Cerpen Suara Merdeka – Hantu Seriman

Cerpen Suara Merdeka, 11 Juli 2010 | Guntur Alam

BILA petang berubah pekat dan cericit kelelawar terdengar ingar di atas bubungan Limas. Bergegaslah, Tuan, panggil anak-anak Tuan yang masih di pekarangan. Jangan sampai terlambat atau Tuan akan menyesal sepanjang malam. Sebab, kata Kajut-ku, Hantu Seriman tengah melayap. Mencari anak-anak kecil untuk dimangsa. Mencari anaknya yang pernah hilang di petang temaram.

Oo, tahukah Tuan, siapa itu Hantu Seriman? Ah, bila tanya itu Tuan lontarkan kepada orang-orang tua di dusunku, kampung kecil di kabupaten Muara Enim, Tanah Abang, dapat kujamin tengkuk mereka akan nyenggeret, berdiri gemetar bulu-bulu roma di sekujur tubuh mereka. Lekas mereka memanggil anak-anak untuk berkumpul di dalam Limas, menutup semua lempedan, dan meminta agar tak keluar sampai magrib usai di gerbang isya. Tentu saja, mereka selalu berpesan: Jangan sesekali merajuk di petang kelam.

Ah, Tuan pasti bertanya-tanya: Apa hal yang membuat Hantu Seriman demikian ditakuti? Lebih-lebih oleh orang tua yang mempunyai anak kecil. Oo, ke mana nyali orang-orang Tanah Abang itu? Iii, jangan Tuan meremehkannya. Memang (seingatku, Tuan) belum ada anak-anak yang meregang nyawa setelah diculik Hantu Seriman. Tapi, ada kepercayaan yang diyakini oleh orang dusunku, anak-anak yang pernah diculik Hantu Seriman akan kehilangan kesadarannya alias menjadi sedikit tak waras! Oo, tentu Tuan akan berjinjit ngeri mendengar akibat itu.

Ah, Tuan pasti bertanya-tanya kembali, mungkin pula telah bergumul-gumul tanya itu di kepala Tuan. Mengapa bisa demikian?
Mengenai hal itu, tak ada yang dapat menemukan musababnya, Tuan. Pasalnya, tak satu pun anak-anak yang pernah jadi korban Hantu Seriman dapat menceritakan apa hal yang dibuat makhluk mengerikan itu kepadanya. Hanya, Tuan, anak-anak itu dapat menceritakan wujud si Hantu Seriman.
Kata mereka, Hantu Seriman itu seorang wanita bertubuh gemuk hitam, dengan dada yang demikian besar. Teteknya bergelayut seperti pepaya besar yang lembek, ketiak lebar yang asam tak kepalang—di ketiak lebar dan asam itulah, Hantu Seriman kerap menyembunyikan anak-anak culikannya, membuat sang anak jatuh pingsan lantas menyembunyikannya pada tempat yang tak dapat dinalar orang tua. Tak hanya itu, Tuan, kata anak-anak itu lagi. Hantu Seriman berambut panjang awut-awutan dengan baju dari perca berwarna coklat, kain busuk itu cuma menutupi bawah pinggangnya. Oo, dapatkah Tuan melukiskan sosok Hantu Seriman itu dalam angan Tuan?

***

BANYAK kisah tentang muasal si Hantu Seriman yang beredar dari mulut ke mulut di dusunku, Tuan. Ada yang mengatakan kalau sesungguhnya Hantu Seriman itu adalah seorang nenek sihir yang mengumpulkan air mata dan keberanian anak kecil untuk ramuan umur panjangnya. Ada juga yang menterakan kalau Hantu Seriman adalah hantu rimba yang kesepian dan menculik anak-anak untuk dijadikan teman bermain dalam semalam. Ada lagi yang menguraikan kalau Hantu Seriman adalah hantu jelmaan dari seorang anak yang mati setelah merajuk dari rumahnya. Dan masih banyak versi lainnya. Tapi, aku cuma percaya dengan satu kisah saja. Dapatlah Tuan tebak. Ya, aku hanya percaya dengan kisah yang dituturkan Kajut-ku, emak dari bapakku. Karena aku memang selalu memercayai semua kisah yang Kajut andai-andai-kan kepadaku. Akan aku terakan kisah Hantu Seriman versi Kajut-ku ini kepada Tuan. Oo, tapi aku ingatkan di muka, Tuan boleh percaya atau tidak.

