Cerpen Koran Tempo – Pengakuan

Cerpen Koran Tempo Minggu, 14 Januari 2010 | Wendoko

SELURUH negeri akan mengutuk aku. Seluruh negeri akan mencela dan menempatkan aku, Yudas Iskariot, sebagai pengkhianat besar. Apa yang sudah kulakukan? Ya Allah, apa yang sudah kulakukan? Aku telah menyerahkan Kristus pada tangan-tangan maut. Dan itu kulakukan hanya karena rasa kecewa, yang sekarang kusadari alangkah bodohnya!

Dengan caraku sendiri, bertahun-tahun aku mencintai Kristus, meninggalkan sanak-keluarga dan sahabat-sahabat. Sebagai gantinya, aku bersama wanita-wanita dan lelaki-lelaki lain hidup mengikuti Kristus.

Mungkin tak ada yang tahu. Waktu itu kami hidup layaknya gelandangan. Sering kali kami harus melewati malam tanpa atap di atas kepala, berselimut embun dan udara yang membekukan.Tetapi anehnya, tak seorang pun yang peduli. Semua orang hanya bicara, dan terus bicara, tentang kerajaan yang akan datang. Beruntung dalam keadaan ini aku masih mau peduli. Akulah yang kemudian mencari uang, dan mengatur perbelanjaan setelah seharian ia berkhotbah, melakukan mukjizat, atau setelah mengakhiri perjalanan jauh. Tetapi mereka—maksudku pengikut-pengikut yang lain—tidak sedikit pun berterima kasih!

Aku masih ingat, sekali waktu, ketika kami sedang menikmati perjamuan di rumah seorang Farisi, seorang pelacur yang menjual tubuhnya di tiap tempat di kota itu masuk dan terus membasuh kaki Kristus dengan minyak narwastu. Hal ini dibiarkan saja! Rupanya Kristus tidak melihat bahwa ini adalah pemborosan. Akan lebih baik jika minyak narwastu itu digunakan untuk keperluan lain yang bermanfaat.

Kejadian serupa terulang ketika kami diundang ke rumah Simon, seorang penderita kusta yang pernah disembuhkan Kristus. Ketika itu saudara perempuannya datang membawa buli-buli albaster, dan ia menuang minyak wangi ke kaki Kristus. Suatu pemborosan yang menelan tak kurang dari 300 dinar! Jumlah ini melampaui upah seorang buruh selama satu tahun. Waktu itu aku mulai meluapkan rasa jengkel, tetapi justru Kristus menegurku habis-habisan!

Pada saat itulah untuk pertama kali aku sadar, sudah tiga tahun aku mengikuti Kristus melewati perjalanan penuh risiko dan penderitaan. Selama itu, setapak demi setapak bahaya terus mendekat, karena Imam-imam Agama dan kaum Farisi makin tidak menyukai Kristus. Pada saat itulah, untuk pertama kali aku bertanya kenapa selama ini Kristus tak pernah menunjukkan pada kami—setidaknya padaku—bahwa kerajaan yang dijanjikan itu akan datang? Kristus terlalu sibuk bertualang, mengabarkan kebenaran, dan membuat berbagai mukjizat. Semua itu, bagiku, sangat mengesankan. Tetapi kenapa kerajaan baru itu tak juga terwujud?

Aku memang bukan orang saleh seperti pengikut-pengikut Kristus yang lain—nelayan-nelayan bodoh dan buta huruf! Tetapi harus kukatakan, waktu itu mereka pun mulai kasak-kusuk, meski di depan Kristus mereka selalu menunduk dan mengangguk. Dan melihat apa yang telah dilakukannya, tidak sedikit pun aku ragu Kristus adalah Messias. Bukti lain yang menguatkan adalah sampai sekarang Kristus tak “tersentuh”, meski ia selalu mencela Imam-imam Agama dan kaum Farisi. Tetapi, sekali lagi, kenapa ia tak juga mewujudkan kerajaan baru itu?

Sejak perjamuan makan di rumah Simon itulah, aku mulai berpikir untuk mendesak Kristus mewujudkan kata-katanya. Cukup lama kami mengikuti Kristus. Kukira, sudah waktunya semua ini diakhiri, karena aku—kami—bagaimana pun tak bisa terus hidup tanpa tujuan. Lalu aku berpikir, mungkin caranya adalah mendekatkan Kristus pada bahaya itu sendiri, yaitu Imam-imam Agama dan kaum Farisi!

