Cerpen Koran Tempo – Jaelani di Tangan Juru Cerita

Cerpen Koran Tempo Minggu, 2 Mei 2010 | Hasan Al Banna

SEKIRANYA Jaelani dituntut meluruhkan dedaun kegetiran hidup dari dahan kenangannya, tolong kasih tahu bagaimana caranya! Heh, sejak kanak, nasib telah menjebloskannya ke kubang kemelaratan. Lantas, hampir setengah abad kemudian Jaelani baru merasakan betapa hangatnya matahari kebahagiaan. Andai di hilir usianya ia sebenar bahagia, kepayang sekalipun, riwayat kecadasan hidupnya tak akan melorot dari ingatannya. Mungkin iya kalau kelak Jaelani gila!

Baiklah.

Agaknya, tak penting lagi dikisahkan masa kecil Jaelani yang memprihatinkan. Orangtuanya nelayan yang papa, titik! Sekarang, mari melompat ke kehidupan Jaelani menjelang dewasa.Ya, meski diremehkan, toh Jaelani mampu juga meraih titel sarjana teknik. Bayangkan, ia kuliah sambil memikul beban sebagai sulung beradik enam. Belum lagi ia harus kerap menggantikan Ayahnya mengais rezeki. Tapi ya, Jaelani sendiri bingung dari mana jalannya ia berhasil jadi sarjana? Tuhan yang Mahatahu soal itu! Tentu ia sadar, ijazah sarjana bukan surat mumpuni penebus kebahagiaan. Namun paling tidak, ia punya bekal untuk meladeni keganasan hidup, jauh lebih baik dari sekadar menadahkan tangan.

Demikianlah, untung-malang adalah pengantin misteri. Jaelani merasa beruntung tatkala sebuah pabrik peleburan aluminium mempekerjakannya sebagai teknisi. Lumayan, ya untuk meringankan beban orangtua, ya untuk biaya sekolah adik-adiknya. Tapi, keberuntungan macam apa yang menyergap ketika usia kerjanya memasuki tahun kelima? Ee, jangan kira Jaelani tak bahagia menikahi Naimah, yang meski pilihan Ibunya, tapi rida ia terima. Lalu, seiring waktu, calon Ayah mana yang tak senang menanti kelahiran anak jolong? Tapi, satu datang, dua hilang. Hanya dalam lipatan minggu, kelahiran si buah hati disusul dua surat yang menyesakkan. Surat pertama dikirim Tuhan: Ayah Jaelani wafat! Lantas, surat kedua dari perusahaan: ia didamprat PHK!

Ampun, bagi Jaelani, suka duka hidup tak cukup dikiaskan dengan putaran roda pedati semata. Harapannya berantakan! Tak cuma itu, Ibunya yang janda dan adik-adiknya yang harus rela putus sekolah, terjebak lagi di lunta kehidupan. O, begitu mudah ruap bahagia diraup tangan nestapa. Tapi hidup tak kenal jeda, apalagi cuma untuk meratapi nasib. Maka, meski tak henti dicubit cibiran: percuma sarjana, Jaelani memilih untuk tak pilih-pilih pekerjaan. Apa saja ia lakukan, termasuk menarik becak. Barang pasti tak menentu jumlah pendapatannya. Hanya karena bersandar ke tembok kesabaranlah maka Jaelani tetap tegar menentang badai hidup. Tapi, tembok tersebut sering pula goyah dihantam martil keluh kesah!

Bagaimana tidak! Tahun berganti tahun, tapi nasib baik tak kunjung menggamit lengan Jaelani. Manapula hampir tiap tahun Naimah melahirkan. Ah, adakah Jaelani berdosa mensyukuri penyakit yang kemudian bersemayam di rahim istrinya? Penyakit yang menolongnya untuk tak memiliki anak lebih dari lima. Demi Tuhan, ia tak membenci kelima anaknya.Tapi, Jaelani tak sampai hati menyaksikan mereka dipasung kemiskinan.

Coba, orangtua mana yang tega melihat keturunannya tinggal di rumah sewa yang sempit. Layakkah hunian sekira tiga kali tiga meter berlantai tanah disebut rumah? Tapi, itulah sepencil tempat lembab bagi sepasang suami istri dan kelima anaknya. Pun bagi sesungkur dipan lapuk, rak baju yang pincang, kompor tua dan tetek-bengek peralatan rumah tangga seadanya. Lebih dari itu, saban malam Jaelani pasti sibuk menenteramkan anak-anaknya yang bersirebut lapak tidur.

“Sudah, sudah. Doakan kita kaya, biar Ayah bangun rumah besar untuk kalian. Satu orang dapat satu kamar.”

“Amin!” istrinyalah yang rajin menyongsong ucapan Jaelani tersebut.

“Sekarang, ayo kita tidur dan bermimpi!” titah Jaelani sambil mendekap istrinya. Tapi, mengapa lorong mimpi mereka cuma disesaki ngiung nyamuk dan kerumunan angin malam?

