Cerpen Koran Tempo – Tentang Binatang Peliharaan Saya

Cerpen Koran Tempo Minggu, 9 Mei 2010 | Romi Zarman

SAYA tak tahu harus berbuat apa. Sejak binatang peliharaan saya dilepaskan oleh istri saya, saya lebih banyak bermenung ketimbang biasanya. Seperti kali ini, saya duduk di beranda, memikirkan burung buta yang pernah saya pelihara. Kenapa istri saya melepaskannya?

Saya tak menyangka: istri saya begitu membencinya. Bukan karena matanya buta. Akan tetapi, adakah benar karena waktu itu ia terlalu tertekan sehingga melampiaskan segalanya pada binatang peliharaan saya? Ah, sungguh tak adil. Saya sudah memberikan usul. Tapi ia tetap tak mau mendengarkan.

Burung buta. Kenapa ia terus mengendap di kepala saya? Sampai-sampai, tanpa pernah saya duga, akibatnya membuat saya jadi begini. Bermenung diri. Hari-hari saya pergi. Akan tetapi… ah, tidak! Saya harus kembali.

SAYA harus kembali.” Itulah ungkapan yang tepat. Saya harus kembali seperti sediakala, menjalani kegiatan sehari-hari. Maka, walau terasa agak berat, saya mulai beranjak dari beranda. Bukankah saya masih punya ikan sebagai binatang peliharaan saya?

Ya, saya coba. Akan tetapi, berhari-hari, saat saya tetap memaksakan diri untuk kembali seperti sediakala––dengan cara merawat ikan peliharaan saya––maka saat itulah saya bagai tak bisa. Bahkan, suatu kali, entah bagaimana kesimpulan itu muncul di benak saya, saya tiba-tiba bagai diingatkan bahwa saya tak mungkin kembali ke kebiasaan semula. Saya kembali memikirkan si burung buta.

Ya, burung buta. Saya kembali memikirkannya. Setiap pagi, saya akan bangun dari tidur. Setiap pagi, saya akan buru-buru menoleh ke sangkarnya. Kadang saya merasa burung itu masih ada. Kadang tanpa saya sangka saya langsung menurunkan sangkarnya, membersihkannya dari debu. Atau bila siang sudah datang, saya akan sering memandang ke halaman. Bukan untuk memandang bunga atau tanaman lainnya. Akan tetapi, sering saya merasa burung buta itu ada di sana.

Kenapakah saya memikirkannya? Saya tak tahu pasti jawabannya. Akan tetapi, setiap saya makin memikirkanya, setiap itu pula saya merasakan keberadaannya. Saya tak tahu kenapa. Yang saya tahu, saya bagai digerakkan oleh sesuatu. Setiap pagi, setiap siang, setiap menjelang petang, berulang-ulang saya kerjakan. Padahal, bila dipikirkan lebih jauh, apa yang saya lakukan itu tak jauh beda ketika saya masih memelihara burung buta.

Burung buta. Terbang ke manakah ia? Ke angkasa. Ke angkasa? Sering saya tertegun memikirkannya. Tak saya sangka, burung itu begitu mengendap di kepala saya. Adakah karena saya begitu menyayanginya? Ah, mungkin saja. Burung buta. Karena kicaunyakah? Ya. Tiba-tiba saya teringat pada ucapan istri saya.

Burung buta. Karena sayapnyakah? Ah, mungkin saja.

MUNGKIN?

Saya tak yakin. Buktinya, saat pertanyaan itu bagai habis di kepala saya, tiba-tiba saja keyakinan saya pada “ketidakmungkinan” bertambah kuat. Dan keyakinan saya itu makin bertambah ketika tanpa pernah saya duga, burung itu kembali datang ke dalam mimpi saya.

Dalam mimpi itu, saya memang tak melihat matanya buta. Tapi saya yakin, itu burung buta peliharaan saya. Bulunya putih, terang. Persis sama. Hanya mungkin saja karena pusat mimpi saya itu adalah laut, makanya saya tak begitu memperhatikan matanya. Laut. Ia berdiri di tepi. Ia hendak menyeberang. Entah selat, entah laut lepas. Akan tetapi, karena begitu luasnya lautan yang akan ia seberangi, ia sepertinya tak jadi menyeberang.

