Cerpen Koran Tempo – Penyakit-penyakit yang Mengundang Tawa

Cerpen Koran Tempo Minggu 28 Februari 2010 | Yusi Avianto Pareanom

1

Seekor kalajengking mengeram di tenggorokannya. Setiap gerakan capit dan ekor tajam binatang itu sungguh menyiksanya. Jangankan makan, menelan air pun terasa menyakitkan. Itulah yang ia rasakan pada hari keempat dihajar cacar air, penyakit yang sebelumnya ia berhasil hindari dengan lihai selama 41 tahun lebih.

Ia ketularan anak bungsunya. Awalnya, ia merasa memang sudah saatnya, dan bahkan ada baiknya juga ia terkena bersamaan dengan anaknya sehingga mereka bisa istirahat bersama di rumah. Sepanjang yang ia ketahui, cacar air adalah penyakit yang penderitanya bisa sembuh sendiri. Yang ia butuhkan adalah menjaga kondisi tubuh agar tak semakin merosot.

Namun, tanda-tanda kurang bersahabat mulai terlihat ketika dokter yang memeriksa ia dan anaknya berkata bahwa penderita dewasa bakal benar-benar menderita. Si dokter tak berkata tepat demikian tetapi wanti-wantinya sangat jelas.

Hari pertama badannya mulai terasa tak nyaman karena kekebalannya mulai digerogoti virus. Namun, setidaknya selera makannya masih bagus. Ia masih berhasil menandaskan bebek goreng penyet plus dua piring nasi. Hari kedua, siksaan bertamu dan kerasan tak mau pergi. Pertama-tama suhu tubuhnya naik. Tidak setinggi saat ia terkena demam berdarah tetapi cukup membuatnya bermimpi ganjil. Ia bermimpi tentang tidur, atau berbagai posisi tidur, sehingga ia curiga bahwa jangan-jangan ia tidak tertidur sama sekali. Mimpi lain, yang berulang kali datang, ia terlibat dalam adegan pertempuran film Avatar, tidak jelas ia berpihak kepada siapa.

Pada hari kedua pula bintik-bintik mulai menghias muka dan sekujur tubuhnya. Mengingat dokternya bilang bahwa pemunculan bintik itu lebih baik ketimbang tidak karena yang terakhir bisa berakibat infeksi sekunder, ia merasa tenang. Tapi, hari berikutnya bintik-bintik ini tak lagi hanya menghias tetapi sudah hampir menutupi sekujur wajah dan tubuhnya. Jarak mereka rapat sekali. Bahkan, tongkat pusaka keluarganya juga terkena. Yang mengherankan, bokongnya justru mulus.

Seakan siksaan yang bisa terlihat orang belum cukup, perutnya ikut-ikutan minta perhatian karena terasa seperti terparut-parut. Perih. Sementara itu, punggungnya terasa dingin sekali, seperti tak ada daging yang menempel di tulang belakang. Obat yang semestinya membantu malah menambah derita karena sejak kecil ia tak pernah pintar menelan obat. Jangankan belasan, sebutir pun susahnya minta ampun. Makanya ia sering heran mengapa ada orang yang bisa kecanduan obat.

Anaknya yang menulari, yang diharapkan bisa menghiburnya, malah sibuk main sendiri dan nonton televisi seharian (Spongebob ternyata diputar dua jam pada pagi hari dan satu jam lagi pada sore hari). Anak itu tampak bahagia karena mendapat liburan dadakan. Anak itu seakan tak terpengaruh oleh penyakit sama yang dideritanya. Total bintiknya cuma belasan, mirip sekali dengan gambaran anak kecil yang kena cacar air pada umumnya. Anak tujuh tahun itu menghampirinya hanya untuk mengejek wajahnya yang bersisik. Sementara itu, anak sulungnya, yang sudah duduk di bangku kelas satu SMA, masih bisa menahan diri untuk tidak ikut-ikutan mengolok-oloknya, tapi tatapannya yang diiringi senyum lebar sudah bicara banyak. Dua anak yang kurang ajar, memang. Ia mengancam dalam hati bahwa ia tak bakal dengan mudah mengabulkan permintaan dua genjik sialan ini nanti-nanti.Tapi, ia juga segera tahu bahwa ancaman ini kosong belaka.

Ketika teman dan rekanan bisnisnya tahu perihal sakitnya setelah ia membatalkan janji, reaksi pertama yang ia terima adalah ungkapan geli dan tawa karena baru tertular pada usia sebangkotan sekarang. Setelah itu, ada beberapa yang menambahi, “Kasihan ya anaknya, ikut kena.”

Ia berusaha mengais simpati dari kawan kuliahnya yang ia tahu juga terkena pada usia dewasa.

