Cerpen Suara Merdeka – Pemakaman yang Bahagia

Cerpen Suara Merdeka Minggu, 2 Mei 2010 | Sungging Raga

KETIKA tak ada lagi yang bisa diharapkan dari hidupnya, ketika tak ada lagi yang bisa dibanggakan setiap kali mata itu terbuka menatap dunia yang muram, lelaki itu pun bersumpah, bahwa setidak-tidaknya ia harus bisa menciptakan sesuatu yang akan memuaskannya kelak, sesuatu yang barangkali akan menjadi satu-satunya sejarah yang tercatat atas namanya. Ya, dan hal itu sudah ada di antara sepasang matanya. Diam-diam, ia ingin sekali mengakhiri hidupnya, dengan sebuah pemakaman yang bahagia.

Pagi ini, ia bangkit dari lelap dengan dahaga yang tak sudah-sudah, baru saja ia beranjak dari kasur lapuk itu, membuka mata yang berair, sementara sang istri masih mendengkur di sampingnya. Terkadang ia heran bagaimana bisa menikah dengan istri yang suka mendengkur keras-keras. Setiap kali tetangga bertanya —sebab merasa terganggu—maka lelaki itu akan mengaku bahwa itu adalah dengkurannya.

Cahaya matahari tak juga masuk ke dalam kamar yang penuh dengan kenangan lapuk itu. “Inilah kamar tempat aku merasa dilahirkan kembali.” Harusnya ia bangga karena memulai hidup baru dengan seorang wanita, tentu masih teringat ketika ia melepaskan baju masa kecilnya yang sungguh tidak bahagia. Kebahagiaan macam apa yang didapat dari bekas luka di sekujur tubuh akibat seorang ayah yang bengis? Kebahagiaan macam apa yang dihasilkan dari terik matahari ketika ia dan sebuah sepeda harus mengantarkan hewan-hewan ternak curian itu ke penadah yang selalu datang pada siang hari ketika bumi terbakar.

Kemudian ia pun dilahirkan kembali, dengan takdir-takdir yang justru menggerogoti usia pada akhirnya. Segalanya diawali ketika seorang wanita mulai menemaninya, wanita yang ditemuinya sedang tertawa sambil mencuci pakaian di tepian sungai, waktu itu, setiap detik baginya sungguh luar biasa, sungguh pesona yang lebih jernih daripada muara. Proses perkenalan hingga pernikahan seperti menuju gerbang istana lapuk yang lama tak dibuka. Ia sudah membayangkan kebahagiaan memang sesuatu yang tertahan, dan butuh seseorang untuk membukanya. Tetapi apalah kemudian arti tidur bersama, malam-malam mutiara, pesona yang membabi buta, kalau pada akhirnya ia kembali harus menerima kenyataan yang sama pahit dengan masa kecil itu. Wanita itu memang menarik, cantik dari setiap sudut, dan selalu nampak ceria dalam keadaan apa pun. Namun itu tak mengubah garis takdirnya. Bagi lelaki itu, kedewasaan adalah ular berbisa yang tidak pandang bulu. Lelaki itu menggambarkan hidupnya sebagai mimpi buruk yang nyata, mimpi yang keluar begitu saja dari otak lantas menjelma kengerian-kengerian yang tak terbantahkan.

Maka hari-harinya kemudian diliputi keresahan, istri mulai hamil, apa yang didapat? Bahkan ia tak sempat mengecapnya, ia tak peduli jika anak itu ternyata anak dari salah satu laki-laki yang setiap malam bergantian menjemput istrinya. Ya, hanya sesaat wanita itu menemaninya. Kemudian segalanya berlangsung kilat, istrinya pergi tanpa tujuan yang jelas, hingga tiba-tiba hamil dan melahirkan seorang bayi. Laki-laki tua dan muda yang hadir silih berganti itulah yang mungkin berhak menjadi ayah bayi itu. Lelaki itu tak berhak apa-apa, bahkan ia tak punya kuasa terhadap hidup istrinya, ia tidak merasa bekerja begitu keras hingga wanita yang hanya pulang untuk mendengkur itu memiliki banyak perhiasan yang diimpor dari luar negeri. Perhiasan antik itu memang kemudian membuat kamar tampak indah, cermin rias selalu memantulkan cahaya kemilau itu, cahaya yang bagi lelaki itu adalah cahaya dari neraka.

