Cerpen Suara Merdeka – Kisah-kisah yang Pendek

Cerpen Suara Merdeka Minggu, 18 April 2010 | Alex R Nainggolan

Rumah

SEDARI dulu, ia ingin tinggal di rumah saja. Menata beranda, membuat kolam kecil, taman kecil, atau beberapa rencana kecil lainnya. Tapi selalu saja ia diburu waktu. Tiba-tiba hari tumbuh dengan cepat. Pagi ke malam.

Ia cuma sempat istirahat. Membuang penat. Membuang jengkel. Lalu ia ingat seorang perempuan berbaju ungu —yang menuntun lengannya. Pada suatu waktu.

Perempuan Berbaju Ungu

Perempuan berbaju ungu itu datang padanya saat hujan baru saja berhenti dan dengan segera berubah menjadi gerimis. Gerimis yang ritmis. Gerimis yang magis. Ia tak menangis. Perempuan yang berpita ungu itu terus menyeret tubuhnya yang telah terikat belukar. Ilalang panjang tumbuh menutupi jalan pulang.

“Dirinya harus pulang. Ibu, bapak, dan adik-adikmu telah menantimu,” kata perempuan itu. Mengapa ia berbaju ungu? Ditampar pipinya dengan telapak tangan perempuan itu. Ia tak menangis. Diguncangkan bahunya. “Kau lelaki! Ingat! Kau adalah seorang lelaki!” hardiknya.

Ungu? Bukankah itu warna janda? Tapi ia tak menemukan tanda-tanda kesepian pada perempuan itu. Barangkali ia diturunkan sebagai bidadari. Setelah itu, tak lama dituntun dirinya menelup ke dalam gerimis. Gerimis yang ritmis. Gerimis yang magis. Dan, ia tak menangis. Kini ia berada di sebuah jalan yang ujungnya berlempeng cahaya.

Berbentuk sebuah rumah.

Pintu

Semestinya, ia mengucapkan salam. Ketika masuk ke rumah. Tapi pintu terkuak begitu saja. Cahaya matahari rendah. Angin ngeloyor masuk. Ah, di mana pelajaran masa kecil dulu? Ia masuk begitu saja. Aneh juga. Mengapa mesti ada pintu? Mengapa ada batas?

Terkadang pula, ia mendapati pintu itu terkunci. Sialnya, ia kerapkali lupa untuk membawa kunci. Padahal sudah berulangkali ia membuat duplikat kuncinya. Namun selalu saja tertinggal.

Pagar Besi

Di besi dingin itu angin malam menahan kantuk. Ia tersuruk membuka gemboknya. Selalu saja sebagaimana dengan pintu ada yang terkunci. Ada batas di sana. Di besi itu, ia memandang ke dalam pagar. Sejumlah ingatan kembali gentayangan di sana.

“Halo, ada orang di dalam?” ia bertanya meskipun ia tahu bahwa ia yang membuka pagar. Sudah barang tentu tak ada orang di sana. “Tunggu sebentar, saya sedang keluar.” [1]

Interior Kamar

Maka dipanteknya foto mereka berdua. Begitu hangat. Begitu mesra. Ia dan istri. Ia selalu sembunyi di dalam foto itu. Menghitung-hitung masa lalu. Pun kenangan yang sekejap merapat.

Kini di kamar itu tertidur dua putri mereka. Tumpukan boneka yang berupa. Doraemon, singa, anjing, panda, juga si Kumbang. Entah kapan ia pernah membelinya. Entah di mana ia membelinya. Aneh! Bahkan untuk hal-hal kecil semacam membeli boneka ia kerap lupa. Sebenarnya di mana letak ingatan?

Kepala

Ia ingin mengobrak-abrik isi kepalanya. Menyiletnya. Sehingga ia temukan dengan jelas letak ingatan. Ah, betapa ia tak pernah bisa. Kundera juga bilang kekuasaan terbesar ialah melawan lupa.

