Cerpen Suara Merdeka – Debu

Cerpen Suara Merdeka Minggu, 28 Maret 2010 | Beni Setia

WA ITAM seperti berusia empat puluh dua tahun. Saya katakan: seperti —karena saat ditelusuri ke Pesantren Bayabah, Garut, kiai di sana mengerutkan kening. “Kiai Dullah itu buyut saya,” katanya.

Saya mengusap wajah,—istighfar. Kiai yang ditemui di pesantren narik kolot itu masih muda, mungkin berusia 39 tahun, dan sangat gampang ditemui karena pesantren itu sangat sunyi —meskipun kiai itu sempat bercerita tentang masa kejayaan pesantren itu, 75 tahun yang lalu. Dan penelusuran ke Kampung Ciranggaek, ke salah satu santri seangkatan Wa Itam, malah mempertemukan saya dengan Buldanurzaman —cucu Ki Oyek Fathoni, teman Wa Itam yang telah 50 tahun meninggal.

Jadi berapa usia Wa Itam sesungguhnya? Empat puluh dua tahun ditambah 70 tahunkah itu? Barangkali Wa Itam sendiri tak tahu persis berapa usianya. Yang saya tahu: tahun lalu ia datang ke pesantren saat hujan reda, dan ajaibnya kakinya tak basah dan bajunya terlihat tak lembab. Padahal ia tak menunggang kendaraan apa pun. Padahal sejak tengah hari hujan turun sangat deras, dan baru reda menjelang maghrib —saat ia muncul dengan tas pakaian, menghadap kepada santri piket dan dipertemukan dengan ustad piket. Yang mengajaknya untuk shalat maghrib berjamaah, dan barulah setelah shalat isya —karenanya ikut isya berjamaah juga— dan ceramah umum rutin kiai ia bisa dipertemukan.

Kiai Anjar Safari yang menyambutnya dengan senyuman maklum. Yang bilang, kalau Wa Itam sudah tak perlu belajar kitab lagi, dan kini ia hanya perlu niat dan tekad, nawaitu, buat mulai belajar mengajari semua santri dan (bahkan) ustad di Pesantren Tarengtong dengan keteladanan zuhud menuntut ilmu. “Setidak-tidaknya,” ujar kiai mendeskripsikan tugas Wa Itam, “mengontrol mereka agar disiplin menunaikan tugas belajar dan kewajiban ibadat sesuai jadwal dan rincian waktu yang telah disusun ini. Sesuai dengan tradisi pesantren di manapun, sesuai dengan kebiasaan yang telah dikembangkan dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi. Tolong —mereka kini mulai bersikap santai, abai dan tak ketat memanfaatkan waktu berdasar jadwal.”

“Tapi kiai….”

“Sudah saatnya, Wa. Kini saatnya belajar mengajari santri-santri serius belajar,” kata kiai sambil tersenyum.

Karena itu Wa Itam menduduki posisi ajaib di pesantren kami. Bukan santri karena ia tidak pernah diharuskan ikut mendengarkan ajaran dan bahasan kiai, sekaligus bukan ustad karena ia tidak pernah mendapat wewenang dan tanggung jawab mengajarkan kitab. Posisi Wa Itam itu mungkin ada di samping kiai dan jadi wakil kiai dalam hal mengawasi santri dan ustad —mata-mata terpercaya kiai. Dan ketika kami protes, Wa Itam cuma senyum, cuma enteng bilang: ia sedang belajar mengajari santri supaya berdisiplin—sesuai perintah kiai. Karenanya semua santri dan ustad tidak berdaya.

Hanya bisa pasrah dan mulai menyelidik: siapa dan dari mana Wa Itam itu. Dan saya menemukan data mencengangkan itu —yang belum bisa pasti buat diungkapkan dan didiskusikan dengan siapa pun di pesatren itu. Untung saya tak pernah gembar-gembor menyatakan sedang menyelidiki Wa Itam.

***

SUATU malam pada pertengahan Rabiul Awal, ketika mendapat giliran menemani kiai ke Tangerang —saya dilatih pijat refleksi, murid utama Kang Utay, dan sekaligus menggantikannya menemani kiai kalau ke luar kota—, saya bertanya: apakah Wa Itam itu manusia atau jin. Tubuh kiai mendadak menegang —otot kakinya ikut mengencang. Tegang. Saya ciut. Kaget. Kami bungkam meski saya makin halus memijit otot kaki kiai. Kemudian kiai berdehem. Melirik-tajam. Saya menyembah. Minta maaf karena lancang bertanya. Kiai tertawa, “Kamu berbakat, mungkin harus diwarisi ilmu tentang hal itu,” katanya, “tapi—percayalah: Wa Itam itu bukan jin, meski tidak bisa dikatakan manusia normal seperti kita. Kamu tahu kenapa?”

