Cerpen Kompas – Lidah

Cerpen Kompas 24 Januari 2010 | Ahmad Rofiq

Matahari telah muncul di timur. Cahaya kuning menyeruak dan menguasi permukaan langit. Bola api raksasa itu merangkak mendaki hingga sepenggalah ketinggiannya. Biasanya di waktu seperti itu Rena sudah berada di dapur. Memasak atau mencuci tumpukan piring kotor. Tapi tidak di pagi itu. Saat itu dia merasakan tubuhnya capek dan kepala agak pening. Maka dia masih tiduran di dalam kamar.

Di luar kamar, terdengar ibu mertuanya sibuk mengomel. Sesekali juga terdengar perempuan tua itu membentak-bentak.

”Dasar ayam pemalas. Sepagi ini masih nyekukruk, seperti ayam gering (sakit). Sana keluar cari makan!”

”Wuttt, glontang, klotakkk, brukk!” bunyi sepotong kayu dilempar.

”Sial, dia lagi-lagi menyindirku,” umpat Rena dalam hati.

Ya, tidak sekali dua kali ucapan ibu mertuanya membikin merah telinga Rena. Melukai perasaannya. Dan pagi itu entah yang keberapa. Rena menganggap perempuan itu sudah keterlaluan. Dengan mengatakan dirinya sepagi itu masih nyekukruk seperti ayam digampar penyakit.

Memang, Rena juga mendengar suara kokok ayam berlarian. Mungkin ternak itu berusaha menghindari lemparan kayu. Namun dalam keyakinannya, ucapan ibu mertuanya tidak semata-mata ditujukan pada ayam. Sebab mana mungkin ayam yang tak berakal disodori ucapan dan bentakan seperti itu. Tentu yang dimaksud ibu mertuanya adalah dia yang saat itu masih mendekam dalam kamar.

Teringat oleh Rena, kejadian seperti itu bukan satu-satunya yang membuatnya makin membenci ibu mertuanya. Meski perempuan tua itu adalah ibu kandung suaminya yang seharusnya dia anggap sebagai ibu kandungnya juga. Dua hari lalu terjadi pula peristiwa lain yang tak kalah sengitnya.

Saat itu Dino, anak Rena yang berumur tiga tahun, bermain kejar-kejaran dengan si Bidin, anak tetangga sebelah. Demi menghindari tangkapan Bidin yang mengejarnya, Dino masuk rumah. Di waktu menutup pintu depan, Dino membantingnya dengan amat keras. Maka ketika mendengar pintu berdentar, ibu mertuanya terperanjat bagai mendengar bunyi petasan. Wajahnya merah padam karena marah, dan dalam pandangan Rena keriput kulit wajah ibu mertuanya tampak makin menyeramkan.

”Eh, bocah kurang ajar. Jangan keras-keras kau banting pintu. Bisa sempal nanti. Kau tahu, ini rumahku, bukannya rumahmu, bukan rumah ibumu. Kau tinggal menempati saja pakai membanting pintu segala.”

Saat mendengar ocehan itu, Rena merasakan hatinya seperti dibakar. Ucapan ibu mertuanya ibarat anak panah yang melesat dari busurnya dengan kecepatan tinggi. Sekilas mengarah ke Dino, tapi ternyata berbelok dan menancap di ulu hatinya.

Rena yakin, mustahil omongan penuh sindiran itu ditujukan pada Dino, bocah tiga tahun yang belum jelas mengucapkan bunyi tiap-tiap abjad. Bocah itu bahkan belum mampu menemukan perbedaan antara kidal kata sifat dan kadal sebagai kata benda. Pastilah yang dimaksud ibu mertuanya sebagai ”orang yang tak punya rumah dan tinggal menempati saja” adalah dirinya. Sementara Dino hanya cengengesan mendengar celoteh neneknya. Renalah yang merasakan ulu hatinya bagai tertusuk puluhan jarum berbisa.

Lambat laun, kebencian Rena pada ibu mertuanya makin menebal. Dia bahkan merasa tak betah lagi tinggal di rumah itu. Hidup satu atap dengan seorang perempuan renta, namun banyak sekali bicara. Rena mulai dihinggapi perasaan muak. Gerah dengan segala tingkah mertuanya yang baginya terlalu mencampuri urusan orang.

Hampir tiap hari Rena harus menyiapkan kelapangan dada ekstra. Merelakan diri jadi papan sasaran bagi omelan, ocehan, serta sindiran ibu mertuanya. Begitu bencinya, Rena sampai menduga memang ada susuk emas tertanam di kedua bibir perempuan tua itu. Maka tak heran, meskipun tanpa deretan gigi yang menopang sehingga mulutnya tampak ompong, toh dia masih begitu lincah berujar. Selalu melimpah ruah dalam menumpahkan kalimat.

