Cerpen Koran tempo – Mangkok Merah

Cerpen Koran Tempo, 30 Mei 2010 | Zen Hae

PERGURUAN Mangkok Merah sudah lama tamat. Tapi seseorang membangkitkannya pada suatu sore. Bermula di kantor polisi, dengan sedikit pendahuluan di stasiun.

Begitulah, pada Jumat, 8 Februari 2008, yang kelak dicatat sebagai hari berkabung stasiun kereta api Pintu Duabelas, pukul 16.53 waktu stasiun, ketika calon penumpang berkerumun dengan kegembiraan akhir pekan yang sedang berkecambah dan matahari laksana dicetak dengan warna pepaya matang, pintu ruangan kepala stasiun Triman Djoewir A.S. diketuk orang. Keras dan tidak sabaran.

“Aku tidak tuli,” bentak Triman. “Jangan mengetuk pintu ruanganku lebih dari tiga kali.”

Ketukan itu tidak juga berhenti.

Triman membuka pintu dan mendapati satu orang tua yang merupakan gabungan tak termaafkan antara sufi, pendekar, pengemis, tukang mindring, dan kecoa. Orang tua itu berdiri seraya menundukkan kepalanya tiga langkah dari pintu. Ia mengenakan tudung bambu, berselempang tas rotan, baju dan celana belacu kecoklatan dengan tambalan jahitan tangan di sana-sini, dan alas kaki ban bekas. Tangan kirinya menyodorkan mangkok merah, sementara tangan kanannya bertumpu pada sebatang tongkat bambu kuning untuk menahan tubuhnya yang tipis dan melengkung, tubuh yang seperti akan melayang begitu dihantam angin senja.

“Aku tidak punya recehan. Maaf,” kata Triman.

Triman mencoba menutup pintu kembali tapi segera orang tua berbau apak itu menegakkan kepalanya. Wajahnya bening—wajah yang telah menyuling kelaparan berhari-hari menjadi sejenis keriangan yang tak bisa dibagi kepada orang lain. Tapi semua itu dirusak oleh codet di pipi kirinya, seperti lipan, sepanjang telunjuk, menyilang dari telinga ke bibir. Sorot matanya menusuk dan secara perlahan-lahan menggerogoti kejengkelan Triman. Ia merasa seperti ada yang memukuli jantungnya untuk berdegup lebih cepat dan lebih keras lagi. Apalagi ketika orang tua itu berkata, “Berikan pengakuanmu, Triman Dower Alaihi Sukru.”

Triman seperti disengat kalajengking dari masa silam. Ia tahu hanya satu orang yang pernah memberinya olok-olok itu. Yang memelesetkan “Djoewir” menjadi “Dower”dan memanjangkan“A.S.” menjadi “alaihi sukru” yang berarti “kemabukan atasnya” atau “orang yang mabuk melulu”, padahal sebenarnya itu adalah inisial Agoes Soetedjo, ayah Triman. Olok-olok itu hanya diberikan oleh Idris bin Muharram Lio alias Deris Baplang, temannya ketika sama-sama menjadi santri di sebuah pesantren di Pandegelang, Banten. Idris memberi julukan itu setelah berkali-kali mendapati Triman pulang sempoyongan ke pondok menjelang subuh. Tapi seingatnya, Deris Baplang berbadan tegak dan berkumis tebal. Dan Triman tidak pernah lagi bertemu dengan teman yang menjengkelkan sekaligus mengangenkan itu setelah sama-sama melarikan diri dari pesantren. Karena tidak tahan harus menghafal 1000 bait kitab nahwu sharaf Alfiyah karangan Ibnu Malik.

Orang tua itu seperti tahu apa yang sedang ia kenangkan. “Jangan bertele-tele. Ceritakan padaku sebuah peristiwa paling menegangkan dalam hidupmu di bulan Februari 1972.”

“Ya…. itu sudah lama sekali. Yang kuingat tahun itu adalah tahun kabisat, sebab anakku, Bagas Aria Djoewir, lahir pada hari Selasa malam tanggal 29 Februari. Istriku hampir mati karena mengeluarkan banyak darah. Tapi anakku sehat dan kini ia sedang menyambut ulang tahunnya yang ke-9.”

“456 jam menjelang kelahiran anak semata wayangmu itu.”