Saya heran. Bukankah ia memiliki sayap?

YA, sayap.

Saya ceritakan pada istri saya.

“Bukankah kamu pernah bermimpi tentang sayap burung buta peliharaan saya?”

“Ya,” jawab istri saya. “Tapi itu mimpi sudah terlalu lama. Saya tak ingat persisnya.”

“Benarkah?” Saya bagai tak percaya. Bagaimana mungkin mimpi yang pernah membuat jera istri saya itu begitu mudah dilupakannya? Adakah karena ia benar-benar membencinya sehingga ia tak mau menjemput ingatan tentang mimpi itu?

Saya tak ingin memaksanya. Saya putuskan bahwa saya sendiri yang akan mencari jawabannya. Sayap. Burung. Sayap… kenapakah ia mengurungkan niatnya untuk terbang? Adakah karena ia tak mampu atau karena hal lain? Maka, seperti mimpi saya dulu, saya pun memikirkannya. Berhari-hari. Saya tak menemukan jawaban. Setiap pagi, saya renungkan. Hingga kemudian, ketika istri saya mulai menyadari dan mengingatkan bahwa kurang baik bila saya tetap bermenung memikirkan binatang peliharaan saya, maka saat itulah saya kembali bermimpi.

Saya terbangun dibuatnya. Mimpi saya itu, walau jauh berbeda dari mimpi sebelumnya, saya yakin masih berkaitan dengan mimpi terdahulu. Dalam mimpi itu saya lihat seekor lalat. Ia berdiri di tepi kolam. Matanya amat tajam. Ia memandang jauh ke seberang. Ia hendak terbang. Adakah kepak sayapnya yang mungil akan tahan mengarungi luasnya kolam? Tetapi tidak. Ia tampak menaiki kapal. Di atas sehelai daun, lalat itu berlayar. Angin berembus pelan, tapi ia merasakannya sebagai badai topan yang bisa menenggelamkan. Betapa luas itu lautan: kolam. Ia terombangambing di antara gelombang. Inikah rasanya berlayar? Ia ingin terbang. Ia ingin terbang. Tapi matanya yang mungil tak mampu melihat daratan. Betapa jauh….

BETAPA jauh?

Ya,mulanya saya merasa mimpi itu jauh dari mimpi sebelumnya. Akan tetapi, setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata mimpi itu berdekatan. Laut. Kolam. Daratan. Adakah pulau seberang? Mungkin. Dan saya pun mulai yakin, bahwa mimpi itu tentu tak datang sia-sia. Pasti ada yang hendak disampaikannya. Adakah saya telah ditegur karena telah mengabaikan istri saya selama ini dan lebih memikirkan burung buta peliharaan saya? Dan sebagaimana yang saya lihat di dalam mimpi, tidakkah negeri seberang yang hendak dituju oleh burung itu menandakan bahwa ia telah pergi jauh dari saya? Dan jika memang demikian adanya, bukankah sebaiknya saya kembali seperti sediakala?

Maka, saya kembali ke kebiasaan. Istri saya terlihat senang. Ia girang melihat saya karena sudah kembali seperti semula. Tak lagi bermenung di beranda. Tak lagi memikirkan burung buta peliharaan saya. Betapa senangnya ia. Akan tetapi, suatu hari, ketika saya menyadari bahwa ternyata saya belum menceritakan tentang mimpi saya itu, tiba-tiba saja saya jadi teringat pada sesuatu. Lalu saya ceritakan. Dan alangkah terkejutnya saya, tanpa pernah saya duga sebelumnya, istri saya langsung berkata, “Lalat buta.”

“Lalat buta?”

Saya tak mengerti. Saya tak begitu paham kenapa istri saya berkata demikian. Hendak saya lanjutkan ucapan. Akan tetapi, sebelum sempat hal itu saya lakukan, tiba-tiba saja istri saya sudah menatap tajam. Jauh ke kedalaman.

Padang, 31 Oktober 2009

Romi Zarman lahir di Padang, 15 Februari 1984. Lulus dari Fakultas Sastra Universitas Andalas dan menetap di kota kelahirannya.

One thought on “Cerpen Koran Tempo – Tentang Binatang Peliharaan Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s