Pernah di satu kesempatan Rena mengadukan rasa tidak betahnya pada suaminya. Namun saat mendengar pengaduan Rena, suaminya hanya tersenyum. Lelaki itu seperti telah mengetahui kenyataan itu. Dan dengan enteng saja berkata

”Ya, namanya juga orang tua, Re. Saya kira di mana-mana seperti itu.”

”Tapi Mas, saya kira ibu sering keterlaluan.”

”Sudahlah. Tak usah diambil hati. Anggap saja ucapannya hanya angin lalu. Aku yakin kau bisa melakukannya. Kau tahu kan, perilaku orang tua itu memang mirip anak kecil. Juga tuntutan dan permintaannya. Bagaimana pun juga dia adalah ibuku.”

”Tapi, kalau begini terus rasanya aku tidak betah lagi tinggal di sini. Ayo kita pindah saja. Kita mengontrak atau apalah, yang penting pergi dari rumah ini.”

”Ah, kamu ini jangan mikir aneh-aneh. Kita punya rumah sendiri kok mau mengontrak rumah.”

”Rasanya aku tidak betah lagi tinggal di rumah ini.”

Suami Rena tampak memahami apa yang menjadi akar masalah. Lelaki itu juga tahu, ibunya yang telah renta itu memang banyak omong. Kadang sering mengurus hal-hal sepele yang tak perlu. Namun tidak mungkin dirinya sebagai seorang anak meninggalkan ibunya sendirian di rumah.

”Sabarlah, Re. Aku tahu, ada begitu banyak ketidakcocokan antara kau dan ibu. Aku sadari kenyataan itu. Tapi aku mohon padamu Re, bersabarlah. Jangan kau sodorkan padaku buah Simalakama. Kalau kita pindah dari rumah ini, lalu bagaimana beliau yang sudah setua itu. Siapa yang akan mengurusnya. Ah sekali lagi, sabarlah, please,” ucap lelaki itu memohon. Dan Rena tak bisa berbuat apa-apa.

Pernah juga Rena keceplosan bicara. Dia mengumbar masalahnya dengan ibu mertuanya di depan teman-temannya. Rena pikir sesama wanita tak apalah bila dia membicarakan soal itu. Saat itu mereka berkumpul di halaman sekolah taman kanak-kanak tempat anak-anak mereka belajar dan bernyanyi. Seperti biasa, saat anak-anak asyik belajar mengeja dan menyanyi bersama guru mereka, para ibu yang mengantar tak mau kalah. Mereka membentuk kelompok diskusi di luar kelas. Ah, bukan ”diskusi” yang terdengar intelek, tapi sekadar kelompok ngerumpi di antara para wanita pengantar anak sekolah.

”Ah, kalau aku jadi kamu, sudah kusuruh suamiku memilih antara dua pilihan. Apakah mau tinggal terus dengan ibunya atau denganku. Daripada kumpul satu rumah berantem terus sama mertua,” ucap ibu Jeny. Perempuan yang selalu berdandan wah saat mengantar anaknya ke sekolah.

”Betul jeng, biar tidak makan hati lalu bisa-bisa mati ngenes sampean.” Ibunya Agus menambahkan.

”Tapi, aku kasihan pada suamiku. Dia harus menghadapi pilihan yang amat dilematis,” ucap Rena mencoba membantah usul teman-temannya

”Halah! kasihan apanya. Salah sendiri punya ibu banyak cingcong. Ngapain juga kita berkumpul dengannya di satu rumah. Eh, kalau gitu terus, bisa habis dagingmu sebab memikirkan ibu mertuamu, ya nggak Bu Agus?”

Mendengar namanya disebut, ibunya Agus mengangguk. Rena makin bingung dalam pusaran bermacam usulan yang dilontarkan teman-temannya. Salah seorang teman Rena yang bernama Monar mengajak Rena sedikit menjauh dari kelompok itu. Lalu setelah menoleh kiri-kanan, Monar membisikkan sesuatu ke telinga Rena

Rena mengangguk-angguk saat Monar menjelaskan sesuatu.

Begitulah. Hari terus berlalu dan perang saraf antara Rena dan ibu mertuanya pun terus berlanjut. Hingga pada akhirnya, Rena benar-benar kalah melawan diri sendiri. Lapisan kesabaran yang selama ini dia bangun mulai ambruk. Rena terperosok dalam kondisi gelap mata, lalu mengambil keputusan nekad. Dirinya nekad akan melakukan apa yang pernah disarankan Monar.

