat baru di setapak. Dan aku tak perduli. Aku benar-benar menikmati. Aku merasa begitu haus akan darah, bagai dewa pencabut nyawa.

Tanpa kusadari ini membuat bayang-bayang tak jelas di sekeliling tubuhku semakin bersemangat mengiringiku. Tawa-tawa mereka bergaung panjang. Bahkan di puncak-puncak kematian lainnya, aku seperti dapat mendengar suara-suara mereka yang tak jelas…

Buuuuh… Tetaaak… Bunuuuh…

Dan aku seakan terbawa oleh suara-suara itu. Tapi tentu saja aku tak peduli. Setelah sekian lama hanya menjadi barang tak berharga di sudut gelap, kini aku merasa bisa menjadi diriku sendiri. Penuh luapan. Penuh gelora. Sungguh, sudah begitu lama aku menginginkan keadaan ini.

Sampai akhirnya, perang pun usai. Dengan tatapan takjub, lelaki dengan bahu berdarah yang entah telah berapa banyak menewaskan lawan, memandang tubuhku yang masih meneteskan sisa-sisa darah. Saat itulah aku menyadari bila bayang-bayang tak jelas itu telah berada di antara kami berdua.

***

LALU mulailah perjalanan panjangku.

Aku berpindah dari tangan ke tangan. Melewati satu masa ke masa lainnya dalam putaran waktu. Merasakan gelora-gelora paling puncak yang berkecamuk. Tak lagi kuhitung berapa perang yang telah kujalani, berapa nyawa yang telah kuakhiri. Semuanya kuanggap hanya berjalan seperti yang seharusnya berjalan.

Seorang bernama Penangsang kemudian memilikiku. Ia adalah lelaki dengan mata tenang yang dapat secara mengejutkan menjadi setajam tatapan elang. Seorang pewaris tanah Jipang Panolan, yang kala itu telah dijaga oleh 12 angin topan di setiap sudutnya.

Awalnya aku merasakan keraguan dalam dirinya. Pegangannya pada tubuhku terasa tak tenang, dan gerakan mengayunkannya terasa terbatas. Namun seiring berjalan waktu, aku mulai merasakan gelora berapi dalam dirinya.

Penangsang memang bukanlah sosok biasa. Di tangan dialah aku mencapai puncak petualanganku. Aku bertemu dengan senjata lain, sebuah tombak yang disebut Kiai Plered, yang juga penuh gelora sepertiku. Maka tak heran, dalam pertempuran kami, bayang-bayang tak jelas di tubuhku seakan mendapat lawan dari bayang-bayang tak jelas di tubuh sang tombak.

Buuuuh… Tetaaak… Bunuuuh…

Lelaki pemegang tombak itu, yang berjalan dengan dada membusung adalah lelaki yang dijanjikan hujan untuk membasuh tanahnya yang semula kerontang. Ia adalah pewaris tanah Pajang, yang seharusnya menguasai Jipang Panolan.

Namun walau geloraku telah di puncak untuk menghancurkan senjata di tangannya dan merasakan darah kental tubuhnya, sampai menjelang berakhirnya hari, Penangsang tak cukup mampu membawaku menuntaskan keinginanku itu.

Saat pertarungan harus perakhir, Penangsang hanya dapat memandangku dengan perasaan bersalah. “Bersabarlah,” ujarnya dengan napas yang memburu. “Aku tahu keinginanmu. Kelak aku pasti akan menuntaskan perjumpaan ini!”

Ucapan itu seakan sebuah janji. Namun ternyata, itu hanyalah bualan semata. Terlebih saat sang guru yang berdahi hitam datang padanya. Ia adalah sosok pewaris Keris Kiai Betok, yang memiliki langkah lambat. Setiap langkahnya akan selalu diiringi dengan rumput-rumput yang menunduk, angin yang menepi dan sinar matahari yang meredup. Ia kemudian meminta muridnya itu untuk menenangkan dirinya dengan melakukan tapa selama 40 hari.

Tentu aku memberontak. Geloraku masih begitu tinggi. Tak ingin aku diam dalam kesunyian. Tapi Penangsang seperti tak mendengar geloraku. Walau bayang-bayang tak jelas itu telah turut membantuku dengan meneriakan teriakan mengerikan di dekat telinganya…

Buuuuh… Tetaaak… Bunuuuh…

Tapi Penangsang bergeming. Ia memilih memasuki ruangan gelap di bawah kediamannya.

***

KEBENCIANKU memuncak!

Lelaki yang memilih menenangkan gelora dari pada memuncakinya, tidaklah pantas bersanding denganku. Tapi ada dayaku? Teriakanku dan bayang-bayang tak jelas itu bagai lalu di antara diamnya. Untunglah pada hari ke-39 dalam tapa-nya, terdengar bisik-bisik di atas ruangannya.

“Mereka memotong telinga bekel Gagak Rimang, sebagai tantangan atas Kanjeng Gusti.”

“Siapa dia?”

