Cerpen Suara Merdeka – Pengakuan (Setelah Penyaliban)

Cerpen Suara Merdeka Minggu, 4 April 2010 | Wendoko

1.

Pengakuan Kayafas

AKU, Kayafas —Imam Agung Yahudi—yang mengatur agar Kristus dihukum mati. Aku tekankan sekali lagi, aku yang telah mengatur agar Kristus dihukum mati!

Selama ini, orang selalu menganggap remeh kekuasaan Imam Agung. Kalian tentu tahu, dalam hierarki kekuasaan akulah pemimpin tertinggi bangsa Yahudi. Tetapi faktanya, justru orang-orang Roma dan Herodes yang memainkan peranan. Mereka yang mengangkat, menempatkan, atau memindahkan Imam-imam Agung. Mereka yang mengatur pemerintahan, sedangkan aku —maksudku aku dan Mahkamah Agama—hanya mengurus soal keagamaan dan tak lebih dari pemerintahan boneka saja. Aku bahkan tak punya kuasa mengatur pakaian-pakaian liturgi yang saat ini tersimpan di sebuah bilik di Puri Antonia. Tetapi kalian akan lihat, aku —si “penguasa boneka”—yang akhirnya mengatur agar Kristus dihukum mati!

Pada mulanya aku tak begitu memedulikan orang yang dipanggil Kristus itu. Di daerah ini banyak berkeliaran orang-orang “saleh”, karena itu kehadiran Kristus mulanya tidak mencolok. Lalu laporan tentang orang ini sampai padaku, dan aku sadar orang ini telah mengerjakan hal-hal yang luar biasa: ia menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati —terakhir ia membangkitkan Lazarus dari liang kuburnya di Bethania— dan memberi makan ribuan orang di tengah-tengah khotbahnya. Aku lalu memerintahkan agar orang ini diawasi, dan secara khusus meminta orang-orang Farisi mengamati gerak-geriknya.

Sebetulnya aku tak begitu peduli, apakah Kristus menyembuhkan orang sakit atau mengizinkan para pengikutnya memetik gandum pada hari Sabbath —seperti yang banyak dilaporkan. Aku juga tak peduli, apakah ia mencuci atau tidak mencuci tangannya sebelum makan. Dalam banyak hal aku memang tak sependapat dengan orang-orang Farisi. Tetapi kalau ia lalu mencampuri urusan undang-undang — seperti yang juga dilaporkan— dan tidak hanya bicara soal surga dan neraka dalam khotbah-khotbahnya, dan menyumpahi kami sebagai orang-orang munafik atau apa pun istilahnya, aku kira aku tak bisa lagi bersikap masa bodoh.

Pernah terjadi —begitu dilaporkan—rakyat ingin mengangkatnya sebagai Raja. Dalam lingkungan para pengikutnya, ia menyebut dirinya Anak Allah, atau Mesias seperti yang dinubuatkan dalam Kitab Taurat. Ia bahkan berkata, bahwa Kerajaan Surga sudah dekat, dan lewat dirinya rakyat akan memperoleh kehidupan kekal. Aku kira ini sudah kelewatan! Bagaimana mungkin anak seorang tukang kayu bicara seperti itu? Ini jelas-jelas menghujat Allah —dalam hal ini aku sependapat dengan orang-orang Farisi.

Waktu itu rakyat mulai meninggalkan kami. Upacara-upacara yang kami adakan juga sepi pengunjung. Kondisi ini sedikit-banyak berimbas pada kewibawaan Imam Agung dan Mahkamah Agama sebagai konstitusi. Perkara tentara-tentara Roma akan melakukan penumpasan —seperti yang dikhawatirkan banyak pihak— karena Kristus menyebut dirinya Raja, itu bukan urusanku. Aku lebih mengkhawatirkan keutuhan Mahkamah Agama, yang sejak dulu dirundung berbagai persoalan; antara aku, Ahli-ahli Kitab, kaum Farisi dan Saduki. Jadi Kristus harus dibungkam, kalau tidak disingkirkan.

Keberuntungan datang ketika salah satu pengikut Kristus menawarkan bantuannya. Rasanya seperti mendapat manna dari langit! Ia bersedia menunjuk di mana Kristus dapat ditangkap tanpa banyak keributan. Proses pun lalu berjalan dengan cepat. Paskah sudah di ambang pintu, sementara Kristus membiarkan dirinya dielukan sebagai Raja Daud saat memasuki Yerusalem. Menurut pengalaman, pada hari-hari seperti itu rakyat mudah dipengaruhi. Jadi kesempatan harus diambil.