***

Tanpa sepengetahuan siapa pun, Rena mendatangi rumah lelaki itu. Seorang lelaki tua yang kerap dijuluki orang sebagai ’orang pintar’. Seperti juga pernah diceritakan Monar.

Di depan orang pintar itu Rena mengadukan masalahnya. Terlebih kebenciannya pada ibu mertuanya yang telah sampai ubun-ubun. Rena memang telah gagal menjalani nasihat suaminya untuk bersabar. Maka di depan lelaki berusia uzur itu, Rena menceritakan niatnya untuk melenyapkan ibu mertuanya.

”Emm, apa kamu serius ingin melakukan itu?” tanya lelaki tua.

Rena hanya mengangguk. Dia merasakan dadanya bergemuruh

”Lalu ingin cara yang bagaimana? Maksudku, cepat atau perlahan?”

”Kalau bisa secepatnya Mbah. Saya sudah tidak betah.”

”Heh, ingat! Terlalu cepat malah bisa menimbulkan kecurigaan. Nanti bila polisi membongkar, malah kau akan menanggung risikonya.”

”Lalu bagaimana, Mbah?”

”Menurutku, gunakan cara halus. Meski perlahan namun hasilnya pasti. Tak apa agak lamban, tapi aman. Saya jamin semua akan beres.”

Begitulah, saat pulang lelaki tua itu memberi Rena sebungkus serbuk. Dia katakan serbuk itu mengandung zat arsenik mematikan, namun baru bereaksi setelah lewat satu bulan. Setelah serbuk itu bekerja, maka tak akan ada yang tahu bahwa ibu mertuanya mati sebab diracuni orang. Orang akan mengira perempuan itu meninggal sebab usia tua. Saat mendengar orang pintar itu menyebut kata arsenik, Rena sempat teringat kasus kematian seorang aktivis di atas pesawat terbang. Saat orang yang getol memperjuangkan HAM itu bepergian ke negeri Belanda. Ya, Rena pernah membaca berita itu.

Orang pintar itu juga berpesan pada Rena agar bersikap sopan dan manis pada ibu mertuanya. Meskipun semua itu hanya sebatas pura-pura. Bahkan jika perempuan tua itu mengomel atau memarahinya. Toh dia akan mati juga. Rena tak keberatan melaksanakan pesan orang pintar itu.

***

Tiap pagi dan sore, Rena rajin menaburkan serbuk putih itu dalam makanan yang dikonsumsi ibu mertuanya. Dia juga pura-pura bersikap manis dan sopan pada ibu mertuanya. Seperti pesan lelaki tua itu. Bahkan saat ibu mertuanya mengomel-ngomel atau berteriak marah, Rena menyambut semua itu dengan keramahan dan senyuman. Meski dalam hatinya, Rena ingin segera melihat serbuk itu bereaksi walau belum sebulan.

Belum genap sebulan, Rena merasakan ada yang berubah. Sikap ibu mertuanya makin melunak. Perempuan tua itu juga amat ramah dan sopan pada Rena. Tak pernah lagi dia mengucapkan kata-kata kasar atau memperlihatkan sikap yang menyakitkan hati Rena. Karena perubahan itu, kebencian Rena pada ibu mertuanya seperti terkikis lalu longsor. Dan anehnya, Rena menjadi khawatir bila serbuk yang tiap hari dia tabur di atas makanan perempuan tua itu bereaksi.

Rena mulai bimbang, hingga akhirnya dia putuskan datang lagi ke rumah orang pintar itu.

”Mbah, sekarang saya kok malah takut bila racun itu bereaksi.”

”Bereaksi? Ah, tidak akan pernah itu.”

”Lho memangnya, Mbah?” Rena belum mengerti

”Sejujurnya, itu bukan arsenik. Tapi penyedap rasa untuk setiap masakan. Dan rupanya serbuk itu telah menaklukkan lidah ibu mertuamu. Pulanglah, kukira masalahmu dengan ibu mertuamu telah selesai.”

Rena tak menyangka dengan semua itu. Namun dia bersyukur sebab tak sampai menjadi seorang pembunuh. Meski dirinya selamat dari pengetahuan polisi, namun dirinya tak akan selamat dari vonis nuraninya sendiri. Dan dia mengakui, lelaki tua itu memang sangat pantas serta sesuai jika dijuluki ’orang pintar’. Seperti pernah dibisikkan Monar saat berada di halaman sekolah TK.

Gresik 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s