Cerpen Koran Tempo – Cerita Kecil tentang Pohon dan Belukar Masa Kecilku

Cerpen Koran Tempo Minggu, 11 April 2010 | Raudal Tanjung Banua

CERITA ini bermula ketika aku berangkat ke suatu tempat, dan dari kaca bus yang terbuka kulihat sebatang pohon menyendiri di tengah keluasan padang. Pemandangan sekilas itu, entah mengapa, seketika membawa bus yang kutumpangi seakan berjalan ke belakang, melewati pohon-pohon dan belukar masa kecilku. Masa ketika mataku masih setengah terpejam, belum banyak melihat apa yang ada di balik tempurung kampung. Ketika kini sengaja kubuka mata, aku justru terhantar ke sebatang pohon kayu putih di keluasan padang gembala, di mana diriku dan kawan-kawan penggembala terasa kekal di sana.

Di bawahnya kami bermain bola dari sabut kelapa, menunggui kerbau memamah rumput dan gelagah. Bila bosan, kami memanjat batangnya yang ramping, mengedar pandang berkeliling. Kami menampak hamparan belukar sampai ke tepi rawa berumput hijau. Tak jarang belukar muda jadi santapan kerbau juga, membuatnya bergoyang-goyang direnggutkan sedang kerbaunya tidak kelihatan. Persis permadani digerakkan tangan-tangan gaib. Di kejauhan, kami lihat bagian dapur rumah-rumah di perkampungan, asap yang ramping dan suara-suara dibawa angin terdengar sayup. Nun di balik rawa, ada kampung sebelah, dekat sebenarnya, tapi karena terpisah hutan kayu basung, ia terasa di sebalik gunung. Menjelang sore, bayang-bayang kayu putih memanjang ditimpa matahari. Ketika matahari menyepuh belukar, bayang-bayang itu pun kian runduk sampai akhirnya jatuh bersujud ke tanah. Itu pertanda kami mengumpulkan kerbau gembalaan, bersiap pulang ke tiang pancang.

Kayu putih kami kulitnya memang putih, dan selebihnya kami tak tahu. Kami hanya tahu nama-nama pohon berdasarkan kesepakatan kami belaka. Ada pohon angka dua karena lengkung serupa angka 2, kelapa condong karena batangnya condong; lantas kelapa tiga batang, pohon kayu meja, cempedak gempal, kweni masam, kedondong bungkuk, nibung serumpun, duad bolong, dan banyak lagi yang kulupa. Kami memberi sendiri nama pohon di semesta kecil kami, bebas, murni. Orang lain belum tentu paham. Dan itulah yang terjadi.

Suatu hari aku singgah di warung Pak Mirus membeli roti. Lelaki berkeringat masam itu bertanya padaku, “Di mana kau dapat uang? Kalau dari ibumu, sampaikan pesanku padanya, utangnya segera lunasi. Pakai telur itik tak apa.”

“Aku dapat sendiri,” jawabku kesal, “Aku habis menjual kayu putih.” Aku tak bohong, sebab aku baru saja membuat dua tangkai ketapel dari ranting kayu putih kami, lalu kujual kepada Uci dan Uli, dua anak kembar kesayangan neneknya. Tapi di luar dugaan Pak Mirus mendelik. “Aha, jangan jual ke orang lain, kau bawa ke sini, Buyung! Kita suling sendiri pakai penyuling nilam! Kapan lagi kau menyenangkan ibumu? Bawa ke mari, jika cocok maka hutang ibumu kucoret! Kalau sisa, kau bisa tambah roti.”

Hari itu, segeralah aku membahagiakan ibu. Kututuh ranting dan sebagian dahan kayu putih kami. Kawan-kawanku heran, bahkan Ujang Meren sempat marah, sebelum akhirnya kubujuk bahwa sebentar lagi kami akan pesta roti marie. Dengan bantuan mereka, sore hari seonggok daun dan ranting kayu putih memenuhi teras warung Pak Mirus. Sebelum pesta roti, Pak Mirus mencium daunan dengan teliti, lalu wajah tirusnya berubah selebar semesta,“Khalera, ini tak bisa disuling! Ini kayu sampah!” O, tentu saja karena apa yang kami sebut kayu putih ternyata bukanlah jenis pohon yang minyaknya bisa disuling buat obat gosok. Kali ini Pak Mirus salah menggosok lampu keberuntungannya!