Ingatan Triman kembali bergerak mundur, melintasi tahun-tahun terbaik dan terburuk dalam hidupnya, dan kembali setelah letih dan compang-camping. Ia juga ingat saat menjalani pemeriksaan—hanya pemeriksaan tanpa tindak lanjut apa-apa lagi—di kantor polisi hingga tengah malam. Kereta yang dikemudikannya menabrak mati seorang pengemis bertangan kiri buntung menjelang magrib. “Tapi aku sungguh tidak membunuh pengemis itu,” katanya.

“Kau menghina guruku.”

“Maaf, aku tidak tahu kalau pengemis itu gurumu.”

“Dia bukan pengemis. Dia Muhammad Naim, pemimpin dan guru besar perguruan silat Mangkok Merah.”

Dengan wajah sepucat lobak dan mual yang mulai menonjoki lambungnya, Triman kembali menatap mangkok itu.

“Kenapa kau tidak mengerem keretamu?”

“Sudah kucoba dengan susah-payah dan berhasil. Tapi dari kaca lokomotif aku masih bisa melihat gurumu mengangkat tangannya dan menyebut sejumlah kata yang tak jelas bunyinya di telingaku. Tiba-tiba saja lokomotif itu melaju lagi, seperti tersedot oleh tubuhnya.”

“Ah, kau sengaja ingin membunuhnya.”

“Dia sengaja ingin bunuh diri.”

“Kau menghina guruku lagi, masinis sialan.”

“Aku masinis terbaik yang pernah bekerja di jawatan kereta api kota ini. Yang kausebut gurumu itu adalah yang pertama dan terakhir kutabrak selama 10 tahun karirku sebagai masinis. Setelah itu berkali-kali aku terbangun tengah malam setelah dihantam mimpi buruk. Tapi teman-temanku mencoba menghiburku dan mengatakan itu hal yang wajar saja. ‘Kau tak mungkin mencegah laron yang memburu nyala lampu dan mati, kata mereka.’”

“Kau menabrak mati seorang lelaki, bukan laron, dengan dua istri dan 13 anak, ditambah delapan murid terbaik. Kematiannya sangat merepotkan. Perguruannya tamat, anak-istrinya kocar-kacir, murid-muridnya kelimpungan.”

“Maafkan aku. Tapi, sekali lagi, aku tidak membunuh gurumu. Dan dendammu itu kedaluwarsa.”

“Dendam itu seperti penyakit turunan, Triman. Hanya bisa berhenti dengan cara melunasinya.”

“Ini kali ketiga kuminta padamu, maafkan aku. Aku juga telah menziarahi kubur gurumu, mendatangi anak-istrinya, memohon maaf mereka.”

“Bagus. Tapi itu tidak bisa membatalkan niatku.”

Triman merasakan kembali wajah terakhir Muhammad Naim pada wajah orang tua yang terus menggertaknya itu. Wajah yang mengundang kematian.

“Jam tanganmu bagus,”orang tua itu mengejutkannya. “Ngomong-ngomong, jam berapa kereta ekspres lewat?”

Triman melihat jam tangannya. “Tidak sampai dua menit lagi.”

“Waktunya hampir tiba.”

Orang tua itu kemudian mengetuk-ngetuk mangkok merah dengan tongkat bambu. Tiga kali. Tangannya memutar mangkok melawan arah jarum jam. Dari perlahan-lahan, agak kencang, hingga makin kencang dan tercipta semacam angin puyuh. Lantas ia menarik dan menangkupkan mangkok ke dadanya serta membiarkan angin puyuh itu mengamuk sendirian—menggulung puntung, potongan karcis, sobekan koran, kerikil, debu. Beberapa orang yang menyaksikan keajaiban itu bertepuk tangan, tapi ada juga yang menahan napas. Orang tua itu lantas menjentikkan tongkat bambunya hingga angin puyuh itu berpindah dan menggulung Triman yang sudah jatuh duduk dan terkencing-kencing di celana. Triman menjerit-jerit tapi jeritannya kalah keras dibandingkan bunyi peluit kereta ekspres yang sebentar lagi tiba. Orang-orang ikut menjerit. Ketika kereta memasuki stasiun orang tua itu menghentakkan kaki kanannya seraya mengibaskan tongkat bambu itu sekuat-kuatnya dibarengi teriakan hhiiaaaaat yang sember. Melompatlah gulungan angin puyuh itu ke atas rel dan kereta pun menubruknya.

Triman Djoewir A.S. mati. Orang tua itu tampaknya cukup berbahagia.

