Cerpen Koran Tempo – Mati

Cerpen Koran Tempo, 17 Januari 2010 | Sergi Pamies

Aku harus mengalami mati untuk tahu apakah ada orang yang mencintaiku. Ketika aku hidup, aku tak dikenal, dan menjadi masalah besar bagiku menyadari betapa kerasnya aku berjuang tanpa keberhasilan apa pun. Di rumah, jika aku tidak memulai satu percakapan, istri dan anak-anakku merasa bahwa waktu yang harus mereka berikan untukku semata-mata hanya untuk masalah-masalah praktis. Di tempat kerja, ketika aku tak masuk kerja karena sakit, tak ada yang menyadari ketidakhadiranku. Oleh karena itu, reaksi yang bermunculan atas kematianku tidak mengejutkanku lagi. Keprihatinan yang sekadarnya tampak menerpa keluargaku, lebih berupa perasaan kesal yang menyertai situasi seperti ini—dan sejumlah kecemasan akan masalah keuangan— daripada perasaan kehilangan yang tak terelakkan.

Begitu sudah jelas bahwa mereka akan menerima pembayaran dari asuransi jiwa, anak-anakku kembali  bersikap normal seperti biasa. Hanya ketika anak perempuanku yang paling kecil membelai peti mati murahan tempat aku disemayamkan di ruangan duka direktur pemakaman, aku baru melihat adanya ekspresi duka cita. Aku membayangkan dan mengenang masa kecilku karenanya. Sebagian besar orang yang datang ke pemakamanku melihat-lihat arloji mereka saat pemuka agama menguarkan khotbah panjang lebar yang aku sukai. Tak ada sebulir pun air mata menetes. Keheningan yang santun selama layatan juga menunjukkan kesan yang sama, ditandai dengan ekspresi duka cita yang penuh kepura-puraan belaka.

Istriku menunjukkan sikap tenang setelah pemakamanku. Dalam satu minggu, dia mengemas duka citanya dan pakaian-pakaianku ke dalam kotak kardus yang diserahkannya kepada pengemis yang mengiba-iba di depan Kentucky Fried Chicken. Dua minggu kemudian, dia menata rambutnya, mengecat kuku kakinya, berhenti merokok, dan mulai tertawa dengan lebih keras dan lebih sering dari kapan pun.

Ketika masih hidup, aku merasa orang-orang menolak keberadaanku, tetapi sikap-sikap tak acuh yang mereka perlihatkan kepadaku itu bisa dimaklumi. Dan jika, karena sebuah salah paham, cara mereka tidak memedulikanku menjadi sedemikian mencolok, aku hanya menunjukkan mimik angkuh dan bersembunyi di balik peribahasa singkat tentang kepasrahan: Sang Waktu berderap maju; tersenyumlah meski pahit dan tabahlah ….

Kadang-kadang, ketika aku merasa terlalu sulit menerima kenyataan bahwa aku dikucilkan, aku akan pergi ke kawasan Arrabassada dan merokok, berpikir sejenak, dengan mobil-mobil di sekelilingku berisi pasangan-pasangan yang bersanggama dengan sepenuh energi yang dipompakan darah muda atau semangat perzinaan mereka. Semua itu diekspresikan lewat suara decat-decit penahan guncangan mobil mereka, desahan-desahan yang teredam jendela mobil, dan suara-suara cekikikan yang menyuntikkan sebentuk kekuatan kepadaku. Bagaimanapun, itu adalah sebentuk energi.

Aku tewas di perjalanan pulang dari salah satu acara jalan-jalanku tersebut. Aku tak bisa mengatakan bahwa itu kecelakaan. Saat itu aku sedang mengendarai mobil sehati-hati biasanya sambil mengagumi pemandangan keindahan kota yang terhampar dari kaki pegunungan dan mendengarkan berita yang disiarkan radio mobilku. Beberapa meter terakhir sebelum tikungan aku merasa harus “melepaskan diri” dalam arti yang seluas-luasnya. Itu sama sekali bukan tindakan bunuh diri, menurutku. Lebih seperti penyakit jiwa tidak bertanggung jawab.