Begitulah, kami tak peduli nama, apalagi menyangkut untung-laba. Sebatang pohon jawi-jawi, kami sebut pohon kayu meja tak lebih karena dahan-dahannya pipih dan lebar, seperti meja. Di atasnya kami bermain dan tidur-tiduran, tanpa takut ular meski sering kami lihat selongsongnya tertinggal di ranting dan belitan akar. Sebagian selongsong itu putih mengering, sebagian masih basah pertanda ularnya baru berganti kulit. Tanpa takut, kami berebut merimuknya seperti kerupuk.

Apa yang membuat kami meninggalkan pohon meja kenangan itu ialah cerita pamanku, Paman Untung. Dulu, katanya, di bawah pohon itu Pak Gaek Sani (bekas pemilik banyak kerbau di kampungku) menambatkan kerbau-kerbaunya bila malam. Namun di pohon itu ada iblis yang bertugas menggoda Pak Sani supaya tidak mengeluarkan zakat ternak. Godaan itu berhasil, sampai kerbau beranak-pinak, tak sekalipun Pak Sani mengeluarkan zakat. Sampai suatu hari, Tuhan mengirim hujan dan petir, menghajar si iblis laknat!

“Kata ibuku, iblis tak pernah mati!” protes Uman, sahabat kami.

“Tentu saja. Aku tak bilang iblisnya mati. Yang mati adalah kerbau Pak Sani, besar-kecil bergelimpangan, hangus. Bahkan rumput dan dahan pohon yang basah oleh hujan ikut terbakar. Sejak itulah Pak Sani jatuh miskin.”

Kami mengucap nama Tuhan. Takut dan ngeri. Sejak itu kami tak pernah lagi mendekati pohon jawi-jawi yang bertahun sudah kami akrabi. Tanpa anak gembala, kau tahu, sebatang pohon di tengah padang serupa rumah yang ditinggalkan; semak merimba, bahkan rumput-rumput yang jinak pun meninggi mengepungnya. Kehidupan berubah liar. Burung-burung lebih seenaknya membuang kotoran, ular beludak berkembang-biak, berang-berang yang habis berpesta ikan mendayaukan kotoran di bawahnya. Ketika sesekali lewat mencari kerbau, kami lihat kotoran berang-berang mematikan rumput berdepa-depa, membuat kami takut terbayang rumput yang terbakar petir. Yang paling mengejutkan, suatu hari, Isul Karnedi, sahabat kami lari terbirit-birit di tengah padang dan berteriak, “Iblis! Iblis!”

“Mengucap, Sul, mengucap,” Uman menenangkan.

Isul menggigil, mengucap nama Tuhan.

“Nah, apa yang kau lihat?” tanyaku.

“Iblis! Rambut panjang, gigi taringnya berlapis. Hanya sekilas, ia cepat menghilang.”

“Ke mana?”

“Terbang?”

“Menguap?”

“Kau lihat ada yang berasap?”

Isul menggeleng. “Dia masuk ke balik dahan meja tempat kita biasa tidur-tiduran.”

“Ayo kita lihat!” ajak Ujang Meren mantap. Ia memang paling berani di antara kami. Kami memberanikan diri ke sana. Tapi tak ada apa-apa, tak ada siapa-siapa. Rasa penasaran, gemas dan takut campur-aduk dalam diriku, membuatku nekad melemparkan segumpal lumpur kering ke pohon itu!

“Kudal, kau bisa sakit!” Uman dan Ujang berteriak tertahan. Seperti tersadar, Isul mengulang, “Kau bisa sakit!” Dan tanpa disangka, terdengar suara dari atas pohon, besar, bergema: “Siapa yang melempar tempat tinggalku, aku bikin sakit!”

Aku pucat. Uman, teman kami paling taat coba menawar, “Wahai orang halus penghuni pohon, siapa pun angkau, iblis, jumbalang atau syaiton, kami tak sengaja. Kami minta maaf.” Lalu ia baca ayat yang ia hapal, kemudian berucap “Hu!”

“Kami khilaf Bapak Iblis,” Ujang Meren ikut menimpali.