“Beda dong, aku kenanya di Jepang, tiga belas tahun yang lalu. Opname, ditungguin dokter cantik lagi,” kata temannya.

“Memangnya dokter itu menawarimu hand job?” ujarnya jengkel.

“Otakmu ngeres, sakit kok mikir begitu?” kata temannya.

“Untuk apa kau pamer dokternya cantik?”

Beberapa menit kemudian mereka terlibat perdebatan seputar dokter cantik tersebut, dan akhirnya ia berhasil memaksa pengakuan dari temannya bahwa yang bersangkutan juga membayangkan alangkah sangat menghiburnya sekiranya si dokter bertindak seperti dokter-dokter dalam film biru Jepang yang memberikan perawatan paripurna kepada pasien.

Namun, pembicaraan asyik tersebut menjadi masam lagi ketika temannya bilang, “Kau dulu kan pernah menjaga rubrik Kesehatan di Majalah TEMPO, mengapa tak tahu kalau cacar air sekarang sudah ada vaksinnya?”

2

Jayanegara atau Kalagemet adalah raja yang licin. Sekian pemberontakan di Majapahit, dari Ranggalawe, Lembu Sora, Nambi, sampai Ra Kuti, yang terjadi sejak ia menjadi raja muda sampai ia bertakhta penuh berhasil ia padamkan.

Namun, hari-hari belakangan ini ia benar-benar hilang akal. Sebuah bisul bertengger di bokong kirinya. Mula-mula kecil, makin lama makin gemuk. Rasanya cenut-cenut menggusarkan. Ia susah tidur dengan enak karena harus berbaring menyamping terus-menerus. Duduk juga menyiksa sehingga ia lebih banyak berdiri atau jongkok. Ia juga tak berminat berkumpul dengan budak-budak perempuannya. Ia tak ingin mereka melihatnya dengan bulatan bernanah di pantatnya.

Kalagemet pun lalu mengurung diri di kamarnya. Ia tak mau menghadiri acara-acara kerajaan. Bahkan, benar-benar di luar kebiasaan, ia memakaikan kainnya sendiri dan tak mengizinkan pelayan membantunya. Ia malu, raja perkasa kok bisulan. Tapi, akhirnya pada hari ketujuh Kalagemet tak tahan juga. Ia memanggil Bekel Mada.

Mada masuk ke kamar Kalagemet ketika yang disebut terakhir sedang sarapan. Bubur pendem, bubur putih gurih dengan ketan berkinca manis di dalamnya. Ada juga gendar yang terbuat dari tepung beras  dan blenduk, pipilan jagung rebus yang ditaburi parutan kelapa dan kinca. Mada merasa agak jengah melihat rajanya makan dengan jongkok.

Kalagemet menunjuk sarapannya dan menawari Mada.

“Terima kasih Gusti Prabu, hamba sudah makan,” kata Mada.

Klembak menyan?” kata Kalagemet sambil menunjuk tumpukan rokok di meja porselin dari Cina, “kata pelayan, rokok itu dijual di pasar oleh dua perawan cantik mulus dari Tuban, dijilat-jilat dulu baru dijual. Ada-ada saja, tapi lumayan enak, kok.”

“Hamba tidak minum rokok, Gusti,” kata Mada.

“Jadi orang jangan terlalu kaku, Mada. Memang kau sedang memikirkan apa sepagi ini? Mau nambah sawah, kebun, istri? Atau, jangan-jangan, seperti katamu di Desa Badander dulu, kau masih berpikir menyatukan Nusantara di bawah Majapahit? Sudahlah, merokok dulu,” kata Kalagemet memaksa.

Mada mengambil sebatang klembak menyan tetapi tak segera menyundutnya dengan bara.

“Mada, kamu tahu sakitku?” tanya Kalagemet. Mada mengangguk.

“Bagus, panggil Tanca sekarang. Jangan sampai ada orang lain yang tahu,” kata Kalagemet. Ia mencomot sebatang rokok dan segera menyalakannya. “Hmm, sedap. Jangan lupa, kamu nanti menemaniku merokok.”

Mada tak bergerak sedikit pun ketika pisau Ra Tanca menghunjam dua kali ke punggung Kalagemet. Setelah tusukan pertama, Kalagemet sempat membalikkan kepala dan menatap penasaran Tanca dan Mada. Klembak menyan yang dijepit telunjuk dan jari tengah tangan kanan Kalagemet langsung terjatuh. Raja Majapahit itu kemudian hanya bisa berteriak pendek karena tusukan kedua langsung menembus jantungnya. Kalagemet tewas dengan mata mendelik.