Saya mulai lagi memijat. Lega saat merasa kiai sudah tak tegang lagi, otot-otot mengendur, siap dipasok arus darah lebih deras, sehingga endapan asam laktat tersisa yang membuat kaki terasa pegal akan segera terangkut. Yang membuatnya nyaman, dan tinggal ditekan urat kantuknya di kuduk—nanti. Nanti. Dan sekarang saya harus mulai memutar otak, mendatangi endapan semua bacaan dan catatan informasi lisan yang disampaikan kiai dan ustad tentang hal itu, dan bertekad harus bisa menjawab. Ya! Karena itulah saat yang tepat untuk belajar secara intensif dan langsung dari kiai, dan karenanya jadi asisten kiai bermakna kesempatan emas buat belajar lebih intensif sebagai santri yang dipercaya punya kelebihan dan sedang digali kelebihannya.

“Karena manusia itu fana— dibatasi oleh umur,” kataku, spontan begitu teringat akan temuan mengagetkan dalam penelitian saat libur Ramadan kemarin, saat mudik ke Garut dan gentayangan ke pesantren di Bayabah dan kampung Ciranggaek, sesuai dengan apa yang disampaikan Wa Itam—, dengan minta izin ingin bersilaturahmi.

“Betul. Kamu tahu: kenapa?”

“Beri tahu saya, Kiai.”

“Tak bisa! Saya terikat kesepakatan sinatria dengannya. Coba selidiki….”

“Ajari saya, Kiai.”

“Tak bisa. Tapi, Insya Allah, kamu akan bisa. Sabar saja.”

Begitu awal saya intensif menelusuri silsilah dan sejarah Wa Itam, dengan intim berteman, dengan mengajaknya mengobrol, dengan bertanya ini-itu sekitar tempat dan peristiwa pada masa lalu. Awalnya Wa Itam bungkam. Kemudian Wa Itam tersenyum. Dengan hati-hati saya menunjukkan karangan-karangan, yang beberapa darinya ada yang telah dimuat koran dan majalah, dan sekaligus juga menceritakan apa tanggapan kiai tentang kemampuan mengarang yang disamakan dengan cara berdakwah itu. Wa Itam menganggukkan kepala. Kembali cuma tersenyum. Dan setelah lama, setelah cuma saya dan ia saja di setiap kesempatan, baru ia ada mau bercerita —dengan catatan semua itu harus disamarkan demi menghindari fitnah. Fitnah tentang usia.

“Kenapa, Wa?”

“Saya ingin berilmu. Saya masih ingin belajar….”

***

WA ITAM ternyata pernah ikut berperang melawan Belanda bersana Pangeran Dipanegara, bahkan ketika Pangeran Dipanegara dijebak perjanjian perdamaian palsu dan akan diasingkan: ia siap mengamuk mempersetankan nyawa untuk membebaskan Pangeran Dipanegara supaya perjuangan melawan penjajah bisa berlanjut. Tapi niat nekatnya itu tegas dicegat oleh Pangeran Dipanegara —dengan dalil keimanan kepada hakikat takdir dan kewajiban hamba untuk tawakal dan pasrah melakoni tiap cobaan. “Itam,” kata Pangeran Dipanegara, untuk terakhir kalinya, “aku ada tugas buat kamu. Belajarlah sampai khatam ilmu agama, belajarlah sampai bisa menandingi semua ilmu Belanda. Bila telah dikuasai, ajarkan pada sesama Jawa dan muslim….”

“Kenapa, Wa?”

“Agar ada kebangkitan di Timur.”

“Dan Wa Itam sudah mempelajari semuanya.”

“Mungkin! Aku tak pernah benar-benar paham….”

“Jadi sampai kini hanya belajar?”

“Sampai kini hanya belajar. Sampai, rasanya, tidak ada lagi yang bisa dipelajari karena aku tak bisa mengingat dan memahami semua yang telah aku pelajari. Aku ini dungu, idiot. Sampai kiai bilang itu sudah cukup, kini tinggal mempelajari bagaimana mengajarkan apa-apa yang aku ketahui. Tapi apa yang aku ketahui dan pahami hingga bisa aku ajarkan bila semakin lama aku semakin merasa tak tahu apa-apa….”

“Banyak yang bisa Wa ajarkan.”

“Apa?”

“Bahwa belajar itu bisa membuat orang awet muda, karena semangat ingin tahu hanya bisa dipuaskan oleh pengetahuan. Meski….”

“Meski… apa?”

Full konsentrasi dan kesungguhan belajar membuat orang lupa akan waktu, dan karenanya perlu ada yang mengingatkan. Azan, misalnya, yang membuat kita segera melepaskan semua urusan agar kembali pada fakta: kita ini hanya hamba yang wajib memuliakan dan menyembah Allah Swt. Apa Wa sudah mengerti itu?”

“Di mana kamu mempelajari itu? Dari siapa?”

