Cerpen Koran Tempo – Penjual Dongeng

Cerpen Koran Tempo Minggu, 7 Maret 2010 | Clara Ng*

“Abil melihat seekor burung pemakan bangkai di kebun belakang waktu dia menerobos keluar jendela dari rumah yang barusan dirampoknya ….”

Hujan celaka mengguyur deras di luar, memukul-mukul atap rumah dengan ribut dan membuat sebagian tembok lembab oleh rembesan air. Setiap musim panas Husin selalu menambalkan banyak semen agar rembesan tidak terlalu mengganggu, tapi setiap musim penghujan datang, Husin harus menyaksikan hujan mengejeknya bulat-bulat. Kalah telak, lagi-lagi dia. Husin menatap kosong ke arah butiran air yang perlahan muncul dari celah tembok seperti aturan sihir, lalu turun perlahan seperti gerombolan rayap beringsut menuju lantai.

Hari hujan adalah hari sial. Yang menatap punggung Husin dari kejauhan akan tahu bahwa punggung itu gemetar menahan kekecewaan. Ia terkurung di rumah dengan berbatang-batang rokok dan ratusan ketombe yang berjatuhan di meja kayu. Ketombe sudah menjadi sahabat karibnya selama satu dekade. Kalau ia menggaruk-garuk kepala dan sedikit menunduk, berhamburanlah ketombe itu ke mana-mana. Seperti salju, pernah istri Husin berkata sambil mendengus. Husin mengisap rokok kuat-kuat, menahan geram. Ah,wanita, tahu apa dia tentang salju? Keluar dari rumah saja paling cuma sejauh pasar yang menjual kangkung dan cabe.

Husin menghancurkan rokok yang tinggal seujung kuku kelingking di asbak tanah liat yang warnanya sudah pudar. Ia menahan diri untuk tidak merogoh kotak rokok dan menarik sebatang lagi. Sudah tiga batang ia habiskan sejak hujan mengamuk, tapi tidak ada hasil apa-apa yang bisa ia kerjakan. Sudah berapa jam berlalu? Dua, tiga? Tidak ada satu cerita yang ia karang. Tidak ada adonan dongeng yang pas. Tidak ada kisah yang berteriak-teriak minta perhatian. Di depan hidungnya yang bengkok, yang ada hanya kertas-kertas tercerai berai di atas meja, di lantai, di tong sampah.

Punggungnya semakin melengkung seperti bulan sabit. Husin menopang dagu, merasa pelan-pelan ular frustrasi meliliti kepala. Ke mana dewa inspirasi, apakah ia terjerambab oleh petir dan terburai oleh air hujan? Ini bukan kebiasaannya. Selama sepuluh tahun, Husin selalu berhasil menghabiskan berlembar-lembar kertas, menulis dengan pensil 2B oleh jari-jarinya yang berbonggol-bonggol renta dan rematik dimakan umur. Itu adalah kegiatan tetapnya setiap pagi jam lima setelah salat subuh. Setelah satu dongeng berhasil ditegakkan, Husin akan mandi, berganti baju, dan berjalan kaki menuju SDN 04 pagi yang dekat dengan rumahnya.

Sudah berpuluh tahun berkarya sebagai pegawai negeri, mengajar kelas tiga di SD 04 pagi sampai Husin tidak ingat berapa ratus muridnya telah diajarkan perkalian, pembagian, dan dihukum jemur di lapangan. Husin tidak ingin berapa belas muridnya yang sudah jadi pejabat atau berapa puluh yang bekerja dengan gaji lebih baik sedikit daripadanya atau berapa ratus yang tidak berbeda dengan kehidupannya. Husin tidak ingat hari-hari ketika dia menyosong masa pensiun. Tidak, Husin tidak bisa mengingatnya, semua berlalu samar- samar dan terlalu cepat seperti terseret oleh air hitam menuju selokan.

Husin menggeser pantatnya, melihat jam yang tergantung di tembok. Sudah pukul tujuh lewat sepuluh. Lonceng sekolah sudah berdentang dari tadi, melahirkan jutaan keriuhan kecil-keci sebelum ketenangan menggelegarkan suara raksasanya di seluruh kelas.Tapi hujan di luar pasti membuat gerombolan keriuhan tertutup oleh suara kekuatan air yang tegar menghantam atap seng sekolah. Mungkinkah murid-muridnya akan merindukan kehadirannya?