“Tunggu apa lagi, Mada. Bunuh aku, ini kesempatan yang kau tunggu,” kata Ra Tanca, tabib istana, menunjuk dadanya.

Mada mendekat dan memeriksa nadi Kalagemet. Tak ada denyut. Rajanya dibunuh di depan matanya dan ia membiarkannya. Ia menutup mata Kalagemet.

“Semestinya kau angkat dulu bisulnya, kasihan, ia benar-benar menderita,” kata Mada.

“Kurasa kau benar, aku terlalu kejam,” ujar Ra Tanca tersenyum.

Mada meloloskan kerisnya dari sarung. “Tabib Tanca, Majapahit berutang budi kepadamu, terima kasih.”

3

Santri Timur, seorang penerjemah dan peminat serius bonsai pohon jambe, sering terjebak dalam keruwetan yang ia ciptakan sendiri. Misalnya, ia meyakini bahwa salat mutlak hukumnya harus dilakukan berjamaah kecuali ada hal-hal yang sangat darurat. Kalau waktu salat tiba dan ia berada di dekat masjid atau musala, ia akan merasa berdosa kalau tidak ikut. Di kampungnya, Caruban, Jawa Timur, hal ini tak menjadi persoalan. Namun, di Kalibata, Jakarta, tempat tinggalnya kemudian, keyakinannya mendatangkan masalah. Jamaah masjid dan musala di dekat tempat kos Santri Timur rupanya senang mengumandangkan salawat dan membaca qunut saat Subuh. “Masa salat pakai qunut segala,” kata Santri Timur mengeluh.

Tak tahan, Santri Timur meninggalkan Ibukota, kali ini ke Boyolali, Jawa Tengah, tempat asal istrinya. Di tempat tinggal baru, kehidupan Santri Timur lebih tenang. Ia dan jamaah musala kampung istrinya sehati, sama-sama tidak suka salawatan dan doa qunut.

Ketenangan itu suatu hari terusik karena ia terkena penyakit gondongan. Kelenjar ludahnya terserang sehingga leher bagian atas dan pipi bengkak. Ada peradangan ringan juga di buah zakarnya. Dokter memberinya obat dan menyarankan kompres untuk bola-bola berharganya.

Santri Timur menerima sakitnya dengan tawakal. Tapi, kesabarannya mulai diuji ketika ibunya—melalui telepon dari Caruban—memerintahkannya membalurkan blau, bubuk cuci berwarna biru, ke leher dan pipinya. Sekalipun ia sering berkeluh-kesah bahwa perintah kedua orang tuanya, terutama ibunya, kerap tak membahagiakannya, ia tetaplah anak yang patuh. Maka, untuk beberapa hari berikutnya, Santri Timur kadang dikelirukan dari pipi sampai leher sebagai spesies Na’vi, alien berkulit biru Wisnu dari film Avatar.

Jauh hari sebelum sakitnya, Santri Timur sudah punya janji wawancara dengan dua peneliti dari Inggris seputar gerakan Islam radikal di Indonesia. Kebetulan Santri Timur pernah mondok di pesantren yang segelintir lulusannya terlibat dalam pengeboman di Tanah Air. Mereka punya janji ketemu di Solo. Mengingat kondisinya sudah membaik, Santri Timur berniat menepati janji ini. Bengkak di pipinya sudah kempis, tapi lehernya belum. Sebelum ia berangkat, istrinya mengingatkan pesan ibunya, “Kalau belum sembuh betul, blaunya mesti dipakai terus.” Santri Timur sebetulnya keberatan, hanya saja kepatuhan terhadap perintah ibu adalah mutlak baginya.

Sepanjang perjalanan bus dari Boyolali ke Solo, Santri Timur sudah mendapatkan tatapan geli dari para penumpang yang duduk di dekatnya. Ketika akhirnya ia sampai di restoran tempat wawancara, reaksi pertama yang ia dapati dari dua peneliti Inggris itu adalah tatapan terkejut. Ketika ia menjelaskan tentang blau di lehernya, salah seorang peneliti tak sanggup menahan tawanya, bahkan ketika yang bersangkutan berusaha keras dengan sopan menahannya.

Wawancara itu sendiri berjalan baik. Hanya saja, Santri Timur merasa sakit hati karena ia merasa peneliti yang menertawakannya masih tetap terbahak—sekalipun tanpa suara—saat mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dalam perjalanan pulang ke Boyolali, Santri Timur menyadari satu hal: walau bagaimanapun ia akan tetap menjadi anak patuh kepada orang tuanya tetapi cintanya yang selama ini tinggal tersisa sedikit kepada ibu yang melahirkannya ternyata makin longsor saja.

Yusi Avianto Pareanom, editor di Penerbit Banana, Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s