Cerpen Suara Merdeka – Menunggu Kematian Parsun

Cerpen Suara Merdeka Minggu, 9 Mei 2010 | Surahmat

GILA! Dia memintaku mencari Tuhan meski kupikir sebelumnya, mencari Tuhan adalah pekerjaan melelahkan. Mereka yang melakukan, belum tentu berhasil menjadi nabi atau rasul. Orang-orang yang tersesat malah jadi kafir, dipenjara atas tuduhan penistaan agama, atau dipergunjingkan karena murtad mengaku nabi. Mana mungkin aku menjadi nabi kalau Muhammad adalah yang terakhir?

Lebih gila lagi ia menyuruhku mencari Tuhan dalam kuku jempol kakiku. Hanya bagian tubuh seukuran dua centimeter tempat ia memintaku mencari Tuhan, Zat Maha Besar yang mengatur jagat.

Suatu sore di atas jembatan dekat pertigaan. Jalan desa tampak lengang. Aku duduk di atas leneng jembatan bersama Parsun. Jalan di sekitar masih berantkan, hanya susunan batu yang belum dislender.

Dia terkekeh melihatku kesakitan. Dua jam lalu kakiku kesandung di salah satu bongkah batu. Kuku jempolku patah, nyaris lepas, merembaskan darah dalam butiran-butiran kecil.

“Nah, sudah kaurasakan ada Tuhan dalam kuku kecilmu,” ucap Parsun dalam nada sinis.

Aku selalu berpikir Parsun orang paling tidak bisa aku percaya. Ia hanya pembual yang mengemis dipercaya. Apalagi saat dia bilang, “Tuhan ada di mana-mana.”

Ia mengatakan kalimat itu beberapa kali saat kami bertemu. Ia berdiri sambil mengangkat tangan dalam posisi 120 derajat dari ketiak. Pandangannya mendongak.

Parsun hanya lelaki biasa di Kampung Rajasona. Yang membuatnya istimewa, sekaligus menakutkan hingga anak-anak selalu dilarang orang tua mereka menemuinya, adalah luka bakar di sebagian besar tubuhnya. Ia penderita sawan celeng, sejenis epilepsy akut. Beberapa kali ia terjungkal dalam bara api di tungku rumah karena tiba-tiba kumat. Ia terkapar di atas bara, terpejam seperti bayi berumur tiga tahun tidur dalam dekapan ibu.

Jika kesadarannya pulih, eramannya terdengar. Dari mulutnya keluar busa. Ia mengaduh dalam bahasa yang sulit dimengerti, seperti celeng kesakitan. Tak ada seorang pun yang dapat mengerti eramannya. Kulit tubuhnya mengelupas, memperlihatkan otot dan daging punggungnya yang merah gosong.

Di sudut desa, hanya 20 meter dari rumahku, Parsun tinggal. Ia memiliki sebuah rumah beratap ijuk joglo warisan orang taunya. Meski sudah empat puluh tahun usianya, ia tak pernah menikah. Tak ada wanita di desa yang mau Parsun dekati. Semua wanita, dari gadis berusia belasan tahun hingga janda mati yang setengah abad usinya, selalu memalingkan muka saat bertemu dengannya. Kulit tubuhnya yang melepuh membuat siapa pun merinding, membuat siapa pun hilang nafsu makan jika mengingatnya.

Ada jendela kaca di rumahku yang berhadapan dengan rumah Parsun. Dari jendela itulah beberapa menit dalam sehari aku mengamati rumahnya. Ia tak pernah sekalipun membersihkan rumah dan halaman, kotoran berserakan di lantai tanahnya.

Aku menyeruput kopi yang kuseduh setengah hangat. Dari balik jendela aku awas menatap rumah Parsun, juga melebarkan daun telinga. Masih tak ada suara.

Setengah jam, kopi di cangkirku tersisa setengahnya. Dugaanku tak meleset. Parsun terdengar mengeram sejadi-jadinya. Seperti celeng alas yang ditembak pemburu. Kian keras ia meracau, tak pernah bisa aku pahami. Bergegas aku mengampiri.

Untuk ke sekian kali Parsun terpanggang di atas bara api tungkunya. Celana dan kaos oblongnya masih menyala. Darah mengucur deras; dari kaki, wajah, juga luka lama yang belum kering sepenuhnya.

Melihat Parsun membuatku ingin membunuhnya. Dengan cara apa pun aku ingin membunuhnya. Sudah lama aku berniat melakukan itu, hingga hari ini.

Kalau sampai hari ini niat itu belum terlaksana bukan karena niatku surut. Justru belakangan kian menggebu. Tapi aku bingung bagaimana aku melakukannya. Yang jelas aku tak akan tega jika harus menghujamkan golok di atas ubunu-bunnya, meski ia tak akan merasakan sakit, kecuali dalam sekaratul mautnya, cara itu terlalu mengerikan.

Matahari baru beranjak sebagian. Aku melihat tubuh lelaki itu di atas bara api. Ia terbakar hidup-hidup. Untuk kesekian kali aku hanya bisa manarik tubuhnya, menyingkirkan dari tungku, dan membiarkan berebahan di atas tikar pandan.

Racauan Parsun terdengar lebih keras, dalam bahasa yang aneh, seperti celeng alas terkena jebakan. Dan saat itulah tetagga-tetangga lain berdatangan. “Angot lagi?” tanya mereka, lantas meludah setelahnya.