“Kami ndak bermaksud buruk orang halus,” aku menambah.

“Tunggingkan pantatmu ke arah matahari terbit! Hadapkan kepalamu padaku, begitu caranya minta maaf, hahaha….”

Kami semua merundukkan kepala, membalikkan badan perlahan-lahan, lalu serentak berlari sekencang-kencangnya! Besoknya aku benar-benar sakit, dan hampir bersamaan dengan itu Paman Untung dipasung di rumah gadang.

“Kenapa?” tanyaku dalam demam.

“Sudah gila dia! Dia bertapa di atas pohon, mau menuntut kesaktian pada iblis penghuni pohon. Entah pohon mana,” ibuku menjelaskan. Perutku mual dan aku muntah-muntah.

Ketika Paman Untung sudah sembuh (sebagian orang menganggap ia masih kambuh), ia bercerita padaku, “Benar, paman tolol betul ketika itu. Tapi, kupikir tidak juga. Alasannya jelas: jika iblis tercipta dari api, maka petir tak lain energi yang membuatnya tambah sakti. Jadi aku putuskan ke sana, daripada kalian kecipratan kesaktian sebelum masanya, bisa gawat. Kalian kan belum ada yang tamat kaji. Belum tuntas tarikat-makrifatnya, hahaha….”

***

MASIH dari padang gembala. Jika kerbau kami hilang, kami memantaunya dari pohon kedondong besar yang getahnya meleleh dan mengeras lalu menggantung seperti tali-tali kristal yang memanjang. Untuk menghindari kristal-kristal itu, kami memanjatnya tidak dari pokok pohon, tapi dari dahannya yang kami tarik hingga melengkung. Kedondong memang lentur, tak mudah patah, tapi gampang tumbuh dan karenanya orang kampung memilihnya jadi pancang pagar. Di atas kedondong itulah kami mencari-cari di mana gerangan belukar bergoyangan; atau, kalau untung, kami langsung melihat punggung kerbau yang hitam menyumbul di semak-semak. Maka kami tinggal berteriak dari ketinggian, “Di sana, di bawah kelapa condong!” Kami bergegas ke sana, dan sialnya, sekali waktu, yang kami temukan bukan kerbau yang dicari, tapi gerombolan babi. Karena sama terkejut, baik kami maupun babi, sama lari membabi-buta!

Di jalan ke rawa, ada sebatang pohon laban. Kami menyebutnya “laban sisir” sebab setiap kerbau yang lewat selalu menggosokkan badannya di sana. Akibatnya, kulit dan bahkan sebagian batang laban itu terkelupas. Bayangkan, betapa kuat pula kulit kerbau yang melintas; pohon laban, yang terkenal paling keras di kampungku, jadi genting dibuatnya. Jika kau punya mimpi, berusahalah, sekecil apa pun pasti membekas, kata petuah. Lihat air menetes di batu, pelan dan pasti, batu itu jadi cekung. Tapi kami dapat perumpamaan baru dari pohon laban yang perlahan menyerahkan kulitnya pada kulit kerbau itu!

Tapi mungkin karena kulit keduanya sama-sama keras, perumpamaan itu jadi terasa bermata dua. Betapa tidak. Ia membawa kami pada cerita lama yang sengaja dilupakan sebab amanatnya dianggap kurang bagus: cerita Bujang Jibun. Mulanya Jibun kaya-raya. Sampai-sampai ada punggung bukit yang genting, bahkan putus, karena setiap hari dilewati gerombolan kerbaunya; tempat itu kini dinamai bukit putus. Tapi Jibun suka berjudi, lalu banyak hutang. Jika ada penagih hutang datang, ia sambut dengan meniup seruling. Kepandaiannya memainkan buluh perindu itu membuat si penagih hutang tertidur, lemah jiwa raganya sehingga tak sanggup ia meminta piutang.