Awalnya aku mengabaikan tanda batas kecepatan. Kemudian mengacuhkan kata stop yang dicat di atas aspal (huruf pertamanya buram sehingga aku membacanya “top”). Akhirnya menerabas lampu merah. Beberapa meter memasuki jalan tol, aku melihat sepasang manusia tua-renta menyeberang jalan. Aku mempercepat laju mobilku untuk menghindari mereka, tapi tiba-tiba saja mobilku berbelok sendiri memasuki jalur jalan lain. Tidak mengerem. Mobilku menabrak, merusak pembatas jalan, dan melayang sejauh tiga sampai empat meter sebelum terjungkir dan menghantam jalur pengendara motor. Ajaibnya, tidak terjadi tabrakan beruntun. Perlu waktu tujuh menit sampai aku mati. Selama itu aku terkejut karena radio mobilku tetap bekerja, memberikan kekejian sebuah kata penutup. “Itulah berita-berita untuk kali ini,” ucap suara seorang perempuan dengan latar belakang musik pengiring yang gegap gempita.

Kematian tidaklah manis atau asin. Ini lebih rumit daripada yang kubayangkan. Mungkin karena selama hidup aku tak pernah memikirkannya. Rasanya semacam perpaduan kelumpuhan emosi dan badani yang mencegahku dari merasakan rasa sakit apa pun. Aku merasa seakan disaring kenyataan di sekelilingku melalui sebentuk persepsi yang berbeda dari apa yang biasa kugunakan sampai saat itu, seakan-akan persepsi itu lebih bergantung kepada orang lain daripada pada diriku sendiri. Sebelum aku benar-benar dinyatakan mati, aku menghabiskan waktu sejenak di dalam sebuah ambulans. Atas keahlian seorang perawat pria yang mengidap bau mulut, aku berhasil mempertahankan beberapa denyut vitalku selama beberapa detik. Lalu, kulepaskan diri dan kusimpulkan bahwa tidak layak segalanya kuperjuangkan dengan upaya sekeras itu. Persimpangan antara menyelamatkan diri sebagai orang cacat dan sakaratul maut yang mendekat menyilaukan kesadaranku lewat sebuah penampakan sinar cemerlang.

Penunjuk yang mengarah ke jalan untuk bertahan hidup tampak sangat spektakuler dengan lampu-lampu neon gemerlap, iklan beli dua-gratis-satu, dan serangkaian papan-papan reklame yang menggiurkan. Jalan tempat kau tak mungkin kembali, di sisi lain, hanya memampangkan kalimat anjuran dengan sebuah bola lampu enam puluh watt. Aku memilih tak melakukan apa pun dan hanya menunggu perkembangan baru. Terkondisikan oleh kelembaman yang terlalu lama, aku melihat diriku sendiri di atas jalan yang temaram. Tentu saja itu akan segera berakhir. Agak di luar perkiraan, ternyata aku menikmati sebuah kesempatan untuk menyaksikan kehidupan orang-orang terdekatku dan mereka yang kusayangi. Tak hanya kehidupan mereka berlangsung sangat baik tanpa aku, tetapi nyatanya semakin hari semakin baik.

Aku menyaksikan anak lelaki tertuaku kini asyik melakukan cybersex dengan seorang lelaki Swiss yang berpura-pura menjadi seorang pembantu rumah tangga di Brasil. Kusaksikan anak perempuanku kini rajin menggerakkan tubuhnya, seorang gadis yang selalu punya alasan untuk bermalas-malasan di tempat tidur dan tidak berangkat ke sekolah. Kini dia bangun pagi sekali dan berenang dengan amat rajin hanya untuk bisa mendekati seorang instruktur olahraga bertubuh atletis. Dan lihatlah itu, cinta dalam hidupku, tengah mencari-cari bayangan dirinya di jendela-jendela kaca toko untuk melihat betapa cantiknya dia.

Dan, seakan-akan baru saja mendapatkan kemenangan pertamaku setelah bertahun-tahun lamanya, aku merasa harus tersenyum karena akhirnya aku bisa membuat mereka semua bahagia. (*)

Sergi Pamies menulis cerita pendek dan novel dalam bahasa Katalan. Cerita di atas diterjemahkan oleh Atta Verin dan Anton Kurnia dari versi Inggris Peter Bush.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s