Ia merasa lumpuh, ketika bayi itu lahir, bahkan seminggu setelahnya bayi itu belum juga ia beri nama. Dan sebulan kemudian ia bahkan tak tahu bahwa bayi itu sudah memiliki nama, entah siapa yang memberinya. Sementara istrinya seperti kerang yang dengan cepat kembali segar. Hanya sebentar lelaki itu merasakan keberadaan seorang wanita di rumah yang tersusun dari bamboo itu. Kemudian laki-laki demi laki-laki kembali hilir-mudik menjemput istrinya setiap malam, ketika ia sendiri harus sabar mengajak bicara bayi yang sering menangis itu, mengajak bayi itu untuk mengerti bahwa hidup memang sulit untuk bahagia, berbagi kesepian bersama sepasang mata yang masih bening, mata yang diturunkan oleh wanita yang telah menyiksanya.

Apa yang kemudian membawanya di titik tempat ia merasa pasti tidak akan memperoleh kebahagiaan selamanya? Ketika bahkan di rumahnya sendiri ia merasa seperti dibalut neraka. Ia menahan benci terhadap istrinya. Wanita itu memang tak pernah peduli, dan lama-kelamaan ia tak minta untuk dipedulikan. Sudah habis kesabarannya—sebagaimana ia tak pernah ingin menumpuk amarah— kepada wanita yang entah mengapa bisa dinikahinya itu. Lelaki itu ingin kembali ke rumah, membalik waktu yang purba, merasakan pukulan dari sang ayah seperti masa kecil dulu, ia lebih suka siksaan fisik daripada batin yang setiap saat digerogoti takdir yang menyayat, melipat hidupnya lebih cepat. Tetapi itu hanya bayangannya, bayangan sesaat yang bahkan tak mampu mengembangkan bibit-bibit senyumnya.

Hidup berlalu sangat cepat dan hari-hari diliputi rutinitas batin yang menyesakkan. Lebih menyesakkan lagi sebab istrinya selalu tampak bahagia, wanita itu adalah antitesis dari suaminya sendiri. Wanita itu murah senyum, bahkan pada hal-hal kecil semacam cicak yang berkejaran di dinding pun ia tersenyum, bahkan pada kucing yang tiba musim kawinnya pun ia sempat tertawa. Wanita itu adalah potret seorang istri yang bahagia, menebar keceriaan di mana saja, di setiap sudut tempatnya berpijak. Tetapi bagi lelaki itu, setiap senyum adalah petaka, seperti silet yang siap mengiris selaput mata agar selalu memancarkan air mata higga darah, sampai kering semuanya.

“Kau terlalu memberatkan dirimu sendiri. Kau harus bisa menerima kenyataan, belajar dari keadaan. Aku seperti ini karena kau seperti keledai yang tidak berguna. Kau tidak bisa bekerja. Kau hanya terpaku merenungi masa kecilmu dan berharap kebahagiaan jatuh tiba-tiba dari langit. Ayolah, kau kuizinkan keluar, temui siapa pun yang bisa membuatmu tertawa seperti aku.”

Wanita memang pandai bersilat kata. Ia bergumam. Ia melihat srikandi yang diliputi kemewahan, yang dengan pongah mengangkat kaki di depan wajahnya. “Apa kau tidak pernah merasa sedih? Menangis? Seperti aku?” tanya lelaki itu kemudian.

“Setitik air mata pun tak pernah jatuh dari kelopak mataku.”

Saat itulah, ketika semua rasa sakit sudah membatu di hatinya, ia mulai menyusun rencana kecil untuk mengakhiri hidupnya. Ia membeli setumpuk kertas, melarikan dirinya ke sebuah tempat terpencil, di bawah ridang pohon cemara, ia mulai menulis surat. “Aku ingin semua kawanku datang tanpa baju hitam. Aku ingin mereka bahagia pada hari kematianku. Aku akan memandangi mereka meski mereka tak bisa melihatku,” katanya kepada diri sendiri.

Lelaki itu mulai berjalan ke setiap rumah yang dikenalnya untuk menyampaikan surat itu. Sebagian surat juga dikirimkan lewat pos, surat itu ditujukan pada seluruh kawan-kawan yang masih sempat diingatnya. Ia kirimkan surat itu pada hari yang sama, dengan ratusan tujuan berbeda. Ia merasa lega, menghabiskan uang terakhir untuk menulis. Lantas ketika malam menjelang, ia mengecup bayinya dan meninggalkannya di kamar tidur. Ia pun memasuki sebuah ruang gelap tak jauh di sebelah rumah, semacam gudang, yang ketika dimasuki maka menyeruaklah bau tikus mati, botol minyak tanah, jerami, dan sepotong tali telah siap bergantung di langit-langit. Segalanya memang telah matang dipersiapkan, dan dalam malam yang remang, lelaki itu pun kemudian terbakar cahaya.