“Abil melihat seekor burung pemakan bangkai di kebun belakang waktu dia menerobos keluar jendela dari rumah yang barusan dirampoknya ….”

Sepanjang tahun-tahun dia bekerja sebagai guru, Husin memohon agar ia memiliki sedikit waktu untuk menulis dongeng. Kesibukannya sebagai satu dari (hanya) tujuh guru yang diperkerjakan di sekolah membuat seluruh pencopet di dunia mencuri semangat masa mudanya dan hanya meninggalkan jejak lelah. Inspirasi memusuhinya, waktu memerkosa otaknya.

Padahal dongeng, ya hanya dongeng saja yang ada dalam pikirannya. Kecepatan Husin melangkah semakin melambat karena dicincang usia, namun dongeng-dongengnya tidak pernah mati. Selalu ada dongeng baru di setiap pagi. Dongeng tentang anak lelaki yang berlayar ke negeri-negeri jauh menggunakan tong sampah berwarna hijau. Dongeng tentang seorang gadis yang berbohong kepada tiga malaikat sakratul maut. Dongeng tentang segenggam lada dan sepanci garam yang menyimpan rahasia dapur miliki seorang juru masak yang juga kiai. Dongeng tentang seorang nenek yang memiliki umur teramat panjang dan kenangan yang terlalu pendek. Dongeng tentang sepasang kekasih yang saling membenci sampai selama-lamanya.

Husin sangat pandai mengarang dongeng. Cerita-ceritanya tidak pernah biasa, terdengar janggal di telinga umum tapi anehnya cocok dengan kehidupan kanak-kanak yang berada di lingkungannya. Dia berjalan tiap hari menuju sekolah, duduk di bangku dingklik depan gerbang sambil menunggu murid-muridnya datang. Sejak pensiun, dia masih tetap datang ke sekolah untuk mendongeng. Kepala sekolah membiarkannya duduk di depan pagar. Murid-murid senang dengan dongengnya. Orangtua meletakkan uang di mangkuk plastik miliknya setelah Husin selesai mendongeng.

Begitulah bagaimana Husin menghidupi dirinya dan istrinya yang sudah renta setelah dia tak lagi bekerja sebagai guru. Dia menjajakan dongeng dari hari ke hari agar asap makanan bisa terus mengepul dari arah dapur. Mana cukup uang pensiun guru SD? Mana bisa diharapkan dua anak lelakinya yang sudah bekerja sebagai satpam dan buruh cetak kartu nama? Dengan tambahan lima ribu perak hasil sumbangan orangtua, Husin sanggup membeli rokok dan bercangkir-cangkir kopi tiap pagi dan sore.

Bagi Husin, menulis dongeng bukan sekadar mendapat tambahan uang saku, tapi juga menambal kebahagiaannya sendiri. Bersama dongeng-dongeng kesayangannya, Husin melarikan diri dari kehidupannya yang memuakkan. Dia menjadi pangeran gagah dan mempersunting putri tercantik di seluruh negeri, bukan menikahi nenek jelek yang mengomel dan mendiamkannya setiap hari. Dia menjadi lelaki yang diangkat sebagai prajurit kesayangan raja, bukan pensiunan pegawai negeri yang pas-pasan dan tak punya pekerjaan tetap. Bersama dongeng- dongeng itu, Husin mengganti kehidupan compang-campingnya dalam jahitan cerita baru.

Istrinya datang dalam balutan daster bunga-bunga luntur, membawakannya kopi pagi. Dia meletakkan gelas tinggi bening di meja, lalu lewat begitu saja. Tidak ada kata-kata, padahal seharusnya dia bertanya apa yang dipikirkan oleh suaminya. Mungkin begitulah pasangan suami istri kalau sudah hidup terlalu lama. Banyak hal terlewati sia-sia seperti kertas yang diremas tak berguna. Ruangan kembali menjadi hening setelah istri keluar. Keheningan ini memiliki napas halus dan teplok-teplok sendal jepit yang semakin menjauh. Tidak ada suara lain lagi. Husin menyesap kopi dengan cepat, bertanya-tanya sendirian dengan perasaan hampa: apakah dia masih mencintai istrinya?

