Cerpen Kompas – Ada Cerita di Kedai Tuak Martohap

Cerpen Kompas 31 Januari 2010 | Timbul Nadeak

Di Kedai Tuak Martohap selalu ada beberapa orang lelaki—biasanya 4 sampai 5 orang—yang bercakap-cakap sambil minum tuak. Selalu ada cerita yang mereka percakapkan. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Karena mereka bercakap-cakap dengan suara tinggi, maka semua tamu di kedai tuak itu tahu apa yang sedang mereka tertawakan. Tapi ada pula cerita yang mereka percakapkan dengan suara rendah. Kalau bercakap-cakap seperti itu, mereka pasti menggeser gelas dan botol tuak masing-masing ke tengah meja agar dapat menyimak sambil melipat kedua tangan di atas meja.

Dua jam sebelum tengah malam, biasanya Pita mulai sibuk mengelap sisa-sisa makanan dan tuak yang tertumpah di atas meja. Membersihkan dan merapikan kursi-kursi merupakan isyarat bahwa dia sedang bersiap-siap untuk menutup kedai tuaknya. Satu atau dua orang tamu yang masih berada di kedainya harus bersiap-siap pula untuk pulang. Tapi pada malam itu, ada seorang lelaki beruban yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari kursinya.

Pita tersenyum ramah ketika mengamati sosok lelaki itu. Tak lama kemudian, senyumnya hilang seketika. Dia terkesima. Sekujur tubuhnya sempat bergetar ketika lelaki beruban itu membalas tatapannya.

Pita merasa pernah mengenali wajah lelaki itu. Bahkan pernah mengenali tatapannya. Dia ingin segera berlari ke kamarnya untuk membuka album masa mudanya. Dia ingin memastikan bahwa wajah lelaki beruban itu adalah wajah tua milik seorang pemuda yang pernah dikenalnya. Wajah yang sesekali masih mampu menggelorakan rindunya.

Pita tetap melanjutkan pekerjaannya dengan kepala tertunduk. Ada rasa cemas yang tiba-tiba menyergap dirinya sehingga dia segan melirik lelaki itu, tapi nalurinya memberitahukan bahwa mata lelaki itu sedang mengamati wajahnya, rambutnya, dan sekujur tubuhnya.

”Aku pernah mengenal seseorang yang mirip kau.”

Pita menoleh. Tanpa disadarinya, ternyata lelaki itu telah berdiri di dekatnya.

”Sekarang aku hanya bisa mengenangnya.”

Pita membisu, tetapi dadanya bergemuruh.

”Maaf, aku telah mengganggu pekerjaanmu. Agar kau tak terganggu, aku akan menunggu hingga kau menyelesaikan pekerjaanmu. Setelah itu, berilah aku kesempatan untuk bicara.”

Setelah semua meja dibersihkan dan kursi-kursi ditata kembali, Pita menguatkan hatinya untuk duduk di hadapan lelaki itu.

”Apa yang ingin kau bicarakan?”

”Tentang seorang perempuan di masa mudaku, dulu.”

”Apakah kau merasa aku pernah mengenalmu?”

Lelaki itu mengangguk, lalu bertanya, ”Apakah suamimu bernama Martohap?”

Pita membisu.

”Atau anakmu yang memiliki nama itu?”

Pita menggeleng.

Lelaki itu menarik napas panjang. Ada kelegaan terbias di wajahnya. Lalu dia berkata dengan santun, ”Aku tidak suka minum tuak. Aku mampir karena membaca papan nama di depan kedai tuakmu ini. Nama siapa yang kau gunakan?”

Pita menunduk. Walau telah berhasil memendam cintanya, dia tetap merasa malu untuk menjawab pertanyaan itu.

”Apakah itu nama seorang lelaki yang pernah kau cintai?”

”Apakah kau pernah mencintai seorang perempuan?”

Lelaki itu terdiam sejenak. Dahinya berkerut. Lalu dia berkata, ”Maaf karena aku sangat lancang bertanya. Mengapa kau namai Martohap? Bukankah nama Songgop lebih berarti untukmu?”

Sekujur tubuh Pita mulai menggigil.

”Apakah kau pulang untuk perempuan yang kau cintai itu?”