Begitu bertahun-tahun, berkali-kali, sampai Bujang Jibun bosan sendiri. Ia akhirnya membuang serulingnya ke sebuah lubuk, lalu menyusul terjun. Di tempat ia terjun itu tumbuh sebuah batu, persis menyerupai Jibun. Kepalanya menyumbul dari air yang berpusar. Tentu kami tidak pernah melihat batu Jibun, sebab konon kepalanya patah tertumbuk rakit sehingga yang tertinggal hanya bagian badannya, di dalam lubuk. Kalau air sungai surut, kita bisa melihat bagian tubuh Jibun, kata orang; tapi tiap kali kami tunggu air surut, pemandangan ajaib itu tak pernah ada. Kami hanya melihat gerumbul belukar bergoyangan terus dibasuh arus. Akhirnya kami lebih tertarik pada seruling Jibun. Sebagai gembala kami punya cukup waktu membayangkan diri sebagai Jibun yang berseruling di bawah pohon-pohon perlindungan kami. Akibat terlalu asyik, kerbau kami luput dari perhatian. Pernah kerbau kami hilang, ikut rombongan kerbau lain ke kampung sebelah. Tapi yang lebih parah, suatu hari kerbau kami menyeberang ke sawah orang, memakan berpetak-petak padi yang hampir terbit!

Hari itu, tiga orang petani mengamuk ke rumah kami. Aku tidak tahu bagaimana orang tua kami mengganti kerugian. Orang tua kami juga petani, pastilah sukar menilai padi bunting dengan uang atau apa pun. Entah bagaimana penyelesaiannya. Yang masih kuingat, kulitku seakan masih merasakan perih lecutan ranting keduduk yang dipatahkan ayah dari belukar tepi sumur, dan mencambukku tanpa ampun. Aku mungkin lebih baik. Kudengar Isul dipulun ibunya sampai nyaris habis nafas dan Ujang diikat di pohon dadap penuh semut merah. Hanya Uman yang tidak diapa-apakan oleh orang tuanya, sebab mereka percaya itu takdir Tuhan. Setelah itu, aku dimandikan ibu. Dua hari kemudian, kami sudah bisa saling menganggu. Kataku, “Kita dikutuk seruling Jibun!”

“Iya, untung tak dikutuk jadi pucuk keduduk,” kata Ujang.

“Masih untung. Kalau dikutuk jadi batu di pohon dadap, bagaimana? Sudah berduri bersemut pula,” kataku. Ujang mendekatiku. Sakit di tubuhnya pasti belum hilang sehingga membuatnya cepat meradang. Kami siap bertinju.

“Sudah, sudah,” kata Uman. “Tak ada yang salah. Kata ibuku, ini kehendak Tuhan. Kita hanya terbalik: harusnya kita bukan Jibun, tapi penagih hutang yang meminta uangnya. Kata ibuku, jangan senang jadi orang berutang sebab orang berutang miskin selamanya.”

“Tapi Jibun dulu kaya. Orang-orang itu memberinya hutang banyak-banyak….”

“Karena ia tamak, ingin lebih kaya lewat judi!” Uman meninggi.

“Kalau begitu, judi yang membuatnya sengsara,” Isul menyimpulkan.

***

MENGENANG lagi pohon-pohon dan belukar masa kecilku, ternyata banyak buah kisah yang dapat kupetik. Manis, penuh gelak-tawa. Tentu ada pula yang pahit dan getir. Demikianlah, ketika bus yang membawaku kini melintasi perbukitan, aku tertunduk menyaksikan sebatang pohon besar di lekuk lembah. Pohon berdaun jarang itu, mengantarku ke belakang rumah, ke sebatang pohon sitinjau laut yang tinggi menjulang. Aku selalu mengingatnya karena di sana aku melihat seekor burung elang merobek-robek induk ayam yang ia sambar dari kesunyian kampung. Ayam itu menggelepar, bulu-bulunya berhamburan dari ketinggian, jatuh melayang ke bumi yang diam. Aku terpaku, lumpuh. Lama. Aku baru tersadar mendengar ciap-ciap anak ayam sembunyi di semak-semak. Pembunuhan berlangsung di udara yang lengang, di atas Dukuh Paruk, begitu kalimat sebuah novel yang kubaca bertahun kemudian; dan itu sejatinya juga terjadi di kesenyapan kampungku.

