Cerpen Suara Merdeka – Cermin

Cerpen Suara Merdeka Minggu, 25 April 2010 | Bernard Batubara

Percakapan dengan Cermin I

DADANYA berdesir, Maila takjub melihat wajahnya sendiri di cermin. Serupa benar dengan wajah seorang putri, katanya dalam hati. Ya, kau memang cantik, Maila. Wajahnya tersipu mendengar pujian itu. Pipinya merona. Merah muda. Ia tersihir oleh bayangannya sendiri. Bayangan ketika ia masih berada pada masa empat puluh tahun lalu.

Wajahnya cerah, berseri-seri. Setengah terpana melihat kecantikannya sendiri. Rambutnya panjang, berwarna hitam kecokelatan, berkilat, bergelung seolah ombak. Dahinya licin. Matanya bulat, berbinar-binar. Hitam pekat seperti langit malam. Dikedip-kedipkannya matanya, hingga ia perhatikan bulu matanya yang tebal dan lentik. Tebal serupa alisnya yang melengkung menaungi sepasang matanya yang indah itu. Diturutkannya telunjuknya, dari hulu hingga muara alisnya. Cantik sekali dirimu, ia membatin.

Ya, kau memang cantik, Maila.

Hidungnya, ia melihat hidungnya. “Ah, hidung ini, hidung yang menyimpan aroma wangi surga.” Hidung yang bangir. Menyambungkan sepasang mata mutiara dengan bibirnya yang merekah dan seolah selalu basah. Disentuhnya bibirnya. “Bibir ini, tak pernah dijamah seorang pun pria.” Ia tersenyum.

Ya, kau memang cantik. Dan kau suci, Maila.

Ia melirik ke lehernya. Jenjang. Putih. Mulus. Harusnya ada bekas gigitan di sini, katanya sembari meraba sekujur leher yang bersih itu. Tidak, tidak ada bekas gigitan atau luka atau apa pun. Ya, cermin ini memang mengembalikan Maila kepada kesempurnaan. Di mana luka dan kenangan belum sempat memahatkan nodanya.

“Kenapa kau berbohong kepadaku?” air muka Maila tiba-tiba berubah.

Aku tidak berbohong, Maila.

“Ya, kau bohong!”

Tidak, Maila. Lihatlah, ini benar-benar dirimu. Cantik dan mempesona.

“Itu dulu!” Maila terisak.

Tidak. Tidak, Maila. Dulu, sekarang, dan nanti kau akan tetap seperti ini. Jelita.

“Apa maksudmu menunjukkan wajahku yang seperti ini?”

Memang beginilah dirimu, Maila. Tak pernah menjadi yang lain.

“Tidak! Aku sekarang sudah berbeda. Aku sudah tak cantik lagi seperti dulu. Aku tua! Buruk rupa dan tak berdaya!”

Kenapa kau bicara begitu, Maila?

“Begitulah kenyataannya!”

Pemuda Buruk Rupa

MAILA ingat sekali masa-masa ia masih menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Kembang desa, kata orang. Kecantikan Maila menyaingi rupa seorang putri bahkan dewi-dewi sekalipun. Caranya berjalan, berbicara, seakan memiliki daya magis untuk menarik perhatian orang dan membuat orang itu betah berlama-lama menatapnya. Tak ada lelaki yang tak menoleh dan terpahat matanya saat Maila berjalan mengitari pasar untuk berbelanja. Termasuk Wono, seorang pemuda biasa yang berjualan daging di pasar itu.

Wono, yang setiap pagi melihat Maila berputar-putar di pasar diam-diam menyimpan hati kepada dara jelita itu. Namun ia tahu diri untuk tak menyatakan perasaannya. Wajahnya yang buruk membuatnya tak pernah berani untuk sekadar berbicara dengan orang lain, apalah lagi dengan Maila. Wono tak mau gadis itu meneriakinya monster lalu pingsan tiba-tiba saat ia menunjukkan diri di depannya. Selama ini ia melayani pelanggan dengan menunduk-nunduk. Ia tak berani menatap. Sudah bertahun-tahun ia menyembunyikan wajahnya dari orang lain, sejak ia terkena kutukan yang berasal dari sebuah cermin.

Cermin itu diperoleh Wono dari mendiang ayahnya. Keluarganya sangat miskin dan ia mengerti kalau-kalau orangtuanya tak bisa mewariskan apa-apa kepadanya. Tapi ternyata di penghujung hayatnya, ayahnya memberikan selembar surat wasiat. Di dalam surat itu tertulis bahwa ayahnya telah mengubur sebuah cermin tua. Kelak saat ia menjemput ajal, cermin itu harus diserahkan kepada keturunannya. Karena Wono adalah anak semata wayang, jadilah ia yang menerima cermin itu.