”Aku tidak pulang. Aku datang!” jawab lelaki itu. Matanya menatap tajam.

”Aku yakin bahwa kau mengenal perempuan yang kumaksud. Kira-kira dua puluh lima tahun yang lalu, perempuan itu diperistri oleh anak Kepala Kampung ini,” sambungnya.

Pita membisu kembali. Napasnya tersendat.

”Namaku Martohap.”

Pita bangkit dari kursinya. Ditinggalkannya lelaki itu.

Di dalam kamarnya yang terletak di belakang kedai tuaknya, dia tak mampu menahan air matanya walaupun tak tahu pasti apa sesungguhnya yang dia tangisi. Apakah dia menangis karena terharu akan pertemuan itu atau menangis karena menyesal telah memberikan hatinya kepada lelaki itu. Gara-gara lelaki itu, tak ada lagi hati yang tersisa untuk dia berikan kepada lelaki lain.

Tahun demi tahun telah dilaluinya dalam kesendirian. Dinikmatinya kesendirian itu sambil menunggu lelaki itu pulang untuk mengembalikan hatinya. Nama lelaki itu digunakannya menjadi nama kedai tuaknya. Setiap orang yang melewati kedai tuaknya dapat membaca nama itu dengan jelas. Dia memang ingin menyapa dan mengundang lelaki yang memiliki nama yang sama untuk singgah di kedai tuaknya.

Di dalam hatinya, Pita berkali-kali menyebut nama Tuhannya. ”Tuhan, akhirnya kau kirimkan lelaki itu untuk menemuiku. Terima kasih Tuhan, mendekati usia senja aku masih sempat melihat wajahnya.”

***

Dua puluh lima tahun yang lalu, Pita sering termenung menimbang-nimbang perasaannya. Rencana pernikahan itu membuatnya resah dan marah. Berulang-ulang kali pula dia bertanya dalam hati, apakah aku benar-benar tega menistakan kehormatan yang telah berada dalam genggaman orangtuaku?

Seminggu sebelum pesta pernikahannya dilaksanakan, terjadi demonstrasi besar-besaran yang menuntut agar sebuah pabrik bubur kertas ditutup. Masyarakat dari empat kampung di sekitar lokasi pabrik bubur kertas itu bergerak serentak menebangi pohon-pohon di hutan tanaman industri. Batang-batang pohon itu diseret untuk memalang jalan. Dahan-dahannya dibiarkan berserakan di tengah jalan. Pohon besar di pinggir jalan, yang batangnya berdiameter setengah meter, turut ditebang untuk memalang jalan. Bahkan batu gunung dilinggis beramai-ramai hingga menggelinding ke tengah jalan. Ribuan masyarakat berdiri di pinggir jalan sambil membawa spanduk-spanduk tuntutan mereka, ”Jangan biarkan bau busuk merusak kehidupan kami”. ”Stop menebar racun di Tanah Toba!”.

Truk-truk pengangkut kayu terpaksa berhenti. Terjadi antrean panjang lebih dari 10 jam. Penumpang-penumpang bus lintas Sumatera terpaksa turun untuk membantu aparat kepolisian dan TNI. Mereka bekerja sama menyingkirkan batang-batang pohon yang menghalangi jalan.

Dua hari setelah demonstrasi itu, orang-orang asing berseragam dan berbaju preman terlihat hilir-mudik ke luar-masuk kampung. Masyarakat saling berbisik. ”Kepala Kampung dituduh sebagai penggerak demo.”

”Beberapa anggota masyarakat sedang dicari.”

”Yang dicap sebagai tokoh harus segera bersembunyi!” Dan calon mertuanya sempat menghilang beberapa hari. Ada yang mengatakan sedang ditahan, tapi berita-berita di televisi mengatakan sedang diinterogasi. Beberapa hari kemudian, Kepala Kampung kembali terlihat sibuk mengadakan rapat dengan masyarakatnya.

Hari pernikahan itu tentu urung dilaksanakan, tapi tepat pada hari itu tersiar kabar pengangkatan kepala kampung yang baru. Masyarakat kembali berbisik-bisik.