Aku akan mulai kisah Hantu Seriman yang telah menjadi kisah temurun di dusunku itu. Simaklah dengan cermat, Tuan. Jangan sedikit pun terlewat. Bila Tuan ingin lebih nikmat, buatlah secangkir kopi hitam dan sepiring ubi rebus yang panas untuk menemani Tuan menyimak.

Pada masanya, jauh bertahun-tahun silam, mungkin ratusan tahun yang lampau (Kajut-ku pun tak dapat memastikan bilangan angka tahunnya, Tuan), hidup seorang wanita bernama Serina. Ia berparas rupawan, wajah elok bulan purnama. Bulat penuh. Hidung bangir yang menggemaskan. Leher jenjang dengan kulit yang menggeliatkan rasa. Ditambah pula dengan bibir tipis bak pinang masak, merekah, menggoda untuk dilumat lekas-lekas. Oo, tentu Tuan dapat mereka-reka bagaimana rupanya. Namun sayang, Tuan, nasib Serina tak seelok wajahnya. Mungkin pula telah jadi suratan semesta, kalau orang jelita begitu banyak cobaan.

Terteralah dalam kisah Kajut-ku, Tuan. Serina belaki bujang dengan perangi tak sedap. Saban hari ada saja yang menyulut larva meledak-ledak di dada lakinya. Selalu sumpah-serapah termuntah dari lubang tenggorokannya. Telah langganan tangan lelaki itu mendarat di tubuh empuknya. Mencium, melumat dengan penuh berahi kulit halusnya. Ah, telaga telah kering di retina Serina, Tuan. Mungkin pula sumur air mata itu telah kerontang karena saban hari dikuras tak bosan-bosan. Cuping tetangga pun telah kapalan mendengar jerit dan tangis Serina tiap petang-pagi. Orang-orang pun mulai hapal dengan irama kemarahan lakinya. Meluap-luap dalam oktaf yang maha. Oo, pastilah Tuan kembali bertanya: Mengapa pula Serina tak melawan? Ah, lebih baik meminta talak. Tentu saran itu yang Tuan lontarkan.

Kajut-ku menjelaskan, adalah tabu seorang wanita di kampungku meminta talak pada lakinya —pada zaman itu. Bukankah wanita tempat melampiaskan segala hasrat bagi lelaki? Tak hanya urusan ranjang dan berahi. Segala hal. Boleh ditumpah-ruahkan di pundak bini. Oo, aku percaya, Tuan akan menentang lekas-lekas.

Pangkal masalah yang kerap meletuskan gunung amarah di dada lakinya, tak lain tak bukan adalah Seriman, anak semata wayang mereka. Bujang ingusan yang selalu menggumpalkan kesal dalam dada Serina. Oo, Tuan pasti berpendapat: Anak kecil sudah pasti di mana-mana nakal. Mungkin, pendapat Tuan ada benarnya.

“Serina…! Ooii…! Kemane pule?” tergopoh-gopoh Serina muncul dari dapur.

Peluh bercucur dari keningnya. Wajah rupawan itu memerah masak. Tungku api yang ada di dapur telah menjilati kulit mukanya.

“Buat kopi. Jangan manis-manis,” dengusnya.

Serina tak menjawab. Lagi, ia tergopoh menuju dapur. Mengambil cerek aluminium yang tergantung di dinding. Menuang segayung air dari dalam ember plastik yang ada di pojokan Limas, dan menghitamkan kembali pantat cerek itu di atas tungku dapur setinggi pinggangnya. Berderak-derak api memamah puntung kering dari kayu balam itu.

“Seriman mane? Lah bale belum?” terdengar suara lakinya dari ruang tengah.

“Belum,” sahut Serina sembari meniupniupkan suling api ke arah tungku.

Api kembali membesar, melumat puntung dengan rakusnya.

“Ai, magrib ini nih. Malam. Suroh bale!” perintah lakinya dengan nada suara meninggi.

Serina menghela napas. Telah berbusa mulutnya memanggil Seriman yang buse di pekarang Limas Seman. Saban petang bujang ingusannya itu bermain Tuntut-tuntutan, Ayam Kokok, Lipan Hoo, Menggalo-menggaloan, Kocan, Patah Lelen, Teta-teta Tebu, Gasing, Beretes Siput, dan segala permainan yang tak habisnya kalau telah mereka suka-citakan dengan karib-karib sebayanya.

Serina tak membantah, ditinggalkannya cerek yang mulai mendidih. Periuk yang menggelegak. Ia menggegas langkah, mincas menuju garang dapur, menyembulkan muka di kelendang Limas. Gelak tawa dan jerit bujang-gadis ingusan masih terdengar hingar di petang temaram itu. Pekarangan Limas Seman riuh.