“Dia Raden Sutawijaya, anak angkat Hadiwijaya, penguasa Pajang.”

Kurasakan detik itu juga amarah Penangsang tiba-tiba meluap. Ia memilih melupakan tapa-nya. Aku menyambutnya dengan teriakan girang. Geloraku yang seakan telah mati, kembali membuncah. Juga bayang-bayang tak jelas itu….

Buuuuh… Tetaaak… Bunuuuh…

Bersama ratusan prajurit Jipang Panolan, Penangsang menyambut pasukan Pajang di tepi Sungai Bengawan Sore. Awalnya aku berteriak penuh gairah ketika ia memimpin pasukannya di depan dengan menunggang kuda kesayangannya, Gagak Rimang. Aku sangat berharap ada darah yang kujilat, dan ada nyawa yang terlepas. Tapi yang terjadi ternyata tak sesuai harapan. Penangsang memilih langsung mendekati sang bocah ingusan, tanpa memedulikan pasukan lain.

Aku tentu saja kecewa. Apa sulit baginya untuk menusukkan tubuhku ke tubuh para manusia yang menghalangi dirinya? Apa sulit baginya memberiku tetesan darah bagi dahagaku? Sungguh aku sangat ingin memberontak. Namun saat aku menyadari di tangan bocah ingusan itulah Tombak Kiai Plered berada, geloraku tiba-tiba memuncak. Bayang-bayang tak jelas di sekelilingku pun semakin berteriak-teriak….

Buuuuh… Tetaaak… Bunuuuh…

Dan Raden Sutawijaya memang bukan lawan Penangsang. Baru beberapa saat pertarungan berlangsung, ia telah terdesak. Ia kemudian teringat sebuah cerita tentang kesaktian para pendekar Jipang Panolan yang telah dilindungi oleh sang guru. Kesaktian mereka akan sirna bila melewati Sungai Bengawan Sore!

Maka Raden Sutawijaya mencoba memancing Penangsang untuk melewati sungai itu. Geloraku dan deru bayang-bayang tak jelas itu tentu tak memedulikan itu semua. Seakan menyatu dengan amarah, Penangsang pun seakan melupakan larangan itu. Hingga sebuah serangan tombak Kiai Plered, kemudian berhasil menembus lambungnya.

AAAAARRCH….

Luka itu seakan turut melukaiku. Aku seperti ikut terpuruk dalam geliat perih tubuhnya. Namun dengan luka seperti itu, Penangsang tetap masih dapat bangkit. Ia bahkan berhasil melepaskan tombak keramat itu dari tangan Raden Sutawijaya bahkan mencekik Raden Sutawijaya hingga bocah ingusan itu menangis memohon ampun.

Aku berteriak panjang. Mengharap tetes darah segera terjilat olehku.

Tapi ratap sang bocah ingusan membuat gerakan Penangsang tertahan. Ini sungguh menggelikan! Seorang satria menangis di ujung kematiannya?

Bayang-bayang tak jelas di sekeliling kami berteriak lantang….

Buuuuh… Tetaaak… Bunuuuh…

Aku ikut berteriak melepaskan gelora kemarahanku. Jangan dengarkan rengekan itu! Apa lagi yang kautunggu? Segera tusukkan tubuhku di tubuhnya! Biarkan aku kembali merasakan darah mengalir dalam pori-poriku. Segera!

Tapi Penangsang malah merenggangkan cekikannya. Sungguh, saat itu ia kembali menjadi lelaki lemah, seperti kala kali pertama kukenal.

Dan aku meradang. Ia lupa bila aku diciptakan dari gelora kemarahan. Lelaki yang lemah dan tak sanggup membunuh seorang pun, sungguh tak layak memegang tubuhku! Ia bahkan lebih layak mati dibanding oleh siapa pun!

Maka seakan mendapat bantuan dari bayang-bayang tak jelas itu, aku kemudian telah menggerakkan kekuatanku untuk membuat tangan Penangsang yang tengah memegang tubuhku erat, mengarah ke luka yang ada di lambungnya.

Perlahan-lahan, dapat kulihat keterkejutan di wajahnya, juga ketakutan dalam matanya. Tapi aku tak lagi peduli.

Buuuuh… Tetaaak… Bunuuuh…

Dengan sebuah sentakan singkat, tubuhku menusuk di lukanya. Menyobek perutnya dalam sebuah garis panjang, membuat pekikan yang tak selesai. Lalu seiring terburai usus sosok pengecut ini, aku berteriak panjang, juga bayang-bayang tak jelas yang ada di sekeliling kami….

BUNUUUH… TETAAAK… BUNUUUH…

Solo, Mei 2010

Catatan:

Keris Kiai Setan Kober: keris yang dibuat oleh Empu Bayu Aji pada masa Pajajaran, yang kelak ada di tangan Arya Penangsang.

Warangka: sarung sebuah keris.

Wilah: badan sebuah keris

Baitul Makdis: Jerusalem

Bekel: orang yang mengurusi kuda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s