Sebelum melihat cermin tua itu, Wono tak pernah sekalipun bercermin. Hingga ia tak menyadari bahwa ia sebenarnya adalah seorang pemuda yang rupawan. Namun, semenjak adanya cermin tersebut, Wono menjadi sering bercermin. Ia bahkan kerap menghabiskan waktu berjam-jam duduk atau berdiri di depan cermin itu. Mengagumi dirinya sendiri. Serta sesekali mengutuk orangtuanya, kenapa tak pernah menyadarkan dirinya bahwa ia memiliki wajah yang tampan.

Seiring waktu berjalan, Wono menjadi tergila-gila dengan wajahnya sendiri. Pagi, siang, sore, malam dihabiskannya hanya untuk bercermin. Kalaulah ia seorang perempuan pasti ia akan langsung jatuh cinta dengan lelaki di dalam cermin itu. Walaupun tanpa itu ia juga sudah mulai jatuh cinta pada dirinya sendiri.

Yang Wono tidak tahu, cermin tua peninggalan almarhum ayahnya itu ternyata dapat mengisap jiwa orang yang sedang bercermin di depannya. Jika terlalu sering atau terlalu lama seseorang bercermin, maka ia akan segera menjadi tua melebihi usia yang sebenarnya. Semenjak itu, Wono mengubur cermin tua tersebut dan tak pernah memakainya lagi. Tentu saja, setelah wajahnya berubah menjadi buruk akibat menghabiskan nyaris seluruh hari-harinya hanya untuk berada di depan cermin.

“Wono, Wono….”

Wono terperanjat. Seorang gadis melambai-lambai di mukanya. Ternyata Maila.

“Melamun saja….”

Gadis itu tersenyum nakal.

“Ah, ada apa, Nona?” Wono salah tingkah.

“Bisa kamu bungkuskan daging sapi itu untukku?”

“Oh, tentu saja, Nona.”

“Ah, panggil saja Maila.”

“Ba-baik, Nona Maila.”

Maila tersenyum saja. Sedikit geli dan heran melihat tingkah laku Wono. Ia menunduk sedikit, mencoba untuk melihat wajah Wono yang sedari tadi ditutup-tutupinya. Namun Wono selalu menghindar.

“Ini, Nona. Ee maksud saya… Maila.” Wono menyerahkan bungkusan hitam kepada Maila.

“Terima kasih.”

Maila berlalu. Wono mendengar tawa Maila yang renyah saat gadis itu berbalik dan meninggalkan tempat dagangannya. Harum tubuhnya mengapung di udara. Membuat Wono memejamkan mata, menghirupnya seperti menghirup aroma bunga paling wangi di dunia.

Sayembara Cermin

SEBAGAI wanita, Maila tentu menyadari akan kecantikannya. Ia ingin semua orang tahu dan melihat, serta mengakui bahwa ia adalah wanita tercantik yang pernah ada. Tak hanya orang, ia juga ingin semua cermin yang ada di dunia melihat wajahnya yang jelita. Maka pada suatu hari ia membuat sebuah pengumuman, bahwa ia akan membeli seluruh cermin yang ada di tempat tinggalnya tersebut.

Maila juga menambahkan di pengumuman tersebut, akan memberi apa pun kepada pemilik cermin yang cerminnya dapat memantulkan bayangan lebih cantik dari wujud asli dirinya. Maka, jadilah sebuah sayembara cermin.

Berita itu pun dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok desa. Orang-orang berbondong-bondong mendatangi Maila sambil membawa cermin. Bermacam-macam bentuk dan ukuran cermin yang diterima Maila. Mulai dari yang seukuran telapak tangan hingga yang sebesar setengah dinding kamar. Dari yang berbingkai kayu dengan ukiran-ukiran yang unik dan indah hingga yang hanya berupa pecahan sekadarnya saja.

Wono, yang juga mendengar perihal sayembara itu, memutuskan untuk membawa cermin tua peninggalan almarhum ayahnya. Lagipula cermin ini sudah tak ada gunanya untukku, katanya. Ia pun menggali lagi tempat ia pernah mengubur cermin tersebut. Ia bersihkan tanah dan kotoran yang menempel di cermin dan di bingkainya. Ia cuci lalu ia keringkan dengan mengelapnya. Cermin itu pun kembali seperti kali pertama ia menerima dari almarhum ayahnya. Cantik, anggun, dan terlihat mahal.

Wono mendatangi Maila dengan membawa cermin tua tersebut.

“Nona, maaf… maksud saya, Maila. Saya dengar tentang sayembara itu, dan saya datang membawa cermin ini.”

“Ah, kamu rupanya.”

Maila tersenyum lebar.

Percakapan dengan Cermin II

“Siapa kamu?”

Kau.

“Ah, cantik sekali….”

Tentu saja. Kau memang cantik.

“Tidak, kamu lebih cantik dariku!”

Begitukah?

“Ya. Kulitmu lebih mulus, matamu lebih indah, rambutmu lebih berkilau, alismu lebih pekat, hidungmu lebih… bibirmu… Ahh, bagaimana bisa?”