Ah, mimpi tak lebih dari manisan tidur. Kebahagiaan hidup tak selalu harus bertolak dari mimpi yang berkeliaran dalam tidur. Kadang, impian dalam jaga, ya cita-cita, jauh lebih mujarab. Dan benar, berkat ketekunannya merawat cita-cita tahun demi tahun, Jaelani mampu memindahkan keluarganya ke rumah yang lebih nyaman: permanen dan berkamar tiga.

Tunggu! Ia masih kerja serabutan? Masih menarik becak, bukan? Pekerjaan itukah yang menuntun Jaelani mendapatkan rumah yang demikian? Menyewa atau milik sendiri? Aih, meski tiba juga ia punya pekerjaan berpenghasilan rutin, berapalah gaji satpam sebuah SD Inpres? Memang, dengan becak dayungnya, ia masih bisa memperoleh hasil tambahan dari jasa antar-jemput sejumlah siswa. Begitupun, keseluruhan upah Jaelani itu tak memadai untuk mengganjar rumah tersebut.

Lalu?

Begini. Tapi sebelumnya, sangat arif andai istilah kebetulan tak diseret-seret dalam keberuntungan Jaelani berikut. Tak ada yang kebetulan, karena Tuhan Maha Perencana! Ya, kegiatan amal perusahaan Export Import Service (EIS)––penyedia jasa peti kemas pelabuhan––di sekolah tempat Jaelani cari makan adalah pemicunya. Intan Septiani, direktur utama perusahaan tersebut ternyata temannya semasa kuliah. Tak begitu penting bagi Jaelani mengapa karier Intan begitu gemilang. Meski akhirnya ia tahu bahwa Intan adalah istri muda seorang pengusaha tersohor di kota pelabuhan itu, tidaklah susut kekaguman Jaelani tentang keenceran otak Intan.

BERHARI-HARI larut menulis kisah tentang Jaelani, juru cerita kita berhenti untuk kesekian kalinya. Ia menghela napas dan memandang ke sekeliling. Suara-suara masih mengawasinya. Belasan hari silam, sebelum juru cerita kita memulai tulisannya, kawanan suara––entah dari mulut sesiapa––tiba-tiba berderap ke arahnya. Lalu, bilik kerjanya seketika jadi ruang interogasi! Inilah nukilan puncak perbantahan yang terjadi antara suara-suara dengan juru cerita kita saat itu.

Tak bisakah kau sodorkan pada kami kisah, yang meski penuh konflik kepahitan, tapi berujung bahagia?

Bukan aku sang penentu, tapi tokoh-tokoh ceritaku….

Tidak! Kau yang menzalimi mereka!

Contohnya Jaelani, juru cerita kita pun murka, Jaelani aku rancang sebagai tokoh sentral cerita yang perjuangan pahitnya berbuah keberhasilan, tapi….

Jangan diteruskan, murka dibalas ancaman, Kami tak mau tahu! Pokoknya, kisahkan kepada kami Jaelani yang meraih kebahagiaan, meski ia harus melewati berbagai penderitaan!

Sambil berteriak, suara-suara menyambit rusuk juru cerita kita. Lehernya dicekik. Apa boleh buat. Dengan batin terhimpit, juru cerita kita mengumpulkan segala daya demi kerampungan kisah Jaelani.

Kau berhenti lagi? Tanya suara-suara menginterupsi istirahat juru cerita kita.

Tak ada jawaban. Juru cerita kita memilih untuk membaca kalimat terakhir yang ditulisnya tadi: Meski akhirnya ia tahu bahwa Intan adalah istri muda seorang pengusaha tersohor di kota pelabuhan itu, tidaklah kurang kekaguman Jaelani atas keenceran otak Intan.

Sesaat juru cerita kita tertegun, mengangguk-angguk, lantas melanjutkan pekerjaannya:

NAH, cerita punya cerita, atas permintaan Intan, Jaelani dengan suka-cita bekerja di tempat yang baru: EIS! Ssstt, siapapun tak perlu kasak-kusuk menelusuri mengapa mudahnya Intan memberi pekerjaan kepada Jaelani. Bahkan menyediakan fasilitas rumah cuma-cuma buat Jaelani sekeluarga. Yang jelas, semasa kuliah, Jaelani dikenal ulet, jujur, meski bukan yang terpintar. Maka Jaelani, walau tidak dipusatkan pada pos pekerjaan tertentu, lumayan disegani di EIS. Para karyawan mengenalnya sebagai asisten direktur. Adakah karena ia kerap mendampingi Intan di berbagai pertemuan dengan kolega atau relasi perusahaan?

Begitupun, agaknya, tak ada yang berubah dari diri Jaelani. Ia tetap bersahaja, dan yang penting, makin menyayangi anak-istri. Terlebih Naimah, yang masih terus berjuang menepis penyakit rahimnya. Anak-anaknya bagaimana? Kelimanya ia sekolahkan. Malah yang sulung tengah kuliah. Iyalah, ketajaman ujian tetap mengerling, tapi tak semenyayat dulu.