***

DI atas tikar pandan, malam hari, aku duduk menemani Parsun. Ia tersenyum-senyum, menyandarkan punggung di pojok ruangan. Aku menyeduhkan secangkir kopi tanpa gula. Ia tak pernah menikmati gula.

Di ambang tengah malam angin semakin dingin. Ia tetap telanjang dada karena luka-lukanya tak berbaju. Darahnya masih sesekali keluar, menciptakan lukisan alam paling buruk.

“Kamu sudah pengin mati, Sun?” tanyaku.

“Belum. Kenapa?”

“Cuma pengin tahu, barangkali pengin bunuh diri.”

“Saya tunggu nasib saja, Kang.”

“Atau kita percepat saja nasib itu?”

“Maksumu, Kang?”

“Aku pengin bunuh kamu.”

“Jangan, Kang. Nanti malah Sampean yang repot!”

“Atau kamu saja yang bunuh diri?”

“Sama. Nanti Sampean juga yang repot.”

“Terus kapan?”

“Nunggu nasib saja.”

Udara malam makin dingin. Aku dan Parsun tetap terjaga. Beberapa jam masih ia sandarkan punggungnya yang penuh luka pada dinding kayu. Darah masih keluar.

Kematian Parsun sudah amat aku dambakan. Dalam tiap doa, kalau sesekali shalat, aku selalu mendoakannya. “Ya Tuhan cepatkanlah ajalnya.”

Aku benar-benar tidak tega menghadapi Parsun. Bahkan aku bingung harus berbuat apa. Pertama, aku tak mungkin menyembuhkannya. Tidak mungkin aku membiayai pengobatan di rumah sakit. Adapun puluhan dukun yang aku undang tak pernah menjelaskan apa pun. Kedua, rencana untuk membunuhnya selalu urung karena sampai sekarang aku tak menemukan cara yang tepat.

Ia akan menjawab, tiap kali aku menggagas kematianya, “Nunggu nasib, Kang.”

Saat masih muda Parsun seorang muazin andal. Banyak orang suka caranya melantunkan azan, nyaman didengarkan. Tiga kali sehari ia datang ke masjid, menyalakan amplifier dan melantangkan suaranya.

Sebelumnya ia juga seorang penjaga gawang yang hebat di kesebalasan sepak bola kampung kami. Meski kerap emosi dan membuat kerusuhan, Parsun selalu dipercaya menjaga gawang. Tubuhnya terlihat enteng, melayang ke sana kemari menangkap bola yang hendak disarangkan lawan.

Ia berhenti azan saat sawan celengnya kumat kali pertama waktu itu. Ia berdiri di shaf terdepan, persis di belakang imam. Di rakaat awal, beberapa saat sebelum imam selesai membaca Al-Fatihah, Parsun roboh tiba-tiba. Tubuhnya terjatuh di atas lantai plester mushala kami. Mulutnya mengeluarkan busa, mengerang seperti celeng yang kesakitan. Dua puluh tiga tahun silam.

Sejak saat itu aku tak pernah melihatnya ke mushala lagi. Ia juga tak mengerjakan shalat di rumahnya. Dalam sebuah perbincangan ia mengatakan telah mendapat dispensasi dari Tuhan untuk meninggalkannya. Aku sependapat; orang sepertinya memang tak perlu mendapat kewajiban shalat. Mestinya.

Giliran dia bertanya, aku kelimpungan.

“Sampean sendiri kenapa tidak shalat?”

Aku tertunduk menghindari tatapannya. Tak tahu harus menjawab apa.

Seingatku, sepanjang umurku, shalat terakhir aku kerjakan saat masih kanak-kanak, tiga puluh tahun silam. Saat itu aku sangat gemar ke langgar mengikuti jemaah magrib. Selepasnya, setelah aku dewasa, tak sekalipun aku shalat. Kedua orang tuaku bosan mengingatkan, sedangkan istriku rupanya tak berani mengingatkanku.

Shalat adalah kewajiban. Aku tahu itu. Tapi kenapa diwajibkan, jawabnnya belum aku temukan. Agaknya Tuhan terlalu pelit memberiku hidayah untuk jawaban itu.

***

DI leneng jembatan dekat pertigaan jalan aku masih memegangi kuku jempolku. Parsun berkali-kali menertawakanku. Senyumnya sinis, seraya mengejek. Tampak seram karena salah satu pipinya terdapat luka bakar.

“Sampeyan pasti bilang itu kebetulan,” ucapnya.

Aku mengangguk. Bagiku tentu saja begitu. Aku hanya kebetulan tidak hati-hati waktu jalan. Karena kurang konsentrasi kakiku menabrak batu. Pikirku begitu.

“Sampeyan keliru,” sanggah Parsun, seperti tahu jalan pikiranku. “Masih belum percaya nasib?”

Aku mulai marah. Ia terus menerus terkekeh-kekeh saat aku menahan sakit. Ia mendekatiku. Menarik kukuku cepa-tcepat. Aku menejerit, meronta, sambil mengumpat.

Darah keluar dari akar kukuku begitu cepat. Aku menangis, meronta, kembali mengumpat. “Wong edan kowe!”

“Ini hanya kebetuan, tidak ada yang mengaturnya. Setahun lagi kukumu pasti tumbuh lagi.”

Aku menangis, meronta, juga terus mengumpat dirinya.

Semarang, 17 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s