“Seriman! Seriman!” tak ada sahutan, mata belok Serina menggerayangi sosok-sosok yang terlihat gegap-gempita di muka lapang itu. Bujangnya terlihat tengah berkejar-kejaran dengan Kurek, anak bujangnya Rajen.

“Man, Emak mengan mantau!” jerit Gedo.

Ngape Mak?”

Bale. Magrib!”

Sejoros lagi!” rengut Seriman dengan wajah merajuk.

Bale ji Ebak!”delik Serina.

Bujang ingusan itu mengerucutkan mulut. Jelas sekali ia tak ingin pulang, permainan Beretes Siput yang mereka gelar tengah meriah-meriahnya. Sangat sayang untuk ditinggalkan.

Sejoros lagi Mak!” rengek Seriman.

Serina mendengus. Mulutnya baru hendak terbuka lagi begitu lubang hidungnya mencium bau angus. Dadanya terkesiap. Beras yang ia tanak tercium anget. Lekas ia melompat ke dalam pintu dapur.

Tangan Serina tergesa menyisihkan puntung-puntung api yang ada di bawah tungku.  Dijangkaunya sereket dari kayu Ribu-ribu, mengaduk nasi yang ada di dalam periuk. Di bagian dasar periuk, nasi itu telah menjadi kerak berwarna kecoklatan. Air dalam cerek pun telah menggelegak, gemuruh. Serina menatak cangkir di atas piring kecil, mengambil beberapa sendok gula dan kopi. Dituangnya air panas itu ke dalam cangkir. Aroma kopi seketika menyeruak, mengelindap, meniduri lubang hidungnya. Tergopoh-gopoh ia membawa cangkir kopi itu ke ruang tengah. Lakinya menyulut kretek, bau tembakau mengisi reruang.

“Kopinya, Bang.”

Lah bale Seriman?” mata lelaki itu mengerling tajam.

Belum, lah ku-pantau. Sejoros lagi katanya,” Serina hendak memutar badan.

Betine bange! Suro bale! Magrib!” bentak lelaki itu. Serina terkesiap.

“Katanya sebentar lagi, Bang.”

Brraaakkkk…!

Serina terlonjak, tangan itu menggebrak meja. Cangkir yang berisi kopi panas itu terlocat beberapa senti dari atas meja, isinya tumpah, meleber di pinggir gelas dan jatuh ke dalam piring kecil yang jadi tatakannya. Beberapa terciprat di atas meja kayu.

Nak kene marah terus kau ini! Bange nian!” lelaki itu memaki, wajah Serina memias. Lututnya gemetar. Tanpa berkata-kata, Serina memutar badan, mengangkat sedikit besannya dan berjalan tergesa-gesa menuju dapur, menuruni tangga kayu gelek. Dua-tiga anak tangga sekaligus ia loncati. Repetan lakinya masih terdengar meracau di dalam rumah.

“Seriman! Seriman!” teriaknya.

Dadanya bergemeretupan. Takut dan marah bergumul di atas ranjang dalam dadanya, bertaut, dan bertindih-tindih. Bergumul-gumul. Matanya memanas, menahan tangis, dan gelegakkan larva yang bergemuruh.

“Seriman!” tak ada sahutan.

Beberapa bujang-gadis ingusan yang masih ada di pekarang Limas Seman mendadak diam. Mereka melarikan bola mata ke arah Emak Seriman yang berjalan mincas dengan kedua tangan mengangkat besan, betis bulir padi Serina sedikit terlihat.

“Do, mane Seriman?” tanyanya kepada Gedo yang berdiri mematung, mata belok Serina tak menemukan sosok bujang ingusannya itu.

“Tadi sembunyi. Kami maen Tuntut-tuntutan. Seriman belum dapat,” cerita Gedo.

“Seriman!” jerit Serina.

Ia memutar-mutar di pekarang Limas Seman, menyusuri kolong-kolong Limas yang ada di kiri-kanan jirannya Seman. Tak ada sahutan.

“Seriman!” panggil Serina, mendadak wanita itu merasa cemas. Tak ada sahutan. Telah ia longok salangan puntung, ramean, reban ayam-kambing, pondok bambu, bahkan lesung. Tak ada sosok bujang ingusannya itu. Meriap-riap hati Serina. Mukanya benyai, muazin terdengar mengumandangkan azan dari langgar. Ia kebingungan beberapa saat, sebelum gegas berlari ke rumah Limasnya.