Buku-Buku Puisi

Barangkali sudah terlalu lama ia keranjingan dengan puisi, sehingga buku-buku puisi itu bertumpuk. Memang sesekali ia meraihnya. Membaca ulang. Ah, ia merasa dirinya ada di sana.

Di antara rangkaian kalimat. Hamparan diksi yang sunyi. Ia merasa dadanya bergemuruh. Tapi tetap saja buku-buku puisi itu terserak di situ. Di selasar kamar, acapkali enggan dirapikan.

Sekejap ia ingat beberapa nama penyair. Juga julukannya. Ada penyair hujan, presiden penyair, penyair sentimentil, penyair malu-malu kucing, penyair bir. Dan ia mabuk lagi. Ia kembali rebah di tumpukan buku puisi itu.

Penyair Bergigi Kuning

Rambutnya panjang. Giginya kuning. Ditulisnya puisi. Dibacakannya di panggung. Gigi yang kuning. Mulut yang beraroma bir. Dan ia lenyap dalam sesaji. Tidak menjadi gosip di televisi.

“Barangkali ia tak sempat gosok gigi,” seloroh orang-orang.

“Berapa lama?”

“Bertahun-tahun.”

“Dari kecil?”

“Sejak ia akrab dengan puisi!”

“Gila!”

“Iya, sinting!”

Ya, bertahun-tahun ia kumpulkan kata-kata. Hingga giginya menguning.

Tiga Buah Handphone

Mengapa ia mesti memiliki tiga buah handphone? Padahal ia merasa hanya sedikit memiliki kerabat, sahabat, atau rekanan bisnis. Dan ia selalu menyalakan ketiga handphone itu. Memeriksa pesan-pesan yang masuk, meskipun hanya dari operatornya sendiri.

Ia ingin menghubungi seseorang. Yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Mungkin masih bisa berkisah tentang sedikit kebahagiaan, atau sedikit kesedihan. Kesedihan? Duh, berapa lama kata itu menghilang dari kepalanya. Barangkali sudah terlalu sering ia merasakannya.

Televisi

Televisi masih saja menyala. Sudah jam dua malam. Isinya cuma kuis dengan presenter yang berbaju seksi. Pagi-pagi juga menyala lagi. Berita-berita terdengar hambar. Sore hari isinya gosip selebriti. Malamnya berisi sinetron. Semuanya terasa seperti dagelan.

Cap-cip-cup. Orang ramai berdebat di layar televisi. Ada yang pasang muka serius. Ada yang pasang senyum. Ada yang manggut-manggut. Omong-omong tinggal kosong.

Anehnya ia tak tertawa untuk itu.

Doa Malam

Sudah terlalu lama ia tidak berdoa malam-malam. Mungkin itu pulalah yang membuat dirinya menderita insomnia. Terjaga semalaman. Dengan pikiran-pikiran yang terus berkecambah di kepalanya. Padahal ia telah mematikan televisi. Mematikan lelampu.

Dan, busyet! Ia terlelap begitu saja. Sudah pagi sebenarnya. Dihantui mimpi buruk yang menguntitnya. Hingga ia terbangun dengan sekujur tubuh penuh peluh.

Tentang Peluh

Mengapa peluh selalu tumbuh di tubuhnya? Padahal ia baru saja mandi. Sudah keringatan lagi. Hingga baju yang dikenakannya kerap berbau apek. Penuh peluh. Untung juga, dibanding penuh teluh!

Tapi ia teringat, puisi seorang penyair: jangan kausemprotkan parfum pada baju-baju itu. Sudah lalu. Aku tak mau kehilangan bau keringatku sendiri. Ia netes dari pori. Nyata dan sejati. Bahkan lebih abadi dari sinar matahari. [2]

Sungguh, ia ingin mengulang ritual lamanya. Berdoa sebelum tidur! (*)

Jakarta, Maret 2009

Catatan:

[1] diambil dari lirik puisi Sapardi Djoko Damono

[2] diambil dari lirik puisi Iswadi Pratama, “Sajak dalam Kamar”, termuat kembali di kumpulan puisi Gema Secuil Batu, dengan judul “Pulang”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s