Masih ada “pembunuhan” lain, mengandung tangis. Ketika itu, kami punya pohon manggis tempat kami memanjat sampai ke cabang-cabang yang terjauh. Di sampingnya jambu dan ambacang rimbun, agak rapat, sehingga kami bisa loncat berpindah pohon, tanpa turun. Ada juga sarang semut dari tanah, tinggi merah seperti kubah, sedang kami amsal bukit kecil, bebas dipanjat dan dipeluk. Kami betah bermain membayangkannya jadi apa saja. Namun kami kehilangan itu semua. Entah tahun keberapa, pemilik tanah, Gaek Ikal, memaksa cucunya yang yatim-piatu jadi istri kesekian juragan kapal ikan. Konon, syaratnya rumah kayu yang mereka tempati diganti. Tak terhindarkan, pohon-pohon ditebangi, sarang semut kami digerus. Sebuah rumah batu berdiri di situ. Dan aku, bekas teman bermain Desi, cucu asuhan Gaek Ikal, hanya boleh melirik perempuan itu berdiri di penutu, jika sesekali lalu. Tapi lebih sering kulihat sang nenek yang kuasa menghamburkan air sirihnya. Kehilangan pohon manggis, jambu dan ambacang, kurasa sama dengan kehilangan Desi. Perihnya hanya bisa kugambarkan dengan air sirih yang merah lantas mengering. Dan ketika kulihat perut Desi menggembung, aku terbayang bukit kecil kami yang tak mungkin lagi bisa disentuh.

Kami pun tak bisa leluasa menyentuh sehampar belukar menakutkan seolah dunia asing di bagian lain kampungku, arah ke pantai. Itulah bentangan rawa raya, penuh rumput banto, bakung, dan sagu. Sorga bagi ular dan lintah. Paling mengerikan adalah pohon angeh; jangankan kena getahnya, kena bayangnya saja kulitmu akan gatal melepuh. Tapi perempuan pencari kayu, termasuk ibuku, bisa menundukkannya entah dengan cara apa. Di sana juga ada sebatang sukun atau keluwih terlantar, tempat bertengger burung bubut pemanggil hujan. Pohon tarab berdaun lebar, memeram suara burung hantu malam-malam. Lalu, pohon cempedak dan cengkeh yang dahannya melengkung aneh seperti salah tempat tumbuh. Kadang kupikir, belukar dan pohon terlantar itu memisahkan kami dengan dunia. Betapa tidak. Untuk ke pantai, kami takut menembusnya, dan mesti memutar jauh ke muara. Ia menutup pandangan kami dengan laut. Gedebur ombak terasa sayup, jauh tersembunyi di balik tirai alam liar. Begitu pula di bagian kampung arah ke bukit, tumbuh subur semak karimuntiang, rengsam, keduduk, panai dan entah apalagi. Ia tumbuh rapat sejajar, susah ditembus sebagai jalan pintas ke lain kampung. Jarak terasa jauh, ruang mengungkung, dan dunia terasa alangkah besarnya. Sampai akhirnya masanya tiba: rawa itu kedatangan orang-orang proyek. Mereka mengeduk sungai-sungai kecil yang mampet di situ, menyatukannya dalam sebuah tali bandar, lalu mengalirkannya ke muara sungai besar di selatan kampung. Sejak itu, sedikit demi sedikit sawah-sawah diteruka. Laut yang selama bertahun-tahun hanya kami dengar gemanya, terbuka cerlang di depan mata!

Sementara itu, entah pada usia berapa dari masa kecilku, pada suatu musim kemarau, belukar lebat di belakang rumah kami terbakar. Hanya dalam waktu semalam suntuk, api merah saga menghabiskan belukar sakti kampung kami. Paginya, ketika hendak berangkat sekolah, aku mendapatkan dunia baru diliputi debu dan abu, dan aku gugup menatapnya. Ada yang terasa hilang, entah apa. Sampai kini pun! Ya, ketika kini bus menurunkanku di kaki Meratus, kudapatkan sebatang cempedak hutan berlubang digirik kumbang, lapuk sendiri di tengah belukar bekas terbakar. Tapi kulihat tunas-tunas baru tumbuh, seperti kenangan masa kecilku yang memunculkan lambang-lambang baru!

Rumahlebah Yogya-Meratus

Kandangan, 2009-2010

Raudal Tanjung Banua mengelola Komunitas Rumahlebah dan Jurnal Cerpen Indonesia di Yogyakarta. Buku cerita pendeknya, antara lain, Parang Tak Berulu (Gramedia Pustaka Utama, 2005).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s