”Kepala kampung yang baru itu langsung ditunjuk oleh pemerintah.” Pada saat yang sama, calon mertua Pita menyatakan tak akan mundur dari jabatannya. Sejak saat itu demonstrasi yang dilaksanakan terpecah dua. Ada kubu yang mendukung. Ada kubu yang menolak. Dan sejak saat itu pula, Songgop, pemuda yang akan menikahinya menghilang. Dia dicap sebagai salah seorang aktivis yang membantu bapaknya mempersiapkan demonstrasi besar-besaran itu.

Martohap juga menghilang. Masyarakat di kampungnya menganggap dia melarikan diri karena kalah memperebutkan Pita, si perempuan kampung yang cantik dan cerdas. Tapi Pita menganggap Martohap yang menjadi pemenang. Dia telah mencicipi manisnya bibir pemuda itu.

Bibir Martohap memang telah membuat kuncup bunga di hati Pita mekar bersamaan waktunya dengan sukaria pemuda dan pemudi sekampungnya. Pada malam itu, mereka sedang menghias sebuah pohon cemara menjadi pohon Natal. Beberapa pemuda-pemudi sibuk menyelipkan kabel lampu-lampu kecil di antara daun-daun di sekeliling pohon. Tapi Pita memilih untuk membantu Martohap menyangkutkan hiasan-hiasan salib dan serpihan-serpihan kapas. Ketika pekerjaan mereka selesai, semua lampu gereja dimatikan. Kegelapan menyelimuti mereka. Di balik rimbunnya pohon Natal, Martohap segera merengkuh dan mendekap tubuh Pita erat-erat. Sebelum seseorang mencolokkan kabel ke stop kontak di dekat altar gereja, pemuda itu telah selesai menciumnya. Ketika lampu-lampu pohon Natal itu menyala indah berkelap-kelip, Pita dan Martohap saling tatap penuh makna. Dan Songgop menatap curiga!

Dua tahun setelah demonstrasi besar-besaran itu, Songgop kembali ke kampungnya. Dia pulang bersama seorang bayi berumur beberapa bulan. Bayi itu berada dalam gendongan seorang perempuan yang telah dinikahinya di Tanah Karo.

***

Sebelum tengah hari Pita membuka kedai tuaknya. Tak lama kemudian dua orang lelaki masuk dan segera membuka papan catur yang selalu tersedia di atas sebuah meja. Tapi sebelum menyusun buah caturya, salah seorang menyapa.

”Tadi malam kulihat kau bercakap-cakap dengan seseorang. Siapa dia?”

Pita sempat tergagap sebelum menjawab, ”Dia pendatang yang sedang mencari seseorang.”

”Siapa yang dicarinya?”

”Katanya adiknya,” jawab Pita sekenanya.

”Ah, kok bisa dia kehilangan adik? Sudah berapa lama dia merantau?”

”Aku tak tahu!”

Lelaki itu terdiam sejenak. ”Aneh juga. Kau lama bercakap-cakap dengan dia, tetapi tak tahu berapa lama dia sudah merantau.” Dahinya berkerut. ”Sudah kau suruh bertanya ke Kepala Kampung?” sambungnya.

”Sudah. Kupikir, sekarang dia sedang menemui Kepala Kampung.”

Lelaki itu berpaling dan mulai melangkahkan buah caturnya.

Di dapur kedai tuaknya, Pita termenung. Dia menyesal telah berbohong, tapi kalau berkata jujur, dia mungkin akan lebih menyesal. Mereka akan bertanya, dan bertanya… hingga bisa merangkai sebuah cerita. Lalu dia akan selalu curiga bila gelas-gelas dan botol-botol tuak terkumpul di tengah meja. Akan semakin curiga bila mereka bercakap-cakap dengan suara rendah. Akhirnya terusik ketika mereka tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Dia akan ditertawai di kedai tuaknya sendiri. Kalau merasa sungkan, mungkin mereka akan pergi ke kedai tuak orang lain dan terbahak-bahak di sana!

Pita pernah menegur. Dia tahu, saat itu mereka sedang mempercakapkan seorang perempuan yang sudah berumur, tetapi belum pernah dinikahi. Walaupun bukan dirinya yang sedang mereka percakapkan, tetapi hatinya cemas. Sebelum mereka tertawa, dengan lantang dia menegur, ”Sudahlah! Jangan mempercakapkan cerita seperti itu. Apa kalian tak ingin menjaga perasaanku?!”