“Abil melihat seekor burung pemakan bangkai di kebun belakang waktu dia menerobos keluar jendela dari rumah yang barusan dirampoknya ….”

Kalau tetangga depan menyalakan radio, itu berarti sudah pukul delapan. Suara lagu dangdut menggelegar dari depan, mengingatkan Husin tentang anak lelaki bungsunya yang pernah ingin menjadi penyanyi dangdut. Anak bungsu selalu ingin melakukan hal yang aneh-aneh dan bermimpi terlalu muluk seperti rumput yang ingin menjadi brokoli. Husin sudah menghabiskan uang paling banyak untuk si anak yang tak berguna itu. Bukannya menjadi penyanyi dangdut terkenal yang masuk televisi, dia hanya menjadi tukang cetak kartu nama.

Gara-gara anaknya, Husin mengarang dongeng tentang lelaki berpakaian merah yang pandai melakukan trik sulap. Lelaki ini terkenal di seluruh dunia sampai suatu hari bulan menonton pertunjukannya, lalu jatuh cinta kepadanya. Bulan melakukan segala cara untuk membuatnya dicintai, tapi lelaki itu malah memanfaatkan Bulan untuk pertunjukkan sulapnya. Bulan sakit hati, menelan lelaki itu bulat-bulat. Di malam saat ia purnama, orang-orang di bumi bisa melihat perut bulan memancarkan cahaya merah dan siluet lelaki kekasihnya yang mengapung di sana.

Begitu dongeng “Bulan dan Tukang Sulap Berbaju Merah” yang dikarang Husin ketika kekecewaannya kepada anak lelaki bungsunya menyeretnya menjadi penjaja dongeng tetap. Dia bercerita di depan kanak-kanak SD 04 Pagi. Anak-anak sangat menyukai dongeng itu, membayangkan bulan yang gendut bulat dengan bayangan samar-samar lelaki yang ditelannya. Orangtua senang melihat anak-anak mereka yang biasanya nakal menjadi tertawa kegirangan biarpun mereka sendiri tidak mengerti arti dongeng Husin. Beberapa uang koin lima ratusan mampir di mangkuk Husin.

Husin mulai mengarang dongeng-dongeng yang semakin berani. Dongeng yang membuat anak-anak SD 04 pagi terpana tak bergerak selama setengah jam atau dongeng yang membuat mereka rela berangkat ke sekolah lebih pagi agar bisa mendengar dongeng janggal yang tak akan pernah ada di buku dongeng mana pun. Dongeng yang membuat mereka tertawa dan menangis sampai terkencing-kencing. Dongeng yang menjadi bahan obrolan satu sama lain entah di ruang kelas atau di meja makan atau di diingat-ingat waktu jongkok di kakus. Dongeng yang membuat si lelaki tua pendongeng semakin terkenal tanpa ampun.

Husin tak pernah bisa berhenti mengarang lagi. Dongeng-dongeng itu sepertinya memohon kepadanya untuk dibebaskan setiap dini hari. Dia bercerita tentang prajurit-prajurit yang berperang di musim dingin sampai semua jari-jarinya mati membeku. Dia bercerita tentang pohon-pohon di hutan yang menangis bersama-sama waktu matahari mengkhianati mereka. Dia bercerita tentang perempuan yang memiliki satu telinga sangat besar, terpaksa harus berjalan miring ke kiri seperti kapal laut yang lambungnya pecah dihantam badai. Dongeng sepertinya tumbuh dengan mudah mengingatkan Husin dengan jamur di musim penghujan. Dia hanya butuh memangkasnya lalu memasaknya menjadi pepes jamur atau oseng-oseng jamur. Dongeng tinggal dipetik lalu disangrai. Dongeng tinggal diambil sebagai harta karun dalam peti yang kuncinya telah ditemukan Husin.