Tanyalah kepada lelaki yang telah membawaku kepadamu.

“Pemuda buruk rupa itu?”

Ya. Dan jangan lupa, kau berjanji memberikan apapun kepada siapa saja yang bisa membawakan kepadamu cermin yang dapat memantulkan bayanganmu lebih cantik dari dirimu sendiri.

“Ah, tentu saja. Besok akan kutemui pemuda itu.”

Permintaan

Wono tengah melayani pesanan seorang pelanggan ketika Maila datang menghampirinya. Ia terkejut hingga pisau pemotong dagingnya terlepas dari tangannya. Maila tertawa kecil.

“Kamu selalu terkejut saat melihatku. Kenapa?”

“Ti-tidak….”

“He?” Maila mengusili Wono dengan merundukkan kepalanya dan berusaha menguak wajah Wono.

“Tidak, Anda hanya… cantik.”

Maila tersenyum, hingga giginya yang putih dan rata terlihat.

“Aku ingin mengabulkan semua permintaanmu.”

Wono terkejut. Nyaris pisau pemotong dagingnya terpeleset lagi dari genggamannya.

“Mari, kita ke rumahku.”

Maila meraih tangan Wono. Pemuda itu tak mengerti bagaimana meredam debaran dada yang hampir membuatnya tak mampu berdiri tegap. Ia biarkan saja tubuhnya dibawa Maila. Dibawa harum bunga-bunga yang menguar dari tubuh gadis pujaannya itu.

“Sekarang, katakanlah keinginanmu,” kata Maila, menatap Wono lekat-lekat.

Wono terdiam. Ia hanya menundukkan kepala sembari mencoba mengendalikan diri. Kamar Maila begitu wangi. Entah darimana asal wangi itu. Ia serasa berada di taman bunga-bunga dan sekuntum yang paling mekar dan indah ada di depan matanya.

Maila menggenggam tangannya.

“Kenapa kamu tak mau melihatku?” Maila meraih dagu Wono, menariknya hingga pemuda itu menghadap wajahnya.

“Jangan!”

Maila terkejut melihat wajah Wono. Tubuhnya yang kekar dan tegap menunjukkan usianya yang kira-kira belumlah genap 30 tahun tapi keadaan wajahnya menunjukkan bahwa ia sudah berusia 70 tahun. Maila seperti melihat kakeknya sendiri, mungkin kakek buyutnya. Selain terlihat tua, Wono juga tak ubahnya sesosok monster bagi Maila. Gadis itu bergidik. Namun ia masih ingat akan janjinya.

“Cerminmu ternyata memantulkan bayangan yang lebih cantik dari diriku sendiri. Maka sekarang, ucapkanlah kepadaku, apa permintaanmu?”

Wono terpaku. Tak bisa diucapkannya sepatah kata pun melihat Maila berdiri di depannya. Hingga setelah beberapa menit penuh kebisuan, pemuda buruk rupa itu tercengang ketika Maila perlahan membuka pakaiannya. Dari atas hingga bawah. Dari bagian luar hingga yang paling dalam. Gadis itu kemudian menarik tangan Wono dengan lembut. Ia duduk dan berbaring di atas ranjang. Berikutnya hanya desah dan lenguh pada malam yang panjang.

Percakapan dengan Cermin III

“KENAPA kau bunuh dia?”

Aku tidak melakukannya. Kau yang melakukannya.

“Tidak! Aku hanya mengabulkan permintaannya. Aku hanya menepati janjiku!”

Kau menyerahkan jiwamu.

“Apa maksudmu?”

Malam itu ketika kalian bercinta dengan penuh hasrat, sebagian auramu merasuk ke dalam tubuh pemuda itu. Ia tak kuat menampungnya sebab jiwanya sudah terserap nyaris seluruhnya olehku. Jiwanya sudah rusak. Dan kau membuatnya kian parah.

“Karena itu dia terlihat tua?”

Karena itu dia kehilangan nyawa.

“Lalu apa yang kau lakukan terhadapku?!”

Mengisap jiwamu, tentu saja….

“Kenapa?! Semua laki-laki tak ada lagi yang sudi mendekatiku. Bahkan untuk melihatku saja tidak. Mereka hanya melirik dengan tatapan yang aneh dan menjaga jarak denganku. Seakan aku ini seorang monster!”

Tidak. Kau bukan monster Maila. Kau seorang gadis yang jelita.

“Bohong!! Hanya bayanganku yang cantik. Hanya jiwaku yang terperangkap dalam dirimu!”

Kau cantik Maila. Dengan atau tanpa bayangan. Dengan atau tanpa cermin.

Dengan atau tanpa cermin….

Dengan atau tanpa cermin….

Maila memukul cermin itu dengan keras hingga pecah. Tangannya berdarah. Ia mengambil pecahan kaca, lalu menggoreskannya ke pipi, kemudian ke sekujur wajahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s