Penangkapan Kristus berjalan tanpa cacat. Malam itu pengikut-pengikutnya lari terbirit-birit —menghilang dalam kegelapan. Kristus lalu dibawa ke Mahkamah Agama. Tetapi aturan pengadilan menuntut, sekurang-kurangnya harus ada dua saksi yang sama pernyataannya. Lantaran tanya-jawab berlangsung berlarut-larut, dan selalu terdengar teriakan “Tidak sesuai!”, maka jumlah saksi terus menyusut. Aku mulai khawatir, kalau-kalau seluruh proses itu akan gagal. Jadi aku lalu mengingatkan kedua saksi akan kata-kata Kristus sendiri, bahwa ia mampu meruntuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari. Tetapi kedua saksi itu pun tidak sepakat. Akhirnya tinggal satu cara: aku harus memperdaya Kristus untuk melawan dirinya sendiri. Aku berdiri di tengah sidang, dan dengan lantang bertanya: apakah dia Raja, Anak Allah, atau Messias —dan Kristus serta-merta mengiyakan kata-kataku. Mahkamah Agama lalu menjatuhkan hukuman mati, sebagaimana tertera dalam undang-undang bagi setiap penghujat Allah.

Tetapi tiap hukuman mati harus diteguhkan oleh Walinegeri Roma —dalam hal ini Pontius Pilatus. Tentu tak masuk akal kalau kami mengajukan dakwaan “karena Kristus terbukti menghujat Allah”. Karena itu aku memberikan tekanan pada ancaman politik yang mungkin timbul, dan tindakan subversif karena Kristus mengganggu ketertiban dan mengangkat dirinya sebagai Raja.

Kristus lalu disalibkan menurut undang-undang yang berlaku. Kalian lihat, aku yang telah mengatur agar Kristus dihukum mati. Bukan orang-orang Yahudi, atau Pontius Pilatus.

2.

Pengakuan Pontius Pilatus

Claudia, surat ini kutulis setelah kau berangkat ke Roma tadi pagi; setelah pertengkaran kita dan kau pergi dengan wajah bersungut-sungut.

Aku tahu, kau belum bisa menerima alasan kenapa aku menghukum mati “Raja orang Yahudi” itu. Kau bertanya: bukankah kesalahan orang itu belum terbukti, dan lebih dari itu kau sudah memintaku untuk tidak ikut campur. Tetapi istriku, apa artinya tidak ikut campur? Sebagai Walinegeri Roma, aku tentu tak bisa bersikap masa bodoh begitu saja terhadap setiap perkara yang dibawa ke hadapanku. Karena itulah aku ditempatkan di Yudea ini, untuk menjaga kepentingan Roma.

Aku tahu “Raja orang Yahudi” itu tidak bersalah, atau setidaknya belum bisa dibuktikan kesalahannya. Dalam hal ini aku sependapat denganmu. Bagiku, orang itu tak lebih dari pengelana saleh, yang ajaran-ajarannya tidak menentang Roma. Karena itu aku benci orang-orang Yahudi, tepatnya Mahkamah Agama mereka, yang mendakwa orang itu sebagai pemberontak. Dan tidakkah kaulihat, aku sudah berusaha membebaskan atau setidaknya tidak ikut campur? Aku sudah mengadili, membela, dan melimpahkannya pada Herodes. Aku sudah mencambuk, dan dengan tetesan darah di sekujur tubuhnya, aku mencoba memuaskan nafsu para penentangnya. Bahkan aku juga mengupayakan pembebasannya untuk perayaan Paskah tahun ini. Tetapi mereka terus mendesak, karena orang itu dianggap menghasut rakyat untuk melawan Kaisar.

Claudia, kau berkata “Raja orang Yahudi” itu benar. Tetapi apa artinya benar atau salah? Apa itu kebenaran dan keadilan? Yang kutahu: keadilan berfungsi menjaga undang-undang, ketenangan, dan kedamaian. Itulah yang harus kupatuhi. Memang, selama proses pengadilan itu muncul soal-soal yang berkaitan dengan Roma; dan biasanya suatu perkara yang sedang dalam proses, pada akhirnya akan lari dari dakwaan awal. Kalau akhirnya aku mencuci tangan dan berkata, “Itu kehendakmu. Darah orang ini bukan urusanku!”, itu karena aku tak setuju dengan tuntutan mereka. Orang-orang ini, maksudku Mahkamah Agama dan komplotannya, bisa saja menciptakan chaos. Mereka bahkan sudah mengancam akan melapor ke Kaisar, jika orang itu tetap dibebaskan. Bukannya aku takut, tetapi kalau itu terjadi, entah apa yang tengah kuperjuangkan, Roma tetap tidak akan merasa nyaman.

Akhirnya bukan lagi hidup-matinya seorang pengelana Yahudi yang harus kubela, tapi kedamaian dan ketenangan di seluruh Yudea. Karena pada dasarnya Mahkamah Agama mereka yang menjatuhkan hukuman mati, bukan aku!

Tertanda,

Pontius Pilatus

3.

Pengakuan…. (Anonim)

Anakku, ketika kau membaca catatan ini, barangkali aku, ayahmu ini, sudah ditimbun di liang lahat. Cukup lama aku menimbang-nimbang, apakah catatan ini memang perlu ditulis. Kalau pada akhirnya catatan ini tetap ditulis, itu dengan harapan suatu hari kau akan membacanya, karena cepat atau lambat kau pasti kembali, setidak-tidaknya untuk mewarisi rumah dan ternak kita yang tidak seberapa.