Memang, waktu untuk keluarga banyak disita pekerjaan. Apalagi Naimah acap cemas memikirkan Jaelani yang harus pulang tengah malam atau berhari-hari tugas ke luar kota mendampingi sang direktur. Apa yang dicemaskan Naimah? Jaelani cuma menjalani risiko pekerjaan! Tapi? Hus, sudah! Bukankah sejak bekerja di EIS, keluarganya berangsur hidup layak? Sejak itu pula Jaelani kian berani mengendus kemapanan hidup! Tahun menyalip tahun, tiang cita-cita terus ditinggikan, dan layar impian direntang!

Betul, Jaelani bukan si pelalai janji. Ia tetap terkenang hal yang kerap didengungkannya ke telinga istri dan anak-anaknya: membangun rumah besar! Setahap demi setahap, memang. Sebidang tanah yang luas dibeli, diancang untuk rumah megah: bertingkat, berkamar banyak dan berpekarangan luas. Wau, sejahtera nian Jaelani? Malah, diam-diam, Jaelani mulai merintis usaha restoran seafood. Entahlah, semula hanya kelakar, eh, menjurus serius.

“Kau harus bikin usaha baru, Jaelani. Jaga-jaga, mana tahu EIS bangkrut! Lagi pula, sepuluh tahun lebih bekerja di situ, apa tak jenuh?” canda manja Intan ketika itu ditanggapi Jaelani dengan tidak main-main.

“Jenuh, tidak. Tapi ide usaha baru, ya!”

Maka, perkawinan kelakar dan keseriusan pun digelar! Tak butuh waktu lama, restoran fauna laut resmi dibuka! Namun di balik itu, tak baik rupanya sembarang mengedar kelakar! Paling tidak, peringatan ini dialamatkan kepada Intan. Ya, berseberangan dengan kemulusan nasib usaha baru Jaelani, EIS akhirnya pailit karena beragam alasan. Bisa jadi karena tak sanggup bersaing dengan perusahaan lain. Atau, karena pengelolaan keuangan yang kacau? Entah! Alasan lain juga mengemuka: Intan selaku direktur utama terlibat cekcok dengan suaminya, yang tercatat sebagai pemegang saham tunggal di EIS. Pula, sekicau isu melenting, bahwa api cekcok berkobar terkait rahim Intan yang mandul. Ada-ada saja.Tapi, sudah, lupakan itu!

Jaelani yang terpukul oleh kebangkrutan EIS kiranya lebih penting untuk dibicarakan. Sumpah, perusahaan tersebut, juga Intan, teramat berjasa baginya. Untung usaha restorannya yang berkembang pesat cukup ampuh mendamaikan tikai pikirannya. Namun, mengetahui nasib Intan tercabik dicerai suami adalah sesuatu yang tak bisa diabaikannya. Jujur, ia berutang jasa kepada Intan! Maka, banyak hal dilakukan Jaelani untuk memulihkan luka Intan. Tapi, tentu ia terus menyempurnakan bentang layar cita-citanya. Usaha baru beromset besar pun dapat giliran merampungkan rumah impian Jaelani. Maka, tanpa banyak kendala, rumah mewah bagi orang-orang tercinta akhirnya tegak dan siap huni! Angan-angannya pun segera terkabul: hari tua bergelimang kesenangan.

Ya, kelak di rumah itu, ia, Naimah, dan anak-anak––yang menghadiahinya lima menantu yang baik dan cecucu yang lucu––bakal merayakan kebahagiaan. Eh, ada cita-cita konyol yang tak sempat diutarakan kepada anak-istrinya. Apa itu? Bisa leluasa bermain alip berondok––main sembunyi-sembunyian––di rumah yang luas! Jaelani membayangkan dirinya kelak tertawa tak kepalang saat melacak keberadaan istri, anak-menantu, dan cecucunya tersayang dalam persembunyian. Jaelani tertawa tak kepalang….

BAGUS, wahai juru cerita kami! Kau telah penuhi harapan kami, puji suara-suara, Jaelani memang harus menikmati hasil perjuangannya. Cerita yang menggetarkan, meski penuh liku. Ini baru adil! Mengharukan sekaligus menggembirakan. Akhirnya Jaelani merengkuh kebahagiaan hidup. Kami turut bahagia. Hore! Bravo!

Suara-suara sibuk berpesta pongah!

Sedang juru cerita kita, meski keletihan usai berminggu mengutati Jaelani, mencoba memanfaatkan kelengahan kubu suara. Ia pun bergegas menyempurnakan penutup cerita yang tertunda:

MEMANG, cita-cita Jaelani akhirnya terwujud. Ia tak henti-hentinya tertawa saat mengintai Naimah, anak-menantu, dan cecucunya tersayang di balik gerai tirai, persembunyian favorit mereka di rumah mewah itu. Tapi, ah, mengapa Jaelani kerap gagal memergoki mereka di sana? Entah. Ei, siapa itu perempuan yang selalu muncul dari punggung tirai, dan kemudian dengan kasar membekapkan pil ke mulut Jaelani, suaminya yang beberapa tahun belakangan gemar tertawa.

Medan, 2010

Hasan Al Banna lahir di Padangsidimpuan, 3 Desember 1978. Menyelesaikan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Bergiat di Sanggar Generasi, Medan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s