***

ORANG tua itu menyebut dirinya Raisan bin Duloh Benggol alias Rais Belur, murid pertama perguruan silat Mangkok Merah. Ia tidak melawan ketika dua polisi meringkusnya dan membawanya ke Sektor Pintu Duabelas. Sepanjang malam ia dikurung satu sel dengan para maling, tukang todong, dan preman kambuhan. Keesokan harinya, di depan polisi ia memberikan pengakuan yang cukup penting menyangkut perguruan itu, diselingi batuk-batu dan wajah letih yang tak bisa pulih lagi.

Mangkok Merah didirikan Muhammad Naim setelah ia undur diri dari dunia gerombolan pada akhir 1950-an. Hingga sang guru mati perguruan itu hanya menerima delapan murid. Rais dan teman-teman seperguruannya bukan melulu belajar silat, tapi juga mendalami kebatinan. Mengemis adalah laku perguruan yang hanya boleh dijalankan di luar kampung dan pada saat yang sangat terpaksa. Perlengkapan yang wajib dibawa saat mengemis adalah mangkok merah, mascot perguruan, sementara yang lain sesuai kebutuhan.

“Pada mulanya perguruan kami tidak bernama,” katanya. “Tapi pada suatu malam Senin, setelah selesai latihan, almukarom guru kami menciptakan jurus baru secara tak sengaja dari sebuah mangkok merah—mangkok yang biasa kami gunakan untuk makan bubur kacang hijau setiap kali kelar latihan. Itulah jurus pamungkas yang menghasilkan angin puyuh dan mampu mengisap nyawa makhluk hidup yang digulungnya. Sejak itulah orang-orang menyebut perguruan kami si Mangkok Merah. Sepeti merek micin dan restoran.”

Si polisi melirik barang bukti mangkok merah yang tergeletak di meja. Ia inggin menyentuhnya tapi ia urungkan niatnya itu. “Terus.”

“Perguruan kami memang mengajarkan kebatinan. Kami memuliakan pembuat barang pecah-belah, pohon kelapa, rumpun kacang hijau dan jahe. Tak ketinggalan—petani garam. Kami juga menghormati angin yang bertiup melingkar dan debu yang menggenang dan menyesakkan dada. Kami bahkan mencintai dan memuliakan pengemis sebagai wujud paripurna Tuhan di dunia—selain Tuhan yang menampakkan diri sebagai pemuda belasan tahun. Arah kiblat kami adalah perkampungan pengemis.

“Kami percaya bahwa orang yang telah mati akan hidup kembali jadi sesuatu yang ia sebut saat sakratul maut. Karena itu masing-masing kami bertekat untuk tidak menyebut apa-apa yang paling kami benci. Kami tidak bisa membayangkan seandainya nanti lahir kembali sebagai pembunuh guru kami atau sebagai panci bocor. Kami selalu ingin lahir kembali sebagai guru besar kami, junjungan kami.”

“Kau jangan kelewat banyak ngelantur,” bentak si polisi seraya menggebrak meja di depannya. Mangkok merah itu berputar tapi segera tangan kanan Rais Belur menghentikannya. “Fokus.”

“Baiklah,” ujar Rais Belur sambil menggeser pantat. “Triman Djoewir A.S. adalah tukang bohong tulen. Dia musuh bebuyutan almukarom guru kami. Lawan dari segala lawan. Semoga Tuhan merebus arwahnya di neraka. Sebenarnya, almukarom guru kami telah membunuhnya pada sebuah pertarungan yang meletihkan di tengah sawah pada saat bulan purnama. Saat dia masih bernama Rimat Gonggo. Tapi kemudian jahanam itu lahir kembali sebagai masinis, lantas kepala stasiun. Dia cari kelemahan almukarom guru kami, hari naasnya, dan dia berhasil membunuhnya sehari sebelum usianya genap 77 tahun.”

“Bukankah orang setua gurumu itu bisa mati dengan sendirinya? Karena sakit tua atau apa begitu?” sela si polisi.

“Mungkin saja begitu. Takdir kematian bukan melulu soal waktu dan tempat, tapi juga soal sebab-musabab. Triman berhasil mencari tahu rahasia kematian almukarom guru kami. Dia hanya bisa mati di atas rel, ditabrak kereta, yang dari bahan itu pula Rimat Gonggo pernah membuat golok paling ampuh, golok yang digunakan almukarom guru kami untuk menghabisi musuh bebuyutannya itu. Dia merancang pembunuhan itu dengan rapi sehingga orang-orang hanya tahu almukarom guru kami mati karena kecelakaan.”