“Bang! Bang!” jeritnya. Ia meloncati dua-tiga anak tangga kayu gelek dapur Limasnya. Napasnya megap-megap begitu kakinya menjejak di geladak dapur, “Bang!”

Ngape? Ataubanau magrib-magrib!” rutuk lakinya.

“Seriman, Bang. Seriman tak ada. Lebar!” lapornya dengan napas tersengal.

Pedie?” wajah itu mengelam. Saga.

Lah kukateke, suroh bale. Magrib. Eee, betine bange!”

Plaakkk…! Tangan kapalan lelaki itu mendarat di muka Serina. Wanita itu terjengkang. Matanya panas. Mendadak hatinya menciut seperti leliput. Ditahannya airmata yang hendak tumpah-ruah.

Tuntuti!” perintah lelaki itu.

Tangannya berkacak pinggang. Serina beringsut. Tak membantah, ia memutar badan, menggegas langkah menuju tangga gelek Limasnya. Ia menjerit-jerit memanggil Seriman yang tak menyahut-nyahut. Karib-karib sebaya anaknya pun ikut membantunya. Nihil. Tak ada sosok bujang ingusannya itu. Cemas bukan kepalang Serina. Takut, marah, khawatir bergumul dalam dadanya. Ia takut pulang tanpa Seriman di sebelahnya. Ia marah karena bujang ingusannya itu selalu membuat masalah, tak pernah mau mendengar apa yang ia katakan. Ia khawatir karena anak semata wayangnya itu mendadak lenyap di petang temaram, saat cericit kelelawar terdengar hingar di atas bubungan Limas.

Petang pekat itu, Tuan, kata Kajut-ku, Serina berputar-putar. Ia menggerayangi dusun Tanah Abang ngangah. Menyingkap beruang, mengintip sela-sela salangan puntung, membuka reban ayam-kambing, melongok lesung, mendongak pohon mangga dan jambu air. Tak ada batang hidung bujangnya itu. Dusun gempar. Seriman lenyap di petang yang berubah pekat. Orang sedusun tumpah-ruah mencarinya. Tetabu dipukul agar terdengar oleh Seriman kalau orang-orang mencarinya. Ebaknya mencak-mencak, memaki, dan menyalahkan emaknya, Serina. Bahkan lelaki itu berkali-kali menampar Serina, tak berhenti kalau tak dilerai oleh orang-orang dusun.

Semalam suntuk orang-orang mencarinya. Bahkan Serina terlihat mencari ke arah kuburan angker di selatan dusun. Itulah kali terakhir orang-orang melihat Serina. Pasalnya, wanita itu pun mendadak lenyap saat mencari anaknya. Orang-orang tua mengatakan, ia tersesat di dalam area kuburan atau terjun ke dalam pusaran air Sungai Lematang yang terkenal ganas di pinggir kuburan angker itu.

Sejak itulah, Tuan, bila petang berubah pekat dan cericit kelelawar terdengar hingar di bubungan Limas, orang-orang tua di dusunku gegas memanggil anak-anaknya yang masih bermain di pekarang Limas. Mereka percaya, Serina telah menjelma menjadi hantu, mencari anaknya Seriman yang hilang di petang temaram.

***

BILA pada suatu masa, Tuan sengaja atau pun tidak, tengah bertandang di dusunku, Tanah Abang di Kabupaten Muara Enim, janganlah Tuan lupa akan cerita ini.

Gegaslah Tuan panggil anak-anak Tuan yang masih berada di pekarangan Limas, bila Tuan melihat petang berubah pekat dan cericit kelelawar terdengar hingar di bubungan Limas, itu pertanda Hantu Seriman tengah melayap, mencari anaknya yang pernah hilang di petang temaram. Ingatlah, Tuan: Jangan sampai terlambat atau Tuan akan menyesal sepanjang malam.(*)

/C59, April – Juni 2010.

Catatan:

Salangan puntung. Di daerah Kecamatan Tanah Abang, Muara Enim, kaum perempuan biasanya mengumpulkan kayu bakar dalam jumlah banyak di bawah rumah Limas. Kayu bakar itu disusun di antara dua tiang Limas yang berjarak 2 meter, tumpukannya sampai tiga perempat tiang. Alas tumpukan adalah kayu-kayu melintang yang tingginya 20 cm dari muka tanah. Menurut cerita orang tua, Hantu Seriman kerap memasukkan anak-anak yang diculiknya di antara ruang antara tanah dan tumpukan kayu itu.

About akuizul

Pelajar. Penulis. Blogger
This entry was posted in Cerpen, Cerpen Suara Merdeka and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s