Sementara di tempat lain, istrinya baru saja dinobatkan sebagai wanita termahal di kota ini, penobatan itu diputuskan di sebuah bar ingar-bingar yang dihadiri pejabat-pejabat setengah botak berperut gendut, wanita itu telah ribuan kali berpindah-pindah untuk bersandar ke perut mereka, bahkan ia bisa tahu pejabat mana yang paling punya uang, ia lah yang paling mengerti hubungan antara perut dan kepala botak dengan kekayaan. Wanita itu merasa indah malam itu ketika semua mata tertuju kepadanya, hanya kepadanya. Dan di tempat lain pula, di sebuah kamar abu-abu yang lampunya redup, seorang bayi menangis menghentak-hentak, jeritannya terdengar sampai ke pekarangan, namun tak ada seorang pun yang mendengar tangisan bayi itu. Bayi yang terus menggetarkan pita suaranya. Ia hanya butuh susu. Ia hanya butuh susu.

Tiga jam kemudian, mayat lelaki itu diturunkan perlahan oleh pihak kepolisian setempat. Puluhan kawan yang menerima undangan kematian mulai berkumpul di sana. Mereka lihat kulit yang terkelupas hangus itu, mulut yang masih menampakkan sisa busa. Sebagian dari mereka juga langsung menggendong bayi yang entah ke mana ibunya. “Barangkali ini anaknya,” ucap salah seorang dari mereka.

Lelaki itu benar-benar bunuh diri dengan tiga cara sekaligus yang terlalu sadis untuk dijelaskan dengan kata-kata.

***

PAGI memaparkan mendungnya di langit ketika keesokan harinya pemakaman yang bahagia itu benar-benar berlangsung. Beberapa mobil terparkir di sepanjang jalan di luar pagar. Mobil-mobil mewah yang bisa membuat dugaan bahwa yang meninggal adalah orang kaya terhormat. Namun orang-orang di sekitar kompleks merasakan keganjilan itu, para peziarah datang dengan suka cita dan canda tawa yang seharusnya adalah hal paling terkutuk dalam keadaan seperti sekarang ini. Mereka lah kawan-kawan yang telah mendapatkan surat dan kini hadir dengan pakaian warna-warni. Mereka mengingat dengan baik permintaan lelaki itu, kompleks makam yang sedianya menyiratkan kepedihan mendalam itu justru meriah seperti pesta badut. Setiap orang hadir dengan warna pakaian yang mencolok. Tak ada karangan bunga. Tak ada tulisan belasungkawa yang dilingkupi warna-warna kelabu, apalagi isak tangis baik yang tertahan atau pun terlepas ke langit, tidak ada, semuanya ceria. Sesuatu yang sungguh terlihat ajaib bagi setiap yang kebetulan lewat.

“Ada apa di situ?”

“Ada pemakaman.”

“Pemakaman?”

“Ya.”

“Tidak mungkin. Mereka tertawa-tawa. Itu tidak seperti pemakaman.”

“Sungguh, Kawan. Itulah pemakaman yang bahagia. Kalau tak percaya. Ikutlah. Kau tidak perlu berbaju hitam, kau hanya perlu tertawa, tertawa, dan tertawa, bersama kami.”

Pemakaman itu pun semakin meriah. Bahkan orang-orang tak dikenal pun mulai ikut berkerumun. Diletakkan juga sebuah meja dan gelas-gelas minuman dengan botol-botol bersoda selayaknya pesta. Lelaki itu barangkali sudah nyenyak di bawah tanah, sayup-sayup menikmati canda tawa yang semua ditujukan kepadanya. Untuk kali pertama ia bahagia. Meski itu tak tampak bagi setiap orang, tetapi barangkali arwahnya sedang duduk di pohon yang paling tinggi, menatap takjub pada sikap kawan-kawan yang telah dengan baik mengapresiasi kematiannya dengan pesta dan canda tawa.

Pesta itu baru berakhir menjelang siang, orang-orang mulai surut dan di sekitar makam tersisa sampah-sampah meski bukan bekas tisu. Ketika itulah dari kejauhan, muncul seorang wanita yang berjalan ke arah makam.Wanita itu berpakaian serba hitam, seperti bidadari kegelapan, tetapi ia tidak melayang, ia datang tersandung-sandung batu sambil memeluk bayinya yang tentunya tak bisa tenang. Ia terus berlari sambil sedikit menyingkap rok hitamnya, melewati deretan nisan tua yang namanya telah kabur, menuju tempat hiruk-pikuk tadi yang kini telah sepi. Ia pun kemudian duduk. Tertunduk.

Bermenit-menit kemudian, wanita itu hanya bisa terkulai, entah apa yang telah menggerogoti pikiran dan perasaanya begitu cepat. Di atas nisan sang suami, untuk kali pertama dalam hidupnya yang serba bahagia, jatuhlah air matanya.

Situbondo, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s