Jarum jam yang paling jangkung bergerak ke sebelas, berarti sudah nyaris jam sembilan. Kopinya sudah tandas, bukan tugas Husin membawanya ke bak cucian. Istrinya akan datang sepuluh menit lagi untuk membereskan gelas kosong. Dia mengambil pensil 2B, dengan gemetar berusaha membaca kalimat yang sudah tertulis di atas kertas.

“Abil melihat seekor burung pemakan bangkai di kebun belakang waktu dia menerobos keluar jendela dari rumah yang barusan dirampoknya….”

Abil adalah nama anak lelaki pertama Husin yang meninggal bertahun-tahun lamanya karena kecelakaan. Truk yang disetir Abil bertabrakan dengan bus lintas propinsi, langsung meluncur menuju kegelapan jurang. Husin memikirkan Abil setiap tahun sambil terus bertanya-tanya apa yang terjadi kalau dia mempunyai uang berlebih dan meneruskan permohonan Abil untuk tidak berhenti bersekolah sampai sarjana?

Kemarin hari Senin, sekarang sudah hari Selasa. Selasa tidak ada dongeng karena hujan turun, bukan karena Husin tidak bisa mengarang apa-apa kecuali kalimat tentang Abil yang melihat seekor burung pemakan bangkai di kebun belakang waktu dia menerebos keluar jendela dari rumah yang barusan dirampoknya. Dongeng itu mati di titik, tidak ada koma atau paragraf baru.

Husin berbaring di ranjang, pikirannya melayang seperti hantu. Dari dulu dia selalu bertanya-tanya tentang banyak hal, tapi sekarang dia lebih bertanya-tanya tentang dongengnya. Apa yang terjadi dengan Abil waktu dia melihat burung pemakan bangkai? Mengapa dia perlu merampok? Ada apa dengan kebun belakang yang tuanya seperti kuburan? Husin berguling ke sebelah kanan, seluruh tubuhnya resah menahan perut yang bergolak. Dia tidak ingin berak, tapi perutnya terasa penuh seperti harus dikeluarkan.

Husin bangkit berdiri dari ranjang, meninggalkan istrinya yang pulas tertidur di sisi satunya. Ah, pukul berapa sekarang? Sudah tengah malam lewat dua menit. Kemarin hari Selasa, sekarang sudah hari Rabu. Mungkin Rabu dia berhasil mengarang dongeng dan menjajakannya di depan pagar sekolah dengan dingklik kecil. Husin menyibak gorden jendela, melihat bulan purnama berwarna kemerahan. Siluet lelaki berada di perut bulan, samar-samar.

Husin duduk di kursi tempatnya mengarang, menunggu dongeng tumbuh di kepalanya seperti jamur di musim penghujan. Dongeng-dongeng itu pasti tidak akan mengkhianatinya seperti matahari berkhianat kepada pohon-pohon di hutan yang terus menerus menangis. Atau tidak mungkin dongeng membencinya seperti kisah sepasang kekasih yang saling membenci. Tidak mungkin, bukan? Husin menyalakan rokok, menggosok matanya seolah-olah menyuruh mereka agar tetap terjaga.

Dia akan duduk terus di sini sampai adzan menggema, lalu dia akan mengambil wudhu untuk bersiap salat subuh. Setelah itu dongeng pasti akan bergegas-gegas keluar dari sel-sel penjara di kepalanya. Dia tak akan sabar menanti wajah-wajah cilik pengagum setianya yang akan terpana mendengar dongengnya. Mangkuk plastiknya pasti akan penuh koin lima ratusan. Mata Husin menyipit, berusaha keras membaca tulisan tangannya yang tampak samar di mata tuanya. Punggungnya melengkung seperti bulan sabit. Dia menggaruk kepala, ketombenya runtuh pelan-pelan seperti salju.

“Abil melihat seekor burung pemakan bangkai di kebun belakang waktu dia menerobos keluar jendela dari rumah yang barusan dirampoknya ….”

*Clara Ng tinggal di Jakarta. Kumpulan cerita pendeknya adalah Malaikat Jatuh dan Ceritacerita Lainnya (2008). Ia juga telah menerbitkan 11 novel populer dan puluhan cerita anak-anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s