Tegurannya membuat cerita yang sedang mereka percakapkan dianggap telah selesai. Biasanya, cerita baru dianggap selesai beberapa menit sebelum kedai tuak itu tutup. Tapi kadang-kadang ada juga cerita yang bersambung ke malam berikutnya. Bila terjadi seperti itu, biasanya seseorang dari malam sebelumnya dituntut untuk mengulang apa yang telah dipercakapkan. Jadi selalu ada cerita yang dipercakapkan karena orang-orang yang bercakap-cakap pada malam berikutnya, belum tentu semua sama dengan orang-orang yang bercakap-cakap pada malam sebelumnya.

***

Setelah semua meja dibersihkan dan kursi-kursi ditata kembali, Pita kembali menguatkan hatinya untuk duduk di hadapan lelaki beruban itu.

”Mengapa kau datang lagi?”

”Untuk melihat siapa yang membantumu menutup kedai tuak ini.”

”Aku sendiri yang melakukannya.”

”Mengapa suami atau anakmu tak ikut membantu?”

”Aku belum pernah menikah.”

Martohap terkejut. Matanya sempat berbinar. Dia baru tahu kalau pernikahan itu tak pernah dilaksanakan, padahal rencana pernikahan itu yang membuat dia mempertaruhkan nasibnya di perantauan dan selama dua puluh tahun membuatnya takut untuk pulang.

Walau membisu, Martohap tetap mengamati wajah yang dulu sangat dikaguminya. Dulu? Tidak! Tidak! Bantah hatinya seketika. Sekarang pun dia masih tetap mengaguminya. Dia memang sangat mengagumi perempuan yang tulus dan tegar. Apalagi bila perempuan itu telah membuktikan dirinya tulus menikmati kesendiriannya. Tegar mengikuti perjalanan hidupnya.

”Aku pun belum pernah menikah.”

Pita terbelalak. Untuk apa dia mengatakan itu? Tentu dia tidak sedang merayu, katanya dalam hati. Lalu dia tersenyum kecil. Dia tahu, Martohap memang tidak bisa merayu. Lelaki itu lebih suka berpikir dan bertindak.

”Apakah seseorang yang telah menjalani kesendirian selama puluhan tahun berani menjalani kebersamaan di bagian akhir masa hidupnya? Bila mengenang cerita cinta sudah terasa indah, mengapa perlu mempertaruhkan kebersamaan? Bila kebersamaan itu akhirnya ternyata menyakitkan, bukankah nikmatnya kesendirian akan menjadi sia-sia? Padahal kesendirian itu telah dinikmati hingga usia menjelang senja. Tak lama lagi kematian akan datang untuk memisahkan kebersamaan. Mungkin naif bila kusimpulkan, semakin tua menjalani kesendirian, semakin takut menghadapi kebersamaan.”

”Untuk apa kau katakan itu?”

”Karena aku ingin pulang.”

”Pulanglah!” kata Pita ketus. Hatinya meradang. Dengan sigap dia bangkit dari kursinya. Ditinggalkannya lelaki itu sebelum air matanya sempat menetes.

Martohap terkesima. Matanya nanar menatap atap kedai tuak yang tak berlangit-langit itu. Lalu dia merogoh saku bajunya dan meletakkan sebuah amplop di atas meja. Langkahnya gontai ketika meninggalkan kedai tuak yang telah sepi itu.

***

Seperti biasanya, dua jam sebelum tengah malam, Pita selalu sibuk mengelap sisa-sisa makanan dan tuak yang tertumpah di atas meja. Dia masih tetap sendirian membersihkan dan merapikan kursi-kursi kedai tuaknya. Setelah menutup kedai tuaknya, sesekali dia membuka amplop yang ditinggalkan Martohap. Lalu dibacanya surat pendek itu untuk kesekian kalinya, ”Pita, hingga sekarang aku tetap mencintaimu! Aku berbahagia karena tak ada orang yang berhak melarangku untuk berhenti mengenangmu!”

Pita mengangkat kepalanya. Ditatapnya kegelapan malam. Lalu bibirnya tersenyum. Ada segumpal kebahagiaan ketika dia membayangkan seorang lelaki beruban yang tak pernah berani melamarnya.

Menteng Metro, Desember 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s