Sejak kepergianmu bertahun-tahun lalu, aku betul-betul terpukul. Malam itu kita bertengkar. Kau menyudutkan ayahmu ini dengan kata “munafik”, karena aku yang memanggilmu, lalu ikut bersorak saat Kristus memasuki Yerusalem. Tetapi aku pula yang lalu berteriak agar ia disalibkan beberapa hari kemudian. Apakah itu yang disebut “munafik”, anakku. Ah, kau masih sangat muda. Banyak hal yang ketika itu belum kaupahami. Tetapi setelah membaca catatan ini, kuharap kau mengerti, dan tak lagi menyebut ayahmu ini “munafik”.

Anakku, kudengar kau menjelajah dari bukit ke bukit, dari kota ke kota, bersama pengikut-pengikut Kristus. Itu baik untukmu, karena sejak awal aku tahu mereka, maksudku Kristus dan pengikut-pengikutnya, adalah orang-orang yang benar. Setidaknya kau bisa bicara atau berseru, dan kata-katamu didengar orang banyak. Kita hanya rakyat, anakku. Dan sebagai rakyat, dengan kemampuan otak kita yang terbatas, kadang kita hanya bisa menebak atau mencoba mengerti mengapa ini atau itu terjadi, atau dibiarkan terjadi.

Ketika Kristus memasuki Yerusalem dalam pawai besar, sebetulnya banyak yang sudah kudengar tentang orang ini. Kabarnya, ia menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan melontarkan kecaman-kecaman  menentang kaum Farisi. Mungkinkah ia Messias, karena semua yang kudengar begitu menarik dan mengesankan?

Tentang Messias yang diajarkan oleh Imam-imam Agama, hanya sedikit yang bisa kuandalkan. Mereka menginginkan panglima untuk perjuangan kemerdekaan. Ah… untuk apa semua itu bagi orang seperti ayahmu ini? Kita hanya rakyat, dan rakyat hanya menginginkan hidup yang lebih baik. Karena itu, pada hari itu, aku memanggilmu dan berlari ke kota, ikut bergabung dalam pawai ketika Kristus memasuki Yerusalem. Aku merenggut daun palem, lalu turut berbaris seraya bersorak gembira. Teriakan itu adalah pernyataan ikhlas, sorakan mohon pertolongan, dan ungkapan kerendahan hati. Aku berteriak, bahwa aku mendambakan Raja yang menjamin nasib rakyat, yang sakit dan melarat. Dan seperti orang-orang lain, aku menggantungkan semua itu pada Kristus.

Lalu, apa yang terjadi setelah itu berlangsung dengan cepat. Beberapa hari kemudian kudengar Kristus ditangkap, dijatuhi hukuman mati, dan akan diserahkan pada Walinegeri. Pagi itu arak-arakan akan melewati tengah kota. Meski berita ini sulit dipercaya, aku tetap menyelinap di antara orang banyak, dan menunggu. Dari jauh kulihat Kristus diapit sepasukan tentara. Saat itulah aku berharap, Kristus akan membuktikan dirinya sebagai Raja. Atau barangkali aku akan menjadi saksi: aku akan melihat mukjizat yang telah banyak dilakukannya. Karena lagi-lagi beredar kabar, pada malam penangkapannya ia mengempaskan seluruh pasukan hanya dengan pandangan matanya saja.

Tetapi tidak ada yang terjadi! Mereka terus menyeretnya pergi, lalu mengolok-olok dan meludahi mukanya. Tidak ada mukjizat, dan ia membiarkan saja semua itu. Saat itu hilanglah seluruh harapan yang mula-mula kugantungkan pada orang ini. Mengapa ia yang menggemparkan rakyat dengan kata-kata dan perbuatannya ternyata tidak berdaya? Mengapa ia bahkan tak mampu menyelamatkan diri sendiri? Kalau begitu, apa bedanya Kristus dengan rakyat seperti ayahmu ini? Apakah ia hanya bisa bicara, dan semua yang kudengar hanya isapan jempol belaka?

Anakku, ketika itu suasana sangat kacau. Penangkapan Kristus menimbulkan kepanikan di antara rakyat, dan aku tahu, saat itu di tengah kerumunan orang juga berkumpul kaki-tangan kaum Farisi yang terus menghasut. Tetapi kalau akhirnya aku ikut berteriak, “Salibkan dia!”, itu bukan karena hasutan, tetapi ungkapan kekecewaan sekaligus amarah karena hilangnya harapan itu. Kristus mau menderita, dihujani tinju, cambuk, dan ditempeleng. Dan kalau akhirnya aku juga berteriak, “Bebaskan Barabas untuk kami!”, itu karena aku merasa ditinggalkan, dan entah kenapa tiba-tiba merasa sudah diperdaya.

Begitulah, anakku. Begitulah yang terjadi. Aku menulis semua ini sekadar agar kau tahu apa yang terjadi waktu itu. Semua ini, bagiku, tak lebih dari belitan kusut suatu persoalan, yang tidak terletak pada kata-kata yang kuucapkan waktu itu. Sekarang, kuharap kau mengerti. Juga kenyataan ini: ketika itu semua orang berteriak. Semua orang menuntut Kristus dihukum mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s