Rencana ini berjalan lancar. Setelah memasuki Yerusalem—di tengah sorak-sorai itu—aku mendatangi Imam-imam Agama, dan menawarkan bantuan menangkap Kristus. Meski mereka tak menampakkan reaksi apa-apa, aku tahu mereka bersorak dalam hati. Mereka lalu menyodorkan 30 dinar sebagai imbalan, dan terjadi tawar-menawar. Bukan apa-apa, sebetulnya aku marah karena aku tidak menjual Kristus. Harap dicatat, aku tidak menjual Kristus! Tetapi ketika uang itu disodorkan, aku berpikir tentang penginapan dan perjamuan malam yang diminta Kristus. Rencananya begini: aku tahu di mana Kristus berdoa dalam tiap kunjungannya ke Yerusalem. Imam-imam Agama ini harus menyiapkan sepasukan tentara, karena aku khawatir pengikut-pengikut Kristus akan melawan. Selanjutnya aku akan mencium Kristus, agar mereka tidak salah menangkap.

Rencana ini nyaris gagal. Saat perjamuan malam Kristus memandangiku, dan berkata ia akan dikhianati. Pengikut-pengikut lain saling memandang dengan curiga, dan terjadi keributan. Diam-diam aku meninggalkan perjamuan, sebelum suasana berubah lebih runyam. Luar biasa Kristus ini! Ia bisa menebak kalau malam itu ia akan dikhianati! Lalu apa yang terjadi kemudian seolah tanpa hambatan. Kristus berdoa di Gethsemane. Dalam perjalanan pulang ia dihadang sepasukan tentara, dan apa yang kuduga sejak awal betul-betul terjadi. Petrus si mulut besar menghunus pedang. Terjadi pertempuran kecil. Aku mendekat dan mencium Kristus. Setelah itu semua berakhir. Kristus ditangkap, dan para pengikutnya lari tercerai-berai.

Sebetulnya waktu itu aku berharap Kristus akan berbuat sesuatu. Atau, setidaknya para pengikut yang lain akan bertindak. Misalnya, para pengikutnya lalu memberontak, dan akan terjadi revolusi! Atau Kristus akan menurunkan hujan batu, wabah penyakit, atau apa saja. Seperti yang dilakukan Nabi Musa. Tetapi tak ada yang terjadi. Kristus membiarkan dirinya ditampar, diludahi, dicambuk, dan dihajar. Bahkan ia tak berbuat apa-apa ketika dijatuhi hukuman mati.

Ada apa dengan Kristus? Kenapa ia yang begitu mengesankan dengan kata-kata dan perbuatannya, dengan mukjizat-mukjizatnya, membiarkan diri diperlakukan begitu rendah? Ada apa dengan Kristus? Ketika putusan jatuh dan Kristus harus menjalani hukuman mati, barulah aku terkejut. Imam-imam Agama dan kaum Farisi ini betul-betul nekad menyalibkan Kristus! Tetapi akhir semacam ini tak pernah terlintas dalam benakku, karena aku berharap Kristus akan membebaskan diri, sekaligus menguatkan keyakinan kami bahwa ia adalah Messias!

Ya Allah, apa yang sudah kuperbuat? Aku sudah melakukan kesalahan besar, hanya karena rasa kecewa yang alangkah bodohnya! Saat ini mungkin tak ada yang tahu, tetapi suatu saat seluruh negeri akan mengutuk aku. Mungkin juga tak ada yang tahu kalau malam ini aku menemui Imam-imam Agama, dan kulempar uang 30 dinar itu di depan muka mereka. Tetapi mereka malah mencemooh dan menertawakan aku!

Bagaimanapun aku harus menebus kesalahan ini. Malam ini aku betul-betul sendiri, di kamar penginapan yang suram, sementara di luar hari mulai subuh. Surat ini kutinggalkan di meja, dengan harapan seseorang akan membacanya, agar ia—dan seluruh negeri—tahu bahwa aku menyesal. Sebentar lagi a.ku akan menggantung diri. (*)

Wendoko, lulusan Teknik Arsitektur Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. Kumpulan puisinya (Oratorium) Paskah (akubaca, 2006), Sajak-sajak Menjelang Tidur (Banana, 2008) dan Partitur, Sketsa, Potret dan Prosa (Banana, 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s