Saya tersenyum. Saya letakkan tangan kanan di dada, tepat di hati. Saya bilang, setiap yang berpikir pasti bisa merasakan denyut dari kehidupan. Meyakini ada yang mengawali dan yang mengakhiri, karena itu kita percaya pada yang menghidupkan —Yang Maha Hidup. Agar mendapat petunjuk dan pengetahuan yang tidak berasal dari ajaran— karena tak ada kitabnya. Semua itu langsung dari- Nya, melesat sebagai berkah hidayah yang dipercayakan-Nya. Bermanifestasi jadi tahu diri, bahwa kita ada dengan diwadahi bentuk, keinginan, dan batas waktu— kefanaan. Jadwal yang menempatkan pada fakta: jam sekian sampai jam sekian belajar tajwid, lalu belajar tafsir sampai di jam sekian, dan harus bubar belajar saat waktu shalat dhuhur dan makan siang tiba.

“Sudah! Sudah! Ilmumu itu menyakitiku….”

***

MALAM itu Wa Itam menghilang. Tidak terlihat mengawasi santri dan ustad, tidak terlihat membangunkan santri dan ustad pada pukul 02.00 —agar semua santri dan ustad mengambil shalat Tahajud dan berzikir sampai saat shalat subuh tiba. Tidak terlihat berjamaah. Saya jadi kecut. Saya menemui kiai, meleporkan semuanya dengan gemetaran. Takut. Kiai menepuk-nepuk bahuku. Kiai tersenyum.

“Saya tahu nash itu, saya seharusnya mengatakan hal itu,’’ katanya, “sayangnya saya juga tahu, kalau waktu untuk mengatakan hal itu dan Wa Itam tahu akan hakikat itu belum sampai. Kamu belum punya kepekaan untuk mengetahui hal itu, karena itu sembrono mengatakannya. Kamu harus itikaf di masjid selama sebulan. Baca Al-Quran, khatam-kan berulang-ulang. Nanti saya akan memanggilmu dan menerima apa kunci untuk mengatakan dan tidak mengatakan rahasia itu. Dan ingat: rahasiakan semua itu sebagai pengetahuan di antara kita bertiga. Insya Allah nanti semuanya beres.”

Saya pun itikaf—bahkan sekalian berpuasa, agar tidak terganggu selama menyepi di masjid. Mengambil pojokan, dan tak pernah didekati siapa pun sehingga bisa suntuk membaca Al-Quran. Tenggelam dalam bacaan hingga saya tak tahu: apa mata meneliti huruf demi huruf, lidah dan pita di tenggorokan yang membunyikannya, atau seluruh sel tubuh yang serentak sepakat membacanya. Serentak —seluruh tubuh bergetar dan saya— kata beberapa santri beberapa hari kemudian—, kelojotan bagai kesurupan, tapi tak seorang pun yang menolong atau mendekati karena ada larangan kiai. Saya seperti dikuasi oleh Al-Quran, dan Al-Quran seperti ada di seluruh tubuh —yang bergetar ketika sel membisikkan Al-Quran, ayat demi ayat, kata demi kata, dan huruf demi huruf.

Sampai di satu malam kiai menyentuh bahu, menyuruhku menghentikan bacaan, dan mengajakku ke belakang—ke zona makam para pendiri pesantren. Di mana, dalam remang tengah malam, bersimpuh Wa Itam. Kiai berdehem dan menyerukan salam—dibalas Wa Itam dengan khidmat. “Waktunya sudah tiba, Itam,” katanya, pelan-pelan, “seiring dengan bangkitnya keyakinanmu, bahwa manusia hidup dibatasi oleh maut—mati—, dan itu tidak bisa dihindari dengan belajar sehingga lupa akan adanya meterai waktu, jadwal keberadaan, dan hak ada dalam waktu yang terbatas. Kamu sudah siap, Itam? Baca syahadatmu. Bagus. Ucapkan tahlil—laailaaha illallaah. Berserahlah!”

Sesaat terdengar bunyi cegluk napas penghabisan, lalu sekelebat sinar meloncat dari tubuh Wa Itam—yang mendadak merepih menjadi serpihan debu yang tidak lebih dari dua genggaman tangan. Kiai menyuruh agar saya membungkusnya dalam kafan yang telah disediakan dan lalu menguburnya dengan tata cara yang baku. Diam-diam dalam bungkam. Menjelang saat santri-santri dijagakan kami bergegas untuk mandi— bersuci. Setelah Tahajud, berzikir dan subuh kiai menyuruhku istirahat. Siangnya, menjelang dhuhur, saya dibangunkan dan diberi wejangan terakhir. “Kamu itu akan banyak bertemu dengan yang seperti Wa Itam, bahkan dengan yang usia riilnya lebih dari dua ratus tahun— meski seharusnya telah meninggal 180 tahun lalu. Tabahlah—percayakan semuanya pada Allah Swt….”

Saya menelan ludah.

Catatan:

narik kolot : menua, ketinggalan zaman dan ditinggalkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s