Rais Belur berhenti. Batuk-batuk lagi. Dengan susah-payah ia mengatur napasnya, lantas merendahkan suaranya, “Dia juga mempekerjakan dua setan keder. Tugas mereka menggiring almukarom guru kami agar selalu melintasi rel kereta api menjelang detik-detik kematiannya.”

“Oh….” Si polisi melongo cukup lama sebelum akhirnya menganguk-angguk seperti burung pelatuk. “Tapi kenapa baru sekarang kau balas dendam?”

“Sebenarnya, kami sudah beberapa kali mencoba menghabisi jahanam itu. Tapi dia selalu lolos. Pernah pada suatu malam kami meringkusnya ketika dia baru pulang kondangan. Kami seret dia dengan motor di atas aspal. Di tebing batu kami menghantamnya dengan jurus mangkok merah hingga kepalanya hancur berantakan dan kami buang mayatnya ke sungai. Tapi besok paginya ia sudah ada di rumahnya lagi. Kepalanya hanya benjol-benjol. Pernah juga kami gergaji  ubuhnya menjadi tiga bagian dan kami kubur di tiga tempat berbeda. Seminggu kemudian dia sudah menjadi kepala stasiun. Terakhir, kami bakar tubuhnya di tempat pembuangan sampah, tapi sebulan kemudian ia tampil dengan perawakan yang 10 tahun lebih muda.”

“Mistik ini. Ajaib. Edan,” teriak si polisi. Lantas ia mencabut dua batang rokok, satu untuknya satu untuk Rais Belur. “Supaya lebih mantap,” katanya. Kini keduanya merokok dalam kegirangan penikmat dongeng. “Lanjut.”

“Kami benar-benar dirasuki dendam kesumat sekaligus putus asa sebab tak bisa menghabisi musuh bebuyutan warisan guru kami. Hingga satu per satu kami sakit dan mati. Meninggalkan lingkaran setan ini, entah ke mana. Tinggal saya sendirian.”

“Lantas, bagaimana kau menemukan rahasia kematian Triman?”

“Maka saya ikuti ke mana langkahnya, saya awasi setiap geraknya, saya hapal segala perkataannya, hingga seluruh hidupnya kemudian adalah pengetahuan saya. Sayalah kamus yang telah menamatkan diri.”

Si polisi mengurut-urut keningnya.

“Termasuk ketika pada suatu malam dia merampungkan pengajaran silat buat anaknya yang semata wayang itu. Ternyata jurus-jurusnya sama dengan jurus-jurus almukarom guru kami. Hanya saja dia tidak memiliki jurus Mangkok Merah. Saya mulai yakin, mereka bukan hanya pernah berguru pada orang yang sama, tapi juga kembaran. Mereka bermusuhan, tapi saling merindukan, saling menghabisi. Mereka seperti bayangan, yang satu jatuh ke kiri, yang satu lagi jatuh ke kanan. Saya mulai yakin bahwa dia juga akan mati ditabrak kereta api. Yang saya tidak tahu, kapan persisnya.”

“Kemarin?”

“Mungkin juga besok. Sebab, Minggu, 10 Februari 2008 adalah haul ke-36 wafatnya almukarom guru kami, atau ke-10 dalam ulangan tahun kabisat. Sebagai kembaran mungkin Triman akan mati di tanggal yang sama. Tapi Sabtu dan Minggu dia libur kerja untuk mengunjungi saudaranya di Cisaat, Sukabumi. Di sana memang ada jalur kereta api, tapi kereta jurusan Sukabumi—Bogor sudah tidak lagi melintas di atasnya. Itulah kenapa dia mati kemarin di stasiun Pintu Duabelas.”

“Sebentar… sepertinya kalimat tentang pengintaian tadi bukan darimu. Seingatku ada orang lain yang pernah mengatakannya.”

“Itu sepenuhnya kalimat saya.”

“Bukan.”

“Ya,” katanya. “Sebab sayalah yang dipanggil Muhammad Naim bin Marjuki Tengkek alias Naim Semar alias Rais Belur alias Jiman Lodong alias Raden Ngalim alias Kim Cheng Jangkung alias Nyai Menor alias Daeng Komit alias Mat Lope alias Deris Baplang….”

Kembangan Selatan, Maret 2010

Zen Hae telah menerbitkan kumpulan cerita pendek Rumah Kawin (KataKita, 2004) dan buku puisi Paus Merah Jambu (Akar Indonesia, 2007).

2 thoughts on “Cerpen Koran tempo – Mangkok Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s