Cerpen Koran Tempo – Mata Marza

Cerpen Koran Tempo 10 Januari 2010 | Mona Sylviana

Nyamuk berdenging di liang telinga.

Marza bangun dan nyaris jatuh dari bangku tempatnya berbaring. Ia membuka kelopak mata. Likat. Diturunkannya kaki. Marza bersandar di meja kayu.Tangan ringkih itu menyibak spanduk yang nempel di pagar gedung tua.

Hampir satu bulan Marza tidur di tenda jualan yang ditinggal mudik pemiliknya. Hampir satu bulan juga gedung tua di samping tenda itu ramai.

Halamannya penuh deretan mobil.

Sebuah mobil berjalan pelan. Mobil bertubuh mulus yang kaca depannya berembun berbelok. Sebuah lagi menyusul di belakangnya. Sebuah lagi. Dan lagi. Dua motor nyalip dari samping kiri.

Apa masih bisa parkir?

Marza mengambil plastik dari atas meja. Menyesap ujungnya. Meremas-remas. Sisa air di plastik itu membasahi bibir yang kering dan retak.

Kilat memecut langit.

Angin berhembus menembus sela-sela lapisan atas tenda. Umbul-umbul yang diikat sepanjang tiang lancip pagar membuat suara.

Marza tengadah.

Matahari sembunyi di langit warna jelaga.

Kayaknya belum jam 7. Atau lewat? Kok enggak kedengaran azan? Pasti mau hujan lagi ….

Ban berdecit. Muka mobil hampir menyentuh pagar. Lampu menyorot dari balik spanduk pembatas. Mata Marza menciut. Beringsut ke tempat yang lebih remang, ke ujung bangku.

Tiga orang turun.

“Kok sepi?”

Mobil sebanyak ini kok dibilang sepi. Edan.

“Acaranya besok. Sekarang latihan.”

“Iwan Fals juga latihan?”

“Iya kali.”

“Latihannya jam berapa?”

“Enggak tau. Tanya aja sama panitianya. Tu yang pada rame.”

“Semuanya panitia?”

“Ya, iya. Namanya juga acara kebudayaan.”

“Lho! Gimana sih? Katanya Iwan Fals. Kok acara kebudayaan. Bukannya musik?”

“Musik kebudayaan.”

“Oh ….”

Seorang dari mereka mendekati pagar. Orang itu menyalakan rokok. Dua kali batang korek api dimatikan angin.

Pasti kretek murahan. Tapi emang enak dingin-dingin gini ngeretek.

Marza merogoh saku jaket. Separuh rokok kretek yang dikeluarkan dari saku itu gepeng. Sambil menyelipkan di bibir, tangan kanannya mengorek sudut kaki kursi. Mengambil sebatang korek api. Ia menggoreskan di tiang tenda. Membuat desis. Bibir Marza menyala. Orang yang menempel seperti lintah di pagar itu menoleh. Marza makin menepi.

Tak lama, beberapa orang mendekat.

Orang yang hanya berjarak satu rentangan tangan dengan Marza melemparkan kunci. Mereka yang mendekat lalu membuka bagian belakang mobil. Mengangkat panci besar, tas-tas plastik hitam besar, termos. Aroma kaldu dan bawang goreng menyerbu lubang hidung.

Marza tersedak.

Pangkal mulutnya pahang. Ludah kental susah ditelan.

Tadi pagi hanya makan gorengan. Satu. Dingin lagi. Apa mereka mau tukar nasi sop sama sort taim?

Marza menginjak batangan rokok. Mengibas-ngibas celana, blus, jaket seolah mengembalikan warnanya yang memudar. Ia mengendus ketiak. Tercium masam cuka.

Tinggal pake tisu. Dilap juga wangi lagi.

Tiba-tiba Marza memegang perut.

Kenapa kerasa sekarang?

Isi perutnya terasa saling melilit. Marza menekan-nekan perut bagian bawah. Mukanya seketika menyerupai lelehan lilin. Mengeras dan dingin. Betisnya keras menjejak. Menahan ngilu. Tenggorokan seperti sekam terkena percik api.

Mata Marza berkunang tapi ia beranjak juga. Kaki diseret menapaki tepi aspal. Naik trotoar.Turun. Menyusur jalan masuk gedung tua. Puluhan semut merah terasa merayap. Mencubit-cubit paha. Ia limbung. Mata gelagapan menyapu sekeliling. Marza ke sudut halaman. Jongkok di bawah lampu penerangan halaman yang tidak menyala. Dari bibirnya keluar erangan tertahan.

Air mulai jatuh. Satu-satu.

Bola mata ke pintu samping.

Tangga masuk pintu samping penuh orang duduk. Mereka merokok. Mereka bicara dan menenggak minuman dari gelas plastik.

Bola mata melesat ke pintu depan.

Persis di bawah sorot lampu pintu depan, seorang laki-laki melihat ke arahnya.

Marza membenarkan letak blus. Merapikan jaket. Menarik tulang punggung agar tegak. Melangkah pelahan. Melewati orang-orang di bawah beringin. Mereka berhenti bicara. Sejenak. Kembali bicara. Seolah memberinya jalan. Marza melewati laki-laki di bawah lampu. Laki-laki itu bergeming. Marza masuk. Melewati seseorang di meja dekat pintu yang menjaga lembaran kertas. Ia menganggukkan kepala.

Jangan berhenti. Pura-pura enggak tau aja mau ke mana? Lurus atau belok kanan? Apa itu?

Lantai ruangan persis di depannya berlapis kain putih kusam. Marza melongok dari daun pintu.

“Masuk aja.”

Laki-laki di bawah sorot lampu pintu depan tadi berdiri dekat Marza. Tangan kanan laki-laki itu terentang menyilakan. Ada noda di telapak tangannya. Tapi tubuh laki-laki itu beraroma rumput.

Atau susu? Bukan. Kayak wangi tanah kemarau yang kena air. Suaranya bagus. Kayak titik hujan jatuh di genteng. Tapi bukan hujan gede. Gerimis. Bukan. Bukan. Suaranya lebih mirip suara kali ….

Marza geragapan. Mengangguk. Menggosok-gosokkan sepatu yang solnya hampir menyatu dengan kulit kaki di keset sabut kelapa. Ia menginjak lapisan kain. Sempoyongan. Kakinya serupa berjalan di muka air. Marza hilang arah. Kelimpungan. Orang-orangan besi bergelantungan. Baju aneka warna menghadang. Hijau. Biru. Merah. Tak ada kursi. Tak ada meja. Tak ada jendela. Tak ada jalan keluar. Hanya deretan gambar di muka dinding.

Apa ini?

Marza mendekati gambar yang lebih panjang dari tenda tempatnya tidur. Perempuan di gambar itu menunduk. Rambut jatuh. Baju hijau pudar sewarna blus Marza. Lengan terentang. Kuku lentik di jari-jari terkulai.

Malaikat penjaga firdaus. Siapa itu?

Telapak Marza memegang permukaan gambar. Mengusapnya. Ia menyentuh kuku lentik di jari-jari terkulai perempuan di gambar itu. Pangkal paku. Lengan. Batangan kayu.

Kasian. Pasti sakit. Aneh, kayaknya bukan karna tusukan paku.Tapi dari mana darahnya?

Di legam rambut perempuan itu telapak Marza kaku.

Terasa paku-paku di gambar itu pindah dalam perutnya. Menusuk-nusuk. Cairan dingin mengaliri selangkangan. Ia merasa bagian belakang celananya lembab. Keringat keluar dari kening. Turun. Meleleri pipi.

Di mana kamar mandi?

Marza takut cairan kekuningan jatuh ke kain pelapis. Ia gegas ke luar ruangan. Berbelok. Berujung di ruang lain.

Ruang yang riuh.

Semua kursi di ruang riuh itu penuh. Orang-orang yang tak dapat kursi berdiri berkelompok. Bibir mereka bergerak-gerak. Bicara.Tertawa. Tak ada yang menyadari kehadirannya. Satu orang yang berdiri takjauh dari Marza sempat mendengus. Mungkin orang itu mencium bau busuk. Setelah matanya nyelusup antara kerumunan, Marza menemukan tulisan “toilet”. Ia menghembus nafas. Cepat melintas. Menembus asap rokok, kepulan dari cangkir kopi, suhu panas tubuh.

Kamar mandi terletak di ujung ruang riuh itu.

Ada tiga. Semua kosong.

Marza mendorong pintu pertama. Ia tergidik melihat lubang wc mampat oleh tisu. Pintu yang tengah didorongnya. Tidak ada gayung.Tidak ada pilihan. Ia masuk kamar mandi paling ujung walau untuk mendekati bibir wc ia harus melompat. Lantainya digenangi air nyaris setinggi mata kaki. Marza menyorongkan badan. Mengunci pintu yang sulit dikaitkan.

Marza bersandar di dinding belakang.

Cairan telah sampai betis.

Marza membuka celana.Kulit ari di sekitar selangkangan mengelupas menempel di celana dalam. Marza jongkok dan menunduk. Air kuning kemerahan mengalir dari vagina. Air pekat itu keluar bersama bau nanah. Busuk menyeruak.

Marza menggigit bibirnya kuat-kuat. Menahan perih. Dari perut. Dari vagina.

Suara kran bocor berkarat menetes ke ember.

Suara-suara dari ruang riuh sebelah pun nyelinap masuk lewat lubang angin dan lubang kunci.

“Spektakuler ….”

“Yang menarik buatku keberaniannya. Gedung Indonesia Menggugat jelas bukan galeri. Kayaknya sekarang ini jarang ada pelukis yang berani pameran di tempat kayak begini. Jangankan kolektor, wartawan aja males datang.”

Otot-otot paha Marza kejang.

“Spektakuler ….”

“Temanya juga berani. Katanya pake riset ke tempat pelacuran segala. Bisa dilihat kan? Lukisan-lukisannya yang ini beda banget, jauh dari warna-warna monokrom. Warna itu suram. Sakit.”

“Sok kritik seni rupa ah. Suramlah. Sakitlah. Abstrak tuh. Ngomong-ngomong, kapan nih makan malamnya?”

“Dasar seniman miskin.Yang dipikirin makan mulu.”

“Perlu dong. Itu kan basis material. Mana bisa nikmati lukisan kalau perut lapar. Iya kan?”

“Setuju.”

“Eh, kemarin aku sempat dengar dia bilang kalau ini sebenarnya perayaan para pelacur. Maksudnya apa, ya?”

“Mana gua tau.Tapi kok enggak ada?”

“Apanya?”

“Ya, itu.”

“Pelacur maksud lu?”

Kepala Marza sontak terangkat dari tengah lipatan lutut.

Ia membuka mata. Gelap. Lalu menguning. Lalu samar-samar. Pintu kamar mandi. Dinding. Genangan air di lantai beriak tapi tak bergerak. Ada dahak mengapung mendekati lubang pembuangan. Utasan rambut timbul tenggelam. Lumut di sela-sela petak keramik berwarna hitam. Seperti meliuk. Seperti gerak cacing.

Marza memalingkan muka.

“Iya. Kan lumayan kalau dapet gratis.”

“Dasar. Otak lu berlendir. Lagian lu, Us, kayak gitu aja nanya. Katanya sastrawan ….”

“Apa hubungannya?”

“Kok apa hubungannya! Jelas kan? Pameran tunggal ini mengenang kematian Rendra. Semua lukisannya lahir dari “Nyanyian Angsa”. Sajak ini seperti cerpen. Tokoh utamanya Maria Zaitun. Dia diusir germo. Ditolak dokter. Ditolak pastor. Dijauhi orang-orang. Tapi di tepi kali, pelacur sipilis itu ternyata dijemput Yesus. Itu artinya ….”

“Iya. Iya. Gua tau kalau “Nyanyian Angsa”. Sajak itu mah dari SD aja gua udah hafal. Pelacur itu kan akhirnya sekarat. Koit. Tapi pameran ini kan bukan sajak Rendra. Pameran ini ….”

Marza bangkit. Sebelum celana dalam yang tengahnya robek dinaikkan, selangkangannya yang gatal terasa semakin. Dengan gayung yang gagangnya patah, ia menadah air berbau besi dari kran. Marza mencuci vagina. Betisnya mulai gemetar. Kesemutan. Cairan dari vagina masih menetes.

Mata Marza berair.

“Spektakuler.”

“Us, ngapain sih dari tadi ngomong itu dan itu? Spektakuler mulu.”

“Memang spektakuler kan?”

“Tapi lu kan belum bilang apanya yang menurut lu spektakuler.”

“Pokoknya spektakuler.”

Gatal itu tak pergi.

Marza menggosok-gosok lagi. Liang itu terasa perih. Panas. Ia terus menggosok. Jari-jarinya lengket. Lendir mengalir. Ngocor di selangkangan. Menggosok. Membasuh. Tapi tidak juga menjauh. Telinga berdenging. Selangkangan dibakar gatal dan perih. Perut kembali ditikam ratusan paku. Marza menekuk lutut hingga menekan perut. Mata Marza disergap bayang-bayang ibu dan nenek yang sudah bertahun dikubur.

Pintu kamar mandi diketuk.

Siapa?

Pintu diketuk lagi.

“Marza ….”

Kran air berhenti ngocor.

Suara itu seperti aliran kali tempatku dulu tiap hari mandi. Orang-orang bilang air kali itu mengalir terus. Mengalir ke laut. Menguap ke ….”

“Marza ….”

Siapa? Kenapa dia tahu namaku? Tapi rasanya aku kenal suara itu. Hanya di mana? Bukan. Bukan di ranjang. Bukan di pasar. Bukan di stasiun. Bukan di mana pun. Tapi….

“Marza ….”

Mata Marza sepenuhnya gelap. (*)

Mona Sylviana menyelesaikan studi Sains Komunikasi di Universitas Padjadjaran, Bandung. Sekarang bergiat di Institut Nalar